Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Kepergian Bella


__ADS_3

Sebelumnya tadi saat di kamar, Zain merasa kurang yakin membiarkan istrinya keluar kamar sendirian. Karena itu ia memutuskan untuk menyusul dan ternyata saat ia baru saja keluar dari kamar, ada Bella dibelakang Nina.


Dari itu membuat Zain semakin yakin untuk mengikuti istrinya. dugaan Zain benar jika wanita itu akan berbicara yang tidak-tidak mengenai dirinya. Saat dalam pengintaian ia melihat istrinya di dorong dan Zain langsung sigap menangkapnya.


“Aww” pekik Nina memegang perutnya yang nyeri saat tubuhnya di tangkap sang suami, “Hub—hubby… per-perutku”


“Zain?” Bella teramat takut melihat pria yang ada didepannya. Ia pikir Zain ada di kamar sehingga pria ini tidak akan mengetahui tentang obrolan mereka.


Wajah Zain mengeras dengan amarah yang amat dalam, “Kau—"


“Hubby hubby hubby… perutku… tolong” rintih Nina memegang perutnya yang semakin nyeri.


“Iya sayang” Zain mencoba menggendong tubuh istrinya yang berat ini. Walaupun berat badan Nina bertambah, namun pria ini masih kuat mengangkatnya.


Syukurlah.


_____


Rumah sakit


Karena Nina merasa sakit perut, jadi wanita hamil itu dibawa ke rumah sakit. Takutnya terjadi sesuatu dengan kehamilan istrinya, jadi ia membawa periksa tanpa sepengetahuan pihak keluarga. Hanya Bella yang tahu dan wanita itu tidak akan memberi tahu.


“Bagaimana keadaan istri saya dokter, apa ada yang serius?” tanya Zain setelah menyaksikan dokter itu selesai memeriksa Nina.


“Anda jangan khawatir Tuan. Pasien hanya mengalami kram perut! Hal ini sering dialami oleh ibu-ibu hamil. Namun sebaiknya kurangi tekanan dalam batinnya karena itu bisa memicu timbulnya kram” ucap Dokter itu.


Zain menghela nafas lega, “Syukurlah!”


“Saya akan memberikan vitamin penguat kandungan untuk pasien” ucap dokter menuliskan vitamin untuk Nina.


Sementara Zain menghampiri Nina dan mengusap lega wajahnya, “Kau hanya kram sayang!”


Beberapa menit setelah itu, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah.


Zain yang sudah menahan amarah itu langsung menyemburkan laharnya karena tidak tahan. Ia memanggil Ebil untuk membawa kakak iparnya yang keterlaluan ke ruang tamu. Tentunya, tanpa sepengetahuan anggota keluarga, bahkan Nina sekalipun karena wanita itu sudah diantar ke kamar.


“Lepaskan aku” pekik Bella menepis tangan Ebil yang memegangi lengannya.


Zain mendekat dengan rahang yang mengurat, “Kau memang tidak bisa dibiarkan! Selama ini aku membiarkan dirimu tetap berada di statusmu saat ini. Namun, kau tidak jera juga”


“Zain aku menyukaimu”

__ADS_1


“Pelankan suaramu” gertak Zain tidak mau keributan ini didengar oleh orang-orang. Ia tidak mau membangunkan seluruh keluarganya.


“Zain!”


“Dengar ya! Aku sudah tidak mentolerir perilakumu saat ini. Aku tidak bisa mmebuat keributan dan aku juga tidak bisa membuatmu tetap bertahan di rumahku. Jadi, keluar kau dari sini” usir Zain dengan penuh penekanan.


“Zain kau gila? Ini sudah malam dan aku wanita”


Zain menggeleng tegas, “Aku tidak peduli kau mau pergi kemana…ini rumahku dan aku yang akan memutuskan kau tetap tinggal atau angkat kaki dari sini”


“Zain aku tidak akan pergi” Bella mencoba menyentuh lengan Zain, namun pria itu segera menepis.


“Aku tidak mau membuat keributan dengan kakak keduaku. Jadi, sebaiknya kau pergi secara diam-diam. Pergilah tanpa meninggalkan jejak seperti tidak terjadi apa-apa” usir Zain dengan nada lirih.


Bella menggeleng cepat, “Zain aku mohon jangan usir aku”


“Ebil usir dia dari sini. Tapi jangan sampai menimbulkan keributan” Zain yang sudah lelah juga ingin segera istirahat. Ia segera menaiki tangga menuju kamarnya.


Sementara Bella dibekap mulutnya dan diseret keluar mansion oleh Ebil. Sudah tidak ada lagi kesempatan untuk wanita seperti Bella, yang ada hanya akan mencelakai istrinya lagi. Jadi lebih baik pergi.


_____


Cklek


“Loh sayang, kok belum tidur?” tanya Zain mendekat dan ikut duduk didekatnya.


“Kak Bella gimana hubby? Kamu marahin kak Bella ya?”


“Aku usir dia”


“USIR” pekik Nina dengan kedua mata membelalak. “Tega sekali kamu mengusir kak Bella malam-malam begini. Dia harus pergi kemana?”


Zain mengernyitkan dahinya mendengar istrinya ini malah membela wanita yang sudah jelas-jelas menyakitinya. Seharusnya wanita ini marah dan tidak peduli! Istrinya ini memang sedikit aneh.


“Udah biarin aja, aku udah males ngurusin dia. Lagian, dia itu udah melukai kamu dan bisa aja kedepannya dia menyakitimu lagi” Zain meletakan kepalanya dikedua paha Nina menghadap perutnya yang buncit, “Sudah! Jangan tanya kayak gitu lagi, aku mau istirahat! Aku lelah sayang”


Nina masih merasa kasian sebenarnya dengan kakak iparnya itu. Tapi perkataan suaminya itu ada benarnya juga. Mungkin saja wanita itu akan mencelakai dirinya lagi.


“Nanti kalau kak Adnan nyari kak Bella, terus kamu mau bilang apa?” tanya Nina tidak mendengar ada jawaban dari mulut suaminya. “Hubby”


Masih hening, membuat Nina bersuara lagi dengan melihat kebawah tepat di wajah suaminya itu.

__ADS_1


“Yahh, udah tidur!”


Pagi harinya perkataan Nina menjadi kenyataan, suami Bella yang bernama Adnan itu membuat kerusuhan di kediaman Zain dengan mengerahkan seluruh pekerja untuk mencari keberadaan istrinya.


“Kak Adnan!!” seru Zain menuruni tangga. Ia tampak tidak tahan ingin mengatakan semuanya kepada kakaknya itu.


“Zain, aku mencari Bella kemana-mana. Tapi, kenapa aku tidak menemukan istriku dimana-mana?” adu Adnan memijat pelipisnya dengan jari telunjuk dan jempolnya.


“Aku mengusirnya”


Adnan terbelalak begitu saja. amarahnya memuncak mendengar ucapan adiknya, “Kenapa kau mengusir istriku Zain? Apa kau sudah gila dengan mengusir kakak iparmu sendiri?”


“Masih mending aku hanya mengusirnya!!” bantah Zain dengan suara yang lebih lantang dan tinggi.


“KENAPAAA”


Akibat suara Adnan yang keras dipagi hari membuat seluruh anggota berdatangan. Mereka menjadi penasraan dengan maksud Adnan berteriak.


“Adnan apa yang membuatmu berteriak seperti ini?” tanya Zelofia tidak suka.


“Zain mengsurir Bella, bun. Dia memang tidak punya etika mengusir kakak iparnya sendiri” adu Adnan dengan amarah yang meledak-ledak.


“Zain, benarkah itu?” tanya Zelofia mencoba tenang. Ia ingin memastikannya terlebih dahulu.


Zain mengangguk, “Ada alasan kenapa Zain mengusir istri kak Adnan”


“Apa itu?”


“Dia mencoba menyakiti istri Zain dengan perkataan-perkataan dusta dan dia juga mendorong Nina, untung saja Zain langsung menangkapnya. Bukankah sudah menjadi kewajiban Zain untuk melindungi keluarga Zain!” jawab Zain dengan penuh penekanan.


“Apa itu benar, Nina?” tanya Zelofia kepada menantunya yang hanya diam menunduk. Namun kepalanya mengangguk pelan pertanda ucapan Zain benar.


Adnan terdiam dengan penyesalan dalam benaknya, “Lalu, dimana istriku saat ini?”


“Entah! Ebil yang membawanya pergi” balas Zain tidak mau peduli.


“Tetap itu tidak benar Zain!! kau mengusirnya saat malam hari! Kemana dia akan pergi??” bantah Adnan tidak rela.


“Lagian kak! Untuk apa kau mempertahankan wanita yang jelas-jelas tidak menyukaimu? Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri” Zain mencengkeram kedua bahu Adnan, “Kak, hubunganmu dengannya memang sudah tidak baik. Entah kenapa kau masih mau mempertahankan hubungan itu”


Adnan terdiam. Sebenarnya ia juga menyadari keluarganya yang kurang harmonis, ditambah tidak ada anak sebagai penguat dalam hubungan suami istri ini.

__ADS_1


“Aku hanya tidak ingin kak Adnan merasa dihina oleh perempuan itu”


__ADS_2