Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
7 Bulanan Aynina


__ADS_3

Beberapa menit yang lalu beberapa anggota keluarga Darius sudah sampai di mansion Zain. kebetulan Zain dan Nina tidak menyambut kedatangan mereka, membuat mereka merasa kurang.


Lantas mereka mencari dan menemukan keduanya melakukan senam bersama-sama. Yang menarik perhatian mereka adalah pria yang ada disana. Pria itu mau senam bersama dengan istrinya.


Saat mereka asik melihat, rupanya pria itu melihat.


“Astaga!!” Zain menjatuhkan tubuhnya begitu saja.


“Kok berhenti? Kenapa hubby?” tanya Nina agak ngegas saat melihat suaminya bangkit dan menghentikan senam begitu saja.


“Ada ibu dan seluruh keluarga sayang” jawab Zain membuat Nina juga harus menghentikan senamnya.


“Eh bunda” Nina segera menghampiri saat mereka keluar dari persembunyiannya. “Bunda kok nggak bilang kalau udah sampai?”


“Bagaimana bunda mau bilang kalau kalian lagi senam!” jawab Zelofia yang sebenarnya sedang menggoda putranya. “Gayamu tadi bagus Zain”


“Betul tuh kak… beh mantul” Bian juga ikut menggoda kakaknya saat pria itu hanya diam menatap dingin kearahnya.


Lantas Zain memberikan isyarat pelatih yoga untuk segera pergi karena tidak enak juga jika orang luar ikut gabung dengan mereka.


“Oh iya sayang! Mana kakimu yang bengkak?” Zelofia duduk di kursi tepi kolam renang, “Sini duduk… bunda udah bawain minyak urut buat ngurut kaki kamu”


“Eh nggak usah bun… tadi udah yoga jadi agak mendingan kok. Rasanya juga udah nggak kayak tadi yang berat terus nyeri”


“Nggak papa sayang! sini biar bunda urut” kekeh Zelofia meminta Nina untuk duduk.


Nensi berbisik di telinga Nina, “Nggak papa! Pijitan bunda enak banget kok”


Nina merasa risih namun juga tidak bisa menolak permintaan mertuanya. Ia pun memilih duduk dan membiarkan Zelofia menaruh kedua kaki Nina di pahanya.


“Kami keluar dulu ya bun”


“Iya Zain” balas Zelofia dan mereka semua pergi meninggalkan Nina dan Zelofia ditepi kolam renang ini.


“Nina jadi nggak enak ngerepotin bunda” Nina tersenyum risih menundukkan wajahnya malu. Ia berkali-kali menahan tangan Zelofia yang sudah mulai memijat kedua kakinya.


“Jangan khawatir! Bunda ini udah biasa mijit-mijit gini. Jadi kamu tenang aja” Zelofia tersenyum. “Oh iya, ibu Marta sama ayah kamu udah datang belum?”


“Mungkin nanti malem pas acara bun! Soalnya ayah sama ibu juga harus jualan, kan mereka udah buka warung”


“Eh iya… terus gimana, lancar jualannya?”


“Alhamdulillah lancar” jawab Nina apa adanya dan Zelofia tersenyum menanggapi.


_____


Malam hari kegiatan 7 bulanan Nina telah dimulai. Zain dan Nina mengundang beberapa orang yang tinggal didekatnya dan mengundang anak-anak yatim untuk datang. Kebetulan mansion mereka dekat dengan panti asuhan.


Acara yang mereka suguhkan adalah sambutan, doa dan sedekah untuk para anak yatim. Selain itu diisi dengan tausiah ustadz Syahbana dan dimeriahkan oleh music dari para santri di pondok Ustadz syahbana tersebut.

__ADS_1


Kegiatan 7 bulanan Nina alhamdulillah lancar tanpa halangan apapun.


“Alhamdulillah acaranya selesai dengan lancar” Zelofia memulai perbincangan di ruang tamu berisi seluruh keluarganya ini.


“Terimakasih untuk ayah dan ibu serta seluruh saudara Zain… tanpa kalian mungkin acara akan terasa kurang” ucap Zain merendah.


Aya mengambil kesempatan, “Sama-sama kak! Jangan lupa belikan aku mobil ya! Aku tadi ikut bantu-bantu membagikan makanan, jadi kak… belikan aku mobil, minimal Ferrari hitam yang pernah kakak punya ituloh”


“Coba sana minta ke ayah! Jika berani minta nanti aku belikan” balas Zain malah mengerjadi adiknya. Ia tahu jika Aya tidak akan berani meminta sesuatu kepada Abrizal.


Aya memperlihatkan wajahnya yang jutek, “Jika ayah bakal ngasih! Aku nggak akan minta ke kakak”


“Mau mobil-mobilan kayak punya Neha nggak tante?” Neha juga ingin mengambil hati orang-orang disana.


“Sana mobilnya Neha!!” goda Bian mendorong Aya yang teramat malu dan kesal.


Melihat interaksi itu membuat seluruh anggota tertawa dan terhibur. Saat lelah seperti memang enak bercanda dengan seluruh keluarga tercinta.


Namun Fulan dan keluarga harus pulang, “Nak, kami tidak bisa lama-lama di rumahmu karena Artur juga harus sekolah… ibu pamit dulu ya”


“Kok cepet banget! Mau dianter pakai mobil aja ya! Nanti biar kak Ebil yang nganterin ibu sama ayah” kata Nina agak khawatir, karena posisi ini udah malam.


Namun Fulan menggeleng, “Nggak usah! Ayah sama ibu bawa motor sendiri. Nggak papa! Lagian jalanan juga masih rame”


“Ya udah deh! Hati-hati ya bu, ayah” Nina menyalami kedua orang tuanya ini. Mereka berpelukan sejenak.


“Walaikumsalam” balas semuanya dengan serentak.


____


Saat ini seluruh keluarga telah istirahat di kamar masing-masing. Mereka semua memang diminta Zain untuk menginap semalam di mansionnya.


Sementara pemilik mansion kembali ke kamar untuk istirahat juga. Saat Zain sedang mengurus berkas kantornya di sofa, lain halnya dengan Nina yang sibuk mencari-cari benda. Hal itu membuat Zain penasaran.


“Ada apa sayang?”


“Hubby ponselku dimana ya?” tanya Nina membuat Zain juga membantu mencari di sakunya. Siapa tahu kebawa Zain.


“Nggak ada disaku ku” balas Zain setelah mengeceknya, “Nggak ada di aku”


Nina mengingat-ngingat sejenak, “Astaga aku lupa Hubby, aku lupa naruh di kursi dekat kolam renang tadi. Waktu bunda ngurut aku naruh handphone aku di meja sana dan lupa bawa”


“Sampai malem begini kamu lupa ngambil?” tanya Zain tidak habis pikir dengan kecerobohan istrinya ini.


“Iya aku lupa karena seharian ini aku nggak sempet ngurusin handphone karena sibuk acara 7 bulanan”


“Ya sudah biar aku yang ambil” Zain bangkit bersiap mengambil.


“Biar aku saja Hubby! Hubby kan juga harus ngerjain tugas kantor yang sempat tertunda kan” tolak Nina berjalan menuju pintu, “Itung-itung buat olahraga”

__ADS_1


Zain menghela nafas pasrah, “Nanti turun tangganya hati-hati ya sayang”


Nina hanya memberikan dua jempol tangannya, lalu keluar melewati pintu kamar.


.


.


Pelan-pelan Nina melangkah menuruni tangga dengan hati-hati, seperti perkataan suaminya tadi. Secara kebetulan Bella yang merupakan kakak iparnya itu melihat Nina turun dari tangga.


“Haruskah?” gumam Bella menaikan satu alisnya, “Kau datang terlalu cepat dan pergi… juga harus cepat”


Bella yang antusias bergegas mengikuti Nina dari belakang. Tidak jauh, mungkin hanya membutuhkan beberapa langkah, Bella sudah bertemu dengan adik iparnya itu.


“Hai Nin” sapa Bella basa-basi.


Nina segera menoleh, “Eh kak Bella… belum tidur kak?”


“Belum” Bella memanyun sok cantik, “Aku banyak pikiran akhir-akhir ini. Mungkin itu alasan aku belum juga hamil”


“Kok kak Bella tiba-tiba ngomong kayak gitu sih! Nggak boleh kayak gitu kak… aku yakin dalam waktu dekat Allah menitipkan keturunan untuk kak Bella” Nina bersimpati mengusap lengan Bella.


Wanita itu mengeluarkan air mata buaya, “Sebenarnya aku subur! Tapi suamiku itu yang bermasalah. Namun kau tahu Nin, didalam pasangan yang belum dikaruniai anak, maka mereka hanya akan memandang wanita lah yang kurang Nin”


Nina hanya diam tidak tahu harus menanggapinya bagaimana.


“Sebenarnya aku tidak menyukai Adnan. Aku menyukai adiknya” ucap Bella membuat Nina penasaran.


“Kak Bella menyukai mas Alzam?”


Bella terkekeh lirih, “Bukan Alzam, tapi Zain”


Wajah Nina berubah datar dengan kekakuan. Ia baru tahu jika wanita berstatus kakak iparnya ini menyukai suaminya.


“Aku sudah menyukai Zain jauh sebelum kau mengenalnya. Jadi, kau telah merebut orang yang menjadi impianku berumah tangga” tegas Bella melempar semuanya kepada Nina.


“Aku tidak merebut siapapun! Mas Zain duda dan aku lajang. Kami berdua menikah dengan status kesendirian” tegas Nina menyalahkan perkataan Bella.


Bella tertawa lirih, “Kau salah Nina!! Kau tahu kenapa waktu itu Zain tidak menerima pernikahan kalian? Karena dia menyukaiku dengan alasan nama mendiang istrinya”


“Kau hanya membual. Tolong kak, berhenti memfitnah Mas Zain… jika itu memang benar, tolong lupakan mas Zain karena sebentar lagi, aku yang sebagai istrinya akan memberikan julukan ayah untuk Mas Zain” tegas Nina mempertahankan statusnya, “Jika kalian memang memiliki hubungan, maka dengarkan ucapanku ini”


Nina mendekat dengan berani, “Jauhi Mas Zain sebelum keluarga tahu penghianatanmu terhadap putra keluarga mereka”


“Beraninya kau mengancamku!!” bantah Bella mendorong Nina hingga wanita hamil itu menabrak sesuatu dibelakangnya.


“Aww” pekik Nina memegang perutnya yang nyeri saat tubuhnya di tangkap sang suami, “Hub—hubby… per-perutku”


To be continued

__ADS_1


__ADS_2