Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Berjanggut Tebal


__ADS_3

‘Menantu yang diagung-agungkan? Apa maksudnya, Tuan Zain?’ monolog Nina masih mencerna sindiran tersebut. “Yang bilang itu siapa, bu?”


“Siapa lagi kalau bukan ibu kammmu!! Kayaknya ibu kamu itu bangga banget ya nikahin anak gadisnya yang belum genap 20 tahun” sindir Ibu Astutik kembali membuang muka.


Nina hanya tersenyum, “Mungkin dalam pikiran ibu! Lebih baik seperti itu daripada pacaran. Jadi, apapun yang dilakukan itu halal bukan haram lagi”


Ibu Astutik merasa terkejut atas keberanian gadis ini dalam menanggapinya, “Kalau aku sih, mending sekolah dulu yang tinggi!! Apalagi nikahnya sama duda, walau kaya tetep aja duda... nggak ori ups”


Nina akhirnya membuang nafas lelah juga. Percuma juga menghadapi wanita seperti itu, hanya akan darah tinggi.


“Ya udah ibu… Nina mau pulang dulu. Udah maghrib, kata orang tua dulu, banyak setan” kata Nina sedikit menyindir, “Oh iya, mba Rea gimana bu? Udah dapet calon suami? Padahal udah sekolah tinggi-tinggi loh… terus, umurnya juga udah banyak. Takutnya, keduluan sama anak 2000-an”


Skak, mulut Astutik langsung membisu. Wajahnya yang memerah dan matanya yang memercikkan lahar amarah. Nina memang menebak tepat di wajahnya! Benar-benar memalukan.


“Saya permisi dulu, bu” Nina segera menyeret Artur adiknya pergi dari teras depan rumah mak lampir itu sebelum dia menculik dan mencabik-cabik dirinya.


“Kurang ajar!!! Awas saja dia. Berani sekali menantang madam Astutik” Astutik meremat kedua tangannya kesal. “REAAAA CEPAT MENIKAH SANA!!”


________


Setelah dari rumah Nina, Zain memilih kembali ke kantor untuk meneruskan pekerjaannya. Ia kembali disibukkan dengan berkas dan tidak jauh dari meeting perusahaan. Hampir 5 jam Zain menghabiskan seluruh waktunya di sana.


Kini, pria itu pulang ke rumah dengan perasaan lelah saja. Jasnya sudah tergeletak diatas lantai dan tubuhnya terjatuh diatas ranjang, menatap langit-langit plafon kamarnya.


Matanya yang sebelumnya memejam kini terbuka melihat kearah sofa sana yang kosong tanpa ada gadis seperti biasa. Hanya ada buku-buku kuliah yang masih kosong tanpa ternoda.


Ada rasa berbeda saat tidak mendapati Nina bersamanya. Biasanya, gadis itu akan terlihat duduk menulis-nulis atau tidur mendengkur mengusik telinga.


“Apa yang terjadi denganku?” gelisah Zain bangkit dan segera masuk kedalam kamar mandi.


04:30


Setelah sholat subuh ini Zain melakukan rutinitasnya seperti biasa. Ia kembali meneruskan pekerjaan kantor diatas ranjang dan punggung bersandar.


Tiba-tiba tangannya mengulur seperti meraih sesuatu diatas nakas. Namun tidak ada apa-apa disana selain lampu tidur berwarna putih yang menyala.


Lagi-lagi, ia telah melewatkan kebiasaannya meminum kopi buatan Nina.


“Kopi, Senyuman” gumam Zain mengusap dagunya yang agak berjanggut tipis. Ia sedang malu dengan dirinya sendiri karena mengharapkan kopi buatan gadis itu.


Ia mencoba melupakan dan focus bekerja, namun tidak semudah itu tanpa kopinya. Ia pun turun dari ranjang dan keluar kamar.

__ADS_1


Setelah ia menuruni tangga. Ia tidak melihat ada pekerja pria lewat didepannya. Ia hanya melihat pekerja wanita yang menyapa tanpa balasan darinya.


Karena tidak ada pekerja pria, membuat Zain berjalan memasuki dapur hingga halaman belakang. Ia tidak mau berbicara dengan wanita, kecuali orang terdekat saja.


Memang menyusahkan mantan duda ini.


Karena tidak menemukan pekerja pria. Zain memutuskan untuk membuat kopinya sendiri. Para pekerja wanita yang melihat hanya membiarkan dan sedikit bergosip.


So what? Zain hanya ingin membuat kopinya sendiri.


“Menyusahkan sekali tanpa gadis itu!” monolog Zain mencari-cari kopi hitam yang entah ditaruh dimana.


Klontang


Secara tidak sengaja Zain menjatuhkan panci kosong. Hampir saja para pekerja turun tangan, namun pria ini segera mengangkat satu tangannya.


“Huft” Zain membuang nafas kesal dan meraihnya.


Rupanya suara nyaring itu telah memanggil salah satu anggota Darius. Ia datang saat mengira ada pekerja wanita yang membuat masalah.


“What are you doing, baby?”


Tap


“Astaga!!! Kak? Bukan pekerja wanita toh?” Bian menunjuk Zain dan pekerja wanita secara bergantian. “Aihh ku pikir pekerja wanita tadi, rupanya wanita jadi-jadian”


Ctak


Dahi Bian langsung mendapat sapaan dingin dari sendok yang Zain lempar. Tepat sasaran diarea otak kotornya.


“Aww” pekik Bian menemui kakaknya yang masih sibuk membuat kopi yang tidak jadi-jadi. “Apa yang kau lakukan pagi-pagi di dapur? Menggantikan pekerja wanita?”


“Are you blind/ apa kau buta?” jawab Zain menoleh melihat Bian yang hanya menyengir.


‘Sepertinya mood pria ini sedang tidak baik. Eh, mood nya kan memang selalu jelek’ monolog Bian menahan tawa.


“Ribet banget sihhhhh! Kan ada pekerja wanita kakak. Buat apa menyusahkan diri sendiri?” ucap Bian setelah melihat para pekerja dibuat nganggur.


“Pergi sana” usir Zain mendorong Bian yang memegangi meja bar.


Tiba-tiba Bian teringat sesuatu sebagai pengalihan, “Kata kak Helena, kau menginap di rumah Nina”

__ADS_1


“Dia mengusirku” jawab Zain mengingat kata-kata gadis itu yang menyakitkan.


Sebenarnya Nina tidak bermaksud mengusir, tapi memang pria ini saja yang mudah tersinggung.


“Are you sure”


“Sure” balas Zain dengan cepat dan singkat.


"Palingan kau membuat kesalahan. Jadi mereka dengan terpaksa mengusir dirimu” sela bunda Zelofia yang tiba-tiba datang entah darimana.


Bian yang mendengar langsung bertepuk tangan membenarkan, “Mungkin, kakak ini bersikap arogan dengan ibu Nina, karena tidak tahan mereka langsung mengusirnya. Atau mungkin, mereka suka bercanda tapi mengetahui kakak sangat dingin. Atau, ini yang lebih mengerikan… ibu Nina sudah lama tidak melihat kakak. Melihat wajah kakak yang semakin tua membuat Ibu Nina, srett “ Bian membentuk silang, “Langsung tidak suka”


Zelofia yang dengar langsung tertawa dan mengusap kepala Bian halus. Ia selalu terhibur dengan candaan putra ke-lima. Namun tetap itu hal yang buruk.


“Heiii jangan mengatakan itu” ucap Zelofia melihat Zain yang tidak terusik meneruskan kegiatannya, “Wajah Zain tampan, dia tidak terlalu tua untuk Nina. Hanya saja, bulu di dagunya mulai terlihat tebal”


Duarr


Pecah sudah gelegar tawa Bian memenuhi dapur ini. Perutnya serasa digelitiki oleh ribuat bulu di dagu Zain. Menggelikan!.


“Cukurlah kak” ucap Bian menahan tawa saat mendapati lirikan Zain mulai mematikan. “Kulit Nina akan memerah karena tertusuk janggut tebalmu itu atau kau akan dikira ayahnya nanti”


Karena kesal dikatai seperti itu, terlebih ibunya ini malah ikut menertawakan. Syukur saja kopinya sudah siap.


Tanpa basa-basi pamit, Zain segera melenggang pergi membiarkan mereka menghinanya.


“Shuttt nanti kakakmu marah!!”


“Iya bun” balas Bian menahan tawa dan berakhir pecah juga.


Namun pria itu tetap santai berjalan menaiki tangga. Satu tangannya ia masukan kedalam celana dan tangan lain meminum kopi. Terlihat cool.


Saat sudah sampai di dalam kamar, raut wajahnya berubah. Wajah yang tadinya datar dan biasa kini berganti mengurat marah.


“Berjanggut tebal? Ayahnya Aynina?” Zain yang kesal segera berkaca di depan cermin.


Memang, ada sedikit bulu yang mulai terlihat menghitam di area dagu. Hal itu dikarenakan Zain kurang memperhatikan pertumbuhan mereka hingga orang lain yang menyadarinya.


“Tua? Aku rasa tidak! Dia saja yang terlalu muda”


To be continued

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya ya🤗 itung-itung menmbah imun author untuk semangat melanjutkan bab demi bab😊


__ADS_2