![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Tubuh Nina pun tertelan mobil itu dan Devan segera masuk dan menjalankan mobilnya.
"Kali ini tidak akan ada yang menolong mu, Nina" Devan tertawa semakin menginjak gasnya, mempercepat laju kendaraan.
Nina semakin menggila menampaki kota yang berubah menjadi hutan yang rimbun dan sepi.
"Devan berhenti!!!" seru Nina dengan rasa takut yang memuncak namun Devan si keras kepala, tidak akan mendengarkannya. "Devan hentikan mobilnya!!!!! Atau aku akan lompat!!!!!"
"Lompat saja jika kau berani!!" Devan tersenyum lebar.
Ia yakin gadis ini tidak akan berani lompat dari mobil yang sedang berjalan. "Lompat sana"
Nina mencoba untuk mengancam Devan, namun pria ini tidak percaya kepadanya. Lalu ia harus bagaimana?
Nina memberanikan diri membuka pintu mobil itu dengan sangat lebar. Memiliki kesempatan, ia pun langsung terjun tanpa meninggalkan aba-aba.
Bruk
Cittttt
Devan langsung menghentikan mobilnya saat itu juga.
"Sialll Nina!!"
Dengan terpaksa Devan turun dari mobil dan membawa sabuk di tangannya. Ia lilit kuat di pergelangan tangan dan berlari mengikuti kemana arah gadis itu terjatuh.
"Aku akan menangkapmu, Nina"
Disisi lain. Mobil yang telah lama mengikuti mereka akhirnya berhenti di tempat yang sama.
"AYY!!!!" panggil Zain saat mengecek mobil Devan yang sudah kosong tanpa nyawa seorang pun.
Jika dipikir-pikir. Ini adalah kali pertama Zain menyebut nama istrinya. Jika Nina dengar, pasti dia akan bahagia. Panggilannya juga terdengar berbeda.
"AYNINAAA" panggil Zain lagi, namun suaranya seperti bass berkarakter besar dan keras. Ia segera menajamkan kedua matanya mencari keberadaan Nina.
Zain mengusap wajahnya secara kasar saat sesuatu terlintas di otaknya. Yaitu, kata-kata Nina waktu itu.
'Bisa jadi kata ‘hampir’ akan berganti menjadi ‘telah’. Bisa jadi mereka memperkosaku dan membuang tubuhku jauh-jauh'
Astaga, Bagaimana kalau kata-kata Nina benar-benar terjadi. Tentu Zain tidak bisa membiarkan itu. Ia harus menemukan Nina apapun yang terjadi.
Kembali ke Nina.
Nina yang tadinya sempat melompat dari mobil Devan kini menggunakan tubuhnya sendiri untuk ia andalkan. Tubuhnya yang hampir remuk akibat terjatuh itu harus ia paksa untuk kuat dan melarikan diri sejauh-jauhnya.
__ADS_1
"Ayo Nina!! Kau... kau... harus bisa" monolog Nina mencoba bertahan.
Rasanya penculikan ini lebih mengerikan dibanding dengan kejadian tempo lalu. Kali ini Nina benar-benar tidak ada harapan untuk hidup lama.
Nyatanya, walaupun Nina sudah berusaha melarikan diri sekuat tenaga, ia tidak kunjung menemukan apa-apa! Hanya hutan pinus dan rumput-rumput liar disana.
Kesendirian ini menambah rasa sakit Nina. Ia menangis meratapi hidupnya yang semakin pilu setelah menikah. Seakan tidak ada kebahagiaan yang sekedar mampir dalam hidupnya.
Ayahnya seorang judi dan hutangnya menumpuk dimana-mana, bahkan sekarang pria itu bergelantung santai di pundaknya. Pria itu percaya Nina akan menyokong segala hutangnya lewat statusnya saat ini.
Untuk suaminya. Apapun telah ia lakukan bahkan dia menerima semua hinaan dan rasa sakit hatinya hanya untuk membuat keluarganya beda. Ia ingin memiliki keluarga yang berbeda dari keluarga yang sebelumnya, dimana tidak ada rasa egois dan saling bekerja sama. Namun hanya untuk sekedar datang saja Zain tidak mengijinkannya.
Nina hanya gadis muda biasa dimana pikirannya masih labil dan semangatnya juga naik turun. Kadang ia merasa semangat mencuri perhatian Zain, kadang sesuatu membuatnya down. Seperti sekarang ini.
"Nina!!!"
Wajah Nina menoleh kearah sumber suara. Tubuhnya semakin gemetar melihat Devan yang sudah berada tepat dibelakang.
"Hai girl where are you going" desis Devan dengan nada yang dingin mengerikan, bagai psikopat.
"Kenapa kau melakukan ini Devan? Kau hanya keluar dari kampus, dan masih banyak kampus lain yang mau menerimamu. Bukankah kau orang kaya dan papah mu akan mengeluarkan uang untuk study mu" Nina mencoba memohon.
"Tidak Nina... tidak ada kampus yang bersedia menerimaku sekarang. Aku telah di blacklist di setiap kampus di Indonesia. Ini semua karena mu"
Nina tidak percaya, "Jangan berbicara yang tidak-tidak. Siapa yang berani melakukan itu?"
Srett
"Devan!!" Nina menepis tangan pria itu yang berusaha menariknya lagi.
Lagi, lagi dan lagi Devan menampar Nina hingga tubuhnya terhuyung di rerumputan. Nina mencoba menendang saat mendapati Devan mendekatinya.
"Dev... tolong!!"
"Tidak akan ada siapapun ditempat ini, Nina" katanya meraih-raih kedua tangan gadis yang mencoba mendorongnya.
Bugh
Tubuh Devan terjungkal mendapat tendangan gadis itu diarea perut. Namun Devan tidak kekurangan akal hingga menarik salah satu kaki Nina saat gadis ini ingin lari.
"Lepas!!"
Jlep
"Aarkkk"
__ADS_1
Nina berteriak sejadi-jadinya. Salah satu kakinya telah ditusuk menggunakan batang runcing yang tak sengaja Devan lihat.
"Berani kau ingin kabur?" Devan menarik kaki, naik menggerayangi tubuh gadis itu. Matanya yang merah menatap jelas wajah merintih dari gadis dibawahnya.
"Kau sudah berubah menjadi pembawa mala petaka, Nina... karena wajah ini aku memiliki pikiran untuk menodai mu, karena wajah inilah aku di blacklist semua kampus. Wajahmu ini hanya pembawa sial Nina!!!! Aku akan menggoresnya sedikit. Kau jangan takut"
Devan yang sudah kalap segera mencabut belati tajam dari saku. Rasa sukanya telah berganti menjadi rasa benci setelah ia di blacklist di semua kampus.
"Jangan Devan!!" rintih Nina memohon dengan tangis yang sudah membasahi seluruh wajahnya.
Namun Devan tidak peduli. Ia segera mengangkat batang itu tinggi-tinggi, bersiap menusuk.
"Enyahh---"
Bugh
Kepala Devan sempoyongan saat batang besar menimpuknya dengan agak keras. Tidak lama belati tajam itu lepas dari genggaman Devan yang juga terjatuh disamping Nina saat tubuhnya ditendang supaya tidak menindih.
"Tu-tuan Zain?" desis Nina melihat wajah tegas Zain terpampang sebagai penyelamatnya.
Tanpa ba bi bu, bahkan tidak menanyakan kondisi Nina, Zain melepas dasi dan ia lilitkan ke luka di kaki Nina. Tidak lupa Ia juga memakaikan jas hitam miliknya.
Nina sedari tadi hanya diam melihat Zain sibuk dengan tubuh Devan, mengecek nadinya dan segera menelpon seseorang.
"Aku sudah mengirim lokasinya. Segera datang kemari, pelakunya juga sudah pingsan dan kemungkinan dalam waktu 15 menit akan siuman. Jangan lupa, untuk mengirim ambulan" kata Zain dalam telpon lalu menutup telponnya.
"Tu-tuan bagaimana an-----"
Ucapannya terpotong saat mendapati tubuhnya melayang sampai di dada bidang Zain. Astaga, wajah mereka mendekat membuat perasaan Nina tidak karuan kagetnya.
Seketika rasa nyeri di kaki Nina sirna. Entah mengapa jantungnya berdegup kencang dan mulutnya masih menganga melihat wajah Zain yang begitu dekat.
Apalagi saat ini Zain menoleh kearahnya, sungguh jantung Nina ingin copot rasanya.
"Tutup mulutmu!! Bau"
Krek
Potek hati Nina.
Dia langsung menutup mulutnya dan wajah menoleh kearah lain. Jantungnya yang sempat berdetak kencang kini mulai normal.
Semua sirna saat satu kata itu membuat malu Nina. Kata 'Bau' dari mulut Zain telah membisukan mulut Nina dan juga tubuhnya. Pria ini memang tidak pandai berhalus kata.
Seharusnya ini momen yang romantis seperti adegan drama, dimana setiap pemeran utama akan saling pandang dan berakhir ciuman, walau Nina tidak mengharapkan hal itu.
__ADS_1
'Padahal aku rajin gosok gigi' sahut Nina tak berani ia utarakan. Ia takut nafasnya benar-benar bau dan membuatnya malu.
"Tanganmu"