Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Ciumann Tak Sengaja!.


__ADS_3

Mengetahui jika dirinya sudah gagal menjadi makmum Zain, tentu membuat hatinya sangat sedih. Ia harus berhenti sholat dan berlari memasuki kamar mandi, tak lupa ia memasukan sajadah dan mukena yang kotor kedalam keranjang cucian.


Wajah Nina menengadah supaya mimisan dadakan ini berhenti, sesekali ia juga mencuci hidungnya di wastafel.


"Gak bisa diajak kompromi" sesal Nina menduduki keranjang pakaian yang kokoh. Tubuhnya menegap supaya aliran darahnya kembali normal dan mimisan hilang.


Setelah beberapa menit ia merasa sudah agak baikan. Ia pun keluar setelah melakukan wudhu lagi.


Setelah wudhu Nina keluar dari kamar dan melihat Zain sudah tertidur pulas diatas ranjang. Karena tidak ingin menggangunya, ia pun melakukan sholat sendiri dan setelahnya tidur diatas sofa.


Pagi harinya Nina terbangun saat tubuhnya merasa agak pegal-pegal. Tidur di sofa membuat pergerakannya menjadi minim dan susah karena sofa yang kurang panjang dan besar.


Nina sudah tidak melihat Zain lagi, saat ia mencoba melihat jam yang ada diatas nakas rupanya sudah sangat siang.


"Jam 9 pagi??? Aku kesiangan dong" gumam Nina gelagapan memasuki kamar mandi. "Kenapa dia tidak membangunkan aku astaga"


15 menit berlalu


Nina menyelesaikan mandi secepat kilat dengan waktu sekitar 5 menitan, sisanya memakai baju dan berdandan. Itupun ia belum juga selesai, nyatanya ia harus mengikat rambutnya seraya turun dari tangga.


Diperjalanan Nina tidak sengaja menabrak Bella yang baru saja dari bawah. Kopi yang ada di tangan Bella pun lepas dan tumpah.


"Heii kalau jalan hati-hati!!!! Gak punya mata atau pura-pura buta, hah?"


"Ma-maaf Nyonya..." cicit Nina menundukkan kepalanya kebawah dan kedua tangan menyatu membentuk penyesalan.


Bella tersenyum miring saat menyadari jika itu Nina, "Kau baru bangun tidur ya? Ini sudah jam berapa... bagaimana bisa keluarga Darius memiliki menantu pemalas seperti dirimu. Jika aku menjadi mertuamu sudah aku tendang kau jauh-jauh"


Bella memang tidak menyukai Nina sejak pertama kali bertemu dengan gadis ini dan Nina juga menyadari itu. Dari itu Nina selalu ingin menghindari pertemuan ini, tapi apalah daya dia.


"Maafkan saya Nyonya... saya tidak akan melakukan itu lagi"


"Cih... bereskan pecahan kopi ini. Aku tidak mau membersihkannya karena ini sepenuhnya salahmu berjalan tidak hati-hati dan menabrak diriku" Bella langsung acuh tak mau ikut campur dan pergi.


Wajah tertunduk Nina yang datar menoleh kearah Bella yang sudah pergi, "Siapa juga yang mau jadi menantumu? Tidak ada pikiran terlintas ingin menjadi menantumu. Sungguh siall jika itu terjadi"


"Waw"


"Eh" pekik Nina mengangkat kedua bahunya takut saat ia mendengar suara dari balik tubuhnya. Ia pun menoleh.


"Eh... Tuan Alzam" cengir Nina seakan tidak memiliki dosa kepada Alzam yang berdiri dengan kedua tangan bersidekap di dada dan senyum lebarnya.


"Aku terkejut kau bisa mengatakan itu... aku pikir kau itu polos dan pendiam, membiarkan orang lain menindasmu kapan saja" Alzam masih tersenyum.


Nina merasa canggung. Gadis ini sebenarnya hanya berani dibelakang tapi tak berani untuk menghadapinya didepan. Dasar penakut.


"Hem... Tuan Alzam tidak bekerja ya?" Nina mencoba mengalihkan perhatian Alzam karena ia sangat malu kedapatan memaki Bella didepan adik iparnya.


Alzam yang tahu maksud Nina itupun segera tersenyum, "Inikan hari Minggu..."

__ADS_1


"Eh iya" Nina lupa dan semakin mencengir menahan malu.


Alzam tertawa, "Kenapa kamu mengatakan itu kepada kak Bella? Apa dia membuat salah kepadamu sampai kamu memaki dia?"


"Nina gak sengaja menabrak Nyonya Bella yang berjalan membawa segelas kopi"


Alzam mengangguk paham, "Lain kali kalau jalan itu hati-hati... terutama kepada kak Bella. Dia memang seperti itu, wajahnya galak"


Nina membulatkan matanya dan membatin, 'Rupanya bukan cuma aku yang menilai kalau dia itu galak'


"Lain kali aku akan hati-hati... ini tadi aku kesiangan jadi buru-buru turun. Oh iya, Tuan... apa seluruh anggota sudah sarapan? Maaf Nina belum sempet masak" sesal Nina.


"Kenapa harus bantu masak? Kamu bangun langsung makan saja tidak apa-apa... jangan sungkan. Jangan seperti orang asing Nin, kamu itu sudah menjadi bagian dari keluarga Darius" Alzam mengangguk membenarkan.


"Tetep aja Tuan..." kikuk Nina mengusap tengkuknya.


"Sudahlah... oh iya, Aya sudah menunggumu di depan rumah. Kamu sudah diberi tahu buat belanja perlengkapan sekolah dengannya kan"


Sumpah, Nina lupa kalau dia akan pergi belanja dengan Aya hari ini. Ia menepuk kepalanya menyesal.


"Astaga... aku lupa" Nina membulatkan kedua matanya, "Dia masih menungguku?"


"Tentu saja... dia terus mengomel dan memintaku untuk memanggil dirimu" Alzam santai dengan kedua tangan bersidekap di dada.


"Baiklah... tolong katakan kepadanya untuk menungguku sebentar. Aku harus bersiap-siap terlebih dahulu... 5 menit saja"


"Tan---" Alzam belum meneruskan ucapannya saat Nina sudah berlalu pergi dari hadapannya. Sungguh gadis yang lucu, pikir Alzam.


_________


Beberapa menit kemudian Nina sudah siap. Ia memakai dress selutut berwarna biru totol, rambutnya diikat menggunakan kunciran berbentuk pita.


Disana sudah ada Alzam dan Helena yang menunggu di luar mobil dan Aya yang terlihat manyun melihat Nina yang baru saja datang.


Dan ternyata Neha juga ikut dengan duduk di kursi belakang sendirian, "Haii kakak... aku juga akan ikut belanja dengan kalian"


Nina tersenyum membalasnya.


"Maaf... menunggu lama" Nina merapikan anak rambutnya kebelakang telinga seraya tergopoh-gopoh menghampiri mereka.


"Tidak apa... ayo masuk" pinta Alzam dan Nina menurut saja.


Alzam memasuki kursi depan bersama Aya dan Nina masuk ke kursi belakang. Namun saat ia membuka, ia dikagetkan dengan sosok pria berwajah datar memainkan ponselnya duduk disebelah Neha.


Nina pikir Neha sendirian tadi.


'Astaga, apa dia juga ikut berbelanja? Aku tidak tahu dia suka shopping' gumam Nina mengerjapkan matanya canggung.


Zain hanya melirik Nina dan kembali sibuk dengan ponsel. Ia hanya diam tanpa mau geser atau memberi Nina jalan.

__ADS_1


"Tu-tuan Zain juga ikut belanja ya?" tanya Nina dan Zain tidak menjawab.


"Iya... kakak ku akan ikut belanja... bunda yang meminta" Aya memilih menjawab Nina.


"Sudahlah Nina, masuk saja..." Helena mendorong punggung Nina dengan pelan. Memintanya untuk bergegas tanpa harus menunggu lagi.


Dan terpaksa Nina duduk di kursi belakang bersama Zain dan Neha di tengah-tengah mereka.


"Neha sayang... jaga dirimu! Jangan nakal ya. Paman mu akan marah nanti" kata Helen lembut.


"Baik mommy... bye mommy" Neha memberikan ciuman jauh kepada Helena saat mobilnya mulai berangkat.


"Pergi dulu kak, Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam" jawab Helena atas salam yang Alzam lontarkan.


Mobil mereka sudah mulai tidak terlihat dan Helena pun memutuskan untuk masuk kedalam.


Di perjalanan...


Di kursi belakang nampak tenang tanpa ocehan Neha karena ia bermain game di tab dan Zain bermain ponsel, sementara Nina bergabung melihat game yang Neha mainkan.


Tiba-tiba Neha menengadah melihat wajah Nina.


"Ada apa Neha? Apa kau butuh sesuatu?" tanya Nina.


Neha menunjuk-nunjuk bagian kiri, membuat Nina tidak mengerti karena sebelah kirinya itu Zain. Kenapa dia tidak mau bicara saja sih? Menyusahkan.


"Paman Zain?" lirih Nina menebak maksud Neha dan Zain tidak mendengar.


"Kaca mobil di buka kak" lirih Neha memanyunkan bibirnya gemas. Nah gitu kan Nina bisa tahu sayang.


"Yang disini saja ya?" Nina ingin membuka jendela yang ada disebelahnya tapi Neha kekeh ingin kaca mobil disamping Zain yang dibuka.


Nina menelan salivanya. Ia begitu takut jika Zain merasa terusik dan akhirnya menembak jantung Nina dengan wajah dinginnya.


"Tuan Zain" panggil Nina dan Zain masih setia dengan ponselnya. Suara Nina memang hanya seperti gumaman saja, kurang kencang.


"Tuan..."


Karena tak di dengar Nina pun memilih untuk menurunkan sendiri kaca mobil yang ada disamping Zain. Tubuhnya mencondong kesamping untuk lebih dekat.


Sejenak wajah Zain mendongak memperlihatkan kening berkerut menanyakan maksud perilaku Nina, namun...


Ciittttt


Alzam menginjak remnya, membuat Zain terdorong kedepan mencium pipi Nina seketika.


Deg

__ADS_1


To be continued


Cium aku juga dong😘


__ADS_2