Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Tersulut Api


__ADS_3

Disana Zain melihat gadis muda duduk dengan senyuman dan mulut komat-kamit mengeluarkan sebuah suara yang membuat nya penasaran.


Nina sudah mirip seperti idola lengkap dengan kamera dan penggemar disana.


Tidak ada yang tahu maksud pria itu menyaksikan Nina bernyanyi diatas balkon. Jika dia terganggu! Kenapa dia tidak masuk dan menutup balkonnya supaya suara luar tidak masuk. Jika suka, mengapa wajahnya tidak menandakan apa-apa.


Pria yang telah melepas masa dudanya beberapa Minggu yang lalu itu hanya diam dengan kedua tangan bersidekap tanpa memberikan ekspresi berlebihan.


Sangat aneh bukan!!.


Tidak ada juga yang melihat pria itu disana. Lagipula tidak penting juga!.


Nina masih terus melanjutkan nyanyian, namun kini ia semakin malu karena putra pertama beserta menantu keluarga Darius itu terpanggil ingin menyaksikan.


"Geunyang joahandan maldo an doeneungayo?"


"Soljikhage nan malhago shipeoyo"


"SHIPEOYEO!!!"


Kini tidak hanya Bian melainkan Asad, Helena dan Alzam pun ikut menyaut nyanyian Nina. Rupanya mereka tahu lagu pop yang sedang viral itu.


"Sarajyeo?"


"Ani sarajiji ma" sahut para penggemar saat Nina membiarkan liriknya terpotong supaya mereka yang melengkapi.


"Ne mameul boyeojwo?"


"Ani boyeojuji ma" sahut mereka kembali dengan suara yang semakin keras.


"Haru jongil meorissoge ne misoman uri geunyang hanbeon mannabollaeyo?" Nina tertawa senang saat liriknya hampir memasuki reff.


Begitu juga dengan para penggemar Nina yang semakin bersorak mengikuti nyanyian sang idola. Hal itu tentu membuat Nina semakin terkejut.


Apalagi melihat Helena dan Asad yang ia yakini dengan sikap kehati-hatiannya dalam bersikap. Sungguh Nina merasa semakin malu tapi tetap ia lanjutkan.


Malam semakin larut dan suara semakin gaduh. Beruntung pintu-pintu ditutup rapat sehingga hanya mereka saja yang mendengar. Kebetulan balkon Zain terbuka. Makanya itu ia dengar suara Bian.


Akhirnya Nina menyelesaikan nyanyiannya dan tepuk tangan pun segera bersuara memenuhi gendang telinganya.


Tak sengaja ia melihat seorang pria bermata dingin membekukan tubuh Nina seketika. Pria itu berdiri diatas balkon dan pandangan tertuju kearahnya.


'Astaga... apa tadi Tuan Zain melihatku bernyanyi? Memalukan sekali diriku ini!!' resah Nina dalam hati dengan mata melirik bingung kearah balkon.


"Suaramu sangat indah, Nina" puji Helena mengusap kepala Nina yang menyeringai bahagia.


"Astaga aku baru tahu adik iparku pemilik suara emas" puji Asad bertepuk tangan.

__ADS_1


"Aku saja baru tahu kak" Bian pun balas menyahuti pujian Asad seraya merangkul bahunya.


"Terimakasih semuanya!! Nina jadi malu..." Nina menyelipkan rambutnya di belakang telinga namun seringaian malu masih terlihat.


"Aku sudah menyimpan dan akan aku kirim ke handphone mu... Oh iya, kau punya handphone?" tanya Alzam karena tidak pernah sekalipun ia melihat Nina menggunakan handphonenya.


"Aku tidak punya handphone" jawab Nina menggeleng.


"Jaman sekarang kamu nggak punya handphone Nin? Aduh parah banget sih kamu Nin" ejek Bian.


"Nin, kuliah itu harus punya handphone... kok kamu nggak bilang? Zain nggak ada bilang buat beliin kamu ya?" tanya Helena mungkin saja Zain sudah bertanya tapi Nina yang menolak.


"Nggak kak!" Nina tersenyum kikuk.


"Besok beli handphone sama aku!"


Akhirnya Alzam memiliki kesempatan lagi untuk mendekati kakak iparnya. Ia yakin Nina akan nyaman dan mau melepas hubungan terpaksa dengan kakaknya.


"Iya Mas!! Boleh" ada yang menawarkan bantuan tentu saja Nina tidak boleh mengabaikan. kesempatan tidak datang dua kali.


_________


Pagi harinya saat semua orang sedang menikmati sarapan mereka di meja makan. Nina beserta Alzam sudah siap untuk membeli handphone sebelum berangkat ke kampus.


"Bun... Alzam berangkat dulu ya! Mau beli handphone buat Nina... masak kuliah nggak punya handphone Bun!!!" Alzam menyalami seluruh anggota tertua begitupun dengan Nina.


Pria itu masih sibuk dengan sarapan pagi, membuat Zelofia geram ingin mencubitnya.


"Zain... kau antar Nina membeli handphone!! Kau suaminya jadi sudah kewajibanmu mengantarkan istrimu kemanapun dia berada, termasuk kebutuhan kampusnya" kata Zelofia tidak mau dibantah.


"Bu, Zain ada rapat" tolak Zain mencoba mengeles.


"Rapattttt terus... coba kamu perhatiin istri kamu, jangan kantor terus... lihat Nina, kebutuhan kampus harus adik iparnya yang membantu. Kamu dimana?" sentak Zelofia didengar oleh seluruh anggota.


"Bun, kalau kak Zain tidak mau ya jangan dipaksa! Alzam mau mengantarkan Nina membeli handphone" sela Alzam tersenyum. Ia sama sekali tidak keberatan jika harus mengantarkan Nina.


Hati Zain bersulutkan api amarah. Cengkeraman tangannya menguat meremat alat makan, rahang tegasnya yang semakin mengurat saja dan Nina melihatnya.


"Hem... Bun, kalo ma-mas Zain nggak mau Nina juga nggak maksa kok... kan sudah ada Mas Alzam yang mau nemenin Nina" ujar Nina terlihat ketakutan. Ia tidak mau suasana di ruang makan ini berubah panas hanya karena dirinya.


Namun saat Zain mendengar kalimat 'Sudah ada Mas Alzam' hatinya semakin panas. Rasanya seperti Nina meremehkan dirinya.


"Lihatlah kak, karena anggota baru itu keluarga kita menjadi selalu panas setiap harinya" bisik Aya di telinga Bella yang sibuk menonton dan hanya tertawa.


"Ya sudah ayo Nin... assalamu'alaikum semuanya" ajak Alzam dan Nina pun segera berlari kecil untuk segera keluar dari ruang makan itu.


Nina sudah sangat ketakutan, apalagi melihat raut wajah merah suaminya.

__ADS_1


"Nggak ada tanggung jawab sama sekali" desis Zelofia didengar jelas di telinga Zain yang semakin murka.


Sedari tadi Zain menahan emosinya karena ini di ruang makan tapi Zelofia terus memancingnya dan ingin rasanya dia memarahi gadis itu karena sudah membuatnya dibanding-bandingkan.


"Zain berangkat!! Assalamu'alaikum" ucap Zain menyalami Zelofia dan Abrizal lalu pergi.


Zelofia pun menahan tawa kearah suaminya yang tersenyum seakan memberi sebuah kode misterius dari balik kedipan matanya.


Keduanya bekerja sama untuk membuat Zain cemburu dan menyadari tanggungjawabnya.


Sementara itu Nina sudah ingin masuk kedalam mobil namun tiba-tiba tangannya di cekal, dialah mantan duda yang tidak menganggap istrinya ada.


"Tu-tuan"


"Masuk ke mobil" titah Zain begitu dingin.


"Tu-tuan tapi Mas Alza----"


"Kau tidak dengar??" sentak Zain dengan suara yang meninggi menarik Alzam untuk segera bertindak.


"Kak jangan kasari Nina..." Alzam berusaha menepis genggaman tangan Zain namun pria itu malah semakin erat.


"Aw-aw Tu-tuan" rintih Nina juga berusaha ingin melepasnya.


"Kau tidak dengar perintahku? Ku bilang masuk ke mobil sekarang juga" tekan Zain dengan amarah yang membuncah.


"Kau ini kenapa kak? Jika kau tidak mau mengantar Nina ya sudah... aku bisa mengantarkan Nina membeli handphone. Jangan kau paksanakan batin mu yang hanya dipenuhi dengan penolakan, jatuhnya diantara keduanya hanya akan ada kesakitan" kata Alzam menepis kasar tangan Zain.


"Ayo Nin" ajak Alzam kembali.


"Kenapa kau tidak menikahinya saja, bukankah kau menyukai istriku, Zam?"


Deg


Mereka berdua termangu dengan mata yang semakin membola. Alzam tidak habis pikir jika pria itu akan mengatakannya didepan Nina.


"Jaga bicaramu, kak" sentak Alzam.


"Kau bilang di mall ingin merebutnya dariku, lalu kenapa sekarang saat kau sudah ada didepannya justru malah bersikap naif?" Zain tersenyum puas.


Alzam memang ingin merebut Nina, namun tanpa sepengetahuan gadis itu sendiri. Ia takut jika Nina berpikiran dia ingin menghancurkan rumah tangganya.


"Sekarang saja kalian pergi ke KUA dan menikah... aku ikhlas"


...To be continued...


...Tetap dukung karya ku ini ya!! Di Vote, like, komen, subscribe dll. Dukungan kalian menambah semangat author dan menentukan nasih novel ini kedepannya!!🤗...

__ADS_1


__ADS_2