Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Awal Di Villa


__ADS_3

Mata Zain memanas. Ia tidak merasakan apa-apa selain rasa lelah yang seakan menggerogoti kekuatannya. Sungguh melelahkan hari ini, membuat Zain muak dengan hari pernikahannya sendiri.


Zain terus menghela nafas kesal, sementara bunda Zelofia merengkuh Nina dalam pelukannya, "Sayang... akhirnya kau menjadi menantuku! Kau bisa memanggilku dengan sebutan bunda"


"Iya bunda"


Nina tersenyum namun tangis masih mendominasi wajahnya. Ia masih enggan untuk berpisah dengan seluruh keluarganya. Walaupun ia tahu ini bukan pertemuan terakhir karena masih ada haris esok dan lusa, namun ini adalah hari terakhir Nina menjadi putri Marta dan Fulan, terlepas dari keluarganya yang selalu dilanda pertengkaran.


"Zain..." Zelofia membawa tangan Zain untuk menggenggam tangan menantunya, "Tolong jaga Nina ya dan Nina... tolong buat suamimu bahagia. Dia tidak suka dengan pengganggu tapi bunda yakin dia akan suka jika kau yang mengganggunya" Zelofia membisik di kalimat terakhirnya.


Nina hanya mengangguk lemah. Tidak lebih! Ia tidak mau berpikir jauh sampai hal seperti itu.


Melihat semua orang melepas rasa haru mereka, membuat Fulan merasa harus mengikutinya. Ia langsung mendekati Nina dan memeluknya, "Selamat tinggal, putriku"


"Iya, Ayah"


"Jangan kecewakan Ayah. Jangan sampai kau dikembalikan oleh suamimu atau Ayah tidak akan menerimamu sebagai putriku" ancam Fulan tepat di telinga Nina dan usapan kepala yang lembut tak selembut perkataannya.


"Iya, Ayah"


Fulan melepas pelukan buatan yang ia ciptakan lalu memperlihatkan senyum sipit kepada seluruh orang yang melihat keduanya.


"Ebill"


"Saya Nyonya..." Ebil yang merupakan pengawal setia keluarga Darius segera datang untuk menghadap saat Nyonya besar sedang memanggil.


"Apa mobilnya sudah siap?"


"Sudah Nyonya" jawab Ebil atas pertanyaan Nyonya Zelofia yang tersenyum seketika.


"Kalau begitu kalian bisa langsung ke vila saja"


Zain yang mendengar itu tidak mau ambil suara. Ia langsung berjalan melewati keluarganya dan meninggalkan Nina dibelakang. Nina yang melihat itu hanya bisa diam kebingungan.


"Jangan khawatir sayang... Zain mungkin lelah dan grogi karena baru saja mengucap Kabul. Biasa, dulu Ayah juga begitu kan yah!!" Zelofia meminta bantuan suaminya yang sedari tadi hanya diam dibelakang dan syukurlah Abrizal mau membantunya.


"Iya" jawab Abrizal enggan berkata lebih dan Zelofia hanya tersenyum kecut.


"Ka-kalau begitu... Nina susul suami Nina dulu ya!"


"Iya sayang, hati-hati"


Zelofia mengangguk dan membiarkan Nina mencium punggung tangannya dan punggung tangan seluruh keluarganya. Setelah itu Nina melenggang pergi.


Di pertengahan jalan tiba-tiba Alzam mencegat Nina dengan menahan lengannya. Hal itu membuat Nina kebingungan.

__ADS_1


"Nina, jika kak Zain menyakitimu atau membuatmu menangis... maka katakan kepadaku, maka aku akan membawamu pergi dari kehidupan pernikahan ini" ucap Alzam membuat mata Nina membulat sempurna.


"Apa yang kau katakan? aku ini udah jadi istrinya, Tuan. Tidak mungkin dia membuatmu menangis" Nina menepis tangan Alzam dari lengannya. Lalu meninggalkan Alzam dengan lirikan mata yang menusuk dan dingin.


Bian dan Aya yang melihat itu segera menghampiri kakaknya.


"Apa yang kau lakukan, Tuan? Kenapa kau tidak mencekal lenganku juga hah" gurau Aya dengan nada yang sexy dan Alzam menjadi kesal-kesal jijik.


"Jangan seperti itu, Aya. Kakak tidak suka" ingat Alzam kepada Aya yang hanya melengos saja.


"Lagian kakak itu kenapa sih sama tuh si mantan pembantu? Dia udah jadi istrinya kak Zain kali... gak usah ikut campur kak, itu sudah jadi urusan kak Zain" Bian yang melihat itu juga jadi kesal sendiri dengan Alzam. Lagian istri orang main pegang aja.


"Betul, gak ada kerjaan banget"


"Dahlah...ayo pergi"


_______


Di perjalanan...


Nina bersama dengan Zain duduk di kursi penumpang. Keduanya tidak berbicara atau saling tukar cerita, hanya membisu saja disana. Entah Zain yang terlihat seperti manekin pria duduk dengan pandangan keluar jendela dan Nina juga seperti manekin wanita memakai gaun pengantin dan pandangan jauh keluar jendela. Bedanya Nina menangis dan tidak dengan Zain yang terlihat biasa saja.


"Berhenti menangis" Zain berucap dingin tanpa sekalipun menoleh melihat Nina yang duduk disebelahnya.


Mendengar itu Nina langsung mengusap lelehan bening dikedua matanya. Namun ia ingin menangis lagi... sakit rasanya jika tangis ini ia tahan.


Mobil yang mereka kendarai seketika berhenti saat Zain kembali berucap. Hal itu membuat Nina mengusap ingusnya dan mata melihat sekeliling, memastikan keadaan.


"Kau turun dan ganti kedepan"


Nina menoleh melihat Zain yang kembali bersuara tanpa melihat kearahnya. Astaga, apa sekarang suaminya tidak mau duduk bersamanya? Ya ampun kasian sekali kamu Nina.


Tanpa banyak bicara Nina keluar dan duduk di kursi depan bersama dengan Ebil yang menyetir disebelahnya.


Mobil pun kembali melaju.


Villa keluarga Darius


Sampailah Nina di villa yang sudah di persiapkan jauh-jauh hari untuk menjadi penginapan sepasang pengantin baru keluarga Darius selama 1 bulan.


Nina sudah tidak menangis. Kepalanya menyembul keluar saat rasa penasarannya terhadap villa ini yang amat besar.


Villa yang dimiliki oleh keluarga konglomerat ini tidak seperti kediaman Darius yang penuh dengan lukisan kaligrafi bernuansa Arab. Villa ini memiliki dekorasi yang tidak jauh-jauh dari kesan klasik berdinding bambu yang tertata rapi, indah dan juga mewah. Memiliki dua lantai membuat villa ini terkesan alami dan natural. Yah sesuai dengan yang Nina inginkan.


Nina dan Zain keluar dari mobil.

__ADS_1


"Ebil angkat barangku ke kamar"


"Tapi saya ing---"


"Angkat barangku ke kamar sekarang juga" tekan Zain sekali lagi. Tak mau dibantah saat Ebil ingin membantu Nina menurunkan kopernya.


Mau tidak mau Ebil membawakan koper untuk Zain. Nina hanya tersenyum kecil. Ia tidak mau mengambil pusing.


'Aku bisa membawanya sendiri, aku sudah biasa mengangkat barang berat seperti ini'


Nina bergumam membawa kopernya keluar dari mobil lalu masuk kedalam.


Didalam kamar, Nina hanya diam dengan kopernya masih tergeletak tanpa tersentuh disampingnya. Pandangannya mengedar melihat Zain mondar-mandir menata perlengkapan pribadinya.


Zain tidak mengajak Nina berbicara sepatah kata. Ia hanya diam dengan urusannya sendiri. Memang dingin.


Jika Zain dingin maka sudah tugas Nina untuk menghangatkannya bukan!!


"Aku akan membantumu merapikan pakaian. Aku bisa merapikan dengan baik dan kau... hanya duduk untuk istirahat"


Hening...


Tidak ada suara dari pria yang menikahinya. Pria itu hanya sibuk dengan dunianya dan mengabaikan Nina yang mengajaknya bicara. Sungguh Nina dibuat dilema.


Ada niatan Nina ingin membantu Zain tapi bagaimana jika dia marah?


'Aku akan coba' gumam Nina dalam hati dan mengambil baju-baju yang ada di dalam koper untuk ia bantu tata didalam almari. Istri yang baik sekali!.


srett


Tidak lama Zain merampas pakaian yang Nina bawa dengan sorot mata yang menajam seakan ingin membunuh.


"Kau..." nafas Zain berat melihat wajah polos Nina yang ketakutan. Lantas Zain mendekati tempat sampah dan membuang pakaiannya disana.


Nina hanya menelan ludahnya susah. Mata tajam itu terlihat jelas menepis keberanian Nina. Sungguh Nina ingin menangis rasanya.


Kedua mata Nina sudah berkaca-kaca, namun ia akan kuat demi pernikahan ini. Ia hanya tidak menyangka jika Zain akan tetap bisu saat ia sudah menjadi istrinya.


"Aku ingin membantumu"


Nina yang tidak menyerah kembali menyentuh pakaian-pakaian Zain yang ada didalam koper, bahkan Nina menyentuh semuanya.


Brak


Zain yang murka melempar semua tumpukan pakaian yang ada di tangan Nina beserta koper yang menggelinding turun dari atas ranjang. Syukur tidak menindih kaki Nina.

__ADS_1


"Apa kau tidak tahu arti kata DIAM?" sentak Zain kembali memperlihatkan sorot mata merah yang menajam. Terlihat sangat mengerikan seperti psikopat yang pernah Nina baca.


__ADS_2