![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Dengan susah payah Nina membawa tubuh Zain hingga keatas ranjang.
"Kemeja mu basah dan kau harus menggantinya. Dimana kau menyimpan bajumu? Kau berniat ingin tinggal, pasti juga membawa baju ganti"
"Aku tidak bawa baju" jawab Zain sudah melepas kemejanya dan telentang diatas ranjang. Pria ini sudah tidak tahan ingin tiduran.
"Ya sudah! Aku akan ambilkan baju ayah untukmu"
"Tunggu" sela Zain meraih tangan Nina terlalu kencang hingga tubuh ringkih wanita itu terjatuh diatas dadanya.
Mata Nina membulat bertatapan dengan mata sayu sehabis muntah ditambah telapak tangannya menyentuh salah satu buah dada Zain.
"Kau menodai ku"
Nina segera sadar dan menjauh. Zain kembali memijat pelipisnya yang lelah.
"Tidak usah minjam baju ayahmu, biar Ebil datang dan membawakan baju-bajuku"
"Kapan dia akan datang? Jika itu satu jam kedepan, kau akan segera kedinginan" sanggah Nina kurang terima."Sebentar"
Nina berlari mengambil baju yang dimiliki Fulan dan membawanya kembali.
"Ini baju ayah. Belum pernah dipake karena kebesaran jadi otomatis muat di tubuhmu" kata Nina menaruh baju itu disebelah Zain yang segera bangkit.
Nina membantu memakaikan baju suaminya.
"Aku ambilkan air putih ya?"
"Jangan" tolak Zain dengan cepat. Ia tidak mau kejadian tadi terulang lagi.
"Aku buatkan teh?"
"Tidak"
Nina merasa agak kesal, "Perutmu pasti kosong saat ini dan harus diisi. Kalau tidak, kau bisa kekurangan tenaga" Nina kembali memijat leher bagian belakang Zain dengan kuat.
"Aku tidak mau apa-apa" tolak Zain kembali.
"Kau tadi kenapa bisa sampai muntah-muntah seperti itu?"
Pertanyaan itu membuat Zain kembali mengingat gerakan-gerakan menggelikan dari cicak itu mengobrak-abrik rongga mulutnya.
"Tanyakan saja pada adikmu. Aku tidak kuat" jawab Zain dengan kedua tangan bertumpu di masing-masing paha. "Agak naik sedikit... di puncak kepala juga ya. Aku rasa efeknya sampai kepala"
"Iya" Nina yang sudah dengar segera memijat bagian-bagian yang Zain ucapkan.
Pijatan Nina begitu kuat dan mulai menghilangkan kesadaran pria itu. Zain yang sudah dibawa ke alam bawah sadar itu akhirnya tertidur juga.
Nina pun pergi.
Gadis ini ingin memarahi adiknya. Ia sudah menyebut nama anak itu dengan keras namun tidak kunjung ia temukan.
__ADS_1
"Artur!!"
Nina berpikir sejenak saat ia tidak menemukan anak itu. Ia pun segera masuk kedalam kamar Artur dan melihat ke kolong kamar.
"Haii anak nakal!!"
Artur memperlihatkan seringaian tanpa dosa dan Nina segera menarik tangan adiknya.
"Duduk" Nina berjongkok saat adiknya sudah duduk di ujung ranjang dengan pandangan lurus kebawah. "Apa yang kau lakukan kepada nya?"
"Mengerjai Tuan kaya bermuka datar? Aku sengaja memasukan cicak hidup yang ku dapat kedalam gelasnya"
Nina menghela nafas panjang. Selain mengerjai, rupanya adiknya telah memberikan julukan buruk untuk kakak iparnya.
"Artur, mengerjai orang itu tidak baik apalagi orang itu lebih tua dari kita. Bisa saja tadi Tuan Zain pingsan atau hal buruk bisa menimpa dia nanti!!" nasihat Nina dan Artur hanya menunduk saja.
"Dia itu menyebalkan kak"
"Apa dia melakukan hal buruk kepadamu sampai kau mengerjainya?" tanya Nina dan Artur hanya menggeleng saja. "Jadi kenapa kau mengerjainya"
"Dia... dia mengerjaimu kak"
Nina yang merasa tidak dikerjai itu bertanya, "Mengerjai bagaimana?"
"Dia menakut-nakuti mu kalau dia akan mengambil jantungmu, namun setelah kau berlari dan berteriak, dia malah tertawa terbahak-bahak" adu Artur dengan jujur.
Nina terdiam. Sekarang ia tahu jika Zain tidak pernah sungguh-sungguh untuk menjual organ-organ didalam tubuhnya.
Artur mengangguk lemas.
"Ayo" Nina mengajak Artur menemui Zain.
Zain yang terkejut segera bangkit melihat gadis itu malah membawa Artur si bocah tengil datang kemari. Ia menjadi waspada sekarang.
"Kenapa kau membawa anak itu?" tanya Zain membuang muka, membuat Artur sadar dan mendekat.
"Maaf"
Lirih Artur berharap pria itu mau mendengarnya dan menerima maafnya. Namun tidak semudah itu Zain memaafkan, apalagi kesalahannya sangat fatal.
"Kak!!" rengek Artur meminta bantuan Nina.
"Tuan, adikku datang kemari untuk meminta maaf. Bisakah kau memaafkannya? Dia tidak akan melakukan hal itu lagi... dia sudah berjanji" bujuk Nina.
Zain membuang nafasnya dalam-dalam lalu melihat Artur.
"Apa kau bersungguh-sungguh?"
"Iya, aku bersungguh-sungguh" jawab Artur dengan pandangan menunduk melihat kedua tangannya yang bertaut sesal.
Melihat penyesalan anak ini membuat hati Zain tersentuh. Ia tidak pernah bisa mendiami anak kecil, sama sekali tidak bisa.
__ADS_1
"Iya!! Aku memaafkanmu"
"Terimakasih!!" Artur langsung melompat ke tubuh Zain yang hampir terbaring lagi. Tidak lupa anak ini menciumi setiap inci wajah Zain dengan begitu brutal dan Zain kembali marah.
Artur yang sudah tahu segera turun setelah meninggalkan bekas kecupan seperti ludahnya di wajah kakak iparnya itu.
"Terimakasih!!"
"Anak itu" pekik Zain mengusap air liur yang ada di pipinya. Menyesal dia memaafkan anak itu. "Ini bukan permintaan maaf"
"Dia sayang kepadamu... buktinya dia mencium habis wajahmu" Nina menyeringai gugup mendapati wajah menuntut dari Zain. "A-aku... i-ibu memanggil"
"Tunggu dulu kau harus tanggung jawab Ay---"
Nina sudah berlari kabur dari pria pemarah ini.
"Kurang ajar!!"
_______
Semenjak malam itu Zain jadi menjaga jarak dengan Artur. Walau Artur sudah meminta maaf dan Zain juga sudah memaafkan, namun anak itu tetap tengil dan bandel.
Beberapa hari Zain menginap di rumah Nina, dan pagi ini sudah waktunya pria ini untuk kembali ke rumah bersama dengan istrinya. Terlebih ibu Marta sudah sembuh.
"Kaki ibu sudah benar-benar sembuh kan? Nina nggak bisa lama-lama di sini" Nina mencoba melihat luka dikaki ibunya yang sudah hampir mengering.
"Jangan menghawatirkan aku. Pikirkan kehidupanmu di sana. Jadilah menantu dan istri yang baik" Marta berbisik, "Berilah Nyonya Zelofia seorang cucu laki-laki. Maka putramu akan menjadi cucu laki-laki tertua di keluarga Darius dan kau... akan memiliki masa depan yang baik"
Nina yang geli segera mendorong tubuh Marta.
"Ibu, jangan bicara seperti itu... jika Tuan Zain dengar bagaimana?" tegur Nina melirik Zain yang ada disebelahnya.
"Ehem" Zain berdeham dingin. Lalu mencium telapak tangan Marta, "Assalamualaikum"
"Nina pulang dulu, ibu... ayah" Nina menyalami ibu Marta dan juga Fulan bergantian, "Tolong ayah ingat pesan Nina, yah"
"Iya Nina" jawab Fulan memeluk tubuh Nina.
Atensi Zain beralih melihat bocah tengil yang selalu mengusahakannya selama ini. Bocah itu terlihat sombong dengan wajah terangkat dan kedua tangan bersidekap.
"Hati-hati" Artur melambaikan satu tangannya dengan angkuh. Hal itu menarik perhatian Zain yang segera datang.
"Sekolah yang benar supaya saat kau sukses bisa menjadi sainganku dalam berbisnis" Zain mengusap kasar kepala Artur.
"Arkk iya-iya" jawab Artur menepis kasar tangan Zain dan menerima tangan Nina yang terulur mengusap pipinya.
"Kakak pergi dulu ya!! Jaga ibu dan ayah baik-baik selama kakak tidak ada bersamamu"
"Baik kak"
Lantas Nina dan Zain segera masuk kedalam mobil. Dengan hati yang berat Nina membiarkan Zain menjalankan mobilnya.
__ADS_1