![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
19:30
Kini setelah obrolannya tadi siang dengan Alzam, membuat Nina murung sendirian di kamar. Ia duduk di sofa menekuk kedua kakinya keatas sementara kedua tangan bersidekap di puncak lutut.
Wajahnya yang seputih susu bermata bulat itu seakan menampilkan suasana mellow diiringi hembusan angin malam yang masuk kedalam ruangan lewat pintu balkon yang terbuka.
Gadis ini merasa takut jika Alzam yang ia gadang-gadang dengan kebaikannya nekat melakukan hal-hal yang diluar dugaan. Sebaik-baik orang kalau dia sudah kemasukan setan, akan jahat juga.
Cklek
Wajah Nina menoleh dan kedua kakinya ia turunkan saat pintunya dibuka dari luar. Selain itu tidak ada respon lebih.
“Kenapa pintu balkonnya di buka? Udara malam sangat dingin” kata Zain dan Nina hanya diam membiarkan Zain berjalan menutupnya.
Zain sempat ingin masuk kedalam kamar mandi, namun ia kembali lagi. “Kau sudah sholat?”
“Aku datang bulan” jawab Nina dengan polos. Namun mampu membuat Zain gugup.
“Ok”
Setelah mendapat jawaban dari gadis itu. Ia pun hampir masuk kedalam kamar mandi, namun kembali lagi.
“Bisa kau siapkan pakaian tidurku?” pinta Zain saat Nina sudah berganti posisi telentang.
“Baiklah” balas Nina membiarkan pria itu masuk kedalam kamar mandi.
Nina segera bangkit berjalan menuju almari menyiapkan pakaian tidur untuk suaminya. Ada banyak sekali pakaian tidur terlipat, namun memiliki banyak warna.
“Aku harus pilih yang mana?” gumam Nina berpikir, “Tadi dia tidak mengatakan mau pakai baju warna apa. Otomatis dia membiarkan aku memilihnya”
Nina mengulurkan tangan bersiap memilih, “Aku pilih yang warna… hemm… kuning. Eitss warna merah muda adalah warna favoritku”
Akhirnya Nina mengambilnya dan meletakannya diatas ranjang.
Beberapa menit berlalu saat Zain sudah keluar dari kamar mandi Nina sedang menyiapkan perlengkapan kampusnya.
“Mana bajuku?”
“Tuh” tunjuk Nina tidak sengaja melihat Zain bertelanjang dada. Ia segera membelakangi Zain dan menepuk kedua mata menyesal. “Ihh matamu Nin… matamu Nin”
Padahal ini bukan kali pertama Nina melihat Zain seperti itu. Zain yang biasa pun meraih bajunya.
“Mana celana seniorku?”
“Celana senior itu apa?” tanya Nina tanpa berbalik badan.
“C3lana dalam”
Deg
Mata Nina membola mendengar pria itu tidak tahu malu telah meminta ****** ***** kepada seorang gadis, terlebih memberi julukan miliknya sendiri dengan kata ‘Senior?’. Nina tidak paham dengan cara pikirnya.
“Apa celana se-seniormu itu harus aku yang mengambilkan?” tanya Nina merasa gugup.
“Tentu saja” jawab Zain datar membiarkan pikiran gadis itu melayang jauh. “Sana ambilkan”
__ADS_1
“Hemm aku…”
“Ridho allah tergantu ridho suami! Besok kau kuliah kan, mencari ilmu juga… jika aku tidak ridho maka ilmu yang disampaikan dosen tidak akan masuk”
“Baiklah-baiklah” pasrah Nina berbalik badan menuju almari besar milik Zain lagi. “Dimana aku akan menemukan celana seperti itu?”
“Dalam laci” jawab Zain dan Nina segera mencari.
“Yang ini?” tanya Nina menenteng celana itu dengan dua jari, seakan jijik.
Zain hanya membuang nafas, “Bukan… itu junior”
“Bahasamu terlalu ilmiah tuan. Aku tidak paham” kata Nina dengan raut wajah kesal.
Zain segera merampas celana itu dan ia masukan kedalam laci lagi, “Itu kekecilan dan tidak akan muat dengan milikku” ia mengambil yang lebih besar, “Yang ini senior. Pas untukku”
“Jika tidak muat kenapa kau memilikinya. Kau juga memiliki yang besar! Apa ukurannya akan berbeda setiap harinya?” lirih Nina bermonolog dikalimat terakhir.
Zain yang dengar juga tidak bisa menjawabnya.
‘Aynina Munada Shofa gadis baik yang cantik dan imut serta suaminya Ankazain Darius yang jutek dan pemarah. Ada telpon baby’
Deg
Kedua mata Nina langsung membulat sempurna. Nada dering telpon yang telah ia buat tadi tiba-tiba bersuara.
“Handphone mu?” tanya Zain kini raut wajahnya begitu kesal mendengaar namanya ada di nada dering telpon milik Nina, terlebih namanya disebut dengan nada anak kecil yang begitu manja.
Nina hanya mengangguk lemah.
“Saya angkat dulu telponnya tuan” kata Nina begitu lemah dan berjalan cepat mengangkat. “Assalamualaikum” jawab Nina dengan nada berbisik dan tersenyum sipit kearah Zain yang tidak membalas.
Tadi saat Nina bersedih. Ia membuat nada dering handphone nya sebagai hiburan.
_____
06:30
Pagi harinya seluruh anggota Darius menyantap sarapan seperti biasa sebelum kegiatan mereka. Namun Alzam dan Aya tidak ikut makan bersama mereka.
“Alzam kemana, Bun?” tanya Asad setelah menunggu lama tidak kunjung melihat.
“Katanya ada operasi di rumah sakit” jawab Bunda Zelofia yang tahu jika itu hanya alasan putranya.
“Terus Aya dimana?” tanya Asad lagi karena tidak melihat adik bungsunya.
“Katanya Aya tidak mau berangkat. Dia sakit” jawab Bunda lagi, “Mbak Maya, tolong makanannya kirim aja ke kamar Aya ya”
“Baik nyonya”
“Aku aja kak” sela Nina saat Maya hendak keatas, “Sekalian aku mau meminjam buku dengannya”
Nina segera datang mengambil alih nampan makanan dan membawanya keatas.
“Hati-hati sayang”
__ADS_1
“Baik, bunda” balas Nina bergegas menaiki tangga menuju kamar gadis seusianya.
Sampai.
Tok Tok Tok
“Aya… aku bawakan makanan dan aku juga ingin meminjam buku management mu” seru Nina setelah berkali-kali mengetuk.
Namun tidak ada jawaban dari si pemilik ruangan. Karena tidak ada, Nina pun main nylonong masuk aja.
“Aku mas---”
Nina dikejutkan dengan keadaan gadis itu saat ini.
“Aya” nampan itu ia taruh diatas meja rias dan kedua kakinya berlari mendekati Aya yang tidak berhenti menelan obat-obatan. “Aya apa yang kau lakukan?”
“Lepaskan aku!! Lepas!!”
Tidak sekali Nina terjatuh lalu bangkit lagi untuk merampas obat-obatan tidak jelas itu. tidak membutuhkan waktu lama Nina berhasil mengambil dan membuangnya.
“Apa yang kau lakukan? Apa kau sadar bisa membahayakan nyawamu?” sentak Nina mencengkeram dua bahu Aya.
“Kau tidak tahu apa-apa Nin” Aya menepisnya dan segera meraih obat itu sebelum Nina menepisnya dengan kaki. “Nina, beraninya kau”
“Apa yang terjadi kepadamu? Kenapa kau melakukan ini semua, Aya?” tanya Nina juga ketakutan. Ia mensejajarkan tubuhnya dengan Aya yang duduk di lantai.
Tangis gadis itu semakin pecah. Nina yang melihat itu segera menutup pintu kamar supaya tidak terdengar dari luar.
“Coba kau tenang, katakan kepadaku secara perlahan. Kita seumuran jadi aku yakin bisa berbagi rahasia dan menyimpannya dengan baik. Aku akan berjanji” kata Nina membuat Aya terlena.
Adik iparnya ini belum juga berhenti menangis, namun ia mengeluarkan sebuah benda dari salah satu tangannya.
Dari tangan yang gemetar itu terdapat alat tes kehamilan yang telah bergaris dua, serta surat kehamilan dari dokter.
“A-aku akan mati, Nin….” Kata Aya terbata-bata melihat respon Nina yang begitu terkejut. “A-aku… aku harus… bagaimana?”
Nina juga bingung harus apa sementara hanya dia yang tahu kehamilan anak bungsu keluarga ini.
“Sudah berapa bulan?”
“Em-empat bulan”
Nina berusaha mencari solusinya. Jika terus dibiarkan maka Aya akan frustasi dan mengakhiri hidupnya.
“Kita bilang ke Tuan Zain”
“Jangan!!!” Aya menahan tangan Nina yang ingin pergi, “Kak Zain akan membunuhku. Dia sudah berkali-kali memperingatkan diriku dan jika dia tahu aku hamil, maka aku akan habis”
“Aya… Tuan Zain akan mencari solusinya. Dia akan mencari ayah dari bayimu… bayimu sudah 4 bulan. Kau tidak bisa menggugurkannya”
Aya diam memikirkan sebuah cara untuk menutupi kehamilannya, sementara Nina sudah bersiap ingin meninggalkan adik iparnya.
“Bagaimana jika kau pura-pura hamil, Nin?” ceplos Aya kepada Nina.
To be continued
__ADS_1
Nina akan diberi momongan nih bebss!! ucapin selamat gih🤭
Inti dari cerita ini segeralah memberi dukungan yang banyak biar author nya segera up dan semangat meneruskan bab. Terimakasih 😘🤗