Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Di Persimpangan Jalan


__ADS_3

Atensi Zain masih fokus kearah gadis yang berjalan menyusuri jalanan yang penuh dengan kubangan air hujan. Gadis itu tidak membawa payung dan membiarkan hujan membasahi tubuhnya. Hal itu memberikan kesempatan untuk Zain tahu siapa dia.


"Zain?"


"Hm" baru saja Zain sadar setelah Husein menepuk bahu kokohnya. Hal itu membuatnya mengalihkan pandangan. "Maafkan saya, tolong bisa kau ulangi perkataan mu barusan"


"Tidak apa-apa. Oh iya aku akan ulangi perkataan ku! Karena aku dan istri tidak bisa hadir di acara pernikahan mu maka aku ingin mengundangmu makan bersama di apartemen. Kebetulan, istriku sangat menyukai jika ada tamu di sana"


Zain belum menjawab. Matanya masih mencuri-curi pandang kearah gadis itu yang saat ini masih berjalan dijalanan.


"Itu tidak menjadi masalah! Aku akan datang selagi kau yang memberi undangan" kata Zain membuat Hussein terkikik.


"Kau bisa saja"


Mata Zain masih fokus menatap gadis itu. Ia mencoba untuk mengalihkan pandangan, namun wajah gelisah gadis itu masih tertampak jelas di matanya.


"Maafkan aku, sepertinya aku harus pergi karena ada urusan" kata Zain membersihkan mulutnya dengan tisu.


"Begitu ya?" kata Husein tidak mengerti namun berusaha menerima. "Jangan lupa dengan undangan makan malam di apartemen ku"


"Aku selalu mengingatnya" Zain segera bangkit. "Aku pergi dulu, assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam"


Selepas menyalami tangan Husein, ia pun pergi dengan tergesa-gesa.


"Apa yang membuat Zain begitu resah?" monolog Husein tidak paham. "Ali, kita berkunjung ke perusahaan Tuan Asad sekarang"


"Baik, Tuan"


_________


Kembali ke Zain. Saat ini pria itu sedang tergesa-gesa keluar dari lift menuju pintu keluar apartemen. Namun, dirinya tetap tidak mengabaikan reputasinya dengan menyapa para orang yang ia lewati, jika kenal.


Zain sudah sampai didepan resto dan berniat ingin menemui gadis itu, namun apalah daya hujan yang deras telah menahannya untuk tetap berteduh disana.


"Aya!!"


Betul, gadis yang pria ini lihat dari lantai atas sana adalah Ayasya adik bungsunya. Gadis itu seakan tuli tidak mendengar dan tetap hujan-hujanan.


"Permisi, pinjami aku payung sebentar" kata Zain tanpa menunggu jawaban. Pria ini segera berlari melompati kubangan air hujan.


"Aya!!!"


Gadis itu menoleh melihat kakaknya yang mendekat membawa payung untuknya.

__ADS_1


"Kenapa kau hujan-hujanan?" tanya Zain marah, "Ayo, kakak akan antar kau pulang ke rumah"


Aya memilih untuk menerimanya. Tanpa ada balas kata atau bantahan gadis ini menurut saja lengannya ditarik memasuki mobil.


"Bukannya kuliah malah hujan-hujanan. Ada apa dengan dirimu?"


"Aya cuma lupa nggak bawa payung kak. Kapan-kapan Aya akan ingat untuk selalu membawa payung" kata Aya lirih mengaitkan sabuk pengamannya.


"Kuliah gimana?"


"Ini tadi Aya habis kuliah" jawabnya menggaruk hidungnya yang agak gatal. Kemungkinan Aya akan segera bersin karena kedinginan.


Zain memberikan tisu, "Pakai ini, kakak jarang memakainya"


"Terimakasih"


__________


Di tempat lain


Setelah membeli banyak jenis ikan Nina beserta Maya memilih untuk pulang ke rumah, terlebih siang ini telah turun hujan.


Supaya irit, keduanya menaiki angkot. Sepanjang perjalanan Nina selalu membiarkan percikan air memasuki angkot lewat jendela kaca yang ia buka lima senti.


Maya yang tersadar segera menutupnya, "Jangan melakukan itu lagi. Dingin Nin!"


“Jangan macam-macam ya! Kau bisa sakit jika main hujan-hujanan, terlebih kakimu ini masih sakit. Jika kau tidak keras kepala ikut aku ke pasar saja aku tidak akan mengajakmu” omel Maya membuang muka kepada Nina yang memanyun saja.


Secara kebetulan angkot yang Nina tumpangi berhenti dilampu merah. Bersamaan dengan itu mobil Zain juga berhenti tepat disampingnya.


Dari sini Zain melihat gadis itu mengulurkan tangannya keluar jendela angkot dengan posisi menengadah. Jika itu bukan Zain yang lihat mungkin sudah dikira pengemis.


Wajah Zain masih setia, datar dan dingin. Namun matanya menelusuri setiap inti wajah gadis itu. Matanya, hidungnya, dan berhenti di bibirnya. Kedua ujungnya tidak berhenti terangkat, seakan tidak lelah.


Setiap tetesan hujan yang ia dapatkan di telapak tangan Nina, begitu juga dengan rasa bahagia yang didapatkan. Rasa dingin dari tangan masuk kedalam pori-pori naik menuju dada sampai ke hati. Menenangkan!.


‘Apa yang dia lakukan? Dia ceroboh sekali mengeluarkan tangannya di jalan’ gumam Zain gelisah ingin mengingatkan.


“Ay---”


“Eh neng!! Bahaya” pekik salah satu pengendara yang ada dibelakang mobil Zain. Pria itu melihat perilaku buruk Nina dan segera membuka kaca jendela dan menegur.


“Ah iya pak! Terima kasih” balas Nina tersenyum.


Karenanya Maya yang duduk disebelah gadis itu segera tahu, “Kan!!” Wanita itu segera memukul tangan Nina.

__ADS_1


Nina menyeringai lebar, “Maaf kakak”


“Lain kali nggak boleh kayak gitu. Bahaya, untung aja lampu masih merah dan kebetulan nggak ada motor” omel Maya menggeser Nina untuk duduk yang tegap dan membelakangi jendela.


Setidaknya Zain bisa bernafas dengan lega. Lagipula sepertinya pria ini tidak benar-benar ingin mengingatkan. Buktinya, kaca mobilnya masih juga tertutup. Bagaimana gadis ceroboh itu bisa dengar?


Hanya Aya yang mendengar suara terpotong kakaknya.


“Kak tadi mau bicara apa?”


“Apa? Enggak ada” Zain segera menjalankan mobilnya karena lampu sudah kembali hijau.


Beberapa menit berlalu akhirnya Nina dan Maya sampai didepan gerbang kediaman Darius. Karena masih hujan, membuat Nina harus membagi payung dengannya.


Secara kebetulan mobil Zain juga sampai.


“Ini bawa payung. Jangan hujan-hujanan” Zain mengambil payung yang ada di kursi belakang untu adiknya.


“Ya udah ayo bareng”


“Duluan saja karena kau sudah kebasahan, nanti dingin. Ada barang yang harus kakak cari, tadi kakak lupa menaruhnya” kata Zain menggeledah kursi bagian belakang.


“Ok”


Karena kakaknya ini menolak, maka Aya pun segera keluar menggunakan payung dan berlari menyusul Nina yang baru dilihat.


“Nin!!!”


Nina segera menoleh saat sudah ada didepan pintu rumah. “Iya, Aya ada apa?”


“Sana susul kak Zain... dia masih ada didalam mobil”


“Loh, bukannya tadi dia bareng kamu ya… kenap----”


“Ahh banyak omong!” potong Aya, “Udah cepetan sana” ia mendorong bahu Nina sampai mau terjungkal rasanya.


“Iya udah sini payungnya”


“Ehhh satu payung berdua, enak aja” Aya yang marah segera membawa payungnya kedalam. Ia ogah untuk memberikan payungnya.


“Udah Nin, sana susul dia. Hujan deras, kasian” Maya mengusap bahu Nina dan tersenyum, “Aku pergi dulu, bye”


“Eh ka---”


Maya pergi berlari membawa barang belanjaannya, meninggalkan Nina yang bergegas menyusul suami.

__ADS_1


Tidak lama Nina sampai disamping mobil Zain karena memang jaraknya tidak jauh.


Tok Tok Tok


__ADS_2