Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Gagal Makmum


__ADS_3

Aih gadis ini sebenarnya kenapa sih? Mata Maya hanya bisa melongo mendengar penuturan nya. Ia bilang tidak ingin ber ghibah tapi dia sendiri melakukannya.


Plin-plan!


"Kak, kenapa kak Maya diam saja? Seperti apa Mbak Anita itu sampai mereka membanding-bandingkan aku dengannya?" Nina mengusap air matanya. Ia sudah tidak sabar ingin tahu tentang wanita itu.


Kening Maya menyerngit, "Memangnya jika kau tahu seperti apa Nyonya Anita, kau mau apa?"


Kepala Nina menggeleng tidak tahu. Tapi ia penasaran dengan sosok wanita itu. Wajahnya memelas merayu Maya.


"Kak, seperti apa Mbak Anita itu?" rengek Nina bergelayut di lengan Maya yang melihatnya jijik.


Maya membuang nafas, "Nyonya Anita itu sangat baik... dia cantik memiliki lesung pipi yang terlihat manis, selalu sholat, selalu puasa, rajin ber ibadah terus dia orangnya sabar dan... Nyonya Anita bisa menjadi guru untuk Tuan Zain"


Sumpah hati Nina rasanya tercabik-cabik oleh pisau yang ia lihat tengah menancap di buah. Ia kembali menangis sejadi-jadinya.


"Sudahlah... kau juga tidak buruk kok" puji Maya menghentikan tangis Nina.


"Sungguh?"


Maya mengangguk dengan senyuman. "Betul... kau tidak buruk hanya kurang sempurna"


Maya menahan tawa saat melihat respon Nina yang lucu. Dari wajahnya gadis ini terasa seperti kesetrum secara perlahan-lahan. Hati Nina potek...


'Pantas saja Tuan Zain tidak bisa mengganti nama Mbak Anita...rupanya dia terlalu sempurna untuk menjadi sainganku... apalah aku yang cuma serpihan debu suamiku' melas Nina menggaruk punggung tangannya.


21:00


Kini Nina ingin menaiki tangga menuju kamar yang belum ia lihat bentuknya. Tadi ia hanya sibuk melepas rindu dengan Maya.


Nina duduk di anak tangga ke 4 bagian bawah dengan tatapan kosong. Ia masih memikirkan pujian Maya dan para pekerja tentang mendiang istri Zain.


'Kelebihanku apa ya? Setidaknya harus ada satu kelebihan untuk menyeimbangi Tuan Zain. Kepalaku sampai mau pecah memikirkan ini, sakit banget' monolog Nina didalam hati memijat kepalanya.


Walaupun Nina tidak menyukai Zain, namun ia adalah seorang istri yang tetap akan cemburu jika dirinya dibanding-bandingkan dengan masa lalu suaminya.


"Eh kakak ipar sudah pulang ya?"


Pekik seorang pria muda yang mendapat julukan 'Buaya keluarga Darius' dia adalah Bian. Ia baru saja kembali dari nongkrong.


Nina hanya tersenyum membalasnya.


"Bagaimana malam pertamamu dengan kak Zain?" tanya Bian polos dan tersenyum geli.


Lagi!!!! Untuk yang kesekian kalinya kenapa setiap orang yang melihatnya selalu bertanya hal seperti itu sih? Nina jadi semakin kesal.

__ADS_1


"Hei... aku tanya loh" Bian ikut duduk disamping Nina yang menggeser memberi jarak, dan Bian hanya tersenyum kecil.


"Sepertinya aku sudah banyak menjawab pertanyaan seperti itu! Aku tidak ingin mengulanginya lagi" Nina membuang nafas mengabaikan Bian.


Bian membuang nafas pasrah. Ok, dia tidak akan memaksa Nina untuk menjawabnya.


"Sebentar lagi masuk kuliah... kamu sudah menyiapkan semua kebutuhan kampus? Tadi pagi ada sedikit keributan..."


"Keributan apa?" penasaran Nina.


Bian menaikan kedua bahunya, "Biasa, putri bungsu keluarga kami selalu menyepelekan studinya"


Nina mengangguk ikut bersedih.


"Oh iya... dia bilang mau belanja kebutuhan kampus sama kamu loh Nin..." antusias Bian.


"Masak?"


Dan Bian mengangguk membenarkan dan kening Nina pun menyerngit bingung.


"Kamu belum beli kan?"


"Belum kok" Nina menggeleng cepat.


"Ya udah besok kamu ajak Aya belanja kebutuhan kampus. Soalnya dia maunya sama kamu... sekalian aku nitip binder 1 gambarnya yang cool man, ok"


Selepas Bian pergi. Nina kembali memikirkan pujian para pekerja terhadap mendiang istri Zain, seakan tidak bisa hilang dengan mudah.


"Loh sayangku Nina..." suara wania baya itu kembali terdengar dari balik punggungnya. Ia berjalan turun dari atas.


"Eh... bu-bunda" Nina pun segera beranjak dan mengusap-usap debu yang ada di pantatnya, melepas rasa canggung.


"Kok masih disini sayang? Udah malem... sana tidur" pinta Zelofia kepada Nina namun hanya dijawab gelengan saja, "Kenapa sayang? Kamu takut sama Zain ya?"


Nina langsung menggeleng cepat, "Eng-enggak kok Bun... kenapa Nina harus takut sama... mas Zain" bohong Nina.


Memang salah satu alasan Nina duduk di anak tangga karena ia ingin menghindari satu ruangan dengan Zain. Ia akan mati ketakutan jika terus bersama suaminya.


"Terus kenapa masih disini?"


"Belum ngantuk aja" Nina tersenyum manis dan itu membuat Zelofia paham.


"Tidur sayang... besok kan kamu mau belanja peralatan kampus sama Aya" ucap Zelofia menggiring Nina menuju lantai dua.


Sampai di depan kamar, tepatnya di kamar Zain. Nina semakin takut bahkan tubuhnya merinding ingin kabur.

__ADS_1


"Masuk..."


"Tap---"


"Sayang... bunda kasih tahu buat kamu. Kamu ini sudah sah menjadi istri Zain, mau dia nerima atau nggak kamu tetep seorang istri yang sah dan berhak atas Zain. Jadi bunda minta, jangan takut melakukan sesuatu yang benar kepada Zain" Zelofia mengusap lembut kepala Nina.


Nina menatap tajam wajah berseri bunda Zelofia. Wajahnya yang tenang dan menyejukkan, tidak mungkin ia mengecewakan-nya.


"Baiklah bunda... Nina masuk dulu ya, selamat malam"


"Selamat malam" jawab Zelofia tersenyum lega.


Akhirnya Nina masuk kedalam kamar. Namun ia tidak melihat Zain di kamar ini. Ia hanya melihat sebuah bingkai foto pernikahan yang terlihat bahagia, dimana keduanya nampak romantis merangkul bahu pasangannya.


Nina berlari mendekati bingkai foto yang ada diatas nakas, 'Ini pasti Mbak Anita... cantik banget... matanya, bibirnya, pipinya... dan cara berpakaiannya terlihat sangat indah... dia seperti bidadari surga'


Nina membuang nafasnya lagi. Sepertinya hari ini merupakan hari yang melelahkan untuk hatinya. Ia terus di beri cobaan yang tidak terduga.


Cklek


Tubuh Nina langsung menegap membalikan tubuhnya kearah suara pintu. Ia melihat Zain keluar dari kamar mandi.


Wajahnya basah, kedua tangan dan kakinya juga basah, lengan kemejanya tergulung keatas. Sepertinya Zain baru saja selesai wudhu.


"Ngapain kamu disini?" Zain masih bersikap dingin kepada Nina yang menunduk takut.


"Bun---"


"Bunda yang menyuruh?" sela Zain mengusap wajahnya kasar, "Kamu kan bisa menolaknya... kamu bisa bilang ingin ada di luar kamar, belum ngantuk atau apalah... itu semua pinter-pinter bagaimana kamu jawabnya..."


Nina hanya diam penuh penyesalan. Lalu Zain mengabaikan keberadaan Nina dan memilih untuk bersiap dalam menjalankan ibadah sholat.


'Aku ingin menjadi makmum' gumam Nina dalam hati.


"Ap-apa aku boleh menjadi makmum... ak-aku hanya ingin ikut sholat bersama" ucap Nina dan Zain tidak menjawabnya.


Diamnya Zain membuat Nina dilema. Ia tidak tahu apa Zain menerima atau menolak, bahkan Zain tidak merespon apa-apa.


Melihat Zain yang sudah larut dalam mantra doa, membuat Nina bergegas ambil wudhu dan menjadi makmum Zain.


'Entahlah... ini sah atau gak itu cuma tuhan yang menilai, yang penting aku jadi makmum suamiku' monolog Nina memakai mukenanya dan menjadi makmum secara diam-diam.


Di pertengahan sujud Nina merasa dirinya akan segera di serang flu. Sepertinya sudah ada lendir putih keluar dari kedua hidungnya.


Setelah ia bangkit, rupanya itu bukan sebuah ingus melainkan cairan merah yang sudah menempel di sajadah kuningnya.

__ADS_1


'Hah... yah aku mimisan... gak mendukung banget sih!! Lagi jadi makmum kok malah mimisan, gagal dong jadi makmum... aarrkk' kesal Nina dalam hati mengusap hidungnya dengan kasar.


__ADS_2