Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Suami, Dia Pacarku


__ADS_3

“Besok lusa aku akan datang melamarmu” kata Alzam membuat perempuan itu tercengang.


“Alzam… kau…”


“Kenapa, itu yang ingin kau dengar kan?” Alzam tersenyum, “Aku akan melamarmu besok lusa. Jadi, persiapkan diri untuk menyambut kedua orang tuaku ke rumahmu”


Nensi ternganga langsung menutup mulutnya dengan tangan.


“Benarkah? Kau akan melamar diriku?”


“Apa kurang jelas? Aku akan meminta ijin kedua orang tuamu untuk menikah denganmu. Tapi sepertinya, mereka sudah setuju. Jadi, persiapkan diri untuk menjadi istriku saja” kata Alzam berbalik masuk kedalam mobilnya.


‘Dia akan melamar ku, dia akan menjadi suamiku, oh astaga apa aku bermimpi?’ monolog Nensi memukul kepalanya sendiri, berharap ini adalah nyata.


Tin


Tin


Klakson mobil Alzam berbunyi menepis lamunan perempuan itu.


“Ayo pulang. Apa kau tidak mau pulang? Aku sudah lelah dan harus istirahat” kata Alzam setelah membuka kaca mobilnya.


“Siap calon suami” balas Nensi blak-blakan lalu berlari masuk ke mobil Alzam penuh dengan semangat.


Akhirnya penantian Nensi selama ini membuahkan hasil. Pria yang ia tunggu-tunggu akhirnya mau menerima dirinya dan menikah dengannya.


________


Setelah perayaan yang begitu melelahkan, Zain dan Nina kembali ke rumah. Nina yang sudah memakai pakaian santai kini duduk bersila diatas ranjang bermain dengan ponselnya. Ia baru saja melihat informasi-informasi tentang kuliahnya.


Tidak lama keluarlah sang suami dari kamar mandi setelah mencuci wajahnya dengan sabun. Pria itu sudah terlihat tampan, membuat Nina senang.


“Kemarilah” Nina merentangkan kedua tangannya dan Zain segera datang dan duduk tepat didepannya.


Nina mencium kedua punggung tangan Zain, “Terimakasih! Terimakasih karena kau sudah mau menemaniku sampai sejauh ini. Aku tidak tahu bagaimana nasibku tanpa dirimu”


“Terimakasih juga. Karena kau sudah mau bersabar menghadapi keegoisan diriku di masa lalu” Zain juga mencium kedua tangan Nina.


Malam ini Zain ingin bermanja dengan istrinya. Ia menaruh kepalanya diatas paha Nina yang segera mengelusnya.


“Terimakasih juga sudah membuat perayaan semewah tadi”


Zain tertawa lirih, “Itu semua tidak gratis”


Nina membulatkan kedua matanya terkejut. Astaga, ia pikir suaminya ini akan memberinya dengan percuma.


“Ada pemberian juga harus ada imbalan”


“Apa yang harus aku berikan kepadamu sebagai imbalan?” tanya Nina bersiap ingin mencium.

__ADS_1


“Aku tidak berharap ciuman darimu” Zain menjauhkan wajahnya dari bibir memanyun perempuan itu.


Nina membuang nafas, “Waktu itu kau mau menerima ciumanku. Kenapa sekarang tidak?”


Zain tersenyum penuh arti, “Baiklah mendekatlah”


Nina segera mendekatkan wajahnya tapi tidak berniat ingin mencium, melainkan ingin tahu permintaan suaminya.


“Berikan aku jantung dan paru-paru kecil yang memanggilku Ayah”


Blush


Kedua pipi Nina terlihat sangat merah sekali. Wajahnya yang bahagia tidak bisa ia sembunyikan dari pria yang berstatus suaminya ini.


Lama sekali keduanya saling pandang, membuat Nina tidak sadar telah mendaratkan bibirnya di dahi Zain saat pria itu juga mencium dahinya. Posisi mereka masih sama, dimana Zain tidur dikedua paha Nina.


Selain itu Nina yang ketagihan membawa bibirnya mendarat di kedua pipi pria itu dan terakhir bibirnya. Disana keduanya melakukan pertukaran saliva dan berakhir dengan bersenggama.


Pria itu begitu bersemangat menggagahi kekasih halalnya dibawah selimut tebal berwarna hitam keabu-abuan. Jika sebelumnya Zain melakukan dengan lembut, kini pria itu sangat tidak sabaran hingga berulang kali membangkitkan lahar gairah istrinya.


Hingga subuh tiba pria itu masih bersemangat mengajak istrinya mencari pahala. Sungguh kasian Nina. Beruntung saja setelah pelepasan Zain yang kesekian kali, pria itu tumbang juga. Namun, pria itu sudah membuat **** ************* nyeri tapi tidak parah.


“Ayo kita mandi terus sholat subuh”


“Aku kok ngantuk ya! Capek aku mau tidur aja” ucap Nina menenggelamkan dirinya didalam selimut.


Zain tertawa geli mengusap pipi Nina menggunakan punggung tangannya, “Nggak boleh! Sholat subuh dulu”


Zain semakin tertawa saking renyahnya, “Ya sudah aku akan menggendongmu saja”


Akhirnya Nina mau juga ke kamar mandi untuk membersihkan diri, karena memang inilah yang perempuan itu mau. Digendong menuju kamar mandi, walau sebenarnya tidak terlalu sakit.


____


Sementara itu di ruang tamu ada sebuah gosip besar mengenai rencana lamaran yang akan putra ke 4 laksanakan. Pria itu sudah berbicara dengan kedua orang tuanya dan mereka menyambut baik niatan Alzam.


Karena Bian mendengar, jadi bocorlah berita itu sampai di seluruh telinga anggota Darius.


“Kak Alzam akan menikah!!! Dia sudah meminta ijin kepada ayah dan bunda untuk melamar teman kerjanya yang berprofesi sebagai per—”


Bian tidak jadi melanjutkan ucapannya karena orang yang ia maksud telah membungkam bibirnya. Alzam dengan kuat memiting kepala Bian dan menjitaknya sampai meringis.


“Aduh kakak!!”


“Rasakan” Alzam menjitak kepala Bian berkali-kali.


“Astaga ketekmu bau terasi anjir!!” pekik Bian memukul-mukul lengan Alzam yang semakin kuat melilit lehernya.


“Siapa kak? Siapa yang mau menikah?” Aya menuruni tangga dengan tergesa-gesa menemui kedua kakaknya yang asik bercanda.

__ADS_1


“Kak Alzam”


“Wahhhh” pekik Aya bertepuk tangan. Ia begitu antusias mendengar berita pernikahan kakaknya ini, “Akhirnya kakakku ini sold out juga”


“Kau juga” Alzam pun memiting kepala Aya dengan lengan satunya. Jadi dua ketek ada kepala Aya dan Bian.


“Kaka duh-aduh aduh… bentar ada telpon” ucap Aya setelah mendengar telponnya berdering didalam saku.


Alzam pun melepasnya, tapi tidak dengan Bian yang semakin di eratkan. Saat Aya melihat telpon itu, rupanya pria bernama Aditama yang menelpon.


“Siapa Aya?” tanya Alzam saat melihat raut wajah Aya yang tidak bersahabat, “Jika itu Aditama sebaiknya nggak usah diangkat. Lagipula, ayah dan bunda juga udah melarang kamu buat saling komunikasi kan”


“Tapi kan kak”


“Kalau dibilangin kakaknya itu harus nurut” sela Zain yang baru menuruni tangga sambil menuntun Nina, “Udah pernah kejadian juga masih aja ngeyel berani melawan kakaknya”


“Iya-iya… aku hapus kontak nya nihhh lihat” Aya menghapus no Aditama di depan banyak orang, “Noh!! dah di hapus”


“Ya jangan gitu dong reaksinya!!” ejek Alzam mengusap kasar kepala Aya.


“Jangan-jangan dia masih suka lagi sama tu si sugar daddy”


“Ih nggak” sangkal Aya memperlihatkan wajah jijiknya.


“Alahhh malu-malu tapi mau”


“Ih” balas Aya jijik, “Ayo kak kita berangkat aja. Aku mau nebeng kakak ke kampus… oh iya btw kamu ke kampus nggak Nin?”


“Aku mau ke kampus. Soalnya aku udah ketinggalan banyak materi” kata Nina menyayangkan, membuat Zain mengangguk.


“Ya udah cus berangkat” kata Aya mengajak pasangan itu.


______


Kampus ternama berisi mahasiswa elit dengan pakaian modis saling pamer. Namun tidak dengan mobil berisi dua mahasiswa ini. Mereka bersungguh-sungguh ingin mengenyam pendidikan.


Nina menghirup udara kampus yang menyejukkan, “Hahhhh bau cat tembok kampus”


“Ada-ada aja istrimu ini kak” gurau Aya tertawa dan Zain hanya diam mengusap kepala Nina yang tersenyum memang manis.


“Hai Nin” sapa pemuda yang pernah memberikan nomor nya kepada Nina. Pria itu melambaikan tangan karena sudah lama tidak melihat.


“Hai”


“Nin aku dengar jika kau baru sembuh dari penyakitmu ya?” tanya pemuda aitu dan Nina hanya mengangguk, “Wah kamu ketinggalan banyak materi Nin… kamu harus ngulang dari semester awal Nin” kata pemuda itu sok akrab membuat Zain panas.


Nina tertawa risih, “Iya nih… nanti aku mau ke ruangannya rektorat buat ngurus”


Atensi pemuda itu berganti melihat Zain yang terus mengandeng tangan Nina, seperti perangko saja. “Aku pernah dengar kalau kamu udah nikah ya? Berarti dia ini suami kamu?”

__ADS_1


Nina mengernyitkan dahi, “Suami? Tidak dia pacarku”


Biar lebih gaul dikit ya Nin ya heheeeheh


__ADS_2