![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
"Aku tidak ingat sama sekali"
Mata Maya mengerjap cepat seraya menelan salivanya yang susah untuk ia telan. Ia merasa menyesal sudah memperkenalkan seluruh anggota keluarga Darius dengan gadis bodoh ini. Karena percuma saja, otaknya tidak akan sampai untuk mengingat.
"Tidak masalah! Lama-lama kau juga akan mengingatnya" Maya melenggang pergi mendekati meja yang penuh dengan makanan yang belum disajikan diatas meja ruang makan, meninggalkan Nina yang paham dengan maksud kepala pelayan muda tersebut.
Nina mendekati meja tersebut, "Ini semua di taruh di meja makan sana, kak Maya?"
Nina menunjuk meja makan besar nan luas yang ada di ruangan sebelah. Ia mencoba membantu karena ini hari pertamanya bekerja dan Maya menerima dengan menganggukkan kepala.
"Aku bawa kesana kak!" ucap Nina hanya memberi laporan kepada Maya saat wanita muda itu hanya melirik Nina yang berlari menuju ruang makan.
Maya heran dengan semangat gadis muda tersebut. Tingkahnya yang menggemaskan hampir membuat dirinya menelan habis tubuh Nina. Saking gemasnya.
Di ruang makan.
'Waw, ruang makan saja harus sebesar ini. Kursinya banyak sekali, apalagi menu makanan ini. Ruang makan ku saja tidak ada setengah dari tempat ini'
Nina menaruh mangkuk berisi sup diatas meja namun matanya liar mengagumi setiap pahatan yang ruang makan ini tampilkan. Tentu saja ini kesempatan Nina untuk mengagumi semuanya. Jarang-jarang bukan!.
Tubuhnya terpaku sejenak mengagumi semuanya, sebelum ia kembali melanjutkan pekerjaan.
Bruk
Nina menabrak seseorang saat matanya tidak melihat kearah jalan. Ia masih sibuk mengagumi. Dia menjadi sangat ceroboh.
Kepala Nina langsung menunduk takut, "Maafkan saya, Tuan. Saya mohon, maafkan saya"
"Lain kali hati-hatiii bagaimana kalau aku jatuh tadi?" omel pria bertubuh tinggi itu dengan mengusap-usap pakaiannya, seakan ada noda yang menempel disana.
Abian bin Abrizal Fattah Darius, dia merupakan putra ke 5 keluarga Darius. Rupanya hari ini Bian memutuskan untuk pulang lebih cepat, karena putra ketiga keluarga Darius akan pulang dari Arab.
Bian memang akan berperilaku kasar jika seseorang melakukan kesalahan. Tapi percayalah jika Bian ini anaknya humoris dan sangat manja, jika sudah kenal.
Kembali ke Nina.
"Maafkan saya"
Wajah Nina menunduk kebawah. Ia sama sekali tidak ada keberanian untuk memperlihatkan wajahnya, membuat pria itu merasa curiga.
"Heii. Sepertinya aku tidak pernah melihatmu bekerja di tempat ini. Kau siapa?" Bian mencoba mengintip wajah Nina yang semakin menunduk takut jika wajahnya dilihat Bian.
"Heii aku tanya"
"Sa-saya pe-pekerja baru, Tuan" cicit Nina masih dengan keadaan menunduk, membuat Bian menghela nafasnya kesal.
"Biasanya orang yang menunduk itu dia ketahuan basah melakukan kesalahan. Kau tidak salah, mungkin aku yang tidak hati-hati"
__ADS_1
"Tidak Tuan"
Seketika Nina mengangkat wajahnya melihat wajah Bian yang menjauh saat wajah keduanya hampir bertabrakan. Nina tidak mau membuat Tuan nya merasa bersalah.
Dari itu Bian mengetahui wajah cantik Nina. Memang cantik dan imut, pikirnya.
"Begini kan enak" Bian menyungging melihat Nina yang terlihat malu. "Siapa namamu?"
"Nin-nina"
"Namaku Abian, putra ke-lima keluarga Darius. Aku memang tidak setampan para kakak-kakak ku tapi aku pandai mencuri hati!"
Bian mengedipkan sebelah matanya saat mata Nina melihatnya dengan tatapan heran lagi membingungkan. Gadis ini hanya tersenyum kecut.
Nina tidak tertarik sama sekali dengan rayuan Bian setelah ia disakiti oleh mantan kekasihnya. Menurutnya semua pria sama saja dan dia tidak suka.
"Sa-saya permisi dulu, Tuan"
"Nin----"
Bian hampir meraih tangan Nina yang sudah berlari pergi meninggalkan dia. Bia hanya menggeleng.
________
13:00
Nina, Maya dan beberapa pekerja lainnya sudah menunggu dengan berdiri di sepanjang meja makan. Mereka akan langsung siap jika atasan memberi perintah. Sekaligus,
"Ini kesempatan mu untuk menghafal anggota keluarga Darius" bisik Maya dibalas senyuman kecut dari gadis muda disebelahnya.
Nina begitu tidak bersemangat untuk menghafal nama mereka. Waktu disekolah saat ia diberi tugas hafalan saja nilainya 3, bagaimana dia akan mudah menghafalnya?
Beberapa menit kemudian datanglah seorang pria setengah baya memiliki rambut hitam campur putih. Wajahnya yang masih gagah namun dagu tertutup bulu tebal. Pria itu berjalan membawa kewibawaan menuju kursi tunggal kekuasaannya. Maya segera berbisik.
"Beliau itu adalah Tuan besar Abrizal Fattah Darius"
"Ohhh" pekik Nina mengangguk.
Disusul oleh seorang wanita berpenampilan muslim Indo, memakai jilbab serta gamis hitam panjang berbahan sutra dengan bordir tebal bunga di area dada. Sangat mewah dan begitu anggun.
"Dia Nyonya besar Zelofia Hasna Darius"
Lagi-lagi Nina mengangguk seraya mata mengikuti kemana wanita itu duduk. Intinya Nyonya besar itu duduk didekat suaminya.
Datanglah lagi. Sepertinya ini satu keluarga, terdiri dari suami, istri, dan juga anak perempuan mereka. Sang ayah menggendong putrinya di dada seraya ibunya menggoda dengan menggelitiki tubuh putrinya dari belakang. Sementara kakek dan nenek mereka terlihat tersenyum. Memang keluarga yang bahagia.
"Yang duduk didekat Tuan besar Abrizal itu Tuan Asad bin Abrizal Fattah Darius, dan di sebelahnya itu sang istri, Helena Anandita Darius dan yang ada dipangkuan Tuan Asad itu putrinya bernama Neha Anandita binti Asad Darius" Maya masih membisik.
__ADS_1
"Kapan ini akan berakhir? Aku merasa pusing karena banyak menghafal" Nina mengerucutkan bibirnya kesal dan Maya segera menempelkan jari telunjuknya di bibirnya, memintanya untuk diam.
Lanjut, sepertinya satu pasangan ini agak kurang dapet feel-nya. Mereka terlihat dingin memasuki ruang makan, dimana sang suami berjalan duluan dan sang istri menyusul dibelakang.
"Mereka Tuan Adnan, putra kedua Tuan besar Abrizal. Dan yang duduk disampingnya itu Nyonya Bella"
"Apa mereka sedang marahan?" Nina tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya karena perilaku mereka tidak seperti seorang pasangan. Namun Maya hanya menaikan bahunya tidak peduli.
Lanjut kembali. Datanglah tiga pria dan satu gadis. Gadis itu tengah bersenda gurau dengan kedua kakak laki-laki nya sementara satu pria yang baru saja kembali dari Arab itu hanya diam mengikuti jalan.
"Yang duduk disebelah kiri Nyonya Zelofia itu Tuan Ankazain. Dia seorang duda. Jika bisa, kau menjauh saja darinya"
Mata Nina melihat pria yang disebutkan Maya. Pria itu begitu tampan dari perilaku dingin yang ia tampilkan. Yah sangat disayangkan pria itu memiliki gelar duda.
"Kenapa aku harus menjauhinya?"
Maya tidak memberi jawaban, "Dan yang duduk di kiri Tuan Ankazain itu adalah Tuan Alzam. Dia baik dan ramah juga. Yang duduk disebelah kiri Tuan Alzam itu Tuan muda Bian"
'Oh tadi itu buaya keluarga Darius toh' maki Nina dalam hatinya.
"Sebelah kiri Tuan Bian, itu Nona Ayasya. Anak bungsu. Dia masih sekolah SMA kelas 3"
"Seumuran denganku" pekik Nina tidak menyangka. Namun Maya tidak bereaksi apa-apa.
Akhirnya Maya selesai memperkenalkan anggota keluarga Darius kepada pekerja baru di kediaman ini. Ini merupakan sebuah kebiasaan untuk Maya, bertugas memperkenalkan mereka.
Para anggota keluarga Darius belum memulai menyantap makan siang mereka. Biasanya mereka akan menggunakan meja makan untuk saling mengobrol dan lebih dekat sebelum makan. Mata teduh Nyonya Zelofia melihat kearah gadis memakai dress yang berbeda dari para pekerjanya.
"Putri Pak Fulan Zulaidi"
Panggil Nyonya Zelofia membuat Nina mengangkat pelan kepalanya melihat wajah wanita setengah baya tersebut.
Dan, para mata seluruh anggota tertuju kepada Nina. Rasanya ia ingin pingsan saat melihat mata tajam mereka yang mampu menusuk sampai ke lerung jiwa. Nina menelan ludahnya kasar.
"Sa-saya Nyo-nyonya?"
"Iya, perkenalan dirimu" pinta Nyonya Zelofia dengan penuh kelembutan.
Kaki Nina maju perlahan, menarik perhatian dua pria yang duduk diantara Aya dan Zain. Sudut bibir Alzam menyungging kecil, begitu juga dengan Bian. Mereka terlihat tertarik menunggu perkenalan Nina.
"Sa-saya Aynina Munada Shofa. Sa-saya pe-pekerja baru"
"Niceee" pria yang duduk diantara Aya dan Alzam itu memuji keterampilan buruk Nina dalam memperkenalkan diri.
To be continued
Jangan lupa tinggalkan jejak bebsss😘
__ADS_1