![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Aynina yang menangis meminta tolong kepada para warga untuk membantu mengeluarkan sang suami. Tidak peduli dengan identitas supir tersebut.
“Tolong aku”
Para warga mengeluarkan tubuh pria pemilik bahu kokoh yang saat ini terluka parah diarea kepala beserta Aya yang memiliki luka di kepala juga.
Sementara Aditama nampak menemui supir yang berani menabrak mobil Zain.
“Keluar kau anak kurang ajar” Aditama menarik kerah Devan dan mendorong tubuhnya di aspal. “Kejahatanmu kelewatan Devan”
Aditama berkali-kali memukul wajah putranya dengan telapak tangan. Berkali-kali juga anak ini menahan.
“Aku tidak peduli pah!! Aku tidak pernah menyesal karena mencelakai mereka. Wanita hamil itu pantas mati daripada menjadi ibu keduaku”
Plak
Pipi Devan mendapat tamaparan keras dari Aditama.
“Papah sudah katakan kepadamu berulang kali untuk tidak bertindak gegabah. Wanita yang ingin kau celakai itu sedang hamil!! ADIK KAMUU”
Devan tertawa nyaring hampir menepis suara rerumunan, “Apa papah pikir aku bangga memiliki seorang ibu muda dan adik kecil, hah? AKU TIDAK SUDII” tolaknya dengan teriakan yang lebih keras.
Wiu Wiu
Polisi beserta ambulan telah datang saat salah satu warga yang melihat menghubungi mereka. Hal itu hampir membuat Devan kelabaan.
“Mau kemana kau” Aditama menahan tangan Devan.
“Lepas pah! Papah mau membiarkan aku masuk penjara?”
“Jika itu hukuman yang pantas untuk kejahatanmu, maka papah akan melakukannya” tegas Aditama berganti melihat para polisi, “PAK POLISIII DISINII”
Polisi yang merasa terpanggil segera memborgol tangan Devan.
“Pahh!!”
Aditama acuh membiarkan Devan dibawa pergi oleh para polisi. Sementara ia menyusul Nina yang menangisi dua orang yang terluka itu.
“Mas bertahanlah… “ tangis Nina membiarkan tubuh Zain diangkat masuk kedalam ambulan.
“Nin, kamu masuk ikut Zain aja. Aku akan menemani Aya” kata Aditama dan Nina langsung mengangguk.
__ADS_1
Kedua mobil ambulan pembawa korban tabrakan itu melaju menyuarakan sirine menepis jalanan kota hingga ambulan cepat sampai di rumah sakit.
Secara tidak sengaja saat Alzam sedang mengobrol dengan perawat di resepsionis, matanya melihat Nina yang sudah turun dari ambulan.
“Astagfirullah Nina!!” Alzam yang khawatir segera berlari menemui perempuan itu. “Nin ada apa ini?”
Nina menggeleng lemas, “Mas… Zain”
“Tenanglah!! Tolong langsung bawa saja masuk kedalam ruang UGD dan panggil dokter Alisha dan Dokter Andre cepat” perintah Alzam ingin berlari masuk, namun matanya menampaki Aya keluar dari mobil ambulan yang satunya.
“Aya…apa yang terjadi kepadamu Aya?” hati Alzam sakit melihat dua saudaranya terbaring bersimbah darah turun dari ambulan.
Tanpa ada jawaban, beberapa perawat bersama-sama mendorong brankar berisi Aya masuk kedalam rumah sakit.
Para dokter tengah sibuk keluar masuk ruang UGD tempat Zain dan Aya disana. Perempuan yang sedang khawatir itu tidak dapat menghentikan air matanya, bahkan tubuhnya dibiarkan bergetar dengan pandangan nanar.
Nina melihat kedua tangannya yang kotor akibat darah Zain yang banyak, ‘Bagaimana jika dia kenapa-kenapa? Tolong sekali saja jangan ambil orang yang menyayangiku!!’
Nina tidak henti-hentinya berdoa menyebut nama sang penguasa semesta supaya pria itu dan adiknya baik-baik saja.
“Aynina!!”
“Bun… mas… mas Zain”
“Shut sudah sayang kita serahkan semuanya kepada Allah. Percaya kepada Allah bahwa hanya kepadanyalah kita meminta, sayang” Zelofia menangis mengusap puncak kepala Nina.
“Apa yang terjadi, Tuan Aditama?” tanya Abrizal kepada pria itu yang hanya diam menundukan pandangan menyesal.
“Maafkan saya, Tuan Abrizal. Saya sebagai orang yang paling tua diantara mereka sangat menyesal tidak bisa menjaga kedua anak anda” kata Aditama masih menundukan kepala. Ia sangat-sangat malu dengan pria itu.
Abrizal menggelengkan kepalanya tidak paham,, “Tuan, tolong jelaskan lebih rinci mengenai kejadian itu. Tolong jangan bertele-tele mengungkapkan rasa penyesalan anda. Saya tahu anda salah tapi tolong jangan membuat saya tambah marah dan cepat ceritakan”
“Putra saya…Devan telah menabrak mobil Zain menggunakan truk. Dia begitu gila hing---”
Bugh
Putra pertama Abrizal yang sudah lama memendam amarah itu sudah habis kesabaran hingga pukulan itupun ia layangkan.
“Asad jaga emosimu” ucap Asad menahan tangan putra pertamanya.
“Anak yang melakukan kesalahan. Tapi, didikan kedua orang tuanyalah yang harus disalahkan!! Kau memang tidak bisa mendidik putramu dengan baik. kau berikan segalanya hingga buta antara salah dan benar, bahkan sampai kau tidak paham sifat anakmu sendiri!!” Asad terus mencoba membogem wajah Aditama lagi, namun Abrizal menahan.
__ADS_1
“Tenanglah Asad!! Ini di rumah sakit” cegah Abrizal.
“Aku tidak bisa tenang!!” amarah Asad sudah membara, “Keluarganya memang tidak bisa membiarkan kita hidup dengan tenang. Ayahnya menghamili putri keluarga Darius dan putranya mencoba melecehkan menantu keluarga Darius. Waw…. Dimana kau bersekolah!! Memang benar, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”
Aditama menunduk masih dengan rasa penyesalan. Ia tidak membantah ataupun menyangkal karena itu memang benar.
“Tenanglah” Helena maju mengusap bahu suaminya.
“Jika terjadi sesuatu dengan kedua adikku! Dengan kedua tanganku sendiri aku akan membunuhmu!!” ancam Asad tidak main-main.
“Saya minta maaf” sesal Aditama menundukan pandangannya lagi.
Sementara Nina masih terisak dipelukan hangat mertuanya. Wanita baya itu tidak bisa diam saja melihat menantunya terus terpuruk.
“Sayang!! Bunda tadi sempat bawain kamu baju… kau bersihkan dulu dirimu nanti kembali lagi ya sayang”
Nina menggelengkan kepalanya, “Nina mau menunggu mas Zain bun… Nina nggak akan mau pergi sebelum dokter ngasih tahu kalau mas Zain baik-baik aja”
“Tapi sayang! Tubuh yang bersih akan membuat hati kita tenang. Pergilah ke kamar mandi terlebih dahulu…bersihkan tubuhmu. Jika suamimu sudah bangun pasti bunda akan memberitahu”
“Baiklah”
Nina melepas pelukannya dengan Zelofia dan meraih tas berisi pakaian bersih menuju kamar mandi.
________
Kantor polisi
Kedua tangan pelaku yang menabrak mobil Zain telah di borgol. Pemuda itu keluar dari jeruji besi menemui wanita setengah baya yang ingin tahu kondisinya. Cristina Aditama langsung kemari saat tahu polisi membawanya.
“Ngapain mamah disini?” tanya Devan duduk berhadapan dengan ibunya yang ingin menangis.
“Apa kau sudah gila? Kau telah menggali kuburmu sendiri… keluarga Darius sudah mencabut tuntunanya terhadapmu atas kasus pelecehan dan sekarang kau malah melukai mereka” Cristina geram ingin meremat wajah sombong putranya.
“Apa-apa? Devan tidak dengar” anak ini mencondongkan kepalanya.
“Ankazain sudah mencabut tuntutannya terhadapmu dengan syarat, papahmu menikahi putri bungsu mereka. Mereka sudah mencabutnya tapi kau malah membuat onar lagi” Cristina membuang nafas jengah, “Aku merasa curiga jika kau bukan anakku. Apa mungkin anakku ketukar di rumah sakit waktu itu”
Devan menggelengkan kepalanya, “Mah”
“DIAM”
__ADS_1