![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
"Aku ingin berhutang"
Bian ternganga. Wajah yang sudah tenang kini kembali terkejut mendengar kakak iparnya ingin meminjam uang dengannya.
"Are you sure?" tanya Bian agak meninggikan suaranya. Kepalanya menggeleng tidak menyangka.
Nina mengerjapkan kedua matanya melihat raut wajah Bian yang terlihat tidak suka. Ia menjadi sungkan ingin meminjam uang dengan adik iparnya.
Sebenarnya ia juga malu meminjam uang dengan Bian karena posisinya dia ini seorang kakak ipar, terlepas dari perbedaan umur mereka. Masa iya dia meminjam uang ke adik ipar, terlebih Bian akan mengira Zain tidak memberinya bulanan.
"Kau ingin berhutang dengan pemuda yang tidak bekerja?" tanya Bian kembali.
"Ehem" Nina berdeham canggung. Betul juga katanya. "Tidak jadi! Aku ingat punya uang di kartu kredit ku, Iya aku lupa"
Nina berbalik badan dengan rasa malu. Ia baru sadar, jika tidak boleh meminjam uang hanya untuk menutupi hutang ayahnya.
"Nin!!" Bian menahan tangan Nina yang langsung berbalik, "Btw tentang uang! Bisalah kau bujuk kak Zain untuk menambahi uang bulanan ku... uangku kurang!"
Nina menyeringai geli mendengar pria yang ingin dimintai tolong malah berbalik meminta tolong padanya. Ia pikir pemuda ini punya uang sendiri.
"Memangnya uang bulanan Mas Bian berapa?" tanya Nina ia begitu penasaran.
"20 juta... itu udah habis Nin"
"Astaga!! uang segitu banyak buat apa Mas?" omel Nina menggelengkan kepala.
Bian berpikir sejenak, "Buat nongkrong 1 bulan 10 juta, belanja online+offline 10 juta. Kurang itu Nin!!! Belum jajan di kampus, belum uang bensin motor, belum kebutuhan lain... aahh kurang banyak pokoknya"
Nina cuma bisa meringis saja. Ia juga tidak bisa membantu apa-apa saat kebutuhannya sudah seperti gunung Himalaya.
"Maaf nggak bisa" Nina kembali berbalik dan Bian menahannya lagi.
"Nin, tolonglah..." rengek Bian masih menahan tangan Nina.
Nina masih enggan. Hubungan keduanya saja tidak begitu baik, masa iya Nina minta uang sama Zain! Yang benar saja.
"Maaf ya Mas, nggak bisa"
"Aku akan kasih apapun yang kau mau deh Nin" kata Bian tanpa jeda supaya Nina segera mendengar dan mau membantunya.
"Apapun itu?" antusias Nina nyaris tertarik, "Ah nggak-nggak!" ia baru ingat jika Zain bersikap kasar tadi dan ia sedang marah saat ini. Dia tidak bisa membantu.
__ADS_1
"Nin, please!!" Bian membuat wajahnya nampak imut supaya gadis muda ini iba. Namun bukannya iba, ia malah nampak jijik melihatnya.
"Selamat sore Mas Bian" Nina segera berlari pergi.
"Nina!!!!" teriak Bian tidak didengar.
_______
Saat ini Nina termenung didepan cermin kamar mandi. Ia baru saja memulai menggosok giginya sebelum tidur, dengan pelan dan sangat hati-hati. Ujung bibirnya yang terluka masih terasa sakit.
Ia memikirkan sesuatu setelah melihat luka di bibirnya. Hatinya menjadi gelisah memikirkan teman kampus nya yang entah seperti apa nasib berikutnya.
Nina berhenti menggosok gigi, "Argan gimana ya? Apa dia akan dikeluarkan dari kampus? Kok ada ya kampus elit kayak gitu! Nggak adil banget sumpah. Aku jadi males kuliah disana, tapi mau gimana lagi, orang disana aku gratis"
Karena kesal Nina menggosok giginya dengan kasar dan itu mengakibatkan lukanya tersenggol.
"Aw"
Ringis Nina melihat pria dingin seperti suaminya masuk kedalam kamar mandi ini. Tadi Zain baru saja selesai makan dan harus membersihkan giginya sebelum pergi tidur. Akhirnya mereka berdua harus terpaksa berbagi wastafel.
Nina yang kikuk segera melanjutkan kegiatannya. Ia masih kesal dengan Zain tempo lalu. Berada di satu ruangan bersama terasa sangat menjengkelkan sekaligus menakutkan bagai di tengah-tengah kuburan.
"Kau kasar sekali dengan diri sendiri!" Zain tidak melihat kearah Nina yang menggosok gigi dengan kasar.
Zain hampir menggosok gigi namun terhenti saat mendengar kalimat gadis ini. Ia pun menoleh kekanan dan kekiri seperti mencari seseorang.
"Memangnya ada orang lain selain dirimu ditempat ini?"
Nina menggeleng, "Aku pikir anda suka berbicara sendiri" karena Nina suka melihat Zain mengomel-ngomel saat mencari barang-barang nya jika belum ia temui.
Zain kembali melanjutkan kegiatannya dan begitu juga dengan istrinya yang sudah berkumur dan siap keluar.
"Tunggu!!" kata Zain.
Kaki Nina tertahan menoleh kembali melihat Zain yang sudah mengulurkan salep pemudar bekas luka, seperti orang yang peduli saja.
"Gunakan ini sebelum tidur" Zain masih mengulurkannya saat Nina termangu mencerna perilaku manis suaminya.
'Kenapa dia baik denganku! Tadi kan sudah dikasih obat dari rumah sakit, kenapa diberi lagi? dan ada apa dengan wajahnya, kemana wajah dinginnya itu pergi? Agak tampan sih' puji Nina dalam hati.
Tidak mau berlama-lama ia pun meraihnya. "Terimakasih"
__ADS_1
"Segera gunakan. Kadaluarsanya 5 hari lagi"
Kan, Nina tahu ada yang tidak beres dengan perilaku manis suaminya ini. Sementara Zain segera keluar kamar mandi tidak peduli.
Nina segera mengecek tanggal kadaluarsa salep tersebut dan benar saja. Rupanya maksud pria itu memberikan salep ke Nina karena akan segera kadaluarsa.
"Aku tidak mau memujinya lagi" Nina memukul pelan bibirnya berulang kali.
Mau memakainya atau tidak yang pasti Nina memilih untuk menerimanya dan ia pun keluar dari kamar mandi. Ia duduk di sofa dan belum memakainya.
“Nina sayang”
Dibukalah pintu secara tiba-tiba oleh bunda Zelofia. Wanita setengah baya itu langsung duduk disamping menantunya.
“Bunda kok nggak ketuk pintu terlebih dahulu?” Zain yang baru saja ganti baju itu merasa kurang terima. Inikan privasi orang.
Namun bunda Zelofia mengabaikan teguran putranya. Masa bodo selagi dia belum mengetahui kondisi menantu kesayangannya.
“Sayang! Maaf ya bunda ada arisan sampai malam, jadi baru bisa menjenguk kamu”
“Nggak papa bunda” Nina tersenyum.
Zelofia merampas salep yang dibawa Nina, “Ini salep tahun kapan Zain? Bunda ingat memberikannya kepadamu 1 tahun yang lalu dan kau memberikannya kepada istrimu?”
Wajah Zain memerah. Ia menelan ludahnya kasar saat perilaku buruknya diketahui oleh sang ibu.
“Zain hanya memakai salep itu 5 kali dan sisanya mubazir. Kebetulan dia terluka jadi Zain kasih salep sisa 1 tahun yang lalu... lagian kadaluarsanya masih 5 hari lagi” Zain terlihat berdeham beberapa kali untuk melepas malu.
“Sayang!! Salep ini nggak usah dipake. Suamimu ini memang kurang peka jadi biarkan saja. Sebagai gantinya bunda bawa salep baru untuk kamu! Helen tadi bilang, kalau bibir kamu terluka jadi bunda langsung belikan”
Nina tersenyum menerima, “Terimakasih, Bunda. Sebenarnya tadi Mas Zain sudah mengantar Nina ke rumah sakit, jadi dari sana sudah mendapat obat”
“Tidak masalah sayang, da--” potong bunda mengingat sesuatu, “Oh iya Zain. Bagaimana dengan pria yang menyakiti Nina? Apa pria itu sudah dihukum?”
“Aku sudah menyerahkan semuanya kepada rector di kampus itu dan dia bilang akan mengatasinya” kata Zain menyibukkan diri dengan layar computer.
Bunda kembali ke Nina, “Bagaimana sayang, apa kau sudah merasa lega?”
Bunda bertanya itu karena ia melihat ekspresi wajah gadis ini yang terlihat sendu dan mata menuntut kearah Zain. Dari itu ia yakin jika ada sesuatu yang mengganjal di hati menantunya.
“Bun, pria itu belum dihukum sama pihak kampus” adu Nina membuat bola mata Zain terbuka lebar.
__ADS_1
“Kok bisa?” kaget Zelofia meninggikan nada bicaranya.