Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Tidak Bisa Jauh Darimu


__ADS_3

Nina terdiam tanpa seribu bahasa. Matanya masih terlihat terkejut dan pria itu melihatnya.


"Tidak-tidak" Zain segera menarik kata-katanya. Ia terdengar rendahan karena menuntut pengakuan dari gadis ini. Ini sama sekali bukan dirinya. "Pergilah!. Sangat bahaya jika kau terus melihat wajah tampanku ini, takutnya jantungmu meledak dan merugikan aku"


"I-iya" gugup Nina masih kebingungan. Ia bergegas pergi meninggalkan pria itu.


Sampainya di dapur. Nina segera menarik nafasnya dan membuang sepenuhnya. Tidak lupa ia mengelus dada karena jantungnya benar-benar bergemuruh meminta keluar.


"Astaga jantungku hampir copot rasanya" Nina mengatur pernafasannya dan memilih sibuk dengan belanjaan.


Tiba-tiba Fulan datang dan mengejutkan putrinya, "Nin, mana uangnya? Ini udah hampir seminggu! Jangan lama soalnya ayah mau setor" ia sedikit memaksa.


Nina mulai ingat jika ayahnya sempat meminta uang darinya beberapa hari yang lalu.


"Nina nggak ada uang ayah"


"Kok bisa?" Fulan segera menutup mulutnya karena terlalu keras berbicara. Takutnya kedengaran sampai luar. "Ayah kan udah bilang kalau waktunya tinggal seminggu. Ini udah hampir seminggu, masa iya belum ada uang. Apa kamu nggak minta sama Zain ya?"


"Nina nggak mau minta sama dia. Malu ayah! Lagian kalau ayah bisa kredit motor, seharusnya ayah udah mikirin gimana bayarnya" bantah Nina agak merendahkan nada bicara. "Ayah kan juga kerja"


"Sebenarnya ayah itu di pecat Nin... ayah nggak tahu mau ngasih uang ibu kamu apa, apalagi bayar hutang motor" sesal Fulan menyentuh hati putrinya.


Nina yang merasa belum bisa memberikan apa-apa segera mengeluarkan kartu kredit yang ada didalam dompet.


"Ini ayah!" Nina memberikannya, "Ini kartu kredit bulanan dari bunda Zelofia. Nina kasih ke ayah buat kebutuhan rumah selama ibu lagi sakit dan belum bisa bekerja lagi. Nina juga tidak bisa lama-lama di rumah ini, karena harus sekolah"


"I-ini beneran nak?" tanya Fulan masih tidak menyangka. Ia akan memegang kartu kredit bersaldo tinggi.


"Iya. Setiap bulannya keluarga Darius akan mengirimkan uang ke rekening itu, jadi ayah gunain baik-baik uangnya. Nina nggak bisa bantu apa-apa" sesal Nina membiarkan Fulan menyimpan kartu itu.


"Iya Nin, ayah akan gunain uang ini baik-baik. Kamu tenang aja" kata Fulan mengusap kepala Nina.


"Dan, tolong ayah jangan marah-marahi ibu lagi. Kasian ibu udah kena musibah tapi ayah malah marah-marahi dia. Ibu juga udah lelah cari uang buat bantu ayah juga, kan?" kata Nina dengan lembut supaya kesannya tidak menyakiti hatinya.


"Iya, ayah tidak akan melakukan itu lagi" kata Fulan terlihat tulus.


Fulan pun segera mengusap lagi kepala Nina dan senyuman terlukis di wajah mereka. Tiba-tiba dari luar datanglah Zain yang baru saja menghabiskan kopinya.

__ADS_1


"Eh nak Zain!!! Ayah tadi ngobrol-ngobrol dengan istrimu... ayah minta dia supaya patuh dengan perintah mu dan tidak menyusahkan dirimu" ucap Fulan berbohong memasukan kartu kreditnya kedalam saku celana.


"Hm"


Fulan tersenyum kecut mendapat reaksi tidak sopan dari menantunya, "Kalau begitu aku akan meninggalkan kalian berdua, permisi"


Fulan langsung hilang dan tidak terlihat lagi.


Sementara Zain fokus melihat wajah datar gadis itu. Walau gadis itu diam dan menyembunyikan sesuatu, pasti Zain mengetahuinya.


"Apa kau bisa masak?" Zain duduk di meja makan mini disana, melihat Nina yang sedang sibuk mengeluarkan barang belanjaan.


"Aku hanya bisa masak kangkung. Itu saja saat aku datang ke pondok ustadz Syahbana" jawab Nina tersenyum hambar.


"Kau akan membuatkan diriku tumis kangkung lagi?"


"Kenapa? Bukankah saat di pondok ustadz Syahbana, kau sering memakan menu makanan seperti itu" sanggah Nina saat ia mengingat kejadian di pondok ustadz Syahbana.


"Kau tau darimana?" Zain mengernyitkan dahi karena bingung.


Nina masih tersenyum, "Banyak sekali yang membicarakan mu disana. Kau sudah seperti aktor dan mereka semua fans mu. Mereka semua tahu jika kau sering makan kangkung"


Zain mencoba untuk tidak terganggu dengan menggelengkan kepala. Begitu menyakitkan dan menyesakkan dada.


Nina baru sadar jika telah menyinggung perasaan Zain, "Hem, maafkan aku..."


"Hm"


"Apa perban di punggung mu sudah diganti?" tanya Nina mengalihkan pembicaraan dan Zain menggeleng pelan, "Kalau begitu diganti dulu. Ayo, aku akan mengganti perbanmu"


"Baiklah"


Saat ini keduanya berada disatu ruangan yang sama. Kamar yang nampak sedikit pengap karena kecil dan jendela harus dibuka, memperlihatkan persawahan milik warga.


Zain bersila diatas ranjang dengan pandangan jauh ke arah sawah sana dan Nina duduk dibelakang mengobati punggungnya yang luka.


"Ini kamarmu?"

__ADS_1


"Iya" jawab Nina membenarkan dan tangannya mulai melepas perban Zain. "Wahhh lukamu sudah hampir mengering! Dua sampai tiga hari kemungkinan sudah sembuh"


"Hm! Aku sudah tidak merasakan sakit" kata Zain memudarkan lamunannya sendiri. "Bagaimana dengan kakimu?"


"Tidak perlu ditanya. Aku sudah bisa berjalan kesana kemari dan tentunya sudah sembuh" jawab Nina dan Zain hanya mengangguk saja.


"Hasil medis dari Dokter belum kau ambil kan?" tanya Zain baru ingat jika waktu itu Dokter Aldo ingin memeriksa Nina, dan karena Zain sudah tidak betah membuatnya harus pulang hingga tidak mengambil hasil medis tersebut.


"Oh iya. Biarkan sajalah... Untuk apa hasil medis jika luka di kakiku sudah hampir mengering" Nina menolak karena ia rasa tidak menjadi masalah.


"Lukamu itu tidak begitu dalam tapi kenapa masih ada kata hampir? Seharusnya sudah sembuh" sangkal Zain dan Nina menaikan kedua bahunya.


"Entah" balas Nina tidak mau diambil pusing. "Lagian kenapa hanya aku yang diperiksa Dokter? Timah yang menembus punggungmu itu juga mengerikan, kenapa dia melupakan itu"


"Kau kan tertusuk batang runcing" balas Zain juga tidak mau ambil pusing. "Ngomong-ngomong, angin kencang masuk kedalam kamarmu. Kau tidak takut masuk angin ya?"


"Tidak, karena aku selalu menutupnya" balas Nina akhirnya selesai mengganti perban Zain, "Aku sudah selesai"


Nina pun duduk disamping Zain yang langsung menggeser tubuhnya kearah Nina.


"Jika siang-siang seperti ini akan terasa sejuk, kau juga tetap menutupnya?"


"Iya. Bisa dibilang ini kali pertama aku membuka jendela ku" balas Nina merapikan semua obat-obatan milik Zain.


"Kenapa?"


'Aku sering menangis di kamar ini. Jika aku membukanya, pasti para warga yang sering lewat akan bertanya-tanya' balas Nina dalam hati. "Banyak petani lewat. Aku kurang nyaman dengan itu"


Atensi Nina beralih melihat kearah sawah sana. Ia melihat ada pria memakai caping seperti seorang petani, "Ada bapak-bapak! Jendelanya harus ditutup. Nanti dia berpikiran buruk saat melihatmu tanpa baju"


Kedua tangan Nina meraih jendela dan menutupnya, sementara Zain terlihat tersenyum memakai bajunya.


Lantas jendela itu benar-benar tertutup, membuat pria yang memakai caping itu merasa geram karena tidak melihat mereka lagi.


"Berapa banyak polisi yang mengejar ku sampai pria itu dan kau nampak tenang? Jika ada kesempatan, aku akan mengambil mu lagi. Aku tidak bisa jauh darimu barang sedetik pun"


To be continued

__ADS_1


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak ya bebss nih aku up 3 bab lagi!! Jangan lupa untuk dukungannya 🙏🤗


__ADS_2