Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Menghafal Nama!


__ADS_3

"Rumah yang indah"


Puji Nina melongo melihat tempat bagai surga ini. Mulutnya tidak berhenti terbuka saat dirinya terus mengagumi kediaman kaya ini.


Di perkebunan sana ia melihat beberapa pekerja wanita tengah memanen hasil tanam mereka untuk segera di olah, dan pekerja pria melakukan angkut-angkut barang yang berat.


Mereka semua terlihat sangat sibuk, seperti sedang ada acara besar di kediaman ini, dan Nina begitu penasaran.


"Tuan, apa sedang ada acara besar di tempat ini?" Nina berlari kecil menyamakan langkah besar pria yang membawanya tadi, karena pria itu hendak meninggalkan dirinya lagi.


"Putra ketiga keluarga Darius akan kembali dari Arab. Kau pergilah untuk bantu-bantu mereka, jangan mengikuti ku"


"Tapi Tuan" pekik Nina menahan lengan Ebil dengan kedua tangannya saat pria itu hendak memasuki mobil. Ia menahan Ebil karena dia orang pertama yang ia kenal di tempat seluas ini.


"Apa lagi?"


"Saya tidak tahu apa-apa, bagaimana kalau saya membuat kesalahan nanti? Setidaknya, tolong beritahu saya harus kemana?" ucap Nina memperlihatkan wajah muram supaya pria itu melihat dan merasa kasian.


"Pertama tolong lepas tangan saya"


Nina mencengir seraya melepas tangan Ebil. Memang dari tadi Nina terus memegang nya.


"Kau carilah pekerja wanita bernama Maya. Dia akan menjelaskan semuanya" ucap Ebil hendak masuk mobil namun Nina kembali menahan.


"Apa yang akan aku katakan kepadanya, Tuan?" tanya Nina memperlihatkan kedua mata yang bundar hampir membuat Ebil terpesona.


"Katakan jika kau pembantu baru di tempat ini"


"Baiklah, Tuan. Terimakasih" pasrah Nina tidak mau lagi menghalangi ataupun bertanya kepada pria sibuk sepertinya. Nina ingat jika Ebil juga harus menjemput Tuan nya di bandara.


Sepeninggal Ebil, Nina menoleh ke belakang, melihat beberapa pekerja yang tengah sibuk pergi kemana-mana sementara Nina masih diam di tempat, namun tidak dengan matanya yang liar mencari wanita pemilik nama 'Maya'.


"Dimana aku bisa menemukan pekerja bernama Maya? Tidak ada siapa-siapa yang aku kenal. Wajah mana yang bernama Maya?"


Nina mencoba mendatangi beberapa pekerja wanita yang ada di perkebunan karena tatapan mereka tidak berhenti memperhatikan dia.


"Permisi, apa aku boleh bertanya dimana aku bisa menemukan pekerja wanita bernama Maya?"


Tanpa menjawab, kening mereka malah berkerut serentak. Mata para pekerja itu menulusuri rambut sampai di kedua kaki dengan alas sandal jepit butut itu. Jujur, daripada pekerja kediaman ini, Nina lebih mirip gelandangan.


"Bi-bisa kalian beritahu aku?" kikuk Nina merasa tidak enak mendapat tatapan rendah dari mereka.


"Kau siapa?"

__ADS_1


Salah satu pekerja itu malah justru balik bertanya membuat Nina kebingungan.


"Ak-aku Nina, pekerja baru di kediaman ini"


Pandangan Nina lurus kebawah melirik sejenak kearah para pekerja didepannya. Ia takut dengan sorot mata tajam seakan benci itu memperhatikan gerak-gerik nya.


"Kenapa kau mencari pekerja wanita bernama Maya?" tanya wanita berambut hitam itu lagi. Suaranya terkesan dingin dan acuh, membuat Nina tidak nyaman.


"Ing-ingin bertanya tentang pekerjaanku"


"Kau ingin langsung bekerja?" wanita muda itu kembali bertanya dan Nina tidak ada pilihan lain selain menganggukkan kepala. Memang itu tujuannya.


"Kalau begitu ikut aku"


Nina segera mengikuti pekerja wanita yang hendak memberinya pekerjaan, walaupun sebenarnya ia masih kurang percaya karena beberapa rekannya nampak tertawa, seakan menghina.


"Ka-kau akan memberikanku pekerjaan kan? Bukan mengerjai ku?"


Wanita muda itu segera menoleh melihat Nina yang berjalan di belakangnya, "Iya, apalagi kalau bukan pekerjaan?"


"Tapi, Tuan tadi meminta ku untuk mencari pekerja bernama Maya" Nina mencoba membantah sambil mengekori wanita muda ini dari belakang.


"Tidak ada bedanya!" jawab wanita itu meninggalkan Nina yang termenung sesaat sebelum kembali mengikuti. Ia harus bekerja di tempat sibuk seperti ini, pikirnya.


"Tidak boleh"


Bibir Nina memanyun kesal akan jawaban wanita muda yang berjalan cepat didepannya. Jalannya yang angkuh seakan dia Nyonya besar keluarga ini. Namun Nina tidak boleh menyerah.


"Aku Nina---"


"Kau sudah mengatakannya tadi"


Lagi-lagi Nina merasa agak kesal dengan wanita muda itu, untuk yang kedua kalinya wanita itu menjawab dengan kalimat ketus.


"Iya, siapa namamu?"


"Hai Maya"


Sapa pekerja lain yang melihat Maya berjalan melewati mereka. Wanita yang masih berjalan di depan Nina ini melambaikan tangannya, seakan memang dia orang yang sedang di sapa, atau memang ini orangnya?


Nina langsung mencegat Maya dan berjalan mundur dengan mata melihat wajah wanita itu, "Kau Maya?"


"Kau bisa jatuh nanti"

__ADS_1


"Kau benar-benar Maya?" Nina tidak menghiraukan teguran Maya karena takjub memperhatikan wajahnya. Begitu cantik dan muda.


"Aku memang Maya, kenapa?"


"Aku pikir Maya itu... agak tua" lirih Nina di kata terakhirnya supaya wanita ini tidak terlalu tersinggung karena memang itulah yang ia pikirkan.


Biasanya kepala pelayan di keluarga besar memang agak tua, karena biasanya mereka itu sudah bekerja dari lama, atau yang disebut senior.


Maya menghela nafas panjang. Ia tidak marah dengan perkataan Nina hanya saja sedikit kesal. Namun Maya memaklumi hal itu karena Nina pekerja baru di kediaman ini.


"Sepertinya kau lebih muda dariku. Kedepannya, panggil aku dengan sebutan Kak!" ucap Maya memberi peringatan.


"Baik, Kak Maya" Nina mencoba memperlihatkan gigi rapi di mulutnya untuk membuat Maya sedikit tersenyum.


Namun Maya tidak ada niatan untuk membalasnya. Ia acuh dan kembali berjalan memasuki ruangan dapur yang dapat membuat gadis belia di belakangnya semakin kagum.


"Waw... semua sangat mewah" gumam Nina di dengar oleh telinga jeli Maya, namun tidak di hiraukan.


Maya dan Nina berada di ambang pintu antara ruang tamu dan dapur. Mata Nina semakin liar mengagumi setiap pahatan sempurna yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Semuanya begitu mewah dan elegan khas negara Arab yang di tampilkan dari lukisan kaligrafi tergantung di dinding besar sana.


"Waww"


"Berhenti bersikap norak" ketus Maya melipat kedua tangannya di dada tanpa sekalipun menoleh kearah Nina. Bibir Nina seketika memanyun kembali.


"Pekerjaan pertama mu adalah"


"Apa?" antusias Nina mencengkeram lengan langsing wanita muda yang ada disebelahnya. Ia begitu semangat ingin segera bekerja dan menyentuhi barang-barang yang tidak pernah ia temui.


"Menghafal anggota keluarga ini"


"Hah?" pekik Nina dengan kedua mata membelalak. Biasanya jika ia bekerja, maka si bos akan langsung memberi perintah untuk melakukan pekerjaan namun berbeda di tempat ini.


"Kenapa aku harus menghafal anggota keluarga ini?"


"Karena anggota keluarga ini ada banyak. Ada Tuan Abrizal Fattah Darius, beliau merupakan tetua sekaligus pemimpin kediaman ini. Ada Nyonya Zelofia Hasna Darius, beliau merupakan istri dari Tuan Abrizal. Keduanya di karuniai 6 orang anak, yakni anak pertama Tuan Asad bin Abrizal Fattah Darius dan istrinya bernama Helena Anandita Darius, keduanya dikaruniai 1 orang anak yakni Neha Anandita binti Asad Darius. Putra kedua keluarga ini yakni Adnan bin Abrizal Fattah Darius dan istri Bella Urza Darius, keduanya belum dikaruniai anak. 4 orang anak lainnya yakni Tuan Ankazain bin Abrizal Fattah Darius, Tuan Alzam bin Abrizal Fattah Darius, Tuan Abian bin Abrizal Fattah Darius dan yang terakhir merupakan seorang gadis yaitu Ayasya Hasna binti Abrizal Fattah Darius. Salah satu dari mer---"


Maya belum sempat meneruskan karena melihat raut wajah Nina yang pucat setelah mendengar nama-nama yang susah untuk ia ingat. Maya jadi tidak yakin jika dari tadi Nina mendengarkan penjelasannya.


"Kau mengingat nama-nama itu?"


"Aku tidak ingat sama sekali"


...To be continued...

__ADS_1


...Mending mengingat tunggakan hutang sih dari pada nginget-nginget nama mereka😭...


__ADS_2