![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Nina sudah seperti seorang putri yang mendapat tawaran tiga pangeran menunggang kuda, bedanya ini mobil dan motor. Namun tidak dipungkiri Nina bahagia.
"Aku ma---"
Srett
Pergelangan tangan Nina tertarik kedepan saat gadis muda seumuran dengannya merasa geram melihat tingkah dirinya.
"Aya!!"
"Nina akan berangkat bareng aku" Aya tidak memperdulikan panggilan Alzam dan terus menggandeng Nina berjalan dijalanan.
Mereka pun tidak mampu untuk membantah karena jika anak itu sudah memutuskan, maka seluruh dunia akan mendengarkan. Begitulah cara mereka mengungkapkan rasa sayangnya kepada anggota bungsu keluarga.
"Enak sekali Aya merebutnya begitu saja" gumam Bian melihat Zain, namun pria itu hanya diam dengan tatapan kosong menjalankan mobilnya.
"Dia mengabaikan aku? Dasar mantan duda berkarat!! Kalau bukan karena Nina, kau akan terus menjadi duda dan seumur hidupmu batangmu itu akan berkarat. Aish bikin gila" maki Bian didengar Alzam yang belum menjalankan mobilnya.
"Awas kualat" Alzam tersenyum menakut-nakuti Bian yang langsung menutup mulutnya.
"Iya juga ya!! Ya nggak lah, batangku tidak akan berkarat karena selalu mendapat servis. Jika tidak, solo juga bagus"
Plak
Kepala Bian tertoyor kesamping saat Alzam memukul helm yang dipakai. Ia geram dengan adiknya yang selalu berpikiran nyleneh.
"Aduh kak!! Sakit!!" Bian memperbaiki helm yang sempat bergeser kekanan.
"Aku juga ikut"
Seketika keduanya tertawa dengan sangat lebar hingga membuat mobil berisi pria arogan itu menjerit meminta jalan.
"Heii kalian!! Kalau mengobrol sebaiknya turun dan menepi sana" tegur Adnan menyembulkan tubuhnya keluar mobil.
"Maaf karog"
Mereka menyahut bersamaan dengan julukan buruk untuk kakak keduanya itu. Karog, kakak arogan. Merekapun bersiap melajukan mobilnya atau pria arogan itu akan menabrak mereka satu-persatu. Dia pria yang kasar melebihi Zain.
______
Sementara itu didalam mobil taxi. Nina diam bersama dengan Aya, padahal niatnya tadi ingin naik angkot. Ia harus menjadi pendiam lagi karena akhir-akhir ini Aya menjadi pendiam dan jarang bercanda.
Mata Aya menatap tajam kearah Nina, "Siapa pria yang kau sukai?"
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Sudahlah Nina!! Kau sebaiknya jujur saja dengan diriku" Aya mencoba menggunakan nada lembut supaya Nina mau terbuka, "Siapa yang kau sukai? Kak Alzam menyukaimu, kau tahu atau tidak?"
"Iya aku tahu" jawab Nina mengakui itu.
"Katakan kepada ku siapa yang kau pilih, jika kau pilih kak Alzam maka bercerailah dengan kak Zain dan pergi dengan kak Alzam. Jika memilih kak Zain, maka jauhi kak Alzam. Jangan dekat-dekat dengannya bahkan untuk berbicara sekalipun"
Nina menundukkan wajahnya lagi, namun ia harus tegas karena motivasinya ingin seperti bunda Zelofia.
"Aku istri Tuan Zain. Sampai akhir hayatku sekalipun, aku akan menjadi istrinya. Terlepas dari segala perilaku buruknya, aku akan terus memiliki gelar Nyonya Ankazain Darius" jelas Nina setelah banyak belajar berkata-kata.
"Kau mencintai kak Zain?" tanya Aya membuat Nina terdiam.
Nina memang menghargai pernikahannya namun jika untuk cinta? Entahlah, sepertinya ia belum ada rasa.
"Rasa cinta akan datang dengan sendirinya, jika kita terus bersama maka tumbuhlah cinta" Nina mengangguk membenarkan.
"Kau tidak cinta dengan kak Zain, lalu cintamu hanya untuk kak Alzam?"
"Tidak" refleks Nina langsung menoleh. Ia merasa tidak memiliki rasa apapun kepada Alzam. Ia hanya menganggapnya sebagai saudara.
"Aku tidak ada pikiran seperti itu" sangkal Nina mencoba membantah. Ia benar-benar tidak menyukai adik iparnya itu.
Kampus.
Nina bergegas masuk kedalam saat ia merasa ini sudah siang dan pastinya sudah terlambat masuk ke kelas. Namun saat ia sudah sampai di ruangan, kenapa tidak ada orang?.
"Lah!! Kok masih sepi? Perasaan beneran ini kelasnya deh" Nina clingak-clinguk mencari orang,"Permisi kak! Hem, kelas ekonomi anak management kok kosong ya?"
"Untuk mahasiswa baru, kan?"
"Iya" Nina mengangguk membenarkan.
"Oh, kebetulan aku juga maba ikut kelas ekonomi juga. Pagi ini kelas ekonomi anak management kebetulan ditiadakan karena dosennya ada kendala tidak bisa hadir"
"Loh" mulut Nina terbuka lebar dan perasaan kecewa dengan informasi dadakan ini. "Kok nggak ada omong-omong dulu?"
"Kamu nggak masuk grup chat? Ramai loh, soalnya dosennya itu lahiran"
Boro-boro masuk group chat, orang handphone saja tidak punya. Ia sempat mau beli dengan Alzam, namun gagal karena keegoisan suaminya.
Nina membuang nafasnya kesal, "Ya sudah kak! Terimakasih ya"
__ADS_1
"Eh tunggu... biar kejadian ini nggak keulang, gimana kalau aku masukin no kamu ke group chat. Penting loh informasi-informasi penting+banyak soalnya"
Bukan Nina tidak mau, bahkan ia sangat ingin masuk ke group itu tapi saat ini ia tidak memiliki handphone, apalagi nomor.
"Hem, aku nggak punya handphone kak" Nina tersenyum malu saat ia mencoba berkata jujur. Masa bodo dengan tanggapan pria ini, ia tidak peduli.
"Masa kamu nggak punya handphone? Padahal handphone itu penting selagi kita jadi mahasiswa. Nih aku kasih nomor ku, nanti kalau kamu udah punya handphone atau pinjem punya orang, bisa hubungin aku ya! Aku pasti masukin kamu ke group" jelas pemuda itu.
Karena merasa nomor ini penting, Nina pun segera meraihnya.
"Terimakasih, kak"
"Ok, no ku problems! Aku ada urusan bye" pemuda itupun segera melarikan diri meninggalkan Nina.
Karena mata kuliahnya kosong membuat Nina memiliki pikiran untuk kembali pulang. Saat ini ia sudah duduk di halte menunggu bus lewat.
Namun bukannya bus yang lewat, ia malah melihat mobil hitam berhenti didepannya. Ini bukan mobil Zain karena merek dan plat nya berbeda.
Mata Nina melihat was-was dan kedua kaki seakan bersiap ingin lari.
Orang yang ada didalam itu menurunkan kaca mobilnya, "Hai Nin, kita bertemu kembali"
"Devan?"
Jantung Nina seakan ingin meledak. Rasa takutnya waktu itu kembali ia rasakan, bahkan tubuhnya gemetaran mencengkeram ujung dress hitam selutut nya.
"Kau mengeluarkan aku dari kampus, kan?" wajah Devan nampak bengis seperti menahan dendam.
"Aku tidak mengeluarkan mu dari kampus, bahkan rektor atau siapapun. Itu karena kesalahanmu sendiri! Jadi berhenti menyalahkan orang lain dan berhenti menggangguku" kata Nina bersiap ingin pergi.
Devan tertawa, "Nin"
Karena takut Nina memilih menjauh dari mobil itu. Ia merasa Devan sedang memperlihatkan amarahnya dan ia harus menghindar sebelum Devan melampiaskan.
Dan dugaannya benar! Sebelum Nina berhasil kabur, tangannya lebih dulu dicekal.
"Devan!! Berhenti menggangguku!!" Nina memberontak menepis tangan kurang ajak itu.
"Kau sudah membuatku di keluarkan dari kampus! Karena kau aku mendapatkan hinaan papah ku. Kau harus menanggungnya, Nina" kata Devan menarik Nina masuk kedalam mobilnya.
Secara tidak sengaja Zain melihat Nina dipaksa masuk kedalam mobil Devan. Tubuh gadis itu diseret persis seperti ia menyeretnya keluar balkon beberapa Minggu yang lalu.
Dan ia yakin gadis itu sedang berusaha menolak, bukan seperti tuduhannya beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
"Anak ingusan itu!"