Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Hanya Hal Sepele


__ADS_3

Lagipula ini bukan salah Alzam yang berniat mengeluarkan Nina dari jeratnya pernikahan paksa. Ia hanya merasa jika Zain sekedar bermain dengan hubungan ini dan enggan untuk menerima istrinya.


Alzam tersenyum, "Nehaaa tunggu paman"


Akhirnya Alzam mengejar Neha dan berjalan menggandeng tangan Neha yang satunya. Tak lupa matanya melihat senang tawa Nina.


________


2 jam kemudian


Mobil Lamborghini putih sudah memasuki kawasan hunian elit dengan garasi yang lebar dan luas. Setelah memarkirkan dengan baik seluruh penumpang segera turun.


Namun sebelumnya, saat mereka berada disatu mobil yang sama! Tidak ada yang mau membuka suara untuk saling bertukar canda maupun tawa. Hanya ada keheningan yang berselimutkan rasa canggung diantara mereka.


Sampai keluar pun perilaku mereka masih sama. Hanya Neha yang tertawa bahagia melihat Helena yang sudah menyambut kedatangannya.


"Mommyyyy" seru Neha berlari memeluk Helena yang sudah berdiri membentangkan kedua tangannya.


"Loh assalamu'alaikum nya mana?"


"Eh iya mommy Neha lupa" gadis kecil itu menepuk dahinya karena lupa mengucap salam. Ia pun menyeringai lebar. "Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam putriku" akhirnya Helena memeluk tubuh kecil putrinya dengan usapan lembut di kepala.


Selepas itu Helena melepas pelukannya, saat empat orang dibelakang memiliki dua tangan yang penuh dengan barang-barang.


"Oh astaga... apa Neha membeli banyak barang?" tanya Helena tak enak hati.


"Bukan hanya banyak kakak, tapi Neha sudah membeli seisi toko dan juga penjualnya. Sekarang pergilah ke mall dan ambil penjual sama tokonya sana" gurau Alzam membuat Helena tertawa.


"Kau itu bisa aja" Helena menepuk pelan bahu Alzam.


Alzam pun mengedipkan satu matanya saat melihat gadis kecil itu memberikan satu jempol.


Tadi sewaktu di mall, selain peralatan sekolah Neha juga ingin membeli semua mainan yang di lihat, karena itu mengingatkan ia kepada teman-temannya di sekolah. Di sekolah saat Neha membawa mainan, maka teman-temannya tidak akan punya dan itu membuat Neha bersedih. Ia pun menggunakan uang Alzam untuk memborong mainan disana. Ia akan berikan kepada teman-temannya besok dan Neha bisa bermain bersama.


Lagipula Helena yang sebagai ibu tidak akan mempermasalahkan itu semua, terlebih Helena sendiri sudah tahu maksud Neha membeli banyak mainan, karena ia pernah memergoki Neha melakukan kegiatan terpuji itu.


Memang Neha yang pandai dan baik!! Seperti ibunya!.


"Ini kak" Zain enggan untuk berlama-lama mendengar gurauan yang ia sendiri tidak suka hingga ia memilih untuk memberikannya segera.


"Oh astaga Zain, kau juga membawa banyak sekali barang Neha. Maaf karena merepotkan dirimu!! Terimakasih ya!!" Helena menerima dengan lapang dada. Ia sudah tahu sifat dingin adik iparnya.


Zain tak memperlihatkan ekspresi apa-apa selain mengangguk dan masuk kedalam rumah.


"Aya kau juga keberatan ya? Sini biar kakak yang membawanya" Helena ingin mengambil tapi Aya segera menjauh.


"Tidak apa kak, aku akan membawanya masuk" Tidak mungkin Aya membiarkan kakak iparnya membawa banyak barang kan!. Setidaknya Aya tidak sesadis itu!.

__ADS_1


Setelah berbincang-bincang sedikit, mereka pun segera masuk kedalam rumah.


Saat mereka masuk. Rupanya sudah ada Tuan Abrizal dan Zelofia yang tengah duduk bersilang kaki menyesap secangkir kopi yang sudah Maya siapkan.


Zain yang baru masuk rupanya sudah mereka tahan. Pria dingin itu duduk di sofa.


"Assalamu'alaikum" ucap mereka serentak.


"Walaikumsalam" jawab seluruh anggota yang ada di ruang tamu.


"Oh Neha cucu eyang yang paling cantik... kau belanja apa di mall?" tanya Zelofia basa-basi.


"Banyak sekali mainan" antusias Neha melebarkan kedua tangannya dengan gemas.


"Baiklah sayang!! Nikmati mainanmu di kamar dengan mommy mu ya" kata Zelofia memberikan isyarat mata kepada Helena untuk segera membawa Neha ke kamar.


"Baik bunda... ayo sayang" Helena mengajak Neha kembali ke kamarnya.


Sepertinya akan ada obrolan penting di ruang tamu itu karena Abrizal juga bergabung disana. Tidak ada keputusan yang paling tepat kecuali keputusan darinya.


"Nina sayang!! Kau berikan barang-barang mu itu kepada Maya dan duduklah bersama dengan Zain. Bunda mau bicara sebentar"


"Ba-baik bunda" gugup Nina memberikan barang-barang belanjaan nya kepada Maya yang langsung datang.


"Bun Aya mau jalan-jalan sama temen. Temen Aya udah nungguin di tempat biasa kita nongkrong" Aya mendatangi Zelofia dan Abrizal setelah membaca pesan.


"Bun, Alzam juga mau ke rumah sakit sebentar"


"Iya sayang" Zelofia tersenyum saat Alzam mengecup punggung tangannya dan Abrizal.


Lalu anak itu pergi setelah melihat Nina yang menundukkan kepalanya. Alzam membuang nafasnya dan pergi.


"Nina masuk kuliah kapan?" tanya Zelofia.


"5 hari lagi Nina masuk kuliah Bun..." jawab Nina menundukkan kepalanya.


Zelofia mengangguk, "Kamu ambil management kan?" Nina mengangguk membenarkan, "Kebetulan kamu ambil management, jadi kamu bisa belajar dulu sama Zain. Besok kamu bisa ikut Zain ke kantor dan melihat-lihat pekerjaan disana. Setidaknya mengenal saja itu sudah cukup"


"Tunggu!! Di kampus nanti dia juga akan mendapatkan pelajaran! Tidak perlu ke kantor Zain" sanggah Zain tidak terima.


"Zain... Belajar sebelum masuk kuliah itu gak ada masalah kok. Justru seharusnya memang kita memahami dulu maksud dari management itu sendiri. Tidak apa-apa kan sayang, Nina?"


Nina mengusap-usap punggung tangannya gugup. Sebenarnya yang di bilang Zelofia benar dan ia juga ingin menerimanya tapi takut Zain marah.


"Ibu seharusnya tanya dulu dengan Zain. Zain belum tentu menerima Bu..."


"Terima!!! karena kau suaminya... kenapa kau tidak menerima mengajari Nina? Dan apa perlu tanya kepadamu dulu jika ini menyangkut kebaikan istrimu?" Abrizal membantah dengan begitu dingin.


Zain hanya membuang nafasnya tidak tahan. Awas saja kau Nina, pikirnya.

__ADS_1


"Bagaimana sayang, kau menerima kan?" Zelofia kembali bertanya dengan harapan Nina mau menerima.


Nina melihat rahang Zain yang mengurat, kedua tangannya terkepal dan matanya menghunus tidak sudi melihat dia. Ia yakin semua itu bentuk kemarahan suaminya.


"Terimakasih bunda, tapi Nina akan belajar di google aja" tolak Nina tersenyum.


"Heii jangan...lebih paham kalau langsung praktek saja. Pokoknya Nina besok ikut Zain ke kantor" kekeh Zelofia kepada Nina.


"Zain masuk ke kamar dulu"


"Zain, orang tua belum selesai bicara!"


Seru Zelofia tidak didengar Zain yang langsung melangkah menaiki tangga dengan langkah besar dari kakinya yang panjang.


"Ni-nina akan menyusul Mas Zain bun"


"Iya sayang. Tolong kau nasihati Zain"


Nina mengangguk hormat dan mengikuti Zain dari belakang.


Sampai di depan kamar Zain. Nina jadi ingin mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam kamar. Ia sangat takut untuk jika melihat kemarahan Zain lagi.


'Kamu ini sudah sah menjadi istri Zain, mau dia nerima atau nggak kamu tetep seorang istri yang sah dan berhak atas Zain. Jadi bunda minta, jangan takut melakukan sesuatu yang benar kepada Zain'


Kalimat bunda membayang di pikiran Nina. Hal itu membuatnya siap untuk masuk ke dalam kamar.


Cklek


"Tuan..." pelan-pelan Nina masuk kedalam kamar namun hanya hening tidak bersuara.


"Tu-----"


Srett


Dagu Nina di cengkeram Zain kearah pintu yang terdorong menutup kamar. Ia meringis sakit dengan dagunya dan kepala bagian belakang yang sempat membentur pintu.


"Ini semua salahmu!!! Kenapa kau bodoh tidak memberi alasan yang lebih logis supaya kedua orang tuaku tidak memaksa mu untuk ke kantor ku!!!! Kau pikir aku Sudi membawamu kesana?"


"Tu-tuan sak-sakit" rintih Nina membasahi punggung tangan Zain dengan air matanya.


"Hanya Anita wanita satu-satunya yang boleh datang ke kantorku... kau paham!!!!"


Nina menutup matanya takut bertatapan dengan mata merah penuh benci dari Zain. Ia sama sekali tak berani menjawab.


Hanya hal sepele saja membuat dagu Nina merah. Hanya karena hal sepele saja membuat Zain marah? Pria itu memang ingin membuat Nina keluar dari rumah!.


...To be continued...


...Jangan lupa dukung selalu dengan vote, like, and komen bebssss...

__ADS_1


__ADS_2