Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Lamaran Untuk Alzam


__ADS_3

“Iya mas! Nanti waktu mas Zain pulang pasti aku kasih tahu. Maaf mas aku buru-buru assalamualaikum” ucap Nina menepis tangan Alzam karena takut adik iparnya menunggu.


“Nin!”


Alzam membuang nafasnya kesal. Anak itu memang keras kepala sekali kalau dibilangin. Mata Alzam menoleh melihat kearah Nensi yang sudah lama duduk dikursi koridor rumah sakit.


“Sepertinya kau menyukai wanita itu ya! Namun sayangnya dia sudah memiliki suami dan mencintai suaminya” sindir Nensi bersidekap dada.


“Sekarang semua itu sudah tidak penting Nen. Aku hanya berharap keluarga kecil yang kak Zain harapkan sedari dulu semoga segera terkabul” Alzam memandang Nina yang berlarian dengan penuh harap.


Nensi melihat Nina dan Alzam bergantian lalu mendekat, “Semoga juga keluarga kecil yang kuharapkan segera terkabul”


“Itu pasti”


“Really” Nensi menoleh kearah Alzam yang polos tidak paham apa-apa. Pria itu hanya menaikan kedua bahunya acuh.


“Selagi kau mencari pasanganmu maka keluarga kecil itu akan segera terkabul. Jika kau diam saja bagaimana harapanmu akan terwujud. Kau mikir sedikit lah” ejek Alzam terkekeh melihat Nensi yang diam dengan pandangan datar.


“Aku sudah menemukan pria itu. Hanya saja, apa pria itu juga memiliki perasaan yang sama seperti apa yang aku rasakan?” tanya Nensi menebak-nebak.


Alzam mencondongkan sedikit tubuhnya mendekat ke telinga Nensi, “Dokter Aldo ya?”


“Whatt” pekik Nensi membulatkan kedua matanya. Ia menjadi geram dengan pria tidak peka ini, bahkan dia berjalan pergi dengan tawa begitu saja.


Sementara Alzam merasa puas sudah mengejek sahabatnya itu. Namun tidak lama ada suara yang membuat dirinya tercengang.


“ALZAM MAUKAH KAU MENIKAH DENGANKU?”


Alzam membeku. Langkahnya terhenti seiring dengan pandangan orang-orang kepada mereka. Mereka nampak memberikan tatapan ingin mengejek.


“Cieee dokter Alzam”


“Ciee perawat Nensi cocok nih sama dokter Alzam!!”


“Terima dong!!”


“Duo couple serasi di rumah sakit”


Orang bergemuruh menggoda Alzam yang langsung berbalik menatap malu kearah Nensi saat wanita itu terlihat tersenyum sok manis kepadanya.


“Kau…” Alzam segera membungkam mulut Nensi saat wanita itu hampir menguarakan suaranya.


“Hmmp”

__ADS_1


Nensi memberontak dibawa paksa dengan mulutnya yang terbungkam tangan Alzam. Pria itu membawanya kembali ke ruangan.


_______


Kembali ke ruangan dokter Iriana.


Saat Nina sampai di dokter Iriana, ia malah melihat sebuah kejadian yang tidak terduga. Matanya menyaksikan pemandangan yang begitu romantic dari pria tua itu kepada adik iparnya, beserta dokter Iriana bagai nyamuk saja.


Aya membiarkan kepala Aditama menyentuh perutnya yang agak membesar dan itu membuat Nina begitu iri. Ia membayangkan jika itu dirinya bersama Zain.


“Eh Nina” tidak sengaja Aya melihat keberadaan Nina. Wanita hamil itu langsung menoyor kepala pria itu menjauh.


Nina terkekeh pelan, “Nggak usah malu-malu! Lagian kalian akan menjadi sepasang suami dan istri, kan”


“Ih apaan sih. Berkeluarga? Sama dia? Aku tidak mau” tolak Aya saat mendengar godaan Nina.


“Jangan gitu. Kualat loh” Aditama malah ikut-ikutan, pastinya Aya sangat tidak terima.


“Dokter Iriana, apa sudah selesai? Aku ingin pulang saja” Aya yang muram bergegas turun dari brankar dengan tergesa-gesa, bahkan sampai mau jatuh juga tapi untung ada Aditama yang senantiasa menjaga.


“Hati-hati”


“Iuhhhhh” pekik Aya mendorong kasar tubuh Aditama menjauh darinya. Ia sangat-sangat tidak sudi disentuh oleh pria tua ini. “Ayo Nin”


Aya sudah lebih dulu membungkam mulut Nina dengan tangan lalu menyeretnya keluar dari ruangan doker Iriana.


_____


Kediaman Darius.


Sesampainya di rumah mereka masih saja tertawa riang dengan rayuan serta godaan yang saling lempar. Namun hanya sebentar setelah melihat keberadaan ayah Abrizal bersama dengan istrinya di ruang tamu.


“Assalamualaikum, ayah bunda” Nina bersegera menyalami tangan Abrizal dan Zelofia, diikuti Aya dibelakangnya.


“Tadi gimana tadi periksanya?” tanya Zelofia.


“Tadi Aya udah bisa denger detak jantungnya bun” jawab Aya memilih duduk disamping bundanya bersama Nina.


“Alhamdulillah. Kandungan kamu sehat kan?” tanya Zelofia lagi dan Aya tidak menjawab, melainkan hanya mengangguk saja.


Kini giliran Abrizal yang akan bicara.


“Nak Nina dan Aya…ayah memberikan voucher makam malam untuk kalian. Nina bersama Zain dan Aya dengan Tuan Aditama”

__ADS_1


Kedua bola mata Aya melotot nyaris mau copot. Sungguh tidak pernah Aya akan menduga dengan pernyataan ayahnya ini.


“Ayah ni apa-apaan sih! Tiba-tiba kok ngasih voucher makan malam? Sama pria itu lagi… kok ayah bisa tiba-tiba setuju dengan hubungan ini?” Aya menggunakan nada tinggi bahkan seperti toak kali ini.


Namun Abrizal tetap tenang menyikapi putrinya, “Aya, ayah tahu setelah berita kehamilanmu rasa sukamu kepada pria itu mulai luntur”


“Iyalah orang dia berani menolek bertanggung jawab waktu itu” sela Aya sebelum ayahnya selesai berbicara.


“Kau dan Tuan Aditama akan segera menikah, walau begitu hubungan kalian harus lebih dekat. Jadi, ayah memberikan voucher makan malam itu kepada kalian dengan harapan bisa lebih dekat dan keluarga kalian akan semakin harmonis” nesihat Abrizal.


“Iya sayang! ayahmu itu benar… tidak mungkin kan anakmu nanti melihat pertengkaran ibunya dengan ayahnya terus menerus” tambah Zelofia menasihati Aya.


“Terserah!” Aya yang kesal segera pergi menaiki tangga.


Sementara Nina masih membisu ditempatnya.


“Nina sayang… cepat kau juga naik dan bersiap. Bunda sudah siapkan pakaian yang bagus untukmu” kata Zelofia mengusap pipi Nina.


“Sebelumnya Nina mengucapkan terimakasih kepada ayah dan bunda. Tapi, Nina ingin tanya. Tadikan tujuan ayah ngasih Aya voucher ini untuk mendekatkan keduanya. Lalu voucher makan malam buat Nina sama Mas Zain untuk apa? Tanpa voucher hubungan kami sudah semakin dekat kok” Nina terlihat hati-hati saat berbicara dengan kedua mertuanya.


Zelofia tersenyum mengusap kepala menantunya, “Sejauh ini memang hubungan kalian semakin membaik. Tapi, kami sebagai kedua orag tua belum memberikan hadiah kepada kalian sebelumnya. Jadi voucher ini adalah hadiah kami untuk kalian”


“Tapi ini terlalu berlebihan”


“Tidak!! Helena dan Asad dulu mendapat apartemen 50 lantai dari kami. Hadiah seperti itu menyusul ya sayang” bisik Zelofia di kalimat terakhirnya.


Nina mengangguk menerima. Makan malam ini saja sudah jauh lebih menyenangkan dibanding memiliki apartemen 50 lantai yang tidak bisa ia rasakan secara bersamaan. Jadi untuk apa!.


“Sudah, kau naik keatas dan bersiaplah… bunda tadi udah telpon Zain tentang makan malam ini. Dia bilang akan tiba 1,5 jam lagi”


Nina terkejut, “Nina belum bersiap apapun”


“Makanya itu sayang buruan siap-siap” Zelofia tertawa mendorong menantunya untuk segera keatas.


Nina berjalan menaiki tangga dengan Langkah pelan, sangat pelan. Apalah daya kedua selakangan nya masih nyeri.


Beberapa menit berlalu Nina baru sampai didalam kamarnya, dan kata Zelofia memang benar kalau mertuanya yang baik hati telah menyiapkan gaun indah untuknya diatas ranjang.


“Astaga!!” pekik Nina berlari meraih gaun hitam lengkap dengan hels dan tas branded.


Jemari lentik Nina meraih gaun itu dan menempelkan di tubuhnya lalu menghadap cermin. Perempuan ini sudah tidak sabar ingin memakainya.


Namun tiba-tiba atensi Nina berganti melihat sebuah surat tergeletak diatas ranjang.

__ADS_1


__ADS_2