Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Dasar Pembohong


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian


Kondisi Zain sudah agak baikan. Pria ini juga sudah melepas lilitan perban di kepalanya tapi luka itu masih tertutup kapas. Walaupun begitu pria ini masih harus membutuhkan bantuan orang, seperti istrinya.


Nina selalu menjaga Zain dan tidak meninggalkan pria ini sendirian. Istrinya itu selalu berada disampingnya dan memenuhi semua kebutuhannya selama masa penyembuhan. Memenuhi semuanya!.


“Aynina kau sudah menyiapkan pakaianku?” tanya Zain dalam kamar mandi.


Nina baru dari bawah untuk mengambil sarapan pagi untuk Zain.


“Oh iya aku lupa” balas Nina berlarian mengambil pakaian untuk suaminya yang cerewet itu. Ia mengambil asal dan menaruhnya diatas ranjang.


“Jangan lupa handukku”


“Baiklah” balas Nina mengambil handuk lalu bergegas masuk kedalam kamar mandi.


Beberapa menit berlalu Zain keluar memakai handuk sepinggang dan Nina menyusul dibelakang. Perempuan itu sangat pengertian.


“Ini bajumu” Nina memberikannya sebelum Zain mengambilnya.


“Terimakasih” Zain bergegas memakainya dan Nina tidak berhenti melihat suaminya.


“Mau aku bantu pakaikan?”


“Tidak usah aku bisa sendiri” tolak Zain seraya memakai pakaian.


“Oh iya… ini sarapan pagimu. Kau harus cepat-cepat menghabiskannya atau makanan itu keburu dingin” Nina membuka laci nakas dan mengambil obat Zain, “Dan segera minum obat supaya kau cepat sembuh”


Zain tersenyum simpul. Saat melihat wajah tenang Nina selalu membuat hatinya juga tenang. Entahlah, perempuan itu terus tersenyum saat berbicara dengan dirinya, membuat Zain heran.


“Kenapa hanya diam? Kau harus cepat-cepat makan karena ini sudah hampir siang” omel Nina duduk diatas ranjang menyediakan obat untuk pria itu.


“Apa kau sudah makan?” tanya Zain ikut duduk didepannya.


“Nanti aku makan. Tapi untuk sekarang yang harus makan itu dirimu” Nina menekan perut Zain dengan jari telunjuknya.


Zain malah tertawa, “Kau memikirkan orang lain dan melupakan dirimu sendiri”


“Aku tidak melupakan diriku sendiri”


“Hanya menomorsatukan orang lain”


Nina ingin membantah, tapi yang dikatakan Zain memang benar. Akhirnya dia memilih diam kembali menyiapkan obat Zain.


“Jangan pikirkan aku dan fokus dengan kesembuhanmu saja”


“Bagaimana dengan kesehatanmu?” tanya Zain kepada Nina yang langsung diam seribu bahasa.

__ADS_1


Semenjak kecelakaan itu ia memang melupakan penyakitnya. Bahkan ia selalu mendapat notif pesan dari dokter Aldo untuk melakukan terapi, namun perempuan ini tidak membalas.


“Aku baik-baik saja” Nina melirik makanan yang belum tersentuh itu, “Kau belum memulai makan juga? Apa aku harus mengomel dulu kepadamu?”


Zain tertawa, “Baiklah-baiklah… kenapa sekarang kau menjadi galak?”


“Galak-galak gini cantik kan?” Nina tersenyum begitu manis kepada Zain yang segera mencium bibirnya. Hal itu membuat Nina terkejut.


Zain mencubit kedua belah bibir perempuan itu dengan gemas, “Kau cantik dan semakin cantik”


Tanpa memikirkan jantung Nina, pria itu menyantap sarapan paginya. Perempuan itu nyaris tak bersuara karena malu.


Namun notif pesan dari dokter Aldo kembali membuat dirinya tidak tenang. Pria itu terus mengganggunya dengan berbagai pertanyaan, membuat Nina harus terus menjawab dengan kalimat.


‘Aku akan segera kesana' Nina memencet tombol kirim.


Zain yang tidak tahu apa-apa segera menyuapi Nina, “Makan… kau juga harus makan atau aku tidak mau makan”


“Baiklah-baiklah” Nina mengambil satu suapan yang Zain berikan. Keduanya makan secara bersama-sama saling bergantian dan saling suap-menyuap.


Dipertengahan sarapan mereka tiba-tiba ponsel Nina berdering kembali dan itu dari Dokter Aldo, teman Alzam yang begitu cerewet.


“Mas, apa aku boleh pergi keluar sebentar?” tanya Nina menerima suapan Zain kembali.


“Baiklah aku akan mengantar dirimu”


“Tidak usah” tolak Nina dengan cepat. “Aku hanya ingin membeli sesuatu di luar dan akan kembali beberapa menit kemudian”


“Baiklah, Ebil akan mengantarkan dirimu”


“Ok” jawab Nina terpaksa menerima. Jika dia menolak pasti suaminya ini akan curiga.


_____


Seperti yang Zain katakan bahwa Ebil adalah orang yang mengantar wanita itu. Diperjalanan Ebil membawa mobilnya menepi didepan ruko pakaian modis di kota ini.


Nina bersiap memakai tasnya dan membuka pintu mobil, “Stop disini saja. Aku ingin membeli pakaian dan kak Ebil bisa pulang. Nanti aku naik taxi aja, atau nggak angkot juga bisa”


“Kau membeli sesuatu disini?” tanya Ebil memastikan.


Nina mengangguk, “Ada pakaian model terbaru yang harus aku beli. Biasalah kak anak cewek belanja itu hal biasa”


“Jika aku punya anak cewek, tidak akan aku biarkan dia menghabiskan uangku… dunia ini terlalu membutuhkan uang dan dia tidak boleh menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak penting” kata Ebil mengandai-andai.


Nina memutar bola matanya lelah, “Baiklah kak aku keluar dulu, Assalamualaikum”


“Tapi---”

__ADS_1


Ucapan Ebil terpotong saat perempuan itu sudah keluar dari mobil dan memasuki toko pakaian. Disana Nina bersembunyi dan mengintip dari dalam.


Tidak lama kemudian Ebil membawa mobilnya melaju memasuki jalan raya dan meninggalkan Nina, selepas itu Nina keluar menghentikan angkot.


Tidak perempuan itu sadari, mobil berwarna navy dengan merek audi telah lama mengikutinya dari belakang. Orang yang ada didalam mobil itu selalu mengintai kemanapun Nina pergi, bagai penguntit saja.


“Kau pikir lebih pintar dariku?”


______


Hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk Nina dapat sampai di rumah sakit. Setelah membayar angkot Nina masuk kedalam melewati koridor rumah sakit dan memasuki ruangan dokter Aldo.


“Assalamualaikum dokter” sapa Nina langsung membuka pintu ruangan. Tadi di angkot Nina sudah menjawab pesan dokter itu.


Dokter Aldo yang baru saja membaca buku itu menoleh, “Walaikumsalam”


“Maaf”


“Astaga Nina!! Kamu mau berapa pesan lagi? 500, 600, 700 atau 1000? Maaf aku bukan fans mu yang gigih mengirim pesan idolanya tanpa berharap jawaban” omel Dokter Aldo membuang muka.


“Maaf dokter!! Aku sibuk mengurusi suamiku pemulihan sehabis kecelakaan” kata Nina begitu menyesal sekali.


Semenjak dokter Aldo sering menghubungi Nina, keduanya semakin akrab dan tidak ada rasa canggung lagi.


“Aku tahu kau sudah berumah tangga. Kau tahu…” Aldo menjeda ucapannya dan mencondongkan sedikit wajahnya, “Aku sebenarnya risih menghubungi wanita yang sudah menikah. Jadi, jika aku menghubungimu sekali, maka kau harus segera datang”


“Risih kok ngechat sampai 100 kali” sindir Nina dengan nada lirih.


Aldo menghela nafas lelah, “Baiklah… kita mulai kemoterapinya. Kita akan bertemu setiap hari sabtu, selain itu aku sangat sibuk, itu karena adik iparmu selalu menyusahkan diriku… dia asik berpacaran saja”


Celoteh Dokter Aldo menyiapkan alat suntiknya dan Nina bersiap berbaring di brankar. Curhatan ini sudah biasa Dokter itu lakukan, bahkan tidak sekali ada pesan curhat dokter ini tapi Nina selalu mengabaikannya.


“Kemoterapi kali ini kita pakai kemoterapi jenis intravena ya. Kemoterapi ini sering digunakan untuk para penderita kanker” kata Aldo kembali ke mode dokter. “Bagaimana dengan gejala yang kau rasakan belakangan ini?”


“Aku semakin sering mimisan dan pusing kepala. Kadang aku juga merasa demam dan mual” jawab Nina memberikan lengannya.


"Tekanan darahmu tinggi dan detak jantungmu melebihi batas normal. Kau tergesa-gesa datang ya?" tanya Aldo mengecek tekanan darah Nina.


"Iya, sedikit"


“Bagaimana dengan makanan yang sering kau konsumsi?”


“Aku menuruti semua laranganmu. Aku tidak makan panas, dingin, berminyak” balas Nina membiarkan pergelangan tangannya mulai dipasangi selang infus.


“Kegiatanmu bagaimana? Apa kau sering kelelahan, sering bekerja yang berat-berat, memikirkan hal berat?”


“Dasar pembohong” jawab seseorang dengan suara bariton miliknya.

__ADS_1


To be continued


Jangan lupa dukungannya bebssss kasih sekuntum bunga 🌹😘 semoga kalian tetap semangat dan selalu bahagia.


__ADS_2