![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Setelah melakukan perjalanan yang tidak terlalu panjang, sampailah keduanya di kediaman Darius yang memiliki halaman besar dan rumah yang besar pula.
Saat mobil Zain terparkir di garasi waktunya Nina bersiap untuk turun. Ia harus segera turun dari mobil untuk mengambil koper yang ada di bagasi.
Namun sebelum itu ia melihat satu kotak terulur kearahnya. Pria pemilik wajah dingin itulah yang memberikannya. Tanpa embel-embel bahasa, dia hanya diam mengulurkan kotak itu.
"Apa ini, Tuan?"
"Jika penasaran buka sendiri saja" kata Zain masih terasa dingin. Ia yang merasa pemberiannya belum diterima segera menaruhnya diatas paha Nina. "Bukalah! Aku tidak tahu seperti apa yang kau mau. Tapi itu sudah lebih dari pantas untuk membalas kebaikanmu yang mengurusku saat muntah-muntah waktu itu"
"Tapi, aku mengurusmu waktu itu karena aku merasa memang seharusnya aku melakukan itu. Sebagai seorang manusia, aku tidak bisa membiarkan kau kesusahan, terlebih didalam rumahku sendiri" ucap Nina dengan polos seraya mata menelusuri kotak yang sudah ada di tangannya.
"Sesama manusia? Jadi kau melakukan ini hanya karena kita sesama manusia?" tanya Zain mengulang kata-kata Nina.
"Iya"
"Jika aku bukan manusia?"
"Aku tetap akan membantumu" jawab Nina tersenyum memperlihatkan wajah cantik dan imut dari wajahnya.
"Buka" pinta Zain dan Nina segera membukanya.
Kotak yang terbungkus kertas coklat itu mulai menampakan bentuk barang didalamnya. Sebuah alat komunikasi berkualitas mewah dengan harga fantastis itu kini ada didepan mata Nina.
"Tuan, ini?"
"Ehem" entah mengapa Zain merasa gugup, "Beberapa hari yang lalu aku melihat ada obral Handphone di jalan. Karena murah jadi aku membelinya"
"Ini beneran untuk saya?" tanya Nina dan Zain mengangguk dingin.
Gadis ini masih kurang percaya, bahkan mulutnya terlihat menganga lebar. Hatinya begitu bahagia mengetahui ia memiliki handphone.
"Kau suka? Itu aku beli dari obral dijalanan, bukan di toko-toko besar"
"Aku juga tidak mengharap memiliki handphone dari toko-toko besar dan bermerek mahal. Aku memiliki handphone saja itu sudah sangat bahagia. Tuan, Terimakasih" ujar Nina dengan senyum terharu.
"Iya"
Nina mencoba menyalakan handphone barunya. Lalu masuk kedalam beranda dan masuk kedalam aplikasi kontak. Disana sudah ada nama yang tersimpan, bertuliskan...
"Tuan tampan" Nina terlihat geli dengan nama kontak tersebut, lalu ia melihat kearah Zain yang pura-pura tidak tahu. "Ini nomor anda, Tuan?"
"Keluarlah! Ibu pasti menunggu" Zain tidak menjawab dan malah mengalihkan pembicaraan. Apa dia memang benar memberi nama dirinya dengan sebutan 'Tuan tampan'? Sepertinya itu terdengar aneh untuk pria sedingin Zain.
__ADS_1
Namun saat Zain memutuskan untuk keluar dari mobil, mengapa tidak ada pergerakan dari gadis itu. Seharusnya ia buru-buru keluar dengan riang.
"Sedang ap---" saat Zain mencoba melihat, rupanya gadis itu sedang sibuk dengan ponselnya. "Apa yang kau lakukan?"
Nina belum menjawab.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Zain sekali lagi. Kali ini dengan sedikit ngegas.
"Aku ingin menyimpan nomor teman sekampusku" jawab Nina tanpa sedikitpun melihat kearah Zain. Hal itu membuat Zain merasa diabaikan.
"Nanti saja di dalam. Sekarang kau turunlah atau ibu akan menunggu!!"
Namun lagi-lagi gadis itu tidak mendengarnya dan malah sibuk dengan barang baru yang ia punya. Zain yang melihat pun merasa menyesal telah memberikannya.
Srett
"Eh" mata Nina mengikuti kemana handphonenya pergi. Zain yang geram telah merampas bagai seorang guru merampas gadget seorang murid.
"Aku memberikan mu handphone bukan untuk mengabaikan orang. Melainkan, kepentingan kampusmu. Baru saja kau memiliki handphone dan langsung lupa dunia. Jangan berani-beraninya kau bermain ponsel saat orang sedang berbicara padamu. Mengerti?" kata Zain dengan begitu bijak. Tapi terdengar menakutkan di telinga Nina.
"Turun" kata Zain lagi. Kini dengan wajah mengerikan dan nampak marah dan terakhir, membuang muka.
Nina yang takut hanya bisa diam menyadari kesalahannya. Ia membiarkan handphone nya diambil lagi dan entah dibawa kemana.
"Assalamu'alaikum" salam Zain masuk kedalam rumah dan disambut oleh beberapa anggota disana.
"Walaikumsalam" jawab Helena membiarkan punggung tangannya dikecup, "Ehh udah pulang kalian! Cepet banget pulangnya, emang ibu udah baikan?"
"Alhamdulillah ibu sudah sembuh, kak" balas Aynina.
"Alhamdulillah. Pak Zaenudin, tolong bawakan koper-koper nya kedalam kamar ya!" pinta Helena kepada pekerja pria yang tidak sengaja lewat disana.
"Baik, Nyonya"
Pekerja itupun segera melaksanakan perintah Helena, meninggalkan atasannya yang ingin berbincang-bincang.
"Aku ingin ke ruang baca dulu, kak"
"Eh iya Zain" Helena membiarkan Zain pergi, namun tidak dengan Nina yang menahan tangan adik iparnya.
"Apa?"
"Tuan, aku harus menyimpan banyak nomor teman-teman kampusku supaya aku tahu informasi-informasinya, supaya aku juga tahu jadwal-jadwal mata kuliahku" pinta Nina menipu Zain dengan senyuman serta menengadahkan kedua tangannya tepat didepan wajah pria itu.
__ADS_1
Zain belum melakukan apa-apa. Ia masih diam menatap wajah memelas dari gadis didepannya. Namun semakin ia menatap kedua mata gadis itu, semakin tidak kuat dirinya.
Zain segera membuang muka dan meletakan handphone nya di telapak tangan Nina.
"Ingat kata-kata ku" setelah itu Zain pergi.
"Aku akan ingat nasihatmu tadi. Aku tidak akan mengabaikan orang hanya karena handphone" kata Nina mengingat setiap kata yang Zain ucapkan.
Helena yang melihat merasa ada sesuatu yang beda. Sepertinya ia menyadari perubahan interaksi antara keduanya.
"Nin, apa itu?"
"Handphone kak. Tuan Zain yang membelikannya" jawab Nina begitu antusias.
"Wah ini handphone keluaran terbaru, Nin... hebat banget Zain bisa memesannya" puji Helena terkagum-kagum.
"Tapi Tuan Zain bilang beli handphone ini di obral jalanan" jawab Nina dengan polos nyaris membuat Helena terbahak-bahak.
"Mana ada handphone keluaran terbaru belinya di jalanan. Kamu ini di bohongin sama Zain!!" Helena memegang perutnya yang sakit karena tertawa. "Dah, kakak mau lihat Neha dulu ya! Dia lagi renang soalnya"
"Iya kak"
Nina berpikir keras melihat ruang baca yang ada di lantai dua lalu berganti melihat handphonenya.
"Tuan Zain berbohong? Untuk apa dia melakukan itu? Kenapa tidak langsung bilang kalau handphone ini beli di sini, atau disana... kenapa harus berbohong? Apa dia malu-malu?" monolog Nina bingung.
Nina bergegas menaiki tangga menemui Zain yang sudah ada di ruang baca melakukan kegiatannya seperti biasa.
"Tuan Zain!!"
Tiba-tiba Nina masuk membawa suara nyaring khas miliknya kedalam ruang baca milik Zain yang begitu tenang dan sunyi.
"Tidak bisakah kau ketuk pintu dulu?"
"Tuan, kata kak Helena kalau handphone ini keluaran terbaru ya? Berarti handphone ini tidak dibeli di obral jalanan?" tanya Nina dengan wajah penasaran seraya menaikan tinggi-tinggi handphone di tangannya.
"Sudah dibelikan handphone itu kau harus bersyukur!! Jangan tanya-tanya asalnya dari mana... itu tidak baik, dan membuat orang yang membelikannya merasa tidak suka, selain tidak suka dia akan tersinggung. Jangan juga menanyakan harga barang dari orang atau mereka akan mengambil balik" ucap Zain terlihat begitu terganggu dengan kedatangan Nina yang merusak waktu istirahatnya.
Nina langsung diam.
"Apa salahnya bertanya?"
To be continued
__ADS_1
Ramein kuy!! Mana dukungannya!!! Selalu senantiasa memberi dukungan dengan like, vote, komen dan kasih bunga aja kok!! Terimakasih semuanya 🙏😘