![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Setelah Zelofia menerima permintaan Zain untuk mengobrol bersama, mereka pun duduk di ruang kerja Abrizal untuk lebih leluasa.
“Ada apa, Zain?”
“Bagini ayah… niatnya Zain ingin membicarakan pernikahan Aya”
“Zain, apa yang kau bicarakan? Adikmu itu masih kecil bahkan dia belum bisa mandiri. Dia belum pantas menjadi seorang istri, terlebih masih ada dua kakaknya yang belum menikah” kata Zelofia kurang terima.
“Kenapa tiba-tiba kau mengatakan itu, nak?” tanya Abrizal begitu penasaran.
Sebenarnya Zain juga tidak tega dengan mereka berdua, namun Aya harus menikah untuk masa depannya, dan pernikahan membutuhkan wali untuk menjadi sah. Dari itu Zain mencoba mendiskusikan ini baik-baik.
Dari dalam jasnya ia mengeluarkan sebuah surat sebagai tanda bukti kehamilan adiknya. Saat Zelofia melihatnya, detik itu juga wanita ini menangis histeris.
“Astagfirullah!! Aya…” Zelofia menangis tersedu-sedu dipelukan Abrizal yang segera memeluknya.
Tentu saja wanita ini kecewa, bahkan rasa itu dapat wanita ini rasakan lebih mendalam. Ia merupakan seorang ibu yang melahirkan Aya. Pasti hatinya bagai disayat oleh sebuah belati tajam.
Bagai ribuat panah menancap dadanya. Sungguh menyakitkan
“Ayah!!” rintih Zelofia namun suaminya hanya diam termenung dengan tatapan yang kosong. Ia bukan seperti putranya ini yang suka marah-marah dan meluapkan emosinya. Ia tipikal pria yang sabar tapi juga tegas.
“Ibu sama Ayah tolong jangan salahkan Aya lagi… dia tidak sepenuhnya salah. Kitalah sebagai keluarga, orang terdekat Aya yang patut disalahkan karena kurang memperhatikan pergaulan Aya” Zain mencoba mengingatkan.
“Bunda mau lihat Aya…”
“Ibu ini udah malem. Besok saja” Zain mencoba membujuk Zelofia. Takutnya wanita baya ini marah-marah di tengah malam.
“Bunda hanya ingin melihat Aya saja. Bunda ingin minta maaf karena tidak memperhatikan putri bunda” lirih Zelofia segera berjalan pergi saat Zain tidak lagi menahan tangannya.
“Ayah juga sebaiknya istirahat. Zain pamit dulu” setelah pamit Zain melenggang pergi meninggalkan Abrizal.
Di kamar Aya.
Zelofia masuk kedalam dan ikut berbaring disamping putrinya. Tangannya mulai terulur mengusap puncak kepala Aya dan sesekali menciumnya.
“Maafkan bunda… mulai sekarang bunda akan memperhatikanmu, walau terlambat sayang” Zelofia memeluk putrinya dengan pelan supaya tidak mengganggu tidurnya. Karena efek lelah, membuat Zelofia juga terbawa kealam mimpi.
_____
Cklek
__ADS_1
Dalam kamarnya Zain masuk dengan pelan-pelan karena ia melihat istri mudanya sudah tidur lebih dulu. Namun bukan tidur diatas ranjang melainkan atas sofa yang kurang empuk dan sempit itu lagi.
“Apa tadi permintaanku kurang jelas ya? Sepertinya dia juga sudah bahagia, tapi kenapa masih tidur diatas sofa?” monolog Zain mengangkat tubuh kecil gadis itu menuju ranjang.
Dengan sangat pelan-pelan Zain mendaratkan tubuh Aynina keatas ranjang, selain itu ia juga menyelimuti tubuh Nina hampir menutup sepenuhnya. Menyisakan kepalanya saja.
Karena tadi Zain sudah sholat jadi dia hanya melepas sepatu dan ikut berbaring disamping Nina. Dengkuran halus yang Nina ciptakan menarik perhatian pria itu untuk menyentuh wajahnya.
“Kau kuat Aynina… hanya tubuhmu yang kecil tapi mentalmu sangat kuat hingga sampai sejauh ini” kata Zain mengusap puncak kepala gadis itu, lalu rasa kantuk datang dan menidurkannya.
_____
Drettttt
Berterangkan lampu tidur yang menyala memperlihatkan remang-remang di ruangan. Alarm ponsel didalam ruangan tersebut menepis kesunyian difajar hari. Hal itu membuat si pemilik ponsel harus terbangun untuk mematikannya.
Tangan Zain meraih-raih ponselnya yang ada diatas nakas lalu ia segera matikan.
“Jam 4 subuh” desis Zain dengan kedua mata yang amat berat menampaki wajah seseorang tertidur tepat disampingnya.
Nina yang masih dibawa kealam mimpi itu belum bangun. Dia nampak tertidur pulas menghadap Zain dan posenya mendominasi ranjang, hampir tidak ada yang ia sisakan. Mungkin, efek ranjangnya yang empuk.
“Tu-tuan” Nina yang baru bangun itu mengedarkan pandangannya. Ia baru sadar telah satu ranjang dengan suaminya.
“Kenapa kau masih tidur diatas sofa tadi malam? Aku kan sudah bilang untuk tidur disini. Apa kau suka jika aku menggendongmu?” tanya Zain mendekatkan wajahnya ke wajah Nina.
Nina segera menutup mulutnya. Takutnya bau karena posisinya ia baru bangun tidur. Namun dalam pikiran Zain, gadis ini mulai was-was takut dicium.
“Kenapa kau menjauh dariku?” Zain menggeser mendekati Nina yang segera mundur, “Kenapa juga kau menutup mulutmu?”
Nina yang tidak mau membuka mulut itu semakin meliuk-liukan tubuhnya mundur sampai mentok tidak ada penyangga lagi. Dan…
“Arrk”
Grep
Tangan Zain segera menarik pinggang Nina menyelamatkan gadis ini dari bahaya. Tarikan Zain yang kuat membuat tubuh keduanya merapat saling berhadap-hadapan.
Kedua mata Nina yang membulat bagai bola itu menangkap wajah Zain yang begitu dekat, membuat jantungnya berdetak kenjang ingin meledak.
“Jangan menjauhiku lagi” kata Zain sebelum akhirnya mengecup bibir Nina.
__ADS_1
Lantas Zain melepas tangannya dan bangkit. Sementara Nina masih terdiam dengan ciuman keduanya yang tiba-tiba. Aneh, kenapa pria ini menciumnya lagi.
Nina juga ikut bangkit, “Tuan kenapa kau melakukan itu?”
“Melakukan apa?” tanya Zain mengecek ponselnya.
“Ya itu”
“Yang ini?” Zain mencondongkan tubuhnya mencium kembali bibir Nina. Hal itu semakin membuat Nina terkejut dan salah tingkah.
Kedua pipinya sudah memerah bagai kepiting rebus yang ada di restoran. Namun Zain nampak memberikan senyuman kemenangan.
Nina yang tidak terima di cium terus-terus itu segera mensejajarkan tubuhnya dengan Zain yang memiliki tubuh lebih tinggi darinya.
“Jika aku rasa-rasa kau terus menciumku, Tuan” ucap Nina protes kepada Zain yang kembali mencium bibirnya.
“Karena kau melakukan kesalahan”
“Kesalahan apa yang kuperbuat Tuan?” tanya Nina merasa tidak terima dan lagi-lagi pria itu menciumnya. Zain bilang itu kesalahan tapi ia merasa tidak melakukan apa-apa. Membuat ia frustasi saja.
“Jangan menyebutku dengan panggilan itu lagi atau aku akan menciumu”
“Tapi Tuan ak—”
Bibir Nina benar-benar habis tercium oleh Zain, bahkan ciuman kali ini terasa sangat lama. Ingin mendorong, namun tangan pria itu memegang erat rahang Nina. Sepertinya, gadis ini memang minta dicium sampai tidak mendengar larangan pria itu.
Merasa usahanya sia-sia membuat Aynina diam membiarkan pria ini menicumnya. Sesaat setelah ia tidak lagi melawan, Zain melepas tautannya.
“Jangan memanggilku dengan panggilan itu lagi. Sebaliknya, kau memanggilku dengan julukan yang baik untuk suamimu” kata Zain mengusap kasar kepala Nina.
“Aku harus memanggilmu bagaimana?”
“Terserah. Hubby, baby, honey, sayang atau suamiku”
Nina mengernyitkan dahinya saat semua yang Zain sebutkan memiliki arti sayang. Rasanya aneh jika dia harus memanggilnya seperti itu. Hanya ada satu julukan yang terdengar biasa.
“Aku pilih Hubby saja”
“Ok. Mulai sekarang panggil aku Hubby” kata Zain tersenyum memberikan sengatan listrik ke pipi Nina dengan usapan tangannya.
Pria itu bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk wudhu dan sholat subuh, meninggalkan Nina dengan keadaan lemas setelah mencicipi sikap manis suaminya.
__ADS_1