Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Dia Terbelai Hujan


__ADS_3

Nina menunduk malu dengan apa yang sudah ia lakukan. Semua riasan diwajahnya membuatnya merasa geli sendiri. Bagaimana dia bisa melakukan ini, pikirnya. Tidak dipungkiri ia bangga karena bisa merias wajahnya yang imut menjadi wanita dewasa yang menggoda, pikirnya.


Namun setelah mengatakan kalimat yang tidak Nina dengar kenapa Zain hanya diam, dan pergi menuju kamar mandi? Seharusnya Zain datang dan memuji dan mengomentari penampilannya. Ada apa dengannya?


Tunggu, apa saat ini Zain mengabaikan Nina? Hanya saja Nina heran kenapa dia tidak marah atau mengamuk seperti waktu itu. Zain juga tidak marah saat melihat wajahnya, padahal waktu itu ia melarang Nina memperlihatkan wajahnya.


"Mungkinkah wajahku ini memang cantik?" gumam Nina menangkup kedua pipinya sendiri serta mata melihat kearah kamar mandi.


Nina berdeham malu mengetahui suaminya malu-malu tapi mau, pikirnya. Ya ampun Nina, otakmu hanya dipenuhi dengan sifat positif.


Beberapa menit kemudian...


Dari kamar mandi Zain berdiri didepan cermin, memakai krim malam sebelum pergi tidur. Dari ekor matanya ia masih melihat Nina masih berdiri ditempat sebelumnya. Sebenarnya gadis itu mau apa?


Zain hanya melihat sekilas keberadaan Nina, melihat dengan tatapan dingin dari kaki sampai kepala lalu pergi tidur.


Dari itu membuat Nina merasa heran, kenapa suaminya tidak bereaksi apa-apa? Dia tidak marah dan dia juga tidak mengatakan apa-apa. Nina harus bagaimana?


'Rencana kedua' gumamnya dalam hati.


Zain sudah terbaring dengan kedua tangan sebagai tumpuan kepala hampir saja kesadarannya tertelan sunyi nya malam, ia merasakan ranjangnya bergoyang.


Segeralah Zain melepas rasa penasarannya dengan kedua mata membuka lebar.


Tap, mata Zain menghadap mata bulat besar dengan maskara yang luntur tepat dihadapannya. Ia menatap benci, murka mengetahui Nina melakukan hal yang diluar batas.


"Apa yang kau lakukan?" Zain menekankan setiap kalimat itu dengan nada dingin hingga membuat Nina menggigil diatasnya.


Jantung Nina berdegup dengan kencang namun bukan karena ia sedang jatuh cinta, melainkan jatuh oleh tatapan kelam pria yang ada dihadapannya.


Nina sadar jika perilakunya salah!


Bruk


Pinggang Nina terdorong menjauh hingga menggelinding turun membentur lantai. Zain yang mendorongnya karena ia merasa murka mengetahui Nina ingin merayunya.

__ADS_1


Nina langsung terduduk mengusap bokongnya yang sakit seraya melihat Zain yang sudah beranjak dari ranjang.


Zain mendekati Nina dan Nina menjauh dengan rasa takutnya.


"Aku tidak percaya gadis polos seperti dirimu bisa merayu seorang pria, terlebih pria itu jauh lebih tua. Darimana kau mendapatkan pelajaran seperti itu? astaga... ibuku salah dengan memilihkan wanita mirip j4l4ng seperti dirimu"


Nina menyeret tubuhnya mundur sampai mentok tembok. Matanya yang mengembun melihat jelas kemurkaan Zain yang tega mengeluarkan hinaan dari mulutnya.


Sungguh, apa Nina membuat kesalahan? Zain kan suaminya!.


Zain menarik kasar lengan Nina hingga tubuh ringkih kecil itu merapat ke tubuhnya yang kekar, tinggi, besar. "Apa kau sudah mentok memikirkan cara untuk membayar hutang orangtuamu dan kau memilih untuk merayu pria? Itukah pelajaran yang kau dapat selama 18 tahun ini? HAH"


Nina menggeleng takut dengan pandangan menunduk. Sungguh, semua yang Zain katakan tidak benar. Nina selalu menjaga dirinya dengan baik.


"Aku-aku hanya melakukan kewajibanku... hiks hiks"


Zain yang kesal langsung mendorong Nina kelantai. Ia muak mendengar kata itu karena sewaktu di kamar mandi, Zelofia menelpon, dia juga membicarakan tentang kewajibannya sebagai seorang suami dan itu membuat Zain pusing dan semakin membenci Nina.


"Sini kau..."


"Malam ini, kau tidur disini... jangan masuk jika aku belum keluar... kau paham?"


"Tapi... hujan... akan turun hu-jan..." cicit Nina terbata-bata saat ketakutan menelan kelancaran dalam berbahasanya.


"Aku tidak peduli... ini salahmu... kubiarkan dirimu selama ini namun kau berniat ingin merayuku" Zain menatap jijik riasan Nina, "Kau pikir aku akan tergoda dengan wajahmu yang seperti badut ini? Jangan mimpi... dari usia, wajah, bentuk tubuh dan semuanya... aku tidak berniat ingin menjamahnya"


Hancur!! Hati Nina hancur saat Zain menolaknya begitu saja. Mata seperti genangan air itu hanya bisa melihat samar-samar wajah Zain, namun yakin wajah pria itu sangat murka.


Zain melenggang menutup pintu balkon.


"Tuan... jangan ditutup... aku takut... akan turun hujan... aku takut hujan dimalam hari... "


Nina meringkuk takut di pojok balkon. Matanya menatap waspada kearah belakang, seakan ada sesuatu mengerikan yang akan meloncat mengejutkan dirinya.


Duarr

__ADS_1


"Ibuuuu" reflek Nina menutup kedua telinganya rapat-rapat saat suara petir terdengar menggelegar memenuhi rongga telinganya.


Hujan telah turun dengan deras diiringi petir menyambar-nyambar. Air dari atas langit telah membasahi daun-daun, pohon dan seluruh bagian luar Villa. Nina ada di luar, pastinya hujan telah membelai tubuhnya dengan rasa dingin menusuk ke pori-pori kulitnya.


"Tuan... to-long biarkan... aku masuk... aku takut... ini sangat dingin... aku tidak akan melakukan itu lagi... aku janji" ia mencoba memohon mengetuk-ngetuk pintu kaca itu, namun tidak ada suara dari dalam sana.


Mata sembab Nina mengintip kamarnya lewat kaca. Pasti udara disana sangat hangat, terlihat Zain yang sama sekali tidak terusik oleh apapun. Nina ingin, tapi ia tidak bisa kemana-mana.


Nina mencengkeram kuat dress malam yang ia kenakan. Ia menyesal karena memakai pakaian seperti ini, ia juga benci riasan yang membuat Zain marah dengannya, ia benci mata hitam seperti ini. Sungguh semua yang mengakibatkan Zain marah, ia sangat membencinya.


"Ibu... bawa aku kepelukanmu... aku tidak ingin hidup seperti ini... aku hanya orang asing di rumah suamiku... aku tidak bahagia... bayi kecilmu ini menginginkan untuk pulang... rumahnya yang buruk lebih baik daripada rumah suaminya... Nina ta-kut..."


Nina menyembunyikan wajahnya di sela-sela lututnya. Tangisnya yang semakin menggelegar tidak akan ada yang mendengar itu karena suara hujan yang semakin deras. Sambaran petir menyaut ria mengiringi tangisnya.


Sejenak bayangan Alzam waktu itu muncul di otak Nina, 'Nina, jika kak Zain menyakitimu atau membuatmu menangis... maka katakan kepadaku, maka aku akan membawamu pergi dari kehidupan pernikahan ini'


Kepala Nina menggeleng lemah. Selain bayangan itu ia juga mengingat bayangan bagaimana Devan dan ayahnya menyakiti perasaannya dan Aynina tidak percaya dengan perkataan pria manapun.


"Aku tidak mau... dia tidak akan menjagaku... dia... dia akan sama se-pertinya... aku... tidak mau..." Nina menangis mengusap-usap lengannya supaya menimbulkan rasa hangat.


Bagaimana ini? Nina ingin masuk karena udara dingin dimalam hari hampir menyelimuti tubuhnya. Dress malam tipis ini tidak akan cukup untuk membuatnya hangat. Sementara pria yang menguncinya dari luar terlihat nyaman dengan selimut hitamnya.


Tepat didepan Villa ada pendopo berbahan bambu kuning yang indah. Dari sana wanita berpakaian pelayan itu dapat melihat Nina yang menangis disana.


"Kasian sekali dirimu..." ucap Aysil dengan raut wajah yang susah untuk diartikan. Wajahnya seperti menelan puas kesedihan Nina namun juga terlihat sedih dari tatapan matanya.


Aysil mengambil ponselnya yang ada disaku pakaiannya lalu menelpon seseorang yang sudah ia kenal lama. Ia akan memberitahu semua yang ia lihat di tempat ini.


"Saya ingin memberi laporan..."


To be continued


..."Aku akan mencoba untuk bertahan di rumah tangga ini, tapi aku tidak tahu sampai kapan... aku sangat ingin tetap bertahan, memulai kehidupan bersamamu dan memiliki keluarga yang tenteram. Aku ingin, namun takdir yang berniat ingin memisahkan"...


... ~AMS~

__ADS_1


...


__ADS_2