![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
"Maaf, Tuan" lirih Nina hanya di dengar oleh Zain saja.
Tentu ustadzah Fadila tidak boleh tahu, takutnya wanita ini berpikiran yang tidak-tidak.
Mata ustadzah Fadila tidak bisa lepas oleh wajah imut Nina, apalagi tingkah malunya yang terus menundukkan kepala.
"Masyallah Zain... siapa wanita ini, apa dia adalah istri yang kau nikahi beberapa Minggu yang lalu?" tanya ustadzah Fadila mengusap lembut kepala Nina.
Zain menelan ludahnya, berat rasanya ia mengaku telah menikah lagi.
"Betul" singkat Zain mampu menciptakan kebahagiaan didalam hati Nina.
"Masyallah kau gadis yang sangat cantik" puji ustadzah Fadila.
"Terimakasih" sementara Nina hanya bisa tersenyum mengangguk.
"Bagaimana kalau kita mengobrol di ruang tamu saja? Sepertinya para murid sibuk memperhatikan kita daripada mendengar tausiah Abi Syahbana"
"Baik" jawab Zain atas ajakan ustadzah Fadila.
Memang semenjak Nina dan Zain datang para murid memperhatikannya mereka dari serambi masjid dan itu mengganggu kefokusan mereka.
Apalagi mengetahui Zain membawa istri barunya, tentu mereka sangat penasaran.
Di ruang tamu.
Ustadzah Fadila duduk di sofa sendirian dan Zain duduk berdampingan dengan Nina, namun keduanya masih memiliki jarak.
"Mengenai pernikahan mu waktu itu... maaf ya Umi nggak bisa datang ke acara tersebut karena ada acara 100 harian Abah Syukki di Arab" sesal ustadzah Fadila.
"Tidak masalah Umi... Zain tidak keberatan sama sekali, lagipula pernikahan itu hanya pesta kecil-kecilan saja" Zain tersenyum.
"Tadinya setelah sampai di Indonesia, Umi mau berkunjung ke rumahmu tapi Abi Syahbana sedang kurang veet jadi harus banyak istirahat... kamu tahu sendirikan umur beliau"
Zain terkekeh kecil, "Tidak masalah Umi... kesehatan Abi Syahbana memang harus di perhatikan, mengingat jika beliau sudah sangat tua"
"Iya kau benar..." ustadzah Fadila mengangguk menerima.
"Assalamu'alaikum... Abi langsung cepat-cepat mengakhiri tausiyah karena melihat mu datang berkunjung" ustadz Syahbana akhirnya datang seraya menyalami Zain.
"Zain jadi merasa tidak enak" canggung Zain tertawa kecil.
Nina ingin meraih tangan ustadz Syahbana tapi pria itu segera menyatukan kedua telapak tangannya menolak seraya tersenyum.
Dengan gugup Nina pun balas tersenyum. Astaga Nina tidak tahu apa-apa.
"Dia istrimu, Zain?" tanya ustadz Syahbana dan Zain hanya mengangguk saja. "Subhanallah cantiknya"
"Terimakasih" Nina pun tersenyum.
"Sepertinya Abi sudah ada disini jadi Umi mau kebelakang ngecek pondok putri dulu sekalian mau siap-siap masak buat makan malam. Oh iya... nak...?"
"Aynina" sela Nina saat ia menduga jika ustadzah Fadila belum mengetahui namanya.
"Ah iya... nak Nina mau ikut Umi ke belakang? Daripada disini kayaknya agak canggung ya..." gurau ustadzah Fadila tertawa kecil.
__ADS_1
Nina melirik wajah Zain, namun pria itu tidak terusik sama sekali membuat Nina menduga jika Zain tidak memperdulikan dia.
"Nina mau, Umi" jawab Nina tersenyum lalu mengikuti ustadzah Fadila ke belakang.
________
"Siapa wanita itu?"
"Apa dia istri Tuan Ankazain?"
"Dia imut sekali"
"Tidak juga"
Suara itu terdengar kecil di telinga Nina saat ia melewati setiap ruangan yang terkunci menutupi para gadis-gadis yang sedang mengintip didalam sana.
"Ini loh ini... istrinya Tuan Ankazain..." bisik gadis memakai pakaian syar'i kepada rekannya yang langsung menunduk mendapati wajah ustadzah Fadila.
"Assalamu'alaikum, Umi"
"Walaikumsalam" jawab Umi Fadila tersenyum kepada dua gadis yang kembali membicarakan wajah Nina. Hal itu membuat ustadzah Fadila ingin tertawa.
"Sepertinya mereka begitu menyukaimu" tutur ustadzah Fadila memegang pundak Nina.
"Aku harap juga begitu... Umi" balas Nina tersenyum.
Mereka pun sampai di dapur tempat para gadis-gadis membuat makan malam. Ada yang mengupas wortel, menggoreng lauk pauk, menanak nasi dan memetik bunga kol seraya bertukar cerita.
Mereka semua gelapan merapikan dirinya saat melihat ustadzah Fadila datang.
"Walaikumsalam" balas semua anak gadis seraya mengerjakan pekerjaannya.
"Nak Nina... disini tempat kami membuat makan malam. Anak-anak, ini Nak Aynina, beliau ini adalah istri Tuan Ankazain"
Detik itu juga desas-desus kembali terdengar. Entah pujian atau hinaan Nina sudah tidak mau mendengar. Ia hanya perlu pura-pura tuli.
"Bilsya, tolong Bilsya bantu Nak Nina sewaktu disini ya... Umi mau ambil pesanan di toko sebentar dan Alisha tolong buatkan teh untuk Tuan Ankazain dan Abi di ruang tamu ya"
"Baik, Umi" jawab keduanya dan ustadzah Fadila pun pergi setelah mengucap salam.
"Apa yang bisa aku bantu?" Nina mencoba menawarkan bantuan. Tidak mungkin kan dia diam sementara mereka bekerja.
"Mbak Nina bisa masak?" tanya Bilsya dan Nina menggeleng dengan polos.
"Dulu Mbak Anita sering masak disini" bisik gadis yang mengupas kentang dengan Bilsya yang langsung menegurnya.
Lagi-lagi Nina harus mendengar nama Anita sebagai objek perbandingan antara dia dan dirinya. Sungguh Nina ingin marah rasanya.
"Mbak Nina bisa menggoreng?" tanya Bilsya dan lagi-lagi Nina menggeleng.
Pantas saja mereka membandingkan dia dengan Anita. Rupanya Nina tidak bisa apa-apa. Astaga!!.
Nina tidak pernah masak karena Marta tidak pernah sekalipun mau mengajari dia.
"Ya udah Bilsya ajarin Mbak Nina mau?" lembut Bilsya membuat mata Nina berbinar.
__ADS_1
"Mau" jawab Nina saat itu juga.
Dengan perasaan yang bahagia Nina mendekat dan Bilsya segera menggeser kursi untuk Nina duduki.
"Masak apa ya kita... hemm gimana kalau goreng ikan asin, tempe, tahu sama sambal ijo. Itu enak loh Mbak" Bilsya merekomendasikan makanan yang mudah dalam cara pembuatan.
Nina masih mikir-mikir. Apa Zain akan suka atau tidak? Makanan ini terlalu kampungan untuk pria sedingin suaminya.
"Hem!! Mbak Anita pernah masak apa?" tanya Nina membuat Bilsya diam.
Jika mengingat Anita membuat Bilsya merasa sedih, mengingat jika wanita itu merupakan motivasinya selama di pondok.
Bilsya mencoba menahan rasa sedihnya, "Mbak Anita masak... tumis kangkung dan sering menggoreng ayam"
"Ya udah kita masak itu aja" Nina memutuskan untuk mengikuti menu makanan yang sering Anita masak dan Bilsya pun mengangguk.
Bilsya mengambil satu ikat kangkung yang ada diatas meja dan memberikannya kepada Nina.
"Pertama-tama potong kecil-kecil bawang merah, bawang putih sama cabe..." Bilsya mengajari dan Nina melakukannya.
Selama memotong bumbu tersebut, ada saat dimana Nina menangis karena matanya pedas namun hal itu malah membuat Nina senang dan Bilsya pun tertawa.
Bilsya dengan telaten mengajari Nina cara memasak tumis kangkung dan menggoreng ayam. Nina lakukan semua itu dengan hati yang ikhlas untuk suaminya.
1 jam berlalu
Setelah sekian lama akhirnya Nina selesai memasak tumis kangkung untuk banyak orang. Mereka segera menghidangkan di area pondok putri dan pondok putra, tidak lupa di kediaman ustadz Syahbana.
Setelah menghidangkan, seluruh penghuni pondok tersebut melaksanakan sholat Maghrib dan ustadz Syahbana sendiri yang menjadi imamnya.
Selepas sholat Maghrib barulah mereka menyantap makan malam. Nina dan Zain makan bersama dengan ustadz Syahbana dan sang istri.
"Kalian makan dulu... selepas makan boleh pulang" gurau ustadzah Fadila mengambilkan nasi untuk suaminya yang langsung menoel malu.
"Umi kok gitu sama Zain!!"
"Ya lagian Zain minta langsung pulang sehabis sholat Maghrib... harus makan malam dulu, baru pulang" kata ustadzah Fadila membuat Nina tersenyum senang.
Inilah yang Nina tunggu-tunggu dimana Zain mencoba masakan Nina, masak iya mereka langsung pulang? Yang benar saja.
"Nak Nina, ayo di ambilkan nasi untuk suaminya"
"I-iya Umi..." Nina segera mengambilkan dua centong nasi ke piring Zain. "Apa cukup?"
Zain tidak menjawab. Pria itu hanya diam memperhatikan ustadzah Fadila yang bergurau dengan sang suami.
Hal itu membuat Nina kecewa.
"Ayo dimakan, Zain..." pinta ustadzah Fadila.
"Iya, Umi" jawab Zain menyuapi mulutnya dengan nasi dan tumis kangkung buatan Nina. Tanpa banyak bicara dia mengunyahnya.
"Hem tumis kangkung ini rasanya beda... siapa yang masak?" tanya ustadz Syahbana setelah mencicip masakan Nina.
"Aku yang masak" jawab Nina membuat Zain menaruh sendoknya kembali.
__ADS_1