![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Ekspresi wajah Nina langsung berubah seketika. Matanya melebar, pipinya memerah padam. Ya ampun rasanya Nina ingin menghilang dari muka bumi.
"Bibi, kau akan memberikanku dedek bayi kan? Mommy bilang begitu kepadaku... mommy bilang kak Nina dan paman Zain sudah menikah dan sebentar lagi akan memiliki bayi" tutur Neha dengan begitu polos membuat Nina tersenyum malu.
"Iya... bibi akan punya dedek dan Neha akan bermain dengannya sepuas hati" Nina mengusap lembut kepala Neha dan gadis itu tertawa senang.
Walau Nina juga tidak yakin dengan ucapannya. Tidak masalah! Yang penting ponakan senang.
"Kau lihat kan... aku akan punya dedek nanti" ucap Neha pamer kepada ibu-ibu didekatnya.
"Iya, kau akan segera punya dedek" ibu itu menerima dan melihat Alzam lalu berganti kearah Nina "Apa dia suamimu?"
"Ehem" Alzam berdeham canggung. Ia merasa sangat malu dikira suami Nina walau dalam hatinya ia begitu suka.
Nina menggeleng, "Aku bibinya dan dia pamannya. Kami bukan sepasang suami istri karena aku kakak iparnya"
"Ohh maaf kalau begitu" ibu itu mengangguk seraya tersenyum kikuk. Ia menyadari kalau dugaannya itu salah.
"Americano, susu coklat, dan susu banana?" ucap Barista setelah selesai menyiapkan pesanan mereka.
"Saya" jawab Alzam, tangannya mengulur ingin mengambil pesanan namun keduluan Nina.
"Neha ada di gendonganmu. Aku akan membawa minumannya" Nina tersenyum simpul.
"Kalau begitu sekalian bayarkan minuman itu. Bisa kau ambil kartu kredit ku dan tolong bayarkan?" tangan kanan Alzam memberikan dompet dan tangan kirinya menyangga pantat kecil Neha.
"Iya"
Tidak membutuhkan waktu lama Nina segera meraih dompet milik Alzam dan mengambil kartu kreditnya secara asal. Tidak perlu juga memilih, lagian semua sama.
______
Kembali ke Zain.
Zain membantu Aya memilih perlengkapan kampus yang ia suka. Walau pria ini hanya diam bersandar di dinding dengan kedua tangan bersidekap memperhatikan adiknya.
Aya mendekati Zain, "Kak. Kakak harus jujur dengan Aya. Kakak gak suka sama Nina?"
Zain terdiam sejenak dan akhirnya mengangguk.
"Terus kenapa kak Zain mau menikahi gadis itu? Kalau kak Zain gak nikahin dia mungkin aku gak akan sekampus sama Nina"
Aya berdecak kesal seraya tangan mengepal. Ia memang kurang suka dengan Nina namun tidak ia perlihatkan karena beberapa anggota di rumah menerima dia.
"Kakak hanya menyukai Anita" ucap Zain dingin.
"Kalau begitu kenapa kakak mau menikah dengannya?"
Zain menaikan kedua bahunya acuh. Hal itu membuat Aya agak kesal karena tidak diberi tahu.
__ADS_1
"Kau masih kecil" Zain mengusap lembut rambut Aya.
"Masih kecil apanya, aku itu udah besar. Lagian umur aku sama Nina itu sama... otomatis apa yang Nina ketahui begitupun dengan diriku" Aya menyentak Zain yang masih terlihat dingin.
"Not. You're still a child"
"Huh, semua orang mengatakan itu. Kenapa sih!!" Aya membuang nafas seraya melenggang dengan amarah dan Zain mengikuti seraya merangkul bahunya.
Dalam pandangan Zain, Aya nampak lucu jika marah seperti ini. Namun Zain tidak pernah memperlihatkannya. Ia tetap menjadi pria datar dan dingin.
Tak lama keduanya melihat pria dan wanita sedang bersenda tawa dengan seorang anak kecil. Mereka kenal, karena yang ia lihat adalah Alzam, Nina dan Neha.
Aya melihat Zain sebentar, "Lihatlah... istrimu tertawa dengan pria lain. Apa kau bisa membiarkan itu semua kak?"
Zain hanya melirik dan pergi. Ia tidak menjawab ucapan adiknya.
Aya mengejar Zain, "Kau cemburu ya dia dengan kak Alzam? Tadi katanya gak suka tapi kok---"
"Berhenti membicarakan dia" potong Zain menatap dingin Aya yang terus mengekorinya. "Kenapa kakak harus cemburu jika gadis itu ingin tertawa dengan siapapun itu urusannya. kakak tidak ada urusan dengannya, biarkan saja. Mau dia bersentuhan dengan pria lain itu urusan dia. Sudahlah!!"
Zain menepis angin lalu kembali pergi.
"Sepertinya dia sudah nyaman menduda" gumam Aya berlari mengejar Zain.
Sementara orang yang ia maksud masih menikmati minuman yang melegakan tenggorokan-nya yang kering.
"Punya Neha rasa apa, paman minta boleh ya... aakk"
"Apa kakak boleh memintanya?" Nina membuka mulutnya.
"Kalau kakak kan cantik, gadis baik seperti Neha, jadi kakak boleh mencoba minuman Neha" ucap Neha langsung memasukan sedotan ke mulut Nina.
Nina tersenyum, "Hemm manis sekali seperti wajahmu" ia mencubit hidung Neha, "Terimakasih Neha cantik dan baik"
"Sama-sama kakak" Neha tersenyum membalasnya.
"Tidak adil... paman ini paman mu, paman yang membelikan minuman Neha tapi Neha tega sekali dengan paman" Alzam bersidekap kesal menyorongkan tubuhnya. Ia tidak mau berbicara dengan Neha lagi, guraunya.
"Iya-iya pamannn. Ini Neha kasih spesial buat paman" Neha mengulurkan minumannya dan Alzam langsung tertawa.
"Makasih Neha yang cantik dan baik" Alzam mencoba minuman Neha dan "Hemmm tidak terlalu manis tuh"
Alzam menutup mulutnya dengan raut wajah menyesal.
"Masak sih?" Neha memanyun.
"Iya, karena manisnya sudah ada di wajah Neha" Alzam mengecup kedua pipi gembul nan lembut Neha.
"Pa-man... hahaha" Neha tertawa geli merasakan bulu-bulu halus di dagu Alzam seperti menusuk pipinya.
__ADS_1
Tak lupa Nina juga tertawa melihat interaksi pria dewasa dan anak kecil didepannya. Ia kagum dengan cara Alzam dalam memperlakukan dia dan Neha.
Sangat berbeda dengan Zain suaminya.
"Nin, kau kenapa?"
"Eh" Nina baru tersadar jika ia tengah melamun memikirkan sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Tak ia sadari tetesan bening keluar dan ia segera mengusapnya.
"Aku tidak apa-apa! Hanya saja aku lupa harus membelikan buku binder untuk Tuan Bian" ucap Nina mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa kau memanggil Bian dengan sebutan Tuan, dan kau juga selalu membawa kata itu sebelum namaku" Alzam mengangkat Neha ke pangkuannya.
"Iya kan anda itu-----"
"No, no, no... just Alzam" Alzam menggelengkan kepalanya menolak Nina memanggilnya secara formal.
"Aku kurang nyaman jika memanggilmu hanya dengan nama" kikuk Nina menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.
"No, Nina... aku bukan Tuan mu dan Bian juga bukan Tuan mu. Kami ini satu keluarga yang menganggap mu adalah keluarga juga"
Nina tersenyum simpul. Ia tidak munafik karena kalimat itu membuat hatinya merasa lega, setidaknya ada orang yang menghargai dia di sana.
Yah, Nina beruntung mendapatkan cinta kasih dari anggota keluarga Darius walau tidak semua, namun ia sudah bahagia.
Walau Zain tidak mengharapkan kehadirannya, namun ia masih memiliki Neha dan keluarga lainnya.
Namun Nina tidak mudah memanggil Alzam tanpa kata Tuan, "Bagaimana kalau aku memanggil dengan sebutan Mas, saja!"
Alzam terdiam. Yah, ia suka panggilan itu.
"Aku pikir karena kau pria dewasa yang memiliki usia yang jauh lebih tua dan memiliki banyak pengalaman. Panggilan itu sepertinya cocok untuk dirimu"
"Aku akan menerima panggilan apapun asal tidak dengan Tuan"
Nina tertawa melihat ekspresi dan suaranya yang datar seperti ini.
"Baiklah" menahan tawa. "Oh iya... ayo kita beli binder untuk tu-----"
"Hayoo"
"Mas Bian..." lanjut Nina saat ucapannya sempat terpotong dan Alzam hanya tertawa.
"Neha, ayo kita beli binder yang cool man untuk paman Bian" Nina menurunkan Neha dari pangkuan Alzam dan menggandengnya.
"Ayo kakak" Neha dengan antusias berlarian dengan Nina yang tertawa.
Dan untuk Alzam. Tatapan mata Alzam begitu tajam memperhatikan gadis itu. Tak ia sadari bibirnya ikut menyungging saat melihat tawa tergambar di wajah Nina.
'Aku berjanji Nina... aku akan membuatmu bahagia. Jika suamimu hanya bisa memberikan luka dan membuatmu mengeluarkan air mata, maka aku akan menjadi penyembuh luka. Aku akan merebut mu darinya' tekad Alzam dalam hati.
__ADS_1
Yah, jika dikatakan gila. Alzam memang gila karena berniat merebut kakak iparnya.