![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Kita ke Darius dulu ya!
Awan masih menghitam namun kediaman Darius masih nampak menawan, menambah kesan sore dihari ini. Para anggota Darius mulai kembali dari kegiatannya di luar rumah untuk menyantap makanan yang para pekerja hidangkan.
Zelofia yang merasa telah kekurangan anggota itu segera mempertanyakan, “Zain sama Nina dimana? kok nggak ada”
“Nyonya Marta sedang kena musibah ketumpahan air panas, jadi Helena meminta Nina untuk kembali ke ruma bersama dengan Zain” jawab Helena karena hanya dia yang tahu kemana mereka pergi.
“Innalillahi” ucap para anggota keluarga kecuali menantu kedua.
“Terus keadaannya gimana?”
“Kakinya melepuh bunda” jawab Helena atas pertanyaan Zelofia. Tidak lupa wajahnya yang terlihat gelisah.
“Ya sudah! Kalau begitu besok bunda ingin menjenguk Nyonya Marta disana” kata Zelofia kembali melanjutkan makannya.
“Jadi, Nina dan Kak Zain akan menginap disana?” tanya Alzam yang merasa agak lesuh dengan berita tersebut. Ia tidak akan bertemu Nina beberapa hari jika gadis itu menginap disana.
“Kemungkinan iya” balas Zelofia setelah memikirkannya.
“Lagipula, memangnya kenapa? Mereka juga orang tua Zain, sudah sepantasnya kakakmu dan sang istri untuk menginap sebagai rasa hormat kepada orang tua” kata Abrizal dengan wajah tegas. “Kau besok jika sudah memiliki suami, jangan lupakan orang tuamu, Aya”
Aya yang sedari tadi bermain ponsel hanya menoleh saja. Ia selalu di panggil tiba-tiba oleh ayahnya, membuat ia tidak tahu apa-apa.
“Iya, ayah”
“Apa yang tadi ayah bicarakan?” tanya Abrizal dan Aya bagai orang bisu.
“Hemm” Aya juga tidak tahu Abrizal mengatakan apa. Ia hanya tahu itu adalah nasihat tapi ia tidak dengar, “Maaf, ayah”
“Kalau orang tua bicara itu didengarkan. Jangan malah bermain handphone”
Kata benda yang Abrizal katakan langsung membuat orang yang ada disana gelagapan merasa tersindir, bahkan Bian yang sebenarnya sedang chatting-an harus segera menyembunyikan.
Mata tegas Abrizal liar memperhatikan gerak-gerik anak dan menantunya. Pria ini pasti ingin membuat kebijakan baru.
“Mulai besok dan seterusnya. Tidak ada yang diperbolehkan untuk membawa alat komunikasi di meja makan”
Kan! Akhirnya kebijakan itu diterbitkan juga. Hal itu membuat ruang meja makan menjadi gemuruh berisi protes anak-anaknya.
“Kalau ada telpon dari kantor gimana ayah?” protes Adnan.
“Butik Bella sedang turun dan pastinya banyak telpon masuk. Bagaimana itu ayah?” protes Bella dengan nada halus namun terkesan memaksa.
__ADS_1
“Ayah, Bian tidak bisa meninggalkan wanita-wanita cantik di ponsel Bian” kata Bian dengan nada manja, bahkan bibirnya dimanyun-manyunkan supaya pria tertua itu merasa gemas dan menarik keputusannya.
“Bunda, bawa makanan ayah ke ruang baca” pintanya kepada sang istri, “Ayah tidak nafsu disini” Abrizal segera pergi.
Zelofia yang mendengar kebijakan itu segera bangkit atau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. “Baik, ayah”
“Bunda!! Tolong bunda bujuk ayah”
Zelofia sudah menduga itu semua. Ujung-ujungnya wanita baya ini yang kena sasaran protes anak-anaknya. Yah, mau siapa lagi karena hanya Zelofia yang bisa melembutkan hati pria tertua itu.
“Maaf ya sayangku Bian! Bunda lagi marahan sama ayah” Zelofia menampakan seluruh giginya lalu bergegas pergi membawa dua piring makanan.
“Marahan kok ayah minta dibawain makan!” kesal Bian meninju angin.
Beberapa orang disana tidak lagi nafsu makan karena kebijakan Abrizal yang sudah menelannya. Adnan dan sang istri kembali ke kamar, Bian beserta Aya juga memilih masuk, menyisakan Asad beserta keluarganya dan Alzam yang hanya diam tidak menghiraukan.
_________
Kediaman Fulan
“Apa kau sedang mengusirku?” tanya Zain dengan nada dingin disertai wajah dingin pula. Sudah lengkap seperti psikopat yang sering muncul di televisi.
Hal itu membuat Marta terkejut lalu menarik tangan putrinya untuk mendekat. Takutnya, pria dingin ini ingin menelan anaknya.
“Aku tidak mengusirmu. Hanya saja mungkin kau kurang nyaman tinggal disini” Nina mencari-cari benda yang tampak kotor, “Kursi dibelakangmu nampak jelek dan ruangan ini sempit. Kau akan tersiksa”
Zain hanya diam melihat Nina yang tersenyum sok manis kepadanya. Lihatlah, gadis ini kembali tersenyum padanya. Apa dia pikir Zain akan membalas? Tidak. Salah siapa meremehkannya.
“Ok, aku juga tidak ada niatan untuk menginap di rumah mu ini, lagipula aku juga ada urusan di kantor” kata Zain dengan ekspresi dingin. Nampaknya pria ini sedang marah karena Nina kurang menerima jika dia menginap di rumahnya.
Namun beberapa detik setelah kalimat itu terucap, mengapa tidak ada yang menyanggah atau membantah? Padahal Zain sedang menunggu untuk dibujuk.
Kedua wanita itu hanya diam saling lihat-lihatan.
“Baiklah, aku akan pulang” kata Zain lagi. Ia sudah menyalami mertuanya, “Assalamualaikum”
“Walaikumsalam” jawab mereka berdua.
Zain melihat sejenak wajah ibu dan putrinya itu. Tidak lama ia benar-benar pergi keluar rumah gadis itu dengan wajah gelisah. Gelisah karena gadis itu seperti tidak membutuhkannya.
“Menyusahkan!” maki Zain mempercepat pijakannya masuk kedalam mobilnya.
Kembali ke Nina.
__ADS_1
Melihat Nina yang hanya diam membiarkan suaminya itu pergi tanpa embel-embel bujukan, membuat Marta heran.
Marta memukul bahu Nina, “Kenapa kau tidak membujuk Nak Zain untuk menginap di rumah dan membiarkan dia pergi? Wah, kau benar-benar mengusirnya ya? Kau tega sekali dengannya!”
“Bu, Nina nggak mau buat Tuan Zain kesusahan disini. Ibu kan tahu kalau Tuan Zain itu sejak lahir sudah keturunan kaya. Akan susah untuk Tuan Zain bisa beradaptasi di lingkungan seperti ini” Nina tersenyum setelah mengambil keputusan yang menurutnya tepat.
“Apa, hubunganmu dengan Tuan Zain itu baik-baik saja? Aku lihat cara kalian berbicara seperti bukan interaksi seorang suami dan istri” tanya Marta, “Apa… tidak ada yang memperlakukanmu dengan baik disana?”
“Tidak ibu… mereka semua baik” Nina yang merasa gugup karena ditanya perihal hubungannya dengan Zain itu segera beberes untuk menutupinya.
Nina hanya ingin menyembunyikan perihal hubungannya dengan Zain saja, “Mereka semua baik ibu. Ada bunda Zelofia, dia wanita tegas dan sangat baik kepada Nina. Dia memperlakukan Nina seperti anaknya sendiri”
Marta tersenyum jika melihat anak gadisnya ini juga tersenyum, “Pasti kasih sayangnya melebihi ibumu sendiri”
“Tidak!!!” Nina menolak dengan memeluk tubuh ibunya dengan erat, “Kau adalah ibuku… sebaik-baik ibu orang lain dan senyaman-nyamannya ibu orang. Tetap, ibu sendiri adalah pemenangnya”
Marta bersyukur memiliki putri yang memiliki hati seperti baja ini. Ia dihadapkan dengan kenyataan pahit hidupnya, namun masih bisa tertawa.
“Ya sudah ibu… Nina mau cari Artur dulu. Ini udah hampir maghrib… Artur harus pulang! Nggak baik” omel Nina memarahi Ibunya yang membulatkan mata. Gadis itupun segera pergi.
“Kenapa aku merasa dia bukan putriku? Bijak sekali” kata Marta terheran-heran karena perilaku Nina mulai terlihat dewasa.
Saat ini Nina pergi mengelilingi desa untuk mencari adik tunggalnya. Tidak membutuhkan waktu lama ia melihat adiknya bermain di teras depan rumah tetangganya.
“Artur!!” panggil Nina setelah mendekati adiknya itu.
Artur yang tidak tuli itu menoleh, “Kakak!!” ia langsung melepas mobil-mobilannya dan berlari memeluk Nina. “Kak, Artur saaangat rindu dengan kakak”
“Oh masak sih?” Nina memanyun tidak percaya. Tubuhnya meringsut mensejajarkan dengan tinggi Artur.
“Iya!!” antusias Artur menyeringai lebar.
“Oh Aynina!”
Nina dan Artur menoleh melihat wanita setengah baya berpenampilan modis yang baru saja keluar dari rumah tersebut.
“Eh ibu Astutik… assalamualaikum” Nina mencoba bersikap halus walau wanita ini terkenal dengan julukan ‘Bermulut pedas’. Ia yakin jika wanita ini akan menyinyir keluarganya.
“Walaikumsalam… tumben nyapa sama ngucapin salam” sindir Astutik.
Nina tersenyum kecut, “Udah terlanjur ketahuan jadi Nina ngucapin salam deh!”
Astutik segera membuang muka malas. Ia pun segera mencari topik lagi sebelum korbannya pergi, “Eh iya Nin, tumben kamu pulang? Terus suaminya mana kok nggak sekalian diajak keliling-keliling kampung? Seluruh kampung kan juga pengen tahu wajah menantu yang diagung-agungkan sama mertuanya”
__ADS_1