Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Makan Malam Bersama


__ADS_3

19:00


Makan malam


Dua keluarga besar kaya saling melempar canda dan tawa untuk menghidupkan suasana dan mempererat silaturahmi setelah lama baru jumpa.


“Bagaimana dengan keluarga Asad putra pertamamu, apa dia sudah berencana untuk menambah momongan?” gurau Venus yang merupakan kolega Abrizal sejak 1 tahun yang lalu.


“Aku yakin menantumu Helena mungkin sudah merencanakan untuk memiliki momongan lagi” tambah Denisa istri Venus Roberto.


Pertanyaan itu dibalas tawa oleh Abrizal dan sang istri.


“Sepertinya mereka ingin mewariskan perusahaannya untuk putri tunggalnya saja. Namun, kami memiliki menantu baru yang akan segera memberikan kami cucu” balas Zelofia tertawa.


“Baiklah jeng… doa terbaik untuk keluarga kalian” balas Denisa.


“Assalamualaikum”


Atensi Zelofia berganti melihat seorang gadis memakai pakaian tertutup serta hijab berwarna putih lengkap dengan style yang ia pakai saat ini. Gadis ini terlihat seperti wanita Muslimah.


“Walaikumsalam, oh sayangku Nensi kau sudah datang sayang?” Denisa memeluk putrinya itu dengan penuh sayang dan berbisik, “Cepat kau beri salam mereka berdua”


Namun sebelum itu Nensi terdiam sejenak, ‘Oh pantas mamah memintaku untuk memakai pakaian tertutup seperti ini. Rupanya mereka ingin mencari muka didepan keluarga Alzam. Hah, baiklah aku akan menerimanya sebentar’


Setelah berbicara dengan hatinya Nensi pun mengecup punggung tangan Zelofia dan Abrizal. Namun ia nampak kurang nyaman memakai hijab, mengingat jika dirinya tidak pernah memakai pakaian tertutup seperti ini.


“Ini putrimu?”


“Iya jeng… “ jawab Denisa dengan bangga.


“Masyallah cantiknya” Zelofia mengusap pipi Nensi.


“Assalamualaikum” seorang pria tiba-tiba datang mengucap salam serta mencium pipi Zelofia dan punggung tangan Abrizal. “Maaf bun, Alzam agak telat soalnya peker---”


Ucapan Alzam terpotong saat menampaki wajah rekan kerjanya berada disini.


“Sedang apa kau disini?” tanya Alzam dan Nensi hanya diam.


“Sayang… dia ini putrinya tuan Venus dan Nyonya Denisa. Lihatkan… bunda tahu kalian sudah saling kenal” kata Zelofia terkikik.


“Duduklah dulu” pinta Denisa dan mereka pun segera duduk.


Namun Alzam masih bingung dengan penampilan yang Nensi perlihatkan. Selain itu ia hanya menggelengkan kepala.


“Jika kalian sudah saling kenal, berarti tidak perlu perkenalan dong” gurau Denisa tiba-tiba meremat tangan Nensi.

__ADS_1


Pemilik tangan itu hampir terpekik merasakan sakit di tangan kanannya. Nensi segera menoleh.


Mamahnya itu memberikan isyarat Nensi untuk memulai pembicaraan.


“Dengar-dengar nak Nensi bekerja di rumah sakit yang sama dengan Alzam ya?”


“Iya” singkat Nensi tersenyum tipis.


Alzam menyerngit. Biasanya wanita itu akan cerewet bercerita panjang lebar membanggakan dirinya. Tapi malam ini selain penampilan yang beda, sikapnya juga berbeda.


“Apa Alzam sering menyusahkanmu?” tanya Zelofia mencoba akrab.


“Bunda ini bagaimana sih! Seharusnya bunda tanya itu kepada Alzam karena putramu ini yang disusahkan olehnya. Iya kan, Nen” gurau Alzam mencoba memancing Nensi untuk menjadi seperti biasanya.


Namun Nensi hanya tersenyum dengan pandangan menunduk.


‘Apa dia mau menjadi sok cantik didepan kedua orang tuaku?’ pikir Alzam dalam hati.


“Sepertinya putrimu ini pendiam ya”


Alzam langsung menahan tawa saat sahabat nya ini dibilang pendiam oleh ibunya.


“Iya begitulah jeng… putriku ini kan lulusan pondok pesantren, jadi dia harus meneladani gurunya dengan menjaga sikap. Dia tidak mau membuat kedua orang tuanya malu. Begitu kan sayang?” Danisa mengusap kepala Nensi yang langsung mengangguk.


“Masyaallah” ucap Zelofia.


Alzam yang diam sedang memikirkan sesuatu. Ia segera mengirim pesan ke ponsel Nensi yang segera membacanya.


‘Ada apa dengan dirimu?’ tanya Alzam tertulis di chat.


Nensi langsung menjawab di chat, ‘Aku nyaris terbakar dengan penampilan seperti ini. Tolong aku’


Alzam menahan tawa saat dugaannya benar. Yah, dia harus segera menolong sahabatnya ini.


“Nyonya Danisa dan Tuan Venus, jika boleh saya ingin mengajak Nensi melihat-lihat taman di luar restoran” kata Alzam dengan sopan.


“Tentu saja nak” Danisa begitu semangat menerima ajakan Alzam. “Sana, pergi bersama Alzam”


Karena Nensi sudah tidak tahan, ia segera bangkit. “Kami permisi dulu”


Saat ini memang sebenarnya enak jalan-jalan di taman dengan lampu penerang yang mendukung suasana romantic tempat itu. Namun dinginnya malam ini membuat siapa saja ingin memakai pakaian tebal dan tertutup.


Berbanding terbalik dengan wanita satu ini. Setelah keluar dari restoran, ia segera melepas hijabnya dan menggerai rambutnya.


“Hah menyejukan sekali udara disini” kata Nensi setelah merasakan udara malam menyentuh kulit kepala dan leher.

__ADS_1


“Kenapa kau memakai pakaian seperti ini?”


“Menurutmu apa?” Nensi mendekatkan wajahnya, “Memiliki kolega kaya terkenal dari Arab dan Indonesia. Siapa yang tidak mau menjadi besannya?”


Alzam tertawa, “Tapi apa perlu memakai pakaian seperti ini?”


Nensi ingin menyentil dahi pria itu karena kurang pintar, “Katanya dokter tapi kok oon!”


“Whattt” pekik Alzam dan Nensi berdeham menyesal dengan makiannya.


“Maksudku, ibumu kan memakai hijab dan pikir Mamahku dia menyukai menantu yang menutup aurat” kata Nensi.


“Tidak juga” jawab Alzam mengingat Nina yang tidak menutup auratnya. “Mamahmu saja yang parno”


Nensi tertawa membenarkan.


______


Jika kedua orang itu sedang merasakan udara malam yang terasa dingin dan sejuk, berbanding terbalik dengan orang satu ini. Gadis ini merasakan hawa panas mencekam dengan sorot mata tajam dari sang lawan.


Rasa gugup sehabis ciuman tiba-tiba sirna setelah datangnya rentetan pertanyaan serta omel dari sang suami. Bibir Nina terus memanyun kesal menanggapi respon Zain yang menjengkelkan.


“Ini apa?” tanya Zain memperlihatkan buku catatan milik Nina.


Gadis itu menaikan kepalanya mengintip, “Itu buku catatanku”


Brak


Hampir saja Nina terpelanjat melihat Zain memukul meja dengan buku catatannya.


“Kau tidak menulis materi yang disampaikan oleh dosenmu?” tanya Zain terkesan marah dan Nina sangat ingin bersembunyi.


“Aku menulisnya” bantah Nina tidak berani melihat Zain.


“Terus mana?”


“Hanya saja, dosen menjelaskannya tanpa jeda. Aku kewalahan mencatat semuanya jadi hanya beberapa kata” kata Nina dengan jujur.


“Kau hanya menulis tanggal bulan tahun saja!!” Zain menunjukan tulisan itu kepada Nina. “Ini sama saja kau tidak menulis materinya”


Nina menggaruk-garuk kepalanya yang terasa gatal setelah pusing.


Zain menggelengkan kepalanya. Sesekali pria ini juga membuang nafas jengah. Mau diapakan mahasiswa pemalas seperti ini? pikirnya.


“Jika kau tidak mencatat di buku, berarti kau sudah mencatatnya di otak” kata Zain menggeser duduknya mendekati Nina yang ketakutan segera menjauh. “Aku ingat kau mengatakan bahwa dosenmu meminta untuk membaca buku yang berjudul The Intelligent Investor”

__ADS_1


Nina menelan ludahnya sulit. Kurang ajar! Pria ini masih ingat saat ia nyaris amnesia. Ia pikir Zain akan lupa dan ia dapat bernafas lega. Rupanya, ingatannya begitu tajam.


“Coba kau jelaskan isi dari buku itu”


__ADS_2