![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Mata Nina membulat sempurna dengan mulut terbungkam benda kenyal milik suaminya. Jantung Nina berdebar kencang, namun bukan karena berciuman melainkan takut mulutnya bau.
Takut pria itu menghinanya lagi, membuat Nina segera mendorong Zain hingga tautan keduanya terlepas.
“Tu-tuan” Nina menutup mulutnya dengan tangan. Nina yang gugup segera merapikan wajahnya serta rambutnya yang sempat acak-acakan.
“Se-sepertinya ini sudah sore dan kita harus segera pulang” kata Nina dengan nada lirih, detik berikutnya ia nyolong pergi.
Rasanya memalukan dapat berciuman dengan pria sedingin Zain.
Sementara Zain menyentuh bibirnya sendiri.
“Kenapa aku melakukan ini?” gumam Zain menutup kedua matanya kesal, “Dia pasti berpikiran yang tidak-tidak”
“Tuan ayo pulang!!” teriak Nina setelah tahu Zain tidak ada dibelakangnya.
_______
Rumah sakit
Alzam melihat jam yang ada dilayar ponselnya. Jam sudah menunjukan pukul 5 sore, namun ia belum diberi waktu untuk istirahat serta solat. Masih banyak sekali data pasien yang harus ia koreksi kondisi medisnya. Sementara perawat yang sering membantu dia…
“Alzam, aku akan pulang duluan… soalnya aku mau ada dinner”
Mendengar Nensi berucap seperti, membuat Alzam juga mengingat ajakan dari bunda tentang makan malam.
“Jangan pulang dulu” Alzam menahan tangan Nensi, “Kemarilah bantu aku mengoreksi hasil medis para pasien. Bukankah kau juga pekerja dan seharusnya ini tugasmu, terlebih aku belum sholat”
Nensi melihat jam di tangannya, “Sorry Alzam. I'am a busy”
Perawat itu melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Alzam yang kebingungan dengan pekerjaan.
Bukan Nensi mengabaikan pria itu. Namun saat Alzam tahu jika ia akan dinner malam ini, tidak ada ekspresi apa-apa dari wajahnya.
“Padahal aku pikir dia akan marah dan bertanya panjang lebar serta membuatku berpikir dia pria posesif. Rupanya, cuek” kesal Nensi menghadap pintu ruangan Alzam, “Kerjakan sendiri sana. Aku sama sekali tidak mau membantumu”
“Aku harus tampil cantik malam ini”
Nensi tersenyum miring dan pergi.
______
Kediaman Darius
__ADS_1
Setelah puas bermain basah-basahan ditengah hutan, kedua insan itu memutuskan untuk pulang ke rumah. Keduanya nampak basah kuyup memasuki mansion dan Nina memakai jas Zain yang masih kering.
Keduanya mengucap salam dan langsung dijawab oleh beberapa anggota disana.
“Kalian abis darimana bisa basah kuyup seperti ini?” tanya Helena yang baru saja menuruni tangga.
“Perasaan tadi pulangnya cepet kalian, diluar juga nggak hujan, naik mobil juga. Abis darimana kalian?” tanya Bian yang juga penasaran.
“Abis dar—”
“Kau akan semakin kedinginan. Naiklah keatas” potong Zain dengan segera. Ia tidak mau Nina berkata jujur dan bisa-bisa merembet ke hal yang membuatnya dipermalukan.
“Nina masuk dulu”
Nina pun naik menuju kamarnya.
“Kalian abis darimana Zain?” Helena masih juga penasaran. Ia tidak akan berhenti bertanya sebelum mendapat jawaban.
“Bermain air” jawab Zain singkat lalu melenggang pergi.
Helena dan Bian saling pandang serta melempar senyum misteri.
__
Cklek
Pintu kamar Aya terbuka saat pria pemilik rahang tegas itu masuk kedalam kamarnya. Tubuhnya yang basah kuyup tidak ia hiraukan dan ingin segera menemui adiknya. Pelan-pelan ia duduk diatas ubin bersandar di nakas samping ranjang Aya. Kedua kakinya ia tekuk agak direnggangkan dan kedua tangan bertaut diatas lutut.
“Kakak tidak akan pernah membayangkan jika adik bungsu perempuan satu-satu di keluarga ini begitu mengecewakan” kata Zain dan Aya yang merasa mendengar suara itu segera bangun.
“Kak---”
“Apa yang kau pikirkan saat melakukan semua itu? Apa kau kurang menjadi seorang putri di kediaman Darius ini? Apa salah ibu dan ayah sampai kau membuat keduanya malu?”
“Kak… Aya tidak pernah bermaksud membuat mereka malu. Aya juga tidak mau memiliki bayi ini!! Lebih baik bayi ini tiada kak supaya Bunda serta ayah tidak akan menanggung malu ini” sesal Aya menangis tersedu-sedu.
“Kau akan menikah dengan Aditama”
Kedua mata Aya melebar dengan seribu kebisuan.
“Kau akan segera menikah dengannya dan bayimu ini akan segera memiliki ayah” Zain bangkit dari sana.
“Kak Aya tidak mau menikah dengan pria beristri itu” tolak Aya menggeleng cepat, “Dia akan menyakiti Aya… dia akan menyiksa Aya… dia akan membunuh Aya dan membuang Aya…”
__ADS_1
Tubuh adiknya meringkuk memojok di kepala ranjang. Adiknya ini nampak ketakutan dengan pandangan was-was sehingga Zain harus segera memeluknya.
“Kakak tidak akan membiarkan semua itu terjadi denganmu… kakak berjanji. Jika dia melakukan itu maka kakak akan menjadi orang pertama yang membawamu pergi”
“Maafkan Aya, kak”
Zain yang tersentuh segera mengusap puncak kepala adiknya serta mengecupnya.
Beberapa menit berlalu Zain merasa adiknya tidur di pelukannya yang hangat. Ia pun membaringkan Aya pelan serta menyelimuti tubuhnya.
Selepas itu Zain pergi keluar kamar menutup pintunya.
“Pak Zaenudin, ibu dan ayah dimana?” tanya Zain saat melihat Zaenudin yang merupakan tukang angkut-angkut itu lewat.
“Tuan dan Nyonya tidak di rumah. Mereka menghadiri acara makan malam, Tuan” jawab Zaenudin dengan nada yang halus.
“Hm”
Balas Zain singkat memutuskan untuk pergi menuju kamarnya untuk segera mandi, karena tubuhnya sudah kedinginan sehabis main basah-basahan.
Di kamar mandi
Nina sudah selesai mandi. Saat ini dia memakai bathrobe putih dan sedang bercermin. Matanya yang bulat besar menatap tajam kearah bibirnya.
Jika memikirkan kejadian tadi membuat Nina senyum-senyum sendiri, terlebih ini adalah ciuman pertamanya. Ia tidak pernah melakukan ini dengan pria lain, bahkan Devan sekalipun.
Mungkin ini salah satu alasan Devan bosan dengan Nina. Namun Nina bersyukur telah memutuskan hubungan dengan pemuda itu sehingga ia mendapatkan ciuman pertama dengan suaminya.
“Wajahku sangat merah dan terasa panas semua. Gimana caranya aku ketemu sama Tuan Zain ya?” Nina yang salah tingkah segera memegang kedua pipinya untuk memberikan rasa dingin.
Baru saja ia mengatakan itu, tiba-tiba pintu kamar mandinya terbuka. Dilihatlah wajah Zain yang pertama kali dan itu nyaris merenggut jantungnya karena gugup.
“Kau akan menggunakan kamar mandi? Maka aku akan pergi”
“Tidak” jawab Nina menahan Zain yang ingin keluar kamar mandi. “A-aku akan keluar karena aku sudah selesai”
Lalu Zain memberikan jalan gadis itu untuk lewat. Dengan pelan namun pasti pria itu segera menutup pintu kamar mandinya.
Zain segera membuang nafasnya yang sempat tertahan akibat gugup bertemu Nina. Lalu ia menatap dirinya di cermin.
“Kenapa kau melakukan itu Zain? Kau ingin membuat dirimu sendiri malu karena mencium bibir seorang gadis? Kau sudah dewasa dan tentunya hal itu bisa kau control tapi kenapa bisa kelepasan?” Zain meremat kedua tangannya dengan erat.
“Saat di kamar berduaan saja aku tidak merasakan apa-apa. Tapi kenapa rasa itu ada saat di hutan? Ini pasti gara-gara setan yang ada disana” monolog Zain ngawur.
__ADS_1
To be continued
Emang ditempat begitu setannya banyak bang Zain 🤣