![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
08:00
Pagi hari ini seluruh anggota keluarga Darius tengah berkumpul untuk melakukan rutinitas mereka, yakni sarapan pagi. Seperti biasa, mereka akan bercerita sedikit sebelum mengakhiri obrolan dengan menyantap makanan.
Mata mereka tertuju pada Bian yang sedang sibuk menggoda keponakannya dengan gelitikan-gelitikan di sekujur tubuhnya. Neha tertawa geli dan Bian tertawa puas.
"Paman... Neha geli... Mama" Neha langsung bersembunyi di ketiak Helena dan Bian menjadi gemas dengannya.
"Kemarilah atau aku akan menculik Mama mu" gurau Bian membuat Helena tertawa.
"Mama akan di culik sayang... tolong Mama... Mama tidak mau di culik paman Bian... aaaaa" Helena meladeni gurauan Bian supaya putrinya ini kasian dan mau lepas dari ketiaknya. Ia merasa geli...
"Paman... jangan menculik Mama ku, kau akan mendapat hukuman saat kak Nina datang" Neha memberi peringatan Bian dengan pose berkacak pinggang. Wajahnya keatas seperti sedang menantang dan seluruh orang tertawa dengan hiburan di pagi hari.
"Oh kau menantangku rupanya... rawrr"
"Aarkkk"
Neha melarikan diri memutari meja makan sebesar ini. Membuat kedua orangtuanya bangga dengan keaktifan yang Neha perlihatkan.
Abrizal juga ikut tertawa lalu menjadikan wajah putrinya yang sibuk menunduk membaca pesan-pesan di layar ponselnya, "Aya..."
Aya menoleh dan langsung menyembunyikan ponselnya, "Iya Ayah..."
"Bagaimana dengan kuliahmu? Bukankah sebentar lagi kau akan masuk ke kampus... kau harus menyiapkan segalanya, Ayasya..." tanya Abrizal meminum kopinya.
"Iya, Aya... aku lihat kau tidak usaha sama sekali... semua seperti instan... bukankah itu terlihat menyepelekan? seharusnya Alzam jangan mau mendaftarkan dirimu di kampus lamanya..." Asad juga ingin berkomentar.
"Jangan seperti itu, Mas" Helena membantu, "Aya... kalau kau ingin menyiapkan perlengkapan kampus, bagaimana kalau kau ikut denganku? Kebetulan aku juga harus membeli perlengkapan sekolah Neha"
Kikuk Aya dengan mata liar melihat orang-orang yang menatap dirinya. Ia menaikan kedua bahunya acuh.
"Kenapa kalian tanya ke aku? Nina juga akan kuliah... tapi sampai sekarang dia masih asik berbulan madu dengan suaminya. Aku akan cari peralatan sekolah bersamanya saja. Terimakasih kak Helen atas tawarannya..."
Seluruh anggota merasa bingung dengan temperamen anggota termuda di kediaman ini, padahal niat mereka baik dengan bertanya tentang masalah studinya. Itu pertanda mereka sangat sayang dan peduli, namun Aya malah menganggapnya berlebihan.
Aya beranjak dari kursinya.
"Kau mau kemana, sayang?" Zelofia menahan tangan Aya yang ingin meninggalkan ruang makan.
"Aku mau jalan-jalan sama temenku... Assalamu'alaikum" Aya langsung bergegas meninggalkan meja makan.
Ia yang kesal sampai tidak menyapa Alzam yang baru saja turun dari kamarnya, padahal Alzam sudah hampir mencium pipi adiknya.
Kening Alzam berkerut, "Kenapa dengan Aya? Siapa yang membuat Aya marah?"
"Apa ada yang berani membuat marah seorang ratu?" jawab Adnan memperlihatkan ringaian kecil dari bibirnya dan itu membuat Bella tertawa.
Bukan itu jawaban yang Alzam inginkan. Ia hanya menggelengkan kepalanya saja.
__ADS_1
"Kak, jangan gitulah sama Aya... kasian dia"
Adnan hanya membuang nafas dan menoleh kearah lain. Ia tidak berniat ingin membalas ucapan adik keduanya.
"Bun, Alzam ingin bicara dengan bunda..." ucap Alzam dengan penuh kesopanan kepada ibunya yang tengah menikmati kopinya.
"Oh begitu ya... ok" Zelofia segera bangkit dan mengajak putranya menjauh dari ruang makan. Takutnya ia mengganggu anggota yang ingin menikmati sarapan.
Sementara itu...
Bella segera bangkit dari duduknya. Ia tidak tahan dengan drama keluarga ini. "Semuanya, aku merasa pusing... sepertinya jika aku tidur sebentar maka rasa pusingnya akan hilang"
"Iya, pergilah... nanti aku akan meminta Maya untuk mengantarkan makananmu ke kamar" jawab Helena mewakili ayah dan ibu mertuanya.
Setelah mendapatkan ijin, Bella pergi dengan hormat seraya menyeringai lebar. Menurutnya, tidak ada yang menarik perhatiannya selain informasi dari orang suruhannya.
"Bulan madu? Mereka saja lebih sering menikmati kesendirian... dasar Nina nakal..." Bella bergumam di perjalanannya.
_____
Kini Alzam dan Zelofia berada di tepi kolam renang. Alzam duduk bersama dengan ibunya yang sudah siap mendengar cerita putranya.
"Ada apa? Kau sudah mendapatkan calon menantu untuk bunda?"
"Bukan itu bunda..." Alzam membuang nafas kecewa. Kalau begini Ia jadi malas ingin mengajak bicara ibunya.
Setelah satu Minggu Zain menikah, Zelofia jadi posesif ingin segera menjodohkannya. Namun di hati kecil Alzam belum ada niatan ingin menikah.
"Begini Bun... bagaimana kalau kita meminta Nina untuk kembali... Alzam tahu ini baru satu Minggu, tapi masuk kuliah sebentar lagi Bun... dan Nina belum menyiapkan apa-apa"
"Tapi kalau Nina sama Zain pulang... mereka gak ada waktu untuk berdua lagi dong?" Zelofia merasa kurang setuju dengan permintaan Alzam, mengingat jika interaksi pasangan pengantin baru itu masih sangat kurang.
Alzam menghela nafas.
"Bun, Nina masih ada waktu sama kak Zain walau itu tidak puncak... tapi kesempatan untuk mengenyam pendidikan itu sangat penting untuk Nina..."
"Iya Zam... tapi kedekatan pasangan itu jauh lebih sangat penting... bunda pengen mereka menghabiskan waktu berdua tanpa ada gangguan, dengan begitu Zain dan Nina bisa lebih akrab" Zelofia kekeh dengan pikirannya. Ia harus mendekatkan Zain dan Nina, pikirnya.
"Mereka masih bisa berduaan di rumah, Bun... Nina emang sudah menikah tapi dia juga tidak boleh meninggalkan kewajiban nya untuk menimba ilmu"
Zelofia membuang nafas, "Ya sudah... bunda akan telpon Zain dan Aynina... ok"
"Ya udah sekarang"
Zelofia menggeleng heran dan segera mengambil ponsel untuk menelpon Zain.
Saat ini Zain baru saja selesai dengan kegiatan mandinya. Ia sudah memakai handuk sepinggang dan berjalan mengambil ponselnya.
'Panggilan Vidio' gumam Zain melihat layar ponselnya.
__ADS_1
Zain bingung harus menjawabnya atau tidak karena ia tahu ibunya itu akan menanyakan kabar Nina, tapi kan Nina masih ada di balkon.
Zain meletakan kembali ponselnya dan pergi membuka pintu balkon. Ia melihat istrinya meringkuk kedinginan tanpa ia pedulikan. Yah, Zain tidak peduli itu.
"Cepat bangun..." kaki Zain mengguncang kaki Nina.
Nina yang merasakan guncangan itu segera bangun. Ia mengucek kedua matanya yang terasa amat ngantuk karena terjaga semalaman.
"Bu-bukankah..."
"Cepat basuh wajahmu... ibu menelpon" singkat Zain melenggang pergi masuk kedalam kamarnya kembali.
Nina ingin kembali menangis, namun matanya sudah lelah dan sembab, terlebih ia tidak boleh memperlihatkan itu didepan mertuanya. Nina pergi ke kamar mandi.
Didalam kamar Zain sudah mengangkat panggilan ibunya,
"Assalamu'alaikum Ibu..." Zain menjauhkan wajahnya.
"Bunda... ibuuu terus, jelek..." ingatnya namun Zain tidak peduli. Ia sudah berkali-kali mengingatkan Zain untuk memanggilnya dengan sebutan bunda namun putranya itu selalu menolak.
Terlepas dari itu Zelofia berbinar melihat rambut Zain yang basah sehabis mandi... "Wah... kau habis keramas ya!! Sudah berapa kali keramas?"
Pertanyaan itu terdengar jelas di telinga Alzam. Ia juga ingin melihat wajah kakaknya.
Zain mengerutkan keningnya tahu maksud perkataan ibunya. Tidak tahu saja jika Zain memang sering mencuci rambutnya. Kebetulan saja ia belum memakai hairdryer pagi ini.
"Dimana Nina?"
Deg
Mata Zain sedikit melebar. Inilah pertanyaan yang ingin ia hindari.
"Di kamar mandi" jawab Zain membuat Zelofia tersenyum misterius.
"Apa kau tidak membiarkan dia keluar dari kamar mandi? Ini sudah jam berapa Zain... jangan kau terkam istrimu terus..."
"Bun..." Alzam menoel bahu ibunya karena merayu Zain dan Zelofia hanya mengabaikan dan Zain juga masih setia dengan ekspresi datar.
Tidak berselang lama mereka melihat Nina keluar dari kamar mandi. Nina segera mengusap wajahnya yang basah menggunakan handuk.
"Ya ampun itu menantuku... selamat pagi sayang"
Nina menoleh melihat layar ponsel yang Zain perlihatkan. Ia melirik wajah datar Zain dan melangkah mendekat ingin bergabung.
"Selamat pagi... bu-bunda" kikuk Nina mencoba untuk tidak melakukan kontak mata dengan pria yang ada disebelah mertuanya, Alzam.
Nina yakin jika Alzam akan sadar jika dia menangis.
"Sayang... matamu sembab sekali... ada lingkaran hitam di sekitar mata... apa Zain tidak membiarkanmu tidur dan dia sering membangunkan dirimu? Zain selalu meminta lebih ya?"
__ADS_1
Mata Nina terbuka lebar.