Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Terjebak Di Lift


__ADS_3

“Ada apa sayang, kok kesakitan, kenapa?” Zelofia merasa cemas kepada Nina yang termenung menatap pria dingin yang baru saja turun dari tangga.


“Nina…”


“Eh” Nina hampir tersentak. Ia baru sadar telah melamun melihat Zain turun dari atas tangga. “Nina gak papa kok bun… gigi Nina cuma agak sakit aja karena kebanyakan makan manisan”


“Cek ke Dokter aja ya!! Zain, antar---”


“Tidak”


Tolak Nina sedikit menyentak membuat Zelofia menelan ludahnya karena terkejut. orang-orang pun ikut terkejut.


“Hemm maaf semua tapi Nina udah baikan… gigi Nina juga udah agak baikan, cuma kalau di pegang kadang sakit. Mungkin Nina yang harus sikat gigi sesering mungkin” kikuk Nina tersenyum.


"Kau bisa bareng aku Nin... kita ke rumah sakit bareng aja” Alzam bersuara dan Nina membuang nafas seraya menggelengkan kepalanya.


“Terima kasih, Mas Alzam”


Tap


Zain berhenti melangkah saat mendengar Nina menyebut nama Mas untuk adik kandungnya. Entahlah, panggilan itu terasa mengganjal di telinga Zain.


“Zain… seperti yang sudah kita bicarakan sore lalu. Kau akan membawa Nina ke kantormu untuk mengajarinya!” Abrizal beranjak dari duduknya.


Zain hanya diam dan berlalu pergi, meninggalkan Nina yang didorong Zelofia untuk segera menyusul.


“Jangan takut! Udah sana ikut” titah Zelofia mendorong tubuh Nina dengan penuh kelembutan.


“Nina berangkat dulu…”


“Jangan lupa bekalnya sayang” Zelofia meraih bekal yang sudah Maya siapkan, lalu mengecup pipi Nina.


“Terimakasih bun… Assalamu'alaikum” ucap Nina berangkat mengikuti Zain.


“Untuk apa Nina ikut ke kantor kak Zain?” tanya Alzam merasa kurang terima.


“Untuk mendekatkan keduanya” Zelofia tersenyum ceria seraya mengusap pipi Alzam.


Alzam jadi tidak nafsu sarapan lagi. Hatinya sudah panas kala Zelofia membuat rencana untuk mendekatkan pasangan tidak bahagia itu. Seharusnya Alzam bahagia! Iya, jika ia tidak menyukai Nina.


“Ehem… Alzam akan berangkat ke rumah sakit” Alzam sudah berdiri dan siap untuk pergi, namun salah satu kakak iparnya menyela.


“Zam… kak Bella ikut ya! Kak Bella ingin ke butik. Kebetulan kan jalan kita searah” Bella tersenyum manis.


“Baiklah kak” jawab Alzam terpaksa.


Bella pun tersenyum mengambil tas yang sudah siap di pangkuan-nya. “Kami pergi dulu Assalamualaikum”

__ADS_1


“Walaikumsallam”


Setelah memberi salam, keduanya segera berangkat.


______


Mobil yang di kendarai Zain dan Nina melaju dengan normal. Hanya suasana di dalam mobil ini yang agak berbeda. Angin menerobos masuk melalui jendela kaca, membelai sejuk wajah Nina, namun entah mengapa tubuhnya terasa panas dingin.


Mungkin karena tatapan Zain tajam kearahnya. Jadi ia tidak mau lepas dari jendela mobil di seberangnya.


‘Ini bukan kesalahanku jika aku jadi ke kantornya… Bunda memaksa dan aku tidak punya pilihan lain. Tapi tenang saja Tuan Zain, aku tidak akan dekat-dekat denganmu. Aku akan menjauh dan focus dengan belajar’ tekad Nina mencoba mengalihkan rasa gugupnya.


Nina mengeratkan genggaman tangan-nya terhadap rantang makanan di pangkuan paha. Lama-lama juga Zain akan jera, pikirnya.


Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka sampai di kantor.


Nina berjalan dengan kepala menunduk mengikuti Zain yang menegap penuh kewibawaan dari pintu masuk sampai lobby. Wajahnya yang tampan begitu berkharisma dan aura konglomerat yang kuat melekat seperti virus yang menghipnotis setiap pasang mata.


Sementara Nina sudah seperti pembantu yang mengikuti tuan-nya.


Zain menghentikan langkahnya. Ia seperti mendengar desas-desus dari beberapa karyawan di ujung sana.


“Aku dengar jika Tuan Zain itu menikah lagi ya? Kata banyak orang kalau Tuan Zain itu menikahi gadis muda…”


“Iya… gadis muda yang baru lulus SMA langsung di nikahi. Astaga aku jadi takut kalau adik perempuan ku di lamar olehnya. Sepertinya Tuan Zain menyukai istri yang masih segelan”


Mereka bertiga tertawa setelah menghina boss yang menggaji dengan bayaran tinggi. Sungguh memalukan mulut mereka itu, terlebih orang yang mereka bicarakan ada dibelakangnya.


“Ehem”


Deg


Mereka bertiga terperanjat melihat Zain sudah memperlihatkan wajah bengis dan dingin menghisap keberanian-nya. Nyaris mereka bertiga mati saat itu juga.


“Tu-tuan” mereka ketakutan.


Zain tidak mudah berbicara dengan para wanita, hingga ia membutuhkan Ebil untuk setia membantu dalam mengungkapkan isi hatinya, sekaligus memberi perintah untuk menghukum karyawan seperti mereka.


“Ebill, pecat mereka dari kantorku” titah Zain tanpa banyak basa-basi. Ia pun segera melenggang pergi dan tidak mau berurusan lagi.


“Tuan… tolong maafkan kami Tuan…”


“Tuannn”


Zain hanya memandang ketiga karyawan yang sedang diseret paksa untuk keluar. Ia tidak akan mau mentolerir pekerja yang senang bergosip, apalagi mengghosipkan kehidupan pribadinya.


Saat ini Zain dan Nina berada di satu lift umum. Karena lift khusus CEO sedang rusak dan dalam masa perbaikan, jadi mereka menggunakan lift umum.

__ADS_1


Hening…


Hanya ada mereka berdua karena sedari tadi Zain tidak mengijinkan seseorang untuk se lift dengannya dan Nina hanya bisa mengusap dada.


Tiba-tiba saja liftnya naik turun tak beraturan, suara gemuruh tak tau asal, lampu lift hidup mati seperti tanda-tanda ingin pecah, membuat Zain memiliki firasat jika lift akan segera rusak.


“Tuan…” pekik Nina tidak sengaja meremat jas di lengaan Zain. Namun pria ini tidak sadar dan focus terhadap lift saja.


Dan seperti firasat Zain! Akhirnya lift nya rusak juga. Dan itu membuat Nina kelabakan ingin keluar.


“Bagaimana ini tuan? Kenapa lift nya tidak bergerak? Apa kita terjebak di dalam lift ini? bagaimana jika lift nya tidak bisa dibuka lagi? Tolonggg… tolong… “


Cerocos Nina mengetuk dinding lift dari depan, belakang, kiri, kanan seakan ada yang mendengar dan mau membuka. Inilah ketakutan Nina saat ia harus menaiki lift.


“Tolonggg… tolonggg kami!!! Ibu…”


Sementara Nina berteriak meminta pertolongan, Zain menelpon anak buahnya. “Ebil, kau telpon petugas perbaikan lift”


“Anda didalam lift, tuan?” tanya Ebil khawatir.


“Iya”


“Maaf, Tuan. Petugas perbaikan sedang memperbaiki di perusahaan lain dan sepertinya akan telat datang kemari, bahkan lift yang sebelumnya saja di tunda” cicit Ebil sangat hati-hati.


“Aku tidak mau tahu… kau harus segera mengeluarkanku dari lift ini” Zain menutup telponnya secara sepihak dan Ebil segera melakukan perintah Zain.


Tubuh Zain bersandar di dinding lift seraya mengusap wajahnya secara kasar. Ia sudah pasrah dengan membiarkan Nina berteriak-teriak meminta tolong dan menangis.


Mau bagaimana lagi?


4 jam kemudian


Saat Zain semakin khawatir dengan nasibnya di lift ini, ia tidak lagi mendengar suara teriakan gadis muda itu, bahkan ia tidak mendengar suara gemuruh apapun. Hanya hening…


‘Apa hanya aku yang ada di lift ini, kemana suara melengking itu pergi?’ monolog Zain.


Kemudian Zain memutuskan untuk memastikan kondisi Nina, takutnya gadis itu pingsan atau sesuatu yang buruk terjadi kepadanya.


Dan rupanya saat Zain menoleh. Ia melihat gadis itu sedang duduk bersila dengan bekal-bekal tertata sedemikian rupa, seperti sedang camping saja!.


"Sedang apa?" tanya Zain dengan kening menyerngit.


"Ini kan sudah beberapa jam dan sudah waktunya makan, karena aku lapar jadi aku harus makan"


...To be continued...


...Jangan lupa vote, like, komen, bunga ya bebss🌹😘...

__ADS_1


...Besok kita nantikan Nina mau camping di lift🤣🤭...


__ADS_2