![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
“Aku kan hanya bertanya”
Wajah menunduk Nina mulai melas, mulutnya terlihat sedikit manyun, menandakan penyesalan karena sudah membuat pria itu marah.
Hal itu menarik perhatian Zain untuk menurunkan emosinya. Ia merasa telah salah meninggikan nada suara dan membuatnya ketakutan. Entah mengapa Zain masih bingung dengan dirinya sendiri. Kenapa hatinya merasa tidak rela jika wajah gadis itu gelisah, lalu kenapa saat gadis ini tertawa maka hatinya juga merasa lega?. Apa ini yang dinamakan cinta?
Zain masih belum mendapatkan jawabannya.
“Ya sudah. Jika kau tidak mau berkata jujur juga tidak apa-apa. Tidak masalah!” Nina clingak-clinguk bingung mau bagaimana, “Kau… bisa lanjut istirahat”
“Ayn---”
Zain belum sempat meneruskan ucapannya karena gadis itu sudah melenggang pergi menenteng handphone baru yang diberikan.
Lagi-lagi hati Zain merasa tidak enak mengetahui gadis itu murung karena sentakan darinya. Seperti ada yang mengganjal disana.
Zain pun mengejar.
“Kau lihat Aynina?” tanya Zain kepada pekerja pria yang baru saja memperbaiki lampu di koridor rumah.
“Oh saya lihat Non Aynina berjalan menuruni tangga menuju halaman belakang, Tuan” jawab pekerja itu.
“Baiklah”
Zain berlari ingin menemui Nina dan menjelaskan semuanya. Jika belum menjelaskan maka hatinya merasa ada yang mengganjal.
Sampai di halaman belakang.
“Ayn---”
Ucapannya terpotong saat melihat gadis yang ada dalam pikirannya nampak tertawa terbahak-bahak serta melakukan foto selfie bersama pekerja wanita.
‘Gadis itu! Aku pikir dia akan marah dan memikirkan ucapanku tadi. Rupanya dia nampak biasa melakukan foto selfie. Kenapa tadi aku membelikannya handphone? Keluaran terbaru lagi!’ monolog Zain dalam hati. Malah hatinya sendiri yang sakit.
Namun entah mengapa Zain juga tidak tega menegur gadis itu lagi dan memilih membiarkan.
__ADS_1
Nina menurunkan handphone nya setelah berhasil memotret dirinya dan Maya.
“Coba lihat” Maya yang penasaran segera meraih handphone, “Wah hasilnya bersih sekali!! Ya jelas dong, handphone mahal!! Dari Tuan Zain lagi”
“Ih kakak ni apaan sih! Bikin malu aja” Nina mencubit pelan perut Maya.
“Emang kamu niatnya mau pamer sama aku kan! Bukan karena ingin pamer masalah handphone ini tapi tentang orang yang ngasih kan?” goda Maya mendorong Nina dengan bahunya.
“Ihhhh nggak kak! Nina emang mau pamer tapi bukan karena Tuan Zain yang ngasih. Nina seneng karena punya handphone. Jadi nggak bingung deh kalau ada informasi dadakan dari kampus” sangkal Nina.
Maya menggiring Nina duduk di kursi saat gadis itu sibuk dengan handphone nya.
“Mentang-mentang udah punya handphone, aku diabaikan. Kamu itu handphone terus, kayak orang lagi kasmaran aja! Eh iya, maklum handphone baru” sindir Maya dengan raut wajah kesal.
“Eh nggak gitu kok kak” sangkal Nina merangkul bahu Maya.
“Ngomong-ngomong kenapa kau baru beli ponselnya sekarang? Kenapa nggak dulu-dulu aja, Nin?”
“Nggak ada uang, kak” jawab Nina.
“Emang iya! Nina emang nggak punya uang” kekeh Nina jujur dengan wanita ini. Ia sudah begitu percaya dengannya.
“Apa Tuan Zain tidak memberikanmu uang bulanan?” tanya Maya dan Nina menggeleng. “Astaga!! Bagaimana bisa tuan itu lalai dengan tanggung jawabnya. Sudah Nin kamu tenang aja… aku akan coba bilang sama Nyonya Zelofia dan dalam beberapa hari ATM mu akan segera terisi oleh uang suamimu”
“Eh nggak usah kak!! Emang kenapa sih? Itukan keputusan Tuan Zain yang tidak mau memberikanku uang bulanan, bukan urusan bunda. Aku udah nggak mau kak ngerepotin bunda supaya membantuku untuk memperbaiki hubungan keluarga ini. aku pengen menyelesaikan sendiri saja” kata Nina terdengar tulus di telinga Maya.
“Astaga Nina!! Kau itu benar-benar istri yang sholehah… seharusnya Tuan Zain beruntung mendapatkan dirimu. Tapi dia masih belum melupakan mendiang istrinya”
“Hem.. sayang sekali ya kak. Padahal aku juga sudah cantik, imut dan muda lagi” gurau Nina malah terdengar memuji diri sendiri.
“Eh malah sombong sendiri ya kamu!!”
Maya mencubit perut Nina yang meliuk-liuk kegelian disertai tawa hingga lengkap menghangatkan suasana.
________
__ADS_1
Setelah lelah bercanda dengan Maya, gadis ini segera masuk kedalam untuk mengambil air putih dingin didalam kulkas.
“Gerahnya!” Nina mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan berjalan menuju kulkas.
Bruk
Grep
Tubuh Nina tertahan di udara. Hampir saja ia terjatuh saat menabrak seorang pria dengan mata coklat didepannya. Wajahnya yang tampan dan senyumnya yang menyejukkan.
“Mas Alzam” Nina segera mendorong sekaligus melepas tangan Alzam yang memegangi pinggangnya supaya tidak jatuh.
Alzam yang khawatir segera bertanya, “Kau tidak apa-apa, Nin”
“Aku tidak apa-apa, Mas” Nina menundukkan wajahnya, “Maaf mas karena aku sedang ada urusan jadi tidak bisa mengobrol lama”
“Nin tunggu” Alzam menahan tangan gadis itu. “Nin segitunya kamu nggak mau ngobrol sama aku, bahkan tidak mau melihat wajahku. Nin, aku akui memang menyukaimu. Tolong----”
“Mas lepaskan aku!! Jangan membuat keributan sampai orang-orang berdatangan. Aku benar-benar tidak mau membuat masalah lagi dengan suamiku. Lupakan tentang rasamu dan mencari wanita lain karena aku hanya kakak iparmu” ucap Nina berusaha melepas lilitan tangan Alzam.
Namun pria ini malah mencengkeram kedua bahu Nina, membuat hatinya semakin bergemuruh.
“Nin, kau tidak ingat bagaimana kak Zain menolak dirimu sebagai istrinya? Didepan orang banyak dia terang-terangan menganggap mu tidak ada, bahkan perlakuannya kepadamu saja kurang baik Nin. Dia pria yang kasar tolong Nin… jangan sakiti dirimu sendiri. Ingatlah berapa kali kau menangis karena dia? Setidaknya jika bukan dengan diriku, maka carilah pemuda yang baik dan bisa membahagiakanmu”
“Maaf Mas. Aku istri Tuan Zain, kakak kandung Mas Alzam… tolong diingat jika aku ini kakak ipar Mas Alzam. Seharusnya kau sebagai adik mendukung itu. Setidaknya kau bantu kakak iparmu untuk mendapatkan cinta dari suaminya. Namun aku tidak menyangka jika kau bisa mengatakan hal buruk tentang kakak mu sendiri” Nina menepis cengkeraman kedua tangan Alzam yang mulai memudar.
“Nin, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin---”
“Tolong!!” Nina mengangkat satu tangannya menahan Alzam untuk tetap disana, “Jika mas Alzam memang benar-benar ingin aku bahagia, maka jauhi aku dan keluargaku. Aku tahu jika Tuan Zain tidak mencintaiku. Aku tidak mempermasalahkan semua itu. Aku juga tidak berharap mendapat cinta dan menggantikan almarhum istrinya. Aku hanya ingin menjadi istri yang baik yang selalu diingatnya dan… kau bilang jika Tuan Zain hanya bisa membuatku menangis? Hari demi hari yang kujalani bersama Tuan Zain hampir mengalami perubahan, dimana yang tadinya Tuan Zain tidak memperbolehkan aku untuk menyentuh bajunya, kini aku bisa merasakan kain kemejanya. Semua butuh proses! Aku kini percaya bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil. Jadi, tolong jangan hancurkan usahaku”
Nina melenggang dari hadapan Alzam, namun ia melupakan sesuatu. Ia kembali menghadap wajah pria itu, “Kau telah datang terlambat. Jadi nikmati hukumanmu”
Kedua tangan Alzam mengepal dengan sangat kuat meremat sakit hatinya, ‘Kenapa pria yang tidak menginginkannya bisa mendapat gadis sebaik dia? Kenapa aku yang begitu mengharap harus berakhir dengan luka?’
Nina menutup pintu kamar hingga menguncinya.
__ADS_1
Matanya berkaca-kaca mendengar tutur kata Alzam waktu itu. Sebenarnya, setelah Devan mengkhianati dirinya waktu itu, belum ada pria yang bisa membuat hati Nina bertekuk lutut. Setelah penghianatan itu, bukan cinta lagi yang ia cari melainkan kesetiaan, kenyamanan, ketenangan dan pria inilah pemenangnya. Jujur saja, jika saat ini status Nina bukan istri Zain maka ia akan membiarkan pria ini berlabuh di hatinya.