Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Kau Akan Menjualnya?


__ADS_3

Wajah perempuan yang ada didepan mata Zain mengeras seketika sesaat setelah ia membaca nama yang tertulis dan mencocokan tablet itu dengan tablet yang diberikan Zain tadi pagi. Nafasnya terasa sesak ditambah genangan di pelupuk matanya yang sudah mulai luruh membasahi kedua pipinya.


“Aynina aku bi---”


Potong Nina membanting tablet itu tepat didepan kaki Zain. Memberikan tanda bahwa ia tidak menerima penjelasan sedikitpun. Entah bagaimana wanita ini bisa tahu obat itu, yang pasti Nina sangat marah.


“Aynina dengarkan aku—”


“Aku tidak butuh penjelasanmu. Selagi mataku sudah melihat, penjelasan apapun tidak akan aku dengar” kata Nina meniru kalimat yang pernah Zain lontarkan kepadanya.


Zain mencoba meraih tangan Nina, “Aynina aku melakukan itu karena kau sedang sakit dan tidak boleh hamil terlebih dahulu”


“Aku ingin hamil dan kau malah memberiku obat penunda kehamilan!” bantah Nina menepis kasar tangan Zain yang ingin meraihnya.


“Aynina dokter menganjurkan untuk tidak hamil terlebih dahulu. Jika kau hamil maka kemoterapimu akan di tunda”


Berkali-kali Zain meraih tangan Aynina, Namun wanita itu terus menepisnya dan melempari dirinya dengan barang-barang yang ada di dalam kamar tersebut. Wanita ini sangat marah dan mengamuk hingga pria ini kewalahan mengatasinya.


“Sekalian saja tidak usah tidur dengan diriku” teriak Aynina kembali lalu melempar bantal ke wajah Zain yang langsung di tepis.


“Aynina aku akan jelaskan, jadi diam lah tolong…” Zain semakin frustasi melihat istrinya terus mengamuk dan selalu bertindak beda setiap harinya.


Nina menggeleng marah, “Kau jahat!! Aku ingin memberimu anak sebelum aku matiii”


“AYNINAAA” hampir saja Zain yang lelah ingin melayangkan tamparan di wajah istrinya, namun ia langsung tersadar.


Nina yang sudah terlanjur ketakutan itu seketika diam dengan tatapan nanar. Lalu ia berlari menuju ranjang dan menutup dirinya dengan selimut tebal. Perempuan itu menangis disana.


Sementara Zain mengusap wajahnya dengan kasar. Ia begitu menyesali perbuatannya. Tidak pernah Nina melihat Zain mengangkat telapak tangannya, bahkan saat dulu pria ini belum menganggapnya! Nina tidak melihatnya.


Lalu kenapa sekarang Zain berani mengangkat tangannya?


“Aynina” lirih Zain bersimpuh lutut mensejajarkan tubuhnya dengan Nina yang berbaring, “Aku tidak bermaksud ingin menamparmu! Hanya saja, aku begitu frustasi dengan diriku sendiri karena belum bisa membuatmu bahagia sampai saat ini”


Nina yang dengar hanya diam tidak membalas. Perempuan ini masih juga menangis tanpa suara.

__ADS_1


“Baiklah! Aku tidak akan mengganggumu! Kau bisa tidur sendiri tanpa diriku” kata Zain mengusap kepala berbalut selimut itu.


Karena tidak mendapatkan balasan apa-apa, Zain memutuskan untuk membersihkan semua barang-barang yang berserakan di dalam kamar akibat ulah Nina. Sesekali Zain memastikan jika istrinya itu mau membuka selimut, tapi hasilnya nihil.


“Sayang! Aku sudah membersihkan kamar ini. Jadi kau tidak perlu bangun untuk membersihkannya. Aku juga akan keluar jika kau masih tidak mau melihat diriku… jangan lupa mandi! Aku sudah menyiapkan pakaianmu serta minum obat, dan aku akan meminta Maya untuk membantu dirimu”


Zain sudah berjalan menuju pintu, namun ia mencoba menoleh kearah Nina. Tetap saja, perempuan itu tidak ada pergerakan.


“Aku keluar kamar ya” beberapa detik Zain menunggu, lalu memutuskan untuk benar-benar keluar dari kamarnya.


Saat ini Zain berada di tepi kolam renang. Ia sedang menikmati kesendirian tanpa terganggu apa-apa. Duduk di ubin lantai tepi kolam dengan kedua kaki tertekuk keatas agak melebar dan lengan dimasing-masing lutut.


Tiba-tiba Zelofia datang dan duduk disebelahnya, membuat Zain risih.


“Astaga ibu… ibu tidak boleh duduk di lantai. Itu tidak pantas ibu” cegah Zain mencoba membangunkan ibunya yang diam.


“Ibu tadi lihat pertengkaran kalian berdua”


Zain menghela nafas halus namun panjang, “Ibu melihatnya ya?”


“Tadi kau kembali dari kantor dan ibu panggil tidak nyaut. Jadi ibu memutuskan untuk menemui ke kamar. Sayangnya, ibu mendengar pertengkaran kalian” ucap Zelofia mengusap bahu Zain.


Zelofia menggeleng, “Hanya ibu yang dengar”


Zain diam tak bersuara. Ia yakin setelah ini ibunya akan memberikannya nasihat untuknya.


“Nak, orang yang sedang sakit memiliki tingkat emosi yang tinggi. Mereka akan sering marah karena ada rasa sesal dalam dirinya. Kenapa dia tidak sembuh, kenapa dia masih menyusahkan orang lain, kenapa dia membuat orang lain sedih” ucap Zelofia dan Zain mendengarnya dengan seksama.


“Jadi Nina juga merasakan hal yang sama?” tanya Zain mencoba mencari jawaban.


Bunda mengangguk, “ Iya nak…Itulah yang Nina rasakan! Dia sering marah, sedih, down, ditambah kenyataan bahwa dia harus menunda kehamilan yang seharusnya diusia pernikahan kalian, sudah pantas menimang bayi”


“Zain juga tidak begitu berharap memiliki bayi. Asal Aynina sembuh, itu sudah sangat membahagiakan, bu”


“’Iya sayang! bunda paham. Jadi, kau sebagai seorang suami harus menasehati istrimu dan memberikan semangat untuk kesembuhannya”

__ADS_1


Zain tidak menjawab. Namun sebagai gantinya, dia begitu mendengarkan dan membuatnya sebagai pelajaran. Kepalanya mengangguk dan Zelofia memeluknya.


____


Setelah pertengkaran itu Nina masih marah dengan suaminya. Ia menerima semua bantuan dari Maya namun menolak bantuan dari suaminya, bahkan ia mencoba untuk membantu Nina meminum obatnya, membantu mandi, menyiapkan pakaian, mengantar kemoterapi, semua telah Nina tolak.


Jika dikira-kira sudah semingguan Nina tidak mengajak suaminya bicara atau membutuhkan bantuannya, semua Maya yang melakukan. Zain hanya bisa diam mengamati dari jauh dan memastikan jika keadaan istrinya benar-benar aman. Semua tidak menjadi masalah, asal itu membuat Nina senang.


Namun rupanya, Nina begitu tersiksa dengan kemarahannya sendiri. Ia begitu tidak kuat melihat suaminya begitu perhatian kepada dirinya dan dia sendiri telah mengabaikan.


Seperti saat ini, saat Nina merasa mual dan mimisan. Ia mencari-cari Maya, namun malah Zain yang datang dan membersihkan semuanya.


Nina melihat Zain membersihkan makanan yang ia muntahkan diatas lantai, tanpa jijik ataupun geli. Dia menggunakan kedua tangannya dan berganti membersihkan darah di hidungnya.


“Aku bisa sendiri”


“Sampai kapan? Sudah seminggu kau mendiami diriku. Seorang istri tidak boleh mendiami suaminya lebih dari tiga hari” ucap Zain memberi nasehat.


“Aku tidak mendiami dirimu. Kau yang mendiami diriku, kau sendiri yang tidak mengajakku bicara” lempar Nina tidak mau disalahkan.


“Iya aku yang salah” Zain bersimpuh lutut menggenggam kedua telapak tangannya, “Dari itu aku minta maaf! Tolong sembuh lah demi aku dan berikan aku gadis kecil sesuai impianmu”


Hal itu menarik perhatian Nina untuk memaafkan suaminya.


“Aku bisa hamil?”


“Kau harus sembuh dulu Nina… percayalah kepadaku bahwa kau akan sembuh dan memberikan aku bayi kecil sesuai harapanmu”


“Jika aku mati terlebih dahulu bagaimana?” tanya Nina terdengar santai dan membuat Zain menghela nafasnya sabar.


“Kau masih punya hutang jantung dan juga paru-paru”


Nina tertawa lirih saat suaminya masih mengingat lelucon itu. Yah sekarang ia menganggap itu sebagai lelucon.


“Kau harus tetap membuat jantung dan paru-paru ku tetap berfungsi dengan baik dengan bertahan hidup” terpaksa Zain mengatakan semua itu.

__ADS_1


“Kau benar akan menjualnya?”


“Masih aku pikirkan”


__ADS_2