Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Pondok Ustadz Syahbana


__ADS_3

Ebil tidak heran lagi dengan perilaku dingin Zain. Ia pun segera mengganti bunga yang ada di vas meja kantor Zain dengan bunga mawar oranye tersebut.


________


Kegiatan ospek telah selesai di laksanakan. Para mahasiswa baru segera bubar untuk istirahat sejenak sebelum kegiatan itu kembali dilaksanakan. Ada yang istirahat di bawah pohon cemara didepan ruangan dan ada juga yang duduk-duduk di taman.


Saat ini Nina duduk di taman sendirian karena ia belum mendapatkan seorang teman, lagi pula ia juga enggan untuk mencari teman. Ia masih ingin sendiri dan belum bisa beradaptasi dengan anak-anak yang berpenampilan elit memamerkan aksesoris mahal mereka.


Tiba-tiba atensi Nina teralihkan oleh seorang pria yang terlihat clingak-celinguk mondar-mandir didepan gerbang kampusnya. Pria setengah baya itu terlihat familiar dan Nina mengenalnya.


"Ayah!! Kenapa ayah ada di kampusku? Jangan-jangan ayah nyariin aku lagi" monolog Nina mengernyitkan dahinya.


Karena penasaran Nina pun berlari menemui ayahnya.


"Ayah, apa yang ayah lakukan di kampus Nina?" tanya Nina menyalami punggung tangan Fulan.


"Nin... ayah cari kamu kemana-mana. Ayah pikir kamu di rumah, terus Ayah coba kesana tapi kamu nya nggak ada. Mereka bilang kamu kuliah jadi ayah datang kesini" ucap Fulan.


Nina menarik tangan Fulan untuk duduk di kursi depan kampusnya.


"Nina baru aja selesai ospek... ini lagi istirahat 15 menit bentar lagi masuk Yah!! Ada apa yah? Soalnya Nina nggak bisa lama-lama" Nina memanyun sesal.


"Begini!! Nin, ayah ada hutang"


Nina termangu, lagi-lagi Fulan memiliki hutang dan pastinya hutang itu tidak sedikit.


Nina mencoba tenang, "Kenapa ayah bisa berhutang? Memangnya hutang itu buat apa?"


"Nin... ayah beli motor baru. Itu juga buat keluarga kita Nin... Artur harus dijemput sekolah karena jalan yang dilewati itu ramai kendaraan takutnya Artur kenapa-kenapa" tutur Fulan mencoba memelas.


"Terus hutangnya berapa?"


"35 juta" jawab Fulan polos membuat mulut Nina menganga kaget.


"Beli motor apa sampai 35 juta Ayah?" tanya Nina dengan nada yang agak meninggi. Ia merasa kurang yakin jika ada motor seharga itu.


"Itu motor keluaran terbaru... daripada beli yang murah terus gampang rusak kan lebih baik beli yang mahal sekalian buat lama" bantah Fulan mencoba meyakinkan putrinya.


Nina bisa apa? Ia hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengusap dada.


"Yah, maafin Nina... untuk saat ini Nina nggak punya uang"


"Iya ayah juga tidak mau minta uang mu" jawab Fulan dengan enteng tanpa beban.


Nina membolakan mata, "Te-terus maksud Ayah bilang ke Nina gini apa?"


Fulan menggenggam kedua tangan Nina, seperti orang yang serius saja. "Nin... kamu kan punya mertua yang konglomerat+baik. Bisalah kamu coba minta ke mereka"


"Ah enggak Ayah! Nina nggak mau minta ke mereka... malu Ayah" tolak Nina menepis tangan Fulan.

__ADS_1


"Kalau begitu suami kamu aja... suami kamu kan dia mapan dan perusahaan nya ada dimana-mana" Fulan mencoba membujuk kembali.


Boro-boro minta uang ke Zain, bicara dengan suami dinginnya saja membuat Nina gemetaran.


Apalagi ini masalah hutang. Tidak terpikirkan sama sekali.


Nina menggeleng cepat, "Nina nggak bisa Ayah... Nina nggak bisa minta sama Tuan Zain..."


"Kenapa nggak bisa? Jangan-jangan kamu nggak dianggap istri sama Tuan Zain ya, makanya kamu nggak berani bilang sama dia"


Nina membuang nafas dan memijat dahinya. Perkataan Fulan memang benar tapi pria setengah baya itu tidak boleh tahu.


"Enggak! Bukan begitu Ayah... ya udah, nanti Nina coba cariin uang buat bayar hutang motornya" Nina akhirnya mengangguk melukis senyum di wajah Fulan.


"Nah gitu dong jangan pelit sama ayah sendiri..." Fulan menepuk-nepuk bahu Nina.


"Ya udah Yah... Nina mau masuk dulu ya... Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam... jangan lupa uangnya, ayah tunggu 1 Minggu ya Nin" seru Fulan tersenyum lebar kearah Nina yang tidak peduli masuk melewati gerbang.


______


Pulang kuliah.


"Kiri-kiri pak"


Angkot yang dinaiki Nina berhenti di depan gerbang kediaman Darius setelah suaranya melengking minta dipenuhi.


"50 ribu aja neng" jawab supir angkot tersebut dan Nina segera memberikannya.


"Makasih ya pak"


Setelah itu Nina masuk kedalam kediaman Darius seorang diri. Tubuhnya lemas karena permintaan Fulan dan lelahnya ospek hari ini.


"Assalamu'alaikum" sapa Nina lesu menenteng ranselnya


"Walaikumsalam, loh Aya mana?" tanya Zelofia agak bingung.


"Hmm Aya bilang... Aya bilang pergi sama temen Bun" gugup Nina karena ia tidak tahu dimana keberadaan gadis itu setelah ospek.


"Oh iya udah... sini sayang" panggil bunda Zelofia dan Nina segera datang.


Selain Zelofia ada juga Zain yang sudah pulang dari kantor. Melihat Zain membuat Nina bingung karena ini belum jam pulang kerja.


"Ada apa, Bun?


"Hari ini kan Ustadz Syahbana beserta keluarga yang merupakan sahabat ayah dari Arab pendiri pondok Al-Husna di Indonesia sudah kembali dari Arab. Jadi kamu sama Zain berkunjung ke pondoknya ya" kata Zelofia dengan lembut.


"Nina tidak masalah kok Bun, asal Mas Zain juga tidak keberatan" jawab Nina menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, kalau begitu... bunda juga udah bilang sama Zain dan dia tidak keberatan karena ini penting sayang, soalnya beliau tidak bisa hadir di pernikahan kalian waktu itu... kalian harus buru-buru kesana takutnya beliau datang kemari! Nggak enak!!" kata Zelofia.


"Iya Bunda... Nina mau berkunjung ke pondok ustadz Syahbana" terima Nina tersenyum.


"Ya udah, kamu buruan siap-siap gih! Bunda udah siapin baju buat kamu ke sana"


"Iya Bun... Nina permisi dulu" ucap Nina menaiki tangga.


30 menit kemudian


Setelah agak lama menunggu Nina bersiap-siap akhirnya gadis itu turun juga dari lantai dua. Gadis itu memakai pakaian tertutup dari atas sampai bawah, hanya menyisakan wajahnya saja.


Subhanallah! Gadis itu nampak imut memakai hijab putih tulang, wajahnya yang agak bulat dan dua pipi kemerah-merahan.


"Masyallah menantuku cantik sekali" puji Zelofia menekan dagu Nina keatas. "Bukan begitu, Zain?"


"Hm?"


Zain baru sadar jika dirinya telah menatap wajah Nina tanpa berkedip. Biasanya Zain melihat Nina tanpa hijab dan pakaian yang tidak menutup tubuh sepenuhnya.


Namun penampilan Nina kali ini telah berhasil menyita kesadarannya.


"Zain, bagaimana penampilan Nina?" tanya Zelofia lagi.


"Biasa" abai Zain bermain dengan ponselnya. Ia enggan memperhatikan Nina lagi.


Zelofia mendengus kesal.


"Ya sudah... kalian berangkat aja sekarang"


"Baiklah, Zain pamit dulu Bu assalamu'alaikum" Zain menyalami Zelofia diikuti Nina.


_______


Sampailah mereka di pondok Al-Husna milik ustadz Syahbana. Hari itu sedang ada acara tausiah yang diisi oleh ustadz Syahbana sendiri, beliau berceramah dan para murid mendengar di serambi masjid.


Zain dan Nina turun dari mobil Ferarri mewah yang menyita perhatian gadis-gadis dan laki-laki muslim murid ustadz Syahbana. Mendiskusikan keduanya tanpa ada satu yang mendengar.


"Masyallah itu Ankazain?" wanita memakai syar'i datang dan menyambut keduanya.


"Iya Umi..." Zain tersenyum dan menyalami tangan Ustadzah Fadila yang merupakan istri ustadz Syahbana.


Tak lupa Nina juga menyalami Ustadzah Fadila namun agak telat. Tapi beliau tidak mempermasalahkan. Hanya Zain yang merasa malu.


"Maaf, Tuan"


...To be continued...


...Oh iya, seandainya aku ganti judul novel ini gimana ya? Bagusan "Menikahi Duda Arab" atau "Gadis Untuk Zain" tolong komen please!! Butuh saran kalian😊...

__ADS_1


...Bebsss jangan lupa vote, like dong!! Dukung karyaku yang ini biar aku tambah semangat🤗...


__ADS_2