![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Setelah percakapan Zain tadi malam dengan sang ibu, membuat berita itu menyebar begitu cepat sampai ke telinga setiap anggota keluarga Darius. Mereka semua merasa sedih dan ikut merasakan sakitnya.
Para anggota Darius berkumpul di ruang tengah menatap kearah Aya yang tengah menuruni tangga. Begitupun dengan Aya yang merasa bingung dengan tatapan mereka.
“Kak, kenapa mereka semua melihatku? Dan kenapa aku diminta memakai pakaian yang bagus?” tanya Aya kepada Zain yang berjalan disampingnya.
Zain tidak menjawab. Pria ini tetap menuntun Aya sampai duduk di sofa bergabung dengan mereka.
“Aya… ayah sudah memikirkan ini matang-matang. Kau akan menikah dengan Tuan Aditama”
Aya langsung bangkit, “Aya tidak mau menikah dengan pria tua beristri itu Ayah” pandanganya mengedar melihat semua orang lalu berhenti di wajah Zain, “Kakak sudah memberitahu ayah dan bunda kan kak?”
“Aya, bunda mengerti perasaanmu tap---”
“Tidak ada yang tahu perasaanku!!” Aya berteriak menepis tangan Zelofia, “Aku tidak mau menikah dengannya, bahkan aku tidak mau hamil”
“Jika kau tidak mau hamil baahakan menikah lalu kenapa kau mau tidur dengannya?” Zelofia balas membentak lalu mencengkeram kedua bahu Aya, “Kau sudah melakukan kesalahan dan perbaikilah kesalahan ini dengan menikah dengan nya. Ini juga untuk kebaikan baayimu”
Aya menggeleng dengan cepat, “Bun, Aya tahu salah tolong maafkan Aya…”
“Ayah dan Zain akan menemui Aditama untuk membicarakan perihal pernikahan mu” kata Abrizal tegas dan tidak mau dibantah dengan melenggang pergi.
Zain yang sudah disebut segera menyusul.
“Ayah!! Maafkan Aya!! Aya tidak mau menikah dengan pria itu!!” Aya berteriak ingin menyusul Abrizal namun tangannya lebih dulu dicekal lalu bunda memeluknya.
“Lihat kan kak. Aku tahu tanda-tanda wanita hamil” bisik Bella kepada Helena setelah lama mengamati mereka.
“Apa kau sudah menemukan tanda-tanda itu didalam dirimu” tanya Helena terkesan menyindir kepada Bella yang belum juga dikaruniai anak.
‘Bedebah wanita ini’ maki Bella dalam hati.
_____
Seperti yang telah Abrizal katakan kepada semua orang di ruang tamu, bahwa ia dan Zain akan menemui Aditama untuk membicarakan perihal pernikahan. Aditama setuju untuk bertemu dan mengobrol di restoran A.
Berbeda dengan Zain waktu itu yang mengawalinya dengan tonjokan, maka Abrizal memilih damai untuk kebaikan putrinya juga.
“Sepertinya anda sudah tahu betul maksud saya ingin menemui anda, Tuan Aditama” kata Abrizal dengan santun dan tenang.
Aditama tertawa lirih, “Sepertinya hanya putra ketigamu yang tidak memiliki etika dalam bertemu. Dia menonjokku dikawasanku sendiri, rasanya aku ingin memukulnya balik”
__ADS_1
“Perilakunya menurun dariku. Bedanya, aku masih bisa mengontrol emosi dan putraku tidak. Jika aku sudah dibuat marah, maka aku pastikan kau sendiripun tidak akan lepas” kata Abrizal terdengar mengancam.
Aditama segera menelan ludahnya dengan kasar.
“Ehem, kembali ke topik. Aku akan bersedia menikahi Aya jika Zain menyetujui syarat yang aku berikan beberapa hari yang lalu” kata Aditama kembali tegas.
“Aku akan mencabut tuntutan itu. Namun, aku juga memiliki sebuah syarat untuk dirimu” kata Zain.
“Katakan”
“Kau harus menjamin putramu tidak mengganggu istriku lagi dan kirimkan putramu itu keluar negeri untuk studinya seperti yang kau ucapkan tempo hari” jelas Zain bernegosiasi.
“Aku setuju! Akan aku kirim putraku ke luar negeri dan kau lakukan seperti yang aku inginkan” ucap Aditama menyetujuinya.
“Bagaimana dengan nyonya Cristina?” tanya Abrizal.
Aditama diam. Ia baru ingat jika masih memiliki seorang istri yang terbilang cerewet.
“Aku akan membicarakan ini baik-baik, dan juga membicarakan masalah Dean juga. Mungkin, istriku akan menerima pernikahan ini” kata Aditama menurunkan nada bicaranya.
“Baiklah, Tuan. Saya harap itu kabar yang baik” Abrizal bangkit bersamaan dengan Zain, “Kami permisi dulu, Assalamualaikum”
“Walaikumsalam”
_____
Setelah lama menangis dan menyesali kesalahannya anak bungsu keluarga Darius pun menghentikan tangisannya. Ia merasa agak tenang dipelukan Zelofia yang terus menasehatinya dan menenangkan hatinya.
“Nina, bisa tolong ambilkan makan untuk Aya?” pinta Zelofia kepada Nina yang kebetulan menemani mereka.
“Iya, bunda”
Nina pun keluar kamar untuk mengambil makanan di dapur. Namun ternyata ia berpapasan dengan Zain dan Abrizal yang baru pulang.
“Assalamualaikum, bunda dimana nak?” tanya Abrizal kepada Nina.
“Bunda di kamar Aya, ayah” jawab Nina dan Abrizal berniat menaiki tangga, “Hem, ayah mau dibuatkan kopi atau teh?”
“Tidak perlu, nak” Abrizal mengangkat satu tangannya lalu menaiki tangga.
Kini atensi Nina berganti melihat Zain yang masih berdiri seperti menunggu ditanya.
__ADS_1
“Hubby mau dibuatkan kopi?”
Wajah Zain yang tadinya dingin mulai terlihat hangat setelah Nina memanggilnya seperti itu. Namun pria ini masih nampak cool seakan biasa dengan julukan itu.
“Mau, tapi tolong kirim ke ruang kerjaku saja” kata Zain berlalu pergi.
“Iya” lirih Nina tersenyum lalu pergi ke dapur.
Tidak mereka sadari ada sepasang mata coklat berwajah pria tulen dengan dagu berbulu halus sedang memperhatikan interaksi keduanya. Pria itu menahan sesak, namun tidak bisa apa-apa.
‘Aku hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan keluargamu. Aku akan mencoba iklas jika memang kak Zain sudah menerimamu’ monolog Alzam dalam hati.
_____
Di dapur ini Nina masih proses menyiapkan makanan untuk Aya dan kopi untuk suaminya, padahal sudah dibantu Maya tapi mereka belum juga selesai.
“Nin” panggil Maya dijawab deheman Nina saja, “Maaf ya tadi aku ada di balik pintu saat kau berbicara dengan Tuan Zain”
“Oh tidak masalah kok kak. Lagian obrolan apaan sih, cuma menawari minuman aja kok” jawab Nina tidak mempermasalahkan itu.
Mendengar itu Maya turut senang. Ia pikir Nina akan marah seperti kebanyakan pasangan lain, namun ternyata tidak.
Maya menyenggol bahu Nina bercanda, “Cieee yang udah diakui sama suami”
“Ih apaan sih kak” Nina mencubit lengan Maya agak keras.
Namun Maya tidak berhenti menggoda, “Cieee yang udah manggil sayang”
“Eh nggak. Aku manggil Hubby kok”
Maya mengernyitkan dahinya merasa aneh, “Nina hubby itu panggilan sayang dari Arab yang diperuntukan untuk sang suami”
Mata Nina langsung membulat begitu saja, bahkan mulutnya terbuka saat tangannya refleks menutupnya.
“Hubby? Julukan sayang untuk suami?” tanya Nina mengulangnya kembali dan Maya mengangguk membenarkan.
Beberapa detik Nina mencerna julukan itu, “Untung aku tidak memanggilnya didepan seluruh anggota tadi”
Maya pun tertawa dengan kepolosan gadis ini. Rasa gemas yang mendominasi mengakibatkan pipi Nina dicubit oleh Maya.
“Ya udah kak, aku mau ke atas dulu” gugup Nina membawa kopi dan makanan Aya dengan nampan
__ADS_1
Saat Nina berbalik, matanya sudah melihat keberadaan Alzam yang berdiri diambang pintu. Nina yang merasa agak risih itu menundukan pandangannya.