Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Rayuan Perdamaian


__ADS_3

Wajah Nina memerah padam menampaki wajah mengerikan yang terlihat marah dihadapannya. Ia clingak-clinguk mencari mobil Zain yang ternyata sudah terparkir di depan rumahnya. Kalau begitu, Nina yang tidak melihatnya.


"Assalamu'alaikum, sejak kapan kau sampai disini?" tanya Nina agak takut. Ia tahu jika Zain pasti melihatnya diantar pria.


"Walaikumsalam, aku sampai sejak 1 jam yang lalu sehingga aku melihatmu diantar cowok. Cowok itu terlihat tampan dan dibanding dengan mantanmu itu, dia terlihat baik" puji Zain yang sebenarnya sedang menahan emosi.


Nina mengernyitkan dahinya dengan perasaan yang bingung. Wajahnya menoleh melihat pria yang tadi mengantar sudah tidak ada disana.


'Ada apa dengannya? Kenapa aku rasa ini bukan pujian tapi sebuah sindiran untukku. Apa dia sedang marah saat aku diantar sama cowo? Tapi kenapa dia marah? Sejauh ini dia bersikap acuh kepadaku. Aneh' monolog Nina dengan respon membingungkan dari suaminya.


"Aku tadi habis belanja dan cowok itu-----"


"Shutt" potong Zain tidak mendengar alasan palsu Nina dengan menempelkan satu jari di depan bibir gadis itu. "Tidak perlu dijelaskan! Selagi mataku sudah melihat alasan apapun tidak akan aku dengar"


Lantas Zain melenggang pergi masuk kedalam. Nina yang bingung hanya bisa membisu dengan seribu pertanyaan.


Selepas itu Nina masuk kedalam dapur, namun ia masih bingung dengan kemarahan Zain.


"Padahal kan aku mau bilang kalau cowok itu sepupu aku yang baru datang dari Bandung" kata Nina mengeluarkan semua barang belanjaannya. "Sudahlah, kenapa aku memikirkannya saat dia marah seperti ini? Aku juga marah saat dia takut ketularan ruam di kulitku. Tapi dia biasa saja"


Nina mencoba untuk tidak memikirkan dengan membuat teh untuk ibu Marta yang masih ada di kamar.


Rupanya saat ia membawa teh tersebut, sudah ada pria pemarah itu. Pria itu duduk diatas kursi dan Marta duduk diatas ranjang.


"Ini, Bu teh nya" Nina meletakkan secangkir teh diatas nakas. "Mana coba Nina lihat lukanya" ia memperhatikan benjolan-benjolan berair itu mulai meletus. "Hem, ini udah meletus nih bu... terus kering dan sembuh deh"


"Iya Nina bener" balas Marta saat putrinya ini memberikan senyum bahagia.


Berbeda dengan Zain yang masih nampak marah, bahkan ia berkali-kali membuang nafas dari mulutnya.


"Saya, permisi dulu" kata Zain singkat tanpa menunggu balasan langsung keluar.


Nina hanya membiarkan.


"Nin, kayaknya ibu lihat Zain itu lebih dingin dari sebelumnya. Kenapa? Apa dia marah denganmu?" tanya Marta cukup heran.


Nina terdiam.


"Tadi, Tuan Zain lihat Nina dibonceng sama Mas Ilham" adu Nina kepada Marta.


"Itu!!! gara-gara itu paling. Nak Zain marah dan tidak mau bicara dengan dirimu"

__ADS_1


"Masa iya gara-gara aku dibonceng sama sepupu terus dia marah? Kayak anak kecil aja" sangkal Nina tidak begitu percaya. 'Eh, tapi semobil sama Mas Alzam yang jelas-jelas adiknya aja dibuat masalah, dan sekarang aku dibonceng Mas Ilham, sepupu aku sendiri. Itu juga masalah?' sangkalnya ia lanjut dalam hati.


"Nin, nak Zain nggak tahu kalau dia itu sepupu kamu. Jadi sana, bujuk nak Zain supaya nggak marah lagi" ucap Marta sedikit memberi dorongan.


"Nggak usahlah Bu... nanti juga biasa lagi" rengek Nina enggan untuk pergi hanya untuk membujuk Zain yang memang biasa marah. "Tuan Zain emang gitu orangnya"


"Ibu nggak mau lihat nak Zain marah sama kamu. Kasian Nin, dia jauh-jauh pakai mobil sampai kotor datang kesini cuma mau bawain barang-barang kamu. Masa iya terus kamu biarin dia salah paham"


Nina kembali diam lalu membuang nafas.


"Ya udah. Nina temui Tuan Zain dulu ya" kata Nina keluar kamar.


Akhirnya setelah berpikir panjang, Nina menemui Zain yang duduk diatas sofa dengan pandangan ke layar kaca ponselnya.


"Aku--- membuatkan kopi" singkat Nina meletakan kopi yang sebelumnya ia buat untuk embel-embel saja.


Zain yang sudah dari pagi mengharapkan kopi itu segera ingin meraih dan meminumnya, namun ia sadar jika sedang mode marah.


"Ok"


"Ck" Nina berdecak kesal saat pria ini hanya melirik saja, menambah rasa malasnya saja. Beruntung sudah dibuatkan kopi, tapi pria ini tidak ada rasa terimakasih sama sekali. "Ada apa denganmu, Tuan. Kenapa kau marah saat aku diantar cowo?"


Zain membolakan mata saat Nina blak-blakan menuduh dirinya.


Pria ini bilang tidak marah tapi nada bicaranya menyentak dan terdengar ngegas.


"Cowok itu---"


"Asal jangan didepanku" tambah Zain sebelum Nina meneruskan kata-katanya.


Blush, mata Nina ikut melebar mendengar pengakuan suaminya. Ia kembali diterpa ribuan pertanyaan yang membingungkan.


"Memangnya kenapa jika aku dibonceng cowok di depanmu?" tanya Nina kepada Zain yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Apa perlu aku memperjelas nya? Kita ini suami istri dan kau tidak sepantasnya berboncengan dengan pria yang bukan muhrim!! Dosa!!"


"Hah"


Apa saat ini Nina salah dengar atau pria ini yang salah bicara. Kenapa tiba-tiba Zain mengaku dan mengungkit status mereka.


Tentu itu membuat Nina memerah malu.

__ADS_1


"Lalu aku harus membonceng siapa jika tidak dengannya?" tanya Nina menahan bunga-bunga yang ingin merekah didalam hati.


"Biasanya kau naik angkot atau kau bisa memintaku untuk mengantarmu. Jangan menganggap ku seperti suami yang tidak berguna dengan menerima tumpangan orang" kata Zain dan Nina mengangguk saja.


"Dia itu sepupu aku, Mas Ilham yang baru datang dari Bandung" ucap Nina memilih jujur supaya tidak menimbulkan masalah baru lagi.


"Tetap saja!! Bukankah di desamu ini sudah tersebar jika kau sudah menikah? Bagaimana kalau banyak orang yang bertanya 'Dimana suaminya? Kenapa dia tidak mengantarnya? Dimana tanggung jawab suami itu?' mau ditaruh dimana mukaku? Jangan membuatku malu" omel Zain membuat senyum Nina semakin melebar.


"Jadi, aku boleh memintamu untuk mengantarku pergi?"


"Tentu!!! Aku akan antar" kata Zain dengan nada yang masih terdengar marah namun sukses melukis tawa di wajah istrinya.


Atensi Nina berganti menulusuri wajah Zain. Wajahnya yang bersih tanpa bulu halus di area dagu.


"Apa kau baru saja bercukur?"


"Iya" jawab Zain singkat masih tidak mau melihat wajah Nina.


Nina berpikir sejenak, "Bagus"


"Bagus apa?" kening Zain menyerngit kearah gadis itu yang masih senyam-senyum sok manis.


"Terlihat bersih"


"Hanya itu?"


'Lalu dia mengharapkan aku menilai apa?' gumam Nina bingung harus bagaimana. Matanya kekanan dan kekiri seperti sedang berpikir.


Ia takut jika Zain marah lagi. Masa iya baru baikan terus marah lagi.


"Aku sudah bercukur! Pasti ada yang terlihat beda dan itu bukan hanya bersih. Selain bersih?" tanya Zain dengan nada menuntut disertai tubuhnya yang menggeser kearah Nina.


'Apa dia mengharapkan aku berkata tampan? Iya memang dia tampan tapi apa itu butuh pengakuan dari ku?' gelisah Nina menjauh saat wajah pria itu mendekat.


"Lihatlah, apa yang terlihat berbeda?"


"Tampan" jawab Nina merasa gugup jika tatapan Zain seperti itu.


"Dan?"


"Kok dan? Tampan ya tampan. Kau mau aku menilai bagaimana lagi?" tanya Nina serasa sudah hilang rasa malunya karena mengakui ketampanan Zain, tapi pria ini masih kurang terima.

__ADS_1


"Muda?"


__ADS_2