![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Nina mencoba berpikir. Ia juga bingung mau makan apa supaya mulutnya tidak terasa pahit lagi.
“Aku mau makan---”
“Ada kue pukis!!”
Dua pasang mata mereka tertuju kearah pintu saat dua orang wanita datang membawa kue pukis coklat diatas nampan besar. Hal itu membuat Nina berbinar bahagia.
“Bunda…”
“Bunda, kak Helena dan Aya membelikan dirimu kue pukis” Bunda menaruh nampan itu diatas paha Nina yang segera ingin mencomotnya.
“Kau tahu Nina, tadi bunda rebutan sama ibu-ibu yang pada borong kue pukisnya. Mereka semua juga pengen tapi bunda udah keduluan borong semua” gurau Helena dan Nina juga tertawa.
“Tentu saja! Bunda pasti menang dong!!” puji bunda dengan begitu sombong. “Mertuanya siapa dulu…”
“Aynina”
Ketiga wanita itu bersorak dengan keras dan bersamaan, membuat Nina malu dan menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Melihat tawa Nina tentu saja membuat suaminya ini ikut bahagia, beruntung sekali dia memiliki keluarga yang perhatian.
“Aku boleh makan ini?”
“Tentu saja sayang” jawab Helena menyuapi Nina yang langsung melahapnya.
Tidak hanya Nina saja. mereka semua ikut menyantap kue pukis tersebut. Berkali-kali Nina memakannya dan berkali-kali lipat tawa yang ia cipta. Rasanya, Zain begitu lega.
Namun, mengapa Nina harus kembali mimisan disela-sela tawa mereka.
“Sayang” pekik Zain sigap mencari tisu dan mengelap hidung berdarah istrinya, “Arahkan dagumu keatas”
Nina segera menurutinya.
“Bu dan yang lain… kalian bisa keluar dulu? Zain harus membersihkan pakaian Aynina terlebih dahulu” kata Zain masih mengelap mimisan istrinya.
“Baiklah” Zelofia segera menggiring kedua anak dan menantunya keluar untuk memberikan privasi bagi mereka.
Selepas mereka keluar, barulah Zain melepas pakaian kotor milik Nina. Pria ini tidak merasakan apa-apa, yang ada hanya rasa khawatir takut istrinya kedinginan.
“Aku bisa memakai pakaian sendiri” ucap Nina kepada Zain yang sibuk mencari pakaian.
“Aku akan membantumu”
Zain berhasil menemukan pakaian yang pas untuk Nina dan membawanya menemui perempuan itu lalu memakaikannya.
“Besok kita kemoterapi yang ketiga” kata Zain menautkan kancing piyama milik Nina.
“Seharusnya aku yang mengurusmu”
“Shutt jangan bicara seperti itu” Zain mengusap pipi Nina dengan lembut, “Arahkan keatas supaya tidak mengalir lagi”
__ADS_1
Nina segera menurutinya.
Drettt
Ponsel Zain berdering diatas nakas. karena kedua tangan Zain masih menautkan kancing piyama Nina, maka perempuan inilah yang mengangkatnya dan menempelkannya di telinga Zain.
“Hm” balas Zain hanya berdeham.
“Tuan… mansion yang anda pesan sudah bisa di kunjungi. Saya hanya memberitahu anda saja jika tuan dan nyonya ingin melihat-lihat” kata Ebil diseberang telpon.
“Sebentar” Zain menjauhkan ponselnya untuk bertanya kepada Nina, “Sayang, kau mau berjalan-jelan denganku?”
Tentu saja Nina berbinar mendengarnya, “Aku mau hubby”
“Baiklah! Siapkan semua perlengkapannya aku akan berkunjung kesana bersama dengan istriku” ucap Zain setelah mendapat persetujuan istrinya.
“Baik tuan” jawab Ebil menutup ponselnya.
“Sayang! Kita siap-siap dulu setelah itu baru jalan-jalan” kata Zain dan Nina mengangguk menerima.
_______
Sekarang kedua orang ini sudah berada didalam mobilnya menuju mansion yang telah Zain beli untuk keluarga kecilnya kelak. Pria ini tidak henti-hentinya mencium punggung tangan Nina saat wanita itu terpukau dengan jalanan kota.
Jalanan kota yang mereka lalui memang terbilang indah. Mereka akan melewati jalan raya pesisir pantai dengan angin yang berhembus semakin kencang. Nina bangkit dari duduknya setelah atap mobil dibuka.
“Hati-hati” pekik Zain saat melihat kedua tangan Nina terbuka lebar direntangkan.
Seakan mendapatkan rejeki nomplok. Zain yang mendapat ciuman itu segera tersenyum lebar dengan penuh kesombongan.
Setelah menghabiskan perjalanan yang terbilang jauh, mereka pun sampai di mansion saat malam hari. Dan benar kata Lukman pemilik mansion ini sebelumnya jika tempat ini sangat besar dan mewah.
“Hubby ini tempat siapa?” tanya Nina penuh tanda tanya kepada Zain yang sudah turun dan membukakan pintunya.
“Ini akan menjadi tempat tinggal kita” Zain menuntun Nina masuk kedalam mansion.
“Besar sekali, bahkan lebih besar dari rumah kediaman Darius” ucap Nina mengedarkan kedua matanya menelusuri setiap tempat yang ia lihat.
Zain hanya tersenyum dan membawa istrinya masuk kedalam untuk melihat-lihat. Disana Nina kembali terpukau dengan kemewahan yang mansion itu tampilkan. Ada banyak sekali barang canggih tanpa Nina ketahui.
“Hubby kita akan tinggal disini?”
Zain mengangguk, “Jika kau sudah sembuh nanti kita akan tinggal disini dan hidup bahagia bersama dan memiliki keluarga kecil yang bahagia”
“Terimakasih hubby” Nina memeluk tubuh Zain dengan erat.
Tiba-tiba Zain teringat dengan perkataan Lukman waktu itu, “Sayang, ada tempat yang ingin aku lihat bersamamu”
“Oh iya?”
__ADS_1
Zain menggandeng pergelangan tangan Nina menaiki tangga. Walaupun ini pertama kali bagi Zain, namun pria ini sudah mahir menjadi Tour Leader. Dalam sekali lihat gambar, ia sudah hafal tempat-tempatnya.
Cklek
Masuklah kedua manusia itu disebuah ruangan yang tidak terlalu lebar namun sukses membekukan tubuh mereka berdua. Lagi-lagi kata Lukman benar, ruang kamar yang didesain indah serta atap kaca yang menembus bindang-bintang cerah diatas sana.
“Waw ini menakjubkan” pekik Nina menggelengkan kepalanya terpukau.
“Aku sengaja membeli mansion seperti ini supaya kau bisa menikmati keindahan malam dan bintang sebagai pengantar tidurmu” Zain duduk diatas ranjang, namun masih bisa memandangi bintang-bintang.
“Kenapa kau baik sekali denganku?” bibir Nina sedikit memanyun.
“Kau kan istriku… apa aku harus marah-marah seperti dulu lagi supaya pertanyaan seperti itu tidak keluar dari mulutmu?”
“Bukan begitu. Hanya saja, aku belum bisa membalasnya” lirih Nina duduk tepat disamping suaminya. Masih dengan pandangan kearah bintang-bintang.
“Balas dengan kesembuhanmu” Zain menoleh melihat wajah putih Nina, “Kau harus sembuh supaya bisa membalas semua yang aku berikan kepada dirimu”
Dahi Nina mengernyit, “Berarti ini semua tidak geratis?”
“Tidak! Ada pemberian tentu ada balasan” balas Zain dengan wajah dinginnya.
Sepasang mata pria itu memandang lekat wajah berseri istrinya. Entah mengapa wajah Nina yang cantik nyaris membuat pria ini kewalahan mengontrol diri. Hampir saja ia melayangkan kecupan di bibir Nina tapi ia mengurungkan niat.
“Kenapa?” tanya Nina merasa agak dongkol dengan perilaku suaminya.
“Tidak apa-apa” balas Zain mengusap pipi Nina. Tidak mungkin kan dia meminta saat istrinya masih kurang sehat.
Namun Nina paham dengan maksud Zain seperti itu, terlebih pria ini tidak bisa menyembunyikannya sama sekali. Tentu ia tidak bisa menolak karena ini kewajibannya sebagai seorang istri.
Sepertinya Nina memang harus memulainya lebih dulu. Jemari Nina mulai menarik lembut pipi Zain hingga wajah keduanya saling hadap lalu Nina cium bibir pria itu dengan penuh sayang serta lama.
Ciuman keduanya mulai terasa aneh saat pria itu mulai menerima juga membalasnya. Kegiatan mereka menggantikan malam yang dingin ini berubah panas disertai kerlap-kerlip bintang-bintang diatas sana. Mereka semua menjadi saksi penyatuan dua insan yang saling bersenggama disertai nafsu yang memuncak rata.
07:00
Pagi harinya di dalam kamar ini keduanya sudah tidak lagi melakukan penyatuan. Sebaliknya si pria baru saja dari luar membawa nampan berisikan makanan untuk istri tercintanya.
“Sayang! Makan dulu ya” bisik Zain tepat di telinga Nina yang mulai meregangkan badannya setelah tidurnya yang panjang.
“Hubby aku belum memakai apa-apa. Kau curang sekali tidak membangunkan diriku? Bahkan aku juga tidak sholat subuh? Dosa kau sebagai suami membiarkannya” lempar Nina mengeratkan selimutnya.
“Aku sudah membangunkan dirimu tadi pagi dan kau bilang iya. Setelah itu aku memutuskan untuk ke dapur namun kau tidak kunjung datang. Jadi aku kemari”
“Masa sih” Nina masih mengingat-ingat tapi ia lupa.
“Sudah, ayo makan dulu” pinta Zain membantu istrinya duduk terlilit selimut. “Tadi pekerja disini membuat sarapan. Jadi kau makan dulu ya”
Nina mengangguk meraih piring berisi makanan itu, namun atensi matanya berganti melihat kearah obat-obatan yang Zain siapkan.
__ADS_1
“Seingatku dokter Aldo tidak pernah memberiku obat seperti itu. Itu obat apa?”
To be continued