Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Perbandingan Usia


__ADS_3

“Diamlah atau ada yang mendengar” kata Aditama dengan dingin.


Tentu hal itu menyakiti perasaan wanita yang ada diseberang telpon. Ia sudah memberikan segalanya dan pria tua ini harus bertanggungjawab.


"Mas, aku mau ketemu saat ini juga"


"Nggak bisa!! Kamu ini jangan buat aku pusing dong!! Dahlah"


"Ma--"


Aditama keburu menutup telponnya. Ia sedang murka karena putranya yang pergi entah kemana dan merasakan istrinya yang tidak pernah bisa diandalkan.


________


Rumah sakit


Ambulan berisi Nina dan juga Zain sudah tiba di halaman rumah sakit. Seluruh para medis segera membawa kursi roda menjemput mereka. Mereka segera dibawa ke ruangan untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut.


Ruangan Zain dan Nina menjadi satu, hanya saja ada tirai sebagai pembatas ranjang mereka berdua. Jadi Zain tahu jika ada orang yang tiba-tiba masuk menemui istrinya.


"Nina, apa yang terjadi padamu?" Alzam tadi melihat Nina dibawa dan Zain juga. Melihat itu ia langsung menyusul dengan rasa cemas yang tinggi.


"Aku nggak papa kok, Mas" singkat Nina tidak mau lebih.


"Kakimu kenapa? Kenapa bisa luka? Ka----"


"Mas! Sebaiknya Mas Alzam cek Tuan Zain disamping aja. Dia terkena tembakan di punggung dan pura-pura tidak merasakan apa-apa" kata Nina sebagai alasan ingin menjauh saja.


Alzam lupa jika tadi ia melihat kakaknya juga. Ia pun segera membuka tirai dan melihat Dokter Aldo sedang menjahit luka Zain.


"Kak, kau tidak apa-apa?" Alzam tetap adiknya dan keselamatan saudara juga penting baginya.


"Hm" Zain tidak bernafsu bicara.


"Bagaimana ini bisa terjadi?"


"Kau tanya saja kepadanya. Kenapa dia bisa ada di hutan. Bukannya di kampus untuk belajar malah ada di hutan bersama dengan pria lain" Zain membuang muka.


Alzam tahu itu bukan sepenuhnya cerita asli. Ia ingin dengar pengakuan Nina sendiri.

__ADS_1


"Nin?"


"Tadinya aku sudah berangkat kuliah tapi ternyata kelasnya kosong dan kata temenku, dosennya nggak masuk. Dari itu aku memutuskan untuk pulang tapi tiba-tiba Devan mencegat ku dan membawaku pergi menggunakan mobil. Entah angin darimana Tuan Zain menolongku" jelas Nina dengan nada lembut.


"Devan itu siapa, kenapa dia ingin melukaimu Nin?" Alzam begitu penasaran.


Begitu juga dengan Zain yang ingin dengar, karena sebenarnya ia juga ingin tahu hubungan mereka sampai bisa mengganggunya.


Nina jadi bingung ingin menjawab bagaimana. Jika dia bilang Devan itu mantan pacarnya, respon Zain seperti apa ya?


"Nin?"


"Hem, Devan itu... mantan pacar Nina" lirih Nina malu dengan kedua pria dewasa didepannya.


Dari sini Zain sudah dapat menyimpulkan, "Oh! Hubungan kalian selesai secara sepihak dan anak itu tidak terima lalu dia berniat mencoba menyakitimu. Aku sudah banyak mendengar berita seperti itu dan rata-rata mereka anak seusia kalian. Cih! Anak jaman sekarang memang selalu melakukan semaunya. Kau itu juga salah memilih kekasih! Tidak melihat-lihat dulu asal terima saja"


Nina dan Alzam hanya saling pandang kearah Zain yang langsung melengos seakan tidak peduli.


"Kau juga tidak lihat-lihat dulu asal menyalahkan saja" sindir Nina dengan polosnya dan Zain hanya diam menerima.


Alzam yang tidak tahu apa-apa hanya fokus dengan kata-kata Zain, "Apa kau sudah merasa tua, kak? Hanya saja, perkataan kak Zain barusan terdengar seperti bapak-bapak yang mengomel untuk putrinya"


Alzam langsung mendapat lirikan mata elang menajam milik sang dominan. Tentu saja Zain tidak terima dikatai seperti itu.


"Tutup mulutmu! Usia kita hanya selisih satu tahun, artinya jika aku tua kau pun sama"


"Aku tidak merasa tua" polos Alzam menolaknya.


Zain hanya membuang nafas saja. Namun dapat dipastikan jika pria ini sudah tidak mampu berkata-kata. Sepertinya umur tua berpihak padanya.


"Nin, pria itu sudah di tangkap atau belum?"


"Belum. Devan sekarang menjadi buronan polisi, ia kabur setelah melukai Tuan Zain" balas Nina.


"Semoga pria itu segera ditemukan. Pemuda-pemuda seperti itu memang harus disadarkan" kata Alzam memilih bijak.


"Sudah selesai atau belum? Aku ingin pulang" tanpa menunggu jawaban Zain segera beranjak.


"Sudah selesai, namun saya sarankan untuk tetap menginap di rumah sakit selama satu hari saja. Hal ini dapat menghindari hal-hal terburuk yang mungkin bisa terjadi. Terlebih dengan luka Nyonya Darius, saya harus mengeceknya kembali sampai benar-benar tidak ada benda asing yang dapat menyebabkan infeksi, mengingat jika Nyonya Darius tertusuk oleh batang yang membawa banyak bakteri" jelas Dokter Aldo rekan Alzam.

__ADS_1


"Dengar itu Nin!! Kau jangan khawatir, berbaringlah dan istirahat. Aku tahu kau sangat lelah dan membutuhkan energi yang cukup" kata Zain.


"Iya, Mas Alzam" jawab Nina berbaring dibantu oleh perawat yang ada didekatnya.


"Kau juga sama kak. Kau belum dibolehkan untuk pulang dulu karena lukamu memang agak serius jadi malam ini kau dan Nina tidur di rumah sakit" Alzam mencoba menggiring kakak judesnya ini kembali ke brankas.


"Ini caramu mengambil kesempatan?" Zain tersenyum miring dan Alzam hanya sabar.


"Kesempatan apa?" Alzam kurang mengerti.


"Mengambil kesempatan untuk mencuri-curi pandang kepadanya. Sepertinya, kaulah orang yang paling setuju jika kami menginap. Kau ingin memulai rencanamu, kan?" kata Zain menduga-duga.


"Kalau memang waktunya, Nina akan aku dapatkan. Tidak perlu membawa rencana seperti itu selagi doaku di dengar" kata Alzam santai membantu Zain kembali tidur.


"Doa merebut istri kakaknya tidak akan didengar. Kau hanya membuang-buang waktu" balas Zain juga santai.


"Hanya Allah yang tahu" jawab Alzam menata bantal untuk kepala Zain. Begitu perhatian walau pembicaraan mereka bisa mengarah ke pertengkaran.


"Kau bukan type gadis itu. Mantan pacarnya itu memiliki wajah yang tampan seperti bule dan jika dilihat dari usianya nampak muda. Bukan aku ingin membuatmu down tapi dari segi usia kau sudah tidak masuk kriteria. Jadi jika kau teruskan usahamu akan sia-sia" kata Zain seakan dia sendiri yang tidak terima.


"Apa berarti, kau juga tidak masuk kriteria?"


"Kenapa aku harus masuk kriteria? Aku tidak berniat ikut lomba mengambil hatinya. Aku hanya mengingatkan dirimu saja! Sebelum kau terluka lebih baik mundur sejauh-jauhnya. Mungkin saja gadis itu sudah memiliki incaran di kampus. Kau tidak dengar tadi dia mendapat informasi dari teman satu kampusnya. Aku yakin dia itu pacarnya"


"Sepertinya, kau yang tidak terima kak? Bukan aku yang merasa panas, tapi kau. Apa, kau memiliki rasa kepada Nina?" kata Alzam menduga-duga.


"Tidak"


Zain memperbaiki tidurnya dengan posisi tengkurap dan kedua tangan sebagai penyangga kepala. Ia menutup kedua matanya.


"Pergilah sana. Aku ingin tidur"


"Baiklah!" Alzam segera menutup tirainya, hingga mantan duda itu tidak akan melihat istrinya lagi.


Mata Zain kembali terbuka, 'Yang benar saja! Aku akan terjerat cinta anak remaja? Justru aku akan menyadarkan mereka. Lagipula untuk apa aku peduli?'


Setelah dirasa cukup mengetahui kondisi mereka, Alzam keluar dari ruangan itu. Tiba-tiba…


“Astaga!!”

__ADS_1


__ADS_2