![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
"Kau masih bisa bertanya? Baiklah aku akan memberitahumu saja..." setelah melepas kemejanya Devan melemparnya ke sembarang arah dan maju satu langkah.
"Nina sayang! Perkenalan mereka adalah teman-teman ku yang akan menjadi juru kamera untuk kegiatan panas kita"
Deg
Ingin membeku rasanya. Nina begitu sangat amat terkejut mendengar hal menjijikan itu. Tidak ia sadari mulut dan juga matanya membola.
"Jangan ngawur kamu, Devan!!"
"Aku tidak ngawur... kamu aku ajak balikan nggak mau jadi terpaksa aku harus melakukannya disini" Devan menyeringai polos.
"Gila kamu!!"
Nina mencoba melarikan diri namun Devan segera menarik tangan Nina untuk kembali.
"Devan jangan gila kau..." Nina mencoba memberontak dan menepis kasar lilitan tangan Devan.
Tidak Nina sadari tubuhnya terseret mengikuti Devan yang membawanya kembali ke dinding.
Devan mengunci tubuh kecil Nina di dinding. Ia yakin jika Nina tidak akan bisa lari.
Bugh
Sayangnya Nina menendang alat vital Devan dengan lututnya. Tentu itu membuat Devan meringis dan melepas sang gadis.
"Tangkap!!!" seru Devan langsung dijawab rekan-rekannya yang menghadang Nina.
Karena mereka itu banyak dan Nina hanya seorang diri gadis pula, ia pun akhirnya tertangkap. Kedua tangannya di pegangi rekan Devan dengan sangat kuat hingga susah untuk Nina dapat lepas.
"Berani sekali kau memukulku gadis brengsekk"
Plak
Wajah Nina langsung menoleh kearah samping saat Devan dengan kerasnya memukul pipinya. Ujung bibir Nina sobek dan hidungnya mengeluarkan darah.
"Tolong Devan... jangan lakukan itu" mohon Nina dengan jantung yang semakin berdegup kencang.
Nina yakin tidak akan ada yang membantu ataupun menyadari keberadaan tempat ini yang berada diujung kampus dan jarang di lalui.
"Kalian semua... baringkan gadis ini"
Deg
"Devan!! jangan!!" teriak Nina semakin memberontak saat tubuhnya dibaringkan secara paksa.
__ADS_1
Saat tubuh Nina sudah berbaring, kedua tangannya dipegang oleh dua orang dan kedua kakinya menendang-nendang udara. Tidak lupa ada juru kamera yang siap merekam.
"Wow wow!!! adegan yang ditunggu-tunggu nih boss" kata rekan Devan yang bertugas merekam. Ia yakin akan mendapatkan bayaran yang banyak setelah mengunggah Vidio ini ke situs area dewasa miliknya.
"Devan lepas... tolong!!! tol------" teriak Nina terpotong saat Devan membungkam mulutnya dengan sapu tangan yang baru diambil dari saku.
"Hmmmmmpt" saat ini tidak ada yang mendengar teriakan Nina karena mulutnya sudah di sumpal rapat-rapat.
Devan sudah bersiap mengungkung tubuh kecil Nina namun tiba-tiba kerahnya ditarik ke belakang hingga mental.
"LEPASKAN NINAAA" teriak pria yang tadi menarik kerah belakang Devan. Pria ini nampak murka dengan urat-urat leher yang tampak nyata. "HAPUS VIDIO ITU BODOH"
"Kau jangan sok jadi pahlawan kesiangan" salah satu pria yang memegangi tangan Nina pun memutuskan untuk menghajar.
Argan yang mengetahui itu tidak bisa tinggal diam setelah ucapan pemuda itu telah ia dengarkan. Kedua kakinya melebar membentuk kuda-kuda dan tangannya membawa kayu besar bersiap memukul.
"Rektor harus tahu perilaku bejat kalian supaya beliau memiliki alasan untuk mengeluarkan orang-orang seperti kalian" kata Argan penuh dengan keyakinan.
"Hajar!!"
Teriak Devan dan teman-temannya segera berbondong-bondong melawan Argan. Dari itu membuat Nina melepas sumpal di mulutnya dan bersembunyi.
Devan dan para anak buahnya mengeroyok Argan yang seakan tangguh dengan membawa batang kayu besar sebagai senjata. Ia menggunakan batang kayu itu untuk memukul tubuh mereka yang sudah berani mengganggu Nina.
Bugh
Bugh
Bugh
Devan mencoba menangkis batang kayu sialan itu mengunakan salah satu kakinya. Ia baru saja memperlihatkan keahliannya dalam bela diri.
Argan pun tersungkur di atas tanah dan batang kayu terlepas hingga terlempar jauh.
"Beraninya kau memukul ku"
Bugh, Devan menendang perut Argan hingga pemuda itu tarbatuk mengeluarkan darah. Namun Devan belum puas karena moodnya benar-benar hancur saat ini.
"Devan jangan!!" tentu Nina yang melihat itu tidak bisa tinggal diam apalagi Argan melakukan itu untuk dirinya. Ia semakin tidak tega. "DEVAN!!!"
"BERHENTIIII"
Hening...
Langsung tidak ada pergerakan sama sekali, baik Devan sampai anak buahnya ataupun Nina dan Argan. Mereka semua diam setelah melihat rektor kampus datang.
__ADS_1
Wajahnya yang murka telah menepis keberanian Devan dan membuat Nina lega. Akhirnya Nina mendapatkan penolongnya, mungkin.
_______
“Tolong pak, jangan panggil kedua orang tuaku. Mereka akan kecewa dengan diriku… lagipula pak, yang salah disini adalah anak itu”
Argan tetap kekeh menolak memberikan rector no telpon pihak rumahnya untuk dipanggil kemari. Ia merasa tidak bersalah karena menolong gadis yang hampir disakiti.
Ia juga tidak mau jika keluarganya dipanggil. Bisa-bisa mereka akan kecewa dengan Argan.
“Berikan no telpon keluargamu. Anak beasiswa saja berani membuat kekacauan” rector itu sudah geram dan hampir memukul kepala Argan namun menghindar.
“Apa ayahnya juga tidak dipanggil?”
“Jika aku memanggil ayahnya, kau akan habis di tangannya. Jadi sebelum itu kau segeralah meminta maaf kepadanya dan kepada gadis ini” rector itu kembali menyentak supaya Argan mau meminta maaf kepada Devan.
“Pak, saya yang menolong Nina” bantah Argan semakin tidak paham. Kenapa seakan dirinyalah yang bersalah disini!
“Kau itu tinggal menurut jika tetap ingin kuliah di kampus ini. Kau bisa langsung dikeluarkan jika kau berurusan dengan dirinya. Jika tidak mau itu terjadi maka minta maaflah kepadanya” kata rector tersebut mendorongnya.
Argan bersimpuh lutut didepan Devan yang menyilangkan kakinya dengan tidak sopan.
“Kemarilah! Aku akan memaafkan dirimu dan tetap membuatmu belajar di kampus ini jika kau mau bersujud di kakiku dan meminta maaf! Pukulan batang kayu itu mengenai dahiku dan rasa sakitnya masih terasa, bodohh” kata Devan menyeringai kelam.
“Ayo cepat!!” kata rector itu kembali mendorong Argan.
“Saya tidak merasa bersalah kenapa anda meminta saya untuk meminta maaf? Anda juga melihat dengan kedua mata anda jika saya dipukuli, tapi bagaimana bisa engkau melupakan itu?” Argan sama sekali tidak terima dan enggan untuk bersimpuh lutut saat rector itu terus mendorong dirinya.
Nina yang melihat itu pun juga tidak bisa diam karena disini ia adalah korban utama.
“Pak… yang salah disini bukan Argan tapi Devan, kenapa bapak malah membiarkan Devan duduk diam diatas sofa seakan dia adalah korbannya?” Nina menunjuk pemuda yang tidak tahu malu dengan duduk diatas sofa sana.
“Shutt, kau diam saja” rector itu menempelkan jari telunjuknya di bibir, meminta Nina untuk diam karena ia yang akan mengaturnya.
Sementara Nina sendiri tidak mengerti dengan pola pikir rector satu ini. Bagaimana bisa dia disebut seorang rector jika kebenaran saja tidak ia pedulikan.
“Assalamualaikum”
Tubuh Nina seketika berbalik saat ia mengenal suara yang baru saja mengucapkan salam. Tiba-tiba tubuhnya lemas melihat wajah familiar itu.
‘Kenapa dari sekian banyak anggota di keluarga Darius, harus Tuan Zain???’ kesal Nina dalam hati ingin menendangi semuanya.
“Oh Tuan Ankazain selamat datang… silahkan duduk” rector itu mempersilahkan Zain duduk di sofa dekat Devan. “Saya menelpon Nyonya Zelofia dan beliau bilang anda yang datang”
Tadi rector sudah menghubungi Zelofia terkait hal ini, nyonya keluarga itu akhirnya meminta Zain untuk datang sebagai walinya.
__ADS_1
“Apa yang terjadi, bisa anda ceritakan masalahnya?” tanya Zain dengan lirikan membunuh kearah Nina.