![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Saat ini adalah acara lempar bunga. Seluruh orang yang masih lajang menunggu pasangan pengantin itu melemparnya. Semua dikalaangan pekerja rumah sakit, rata-rata di pihak rumah sakit. Lebih tepatnya, rekan kerja Alzam dan Nensi.
“Ok acara kali ini adalah lempar bunga!” seru Mc di panggung pojok sana. “Pasangan sudah bersiap untuk melempar bunganya! Dimohon tamu-tamu yang masih lajang silahkan berbaris didepan panggung”
Nina bergegas bangkit dan merapikan dressnya, “Aku akan segera kesana”
“Untuk apa kesana?” ucap Zain menarik ujung dress istrinya.
“Mengambil bunga, lah... biar cepet nikah! Kitakan masih pacaran" goda Nina sok cantik.
“Hanya sebuah bunga mereka rela berdesak-desakan dan bersenggol-senggolan. Katakan, jika kau mau aku akan membelikan bunga satu truk untukmu” ucap Zain jutek.
“Aku maunya bunga pengantin”
“Buat apa?” tanya Zain langsung melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya, “Aku akan memberikanmu pelajaran jika berani mengambil bunga itu, bahkan menyentuh saja adalah pantangan”
“Ok”
Nina yang merasa ini bahaya segera duduk dan mengalihkan pandangan. Sementara Zain merasa menang dan duduk lagi.
Nina yang merasa iri hanya bisa melihat mereka dari kejauhan. Mereka terlihat bahagia dan menunggu pasangan itu melemparkan.
“SIAP SEMUA!!!”
SATU
DUA
TIGA
LEMPAR
Ciuw
Bunga tersebut terlempar jauh ke tengah-tengah rerumunan tamu yang bersiap untuk menangkapnya.
Hap
Salah satu rekan Alzam yang merupakan seorang dokter itu menangkap bunga tersebut. Bersamaan dengan itu adik Alzam bernama Aya juga menangkapnya. Keduanya saling pandang sejenak lalu tersadar.
“Ehem” Aya berdeham menata rambutnya, “Maafkan aku! Kau bisa ambil bung aitu untukmu… lagi pula aku tidak begitu tertarik dengan bunga pernikahan seperti itu”
Aldo terkekeh risih, “Tidak apa-apa… jika kau ingin ya ambil saja”
“Jika kau ingin adikku ya ambil saja” gurau Bian merangkul bahu Aya yang langsung memukul punggungnya.
“Kakak ini apa-apaan sih”
“Hahaha aku hanya bercanda” ucap Bian hanya alasan. Melihat Aya yang kesal membuat pria ini takut dan berlari.
“Jangan kabur” seru Aya mengejar Bian yang bersembunyi dibelakang bunda Zelofia.
__ADS_1
Tidak dokter itu sadari kedua ujung bibirnya terangkat naik begitu saja, seperti ada magnet nya. Pria itu menatap bunga itu sejenak dan salah tingkah.
“Aku pasti sudah gila” gumam Aldo memukul kepalanya dengan bunga.
Kembali ke Nina dan Zain.
Dua pasangan lama namun sikap mereka masih seperti pengantin baru. Keduanya bersama-sama menemui Nensi dan juga Alzam yang sedang berbincang-bincang dengan temannya.
“Selamat untuk pernikahannya mas Alzam dan istri” ucap Nina mengulurkan paper bag untuk Nensi.
“Terimakasih!” jawab Nensi tersenyum.
“Selamat untuk pernikahanmu” Zain mengusap punggung Alzam. Pria ini memberikan selamat dengan gaya cool.
“Terimakasih kak”
Nina tampak bahagia melihat dua orang pria yang ada didepannya sedang bercanda dan berbagi tawa, namun entah mengapa kepalanya kembali pusing dan tubuhnya lemas.
“Hubby” lirih Nina memanggil Zain, tapi pria itu belum sadar juga. “Hubby”
Tangan Nina terulur meraih apapun yang ada di tubuh Zain, namun tetap tidak tergapai. Sementara Nensi beraalih mengobrol dengan yang lain.
“Hubb—”
Bruk
Nina terjatuh tepat di pelukan Zain yang sigap menangkapnya. Beruntung saja tadi Zain sempat menoleh dan langsung siaga.
Karena tidak mendapat jawaban Zain segera mengangkat dan membawanya pergi ke rumah sakit. takutnya hal buruk terjadi.
___
Saat ini Zain sedang dirundung kegelisahan. Pria yang berstatus istri dari perempuan itu merasa amat khawatir. Ia takut hal buruk kembali terjadi, karena sejauh ini Nina baik-baik saja.
Drettt
Zain segera mengangkat ponsel yang berdering di dalam sakunya. Takutnya itu dari keluarga, mengingat jika mereka belum tahu apa-apa karena memang Zain tidak membiarkan Alzam mengatakannya.
Dan benar saja itu dari Zelofia, "Assalamu'alaikum, sayang Nina tadi pingsan ya? Kenapa kau tidak memberitahu bunda tadi?"
"Maaf ibu, Zain tidak bisa memberitahu kalian karena ini darurat dan posisinya kan lagi ada acara nikahan Alzam jadi Zain nggak bisa ngasih tahu" balas Zain sedikit lesu.
"Terus gimana Nina sayang?"
"Dokter masih ada didalam, Bu" balas Zain atas pertanyaan ibunya.
"Ibu kesana ya sayang?"
"Nggak usah Bu... acaranya Alzam kan belum selesai dan pastinya Nina juga nggak mau buat pernikahannya Alzam terganggu. Jadi sebaiknya ibu tetap disana aja dan doain Nina" balas Zain melarang ibunya datang.
"Ya sudah! Bunda tutup dulu ya telponnya sayang. Kalau acaranya udah selesai nanti bunda ke rumah sakit"
__ADS_1
"Iya Bun" balas Zain menutup telponnya setelah sang ibu mengucapkan salam. Beberapa menit berlalu dari dalam ruangan Nina.
Cklek
“Bagaimana dengan kondisi istri saya, Dokter?” Zain bergegas menemui dokter yang baru saja keluar dari ruangan.
“Anda tenang dulu”
“Apa istri saya sakit lagi?”
Dokter itu menggelengkan kepalanya, “Istri anda tidak sakit. Hanya saja, beliau sedang hamil 4 minggu”
“Hamil? Istri saya hamil dokter?” tanya Zain memastikan lagi dan dokter itu mengangguk, “Apa saya boleh menemui istri saya dokter?”
“Silahkan! Tapi di usia kandungannya yang masih dini ini tolong dijaga kesehatannya dan makan-makanan yang teratur” kata Dokter itu dan Zain mengangguk cepat.
“Terimakasih dokter”
Zain sudah tidak sabar ingin menemui dan memberitahukan kabar bahagia ini kepada istrinya. Ia yakin istrinya akan bahagia.
“Sayang, tetap berbaring kau masih kurang sehat” ucap Zain meminta perempuan itu untuk tetap istirahat.
“Hubby, kepalaku waktu itu pusing, apa… penyakit itu kambuh lagi? Aku sakit kanker lagi ya?”
“Sayang shutt kau nggak sakit! Kau sedang hamil 4 minggu” ucap Zain membuat wanita ini tercengang, “Kau akan menjadi ibu… aku akan menjadi ayah… kita akan menjadi orang tua”
“Hubby! Jangan keterlaluan jika ingin menghiburku”
Zain menggelengkan kepalanya, “Tidak sayang! Aku berkata jujur… kau sedang hamil sayang”
Seketika kedua mata Nina berkaca-kaca menatap serta mendengar penuturan suaminya. Sebuah kabar yang benar-benar mengharukan.
“Hubby aku akan menjadi ibu… aku akan memberikanmu seorang anak” Nina yang terharu mengusap perutnya dan membiarkan suaminya memeluk dirinya.
“Seluruh anggota pasti akan bahagia saat mereka mendengar kau hamil, sayang" Zain mencium puncak kepala Nina tanda terimakasih. "Jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat ya sayang... kau harus jaga kesehatan untuk bayimu, anak kita"
Nina mengangguk terharu, "Iya, Hubby"
Setelah itu mereka berdua memutuskan untuk pulang ke rumah. Terlebih, dokter juga sudah memberikan vitamin untuk ibu hamil dan Zain sudah mengurus administrasi.
Diperjalanan keluar rumah sakit...
"Hati-hati sayang" pekik Zain menahan tubuh Nina saat ada anak yang berlari didepannya.
"Nyenggol aja nggak loh" ucap Nina terheran-heran.
"Tetap saja... kau itu kalau jalan hati-hati. Terkadang kita sudah hati-hati tapi mereka yang tidak hati-hati" nasehat Zain saat wanita itu hanya diam membisu. "Sayang, kalau suami memberi nasehat itu didengar dan ditanggapi... jangan hanya diam! Dosa kamu nanti... sayang"
"Itu bukannya Devan ya" ucap Nina membuat Zain menoleh kearah pintu keluar.
Dan benar saja ada pemuda yang Nina maksud. Pemuda itu dibawa menggunakan brankar dengan keadaan terluka fisik.
__ADS_1
To be continued