Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Minta Dedek Bayi


__ADS_3

Mata Nina terbuka dengan sangat lebar merasakan pipi kirinya tersentuh oleh benda kenyal menggelikan. Tubuh nya kaku dan terasa sangat susah untuk di gerakan.


"Maaf semuanya!!! Tadi ada kucing lewat secara tiba-tiba" seru Alzam tidak mengetahui kejadian mengejutkan yang ada dibelakang.


Namun, tidak ada jawaban dari arah belakang.


Nina menelan ludahnya kaku, mencoba untuk melupakan itu, "Ne-neha minta kaca ini di buka... Ma-maaf karena mengganggu dirimu"


"Lain kali bilang!!!" tekan Zain dengan sorot mata yang tajam dan begitu lirih sampai hanya Nina yang mendengar itu.


Wajah Zain langsung menoleh kearah kiri menuju pohon-pohon dan tanah yang penuh dengan ladang. Perasaan Zain saat ini ialah, benci. Ia semakin membenci gadis yang ia nikahi dan ia cium secara tidak sengaja.


Jika bisa! Zain ingin mengiris bibirnya karena sudah menyentuh kulit Nina. Ia begitu membenci sentuhan ini. Rasanya hanya seperti api membakar bibirnya.


Nina kembali duduk disebelah Neha. Ia termenung merasakan sentuhan bibir Zain beberapa menit lalu.


Apa itu membuat Nina suka? No, Nina merasa setelah ini Zain akan semakin menjauh darinya! Dan itu membuat Nina ingin menangis.


_____


Mall


Mereka akhirnya sampai di pusat perbelanjaan terbesar. Banyak sekali orang-orang yang datang untuk memanjakan mata mereka dengan barang belanjaan.


Keluarga Darius tentu saja tidak akan kalah dari orang-orang disana, mereka akan memborong barang belanjaan untuk keperluan belajar.


Saat ini mereka ada di toko tas sering Aya borong, walau ia tidak selalu datang karena harus memesan tas branded dari luar. Aya suka mengoleksi tas pinggang yang modis.


Aya sibuk memilih tas wanita bersama dengan kedua kakaknya dan Nina dibiarkan mengurus Neha.


"Yang ini bagus gak sih, kak?" Aya mengambil tas yang menurutnya menarik dan ia perlihatkan kepada kedua kakaknya.


"Tentu saja bagus... bahannya juga terlihat mewah. Apapun itu cocok untuk adik kakak yang cantik ini" Alzam mengusap sayang kepala Adiknya.


"Menurutmu gimana, kak Zain?"


"Terserah"


Aya berdecak kesal dengan respon dingin pria ini. Oh astaga kenapa bunda meminta Zain untuk ikut mereka berbelanja. Ia sangat tidak dibutuhkan.


Kening Alzam menyerngit saat menyadari Zain ada didekatnya dan mengabaikan Nina. Seharusnya pria ini kan menemani sang istri.


Alzam hanya tidak suka jika Zain mengabaikan Nina.


"Kak... apa yang kakak lakukan disini? Temani Nina belanja. Dia kan juga akan membeli perlengkapan kampusnya..." bisik Alzam di telinga Zain.


Zain tersenyum miring, "Kenapa tidak kau saja? Aku lihat kau suka jika dengannya... temanilah dia sesukamu dan terserah kalian mau kemana. Aku tidak peduli"


"Kak Zain!!!" pekik Alzam mencengkeram kuat kerah kemeja Zain, membuat Aya dan Nina juga menoleh melihat kearah mereka.

__ADS_1


Alzam mencoba menahan amarahnya, "Dia istrimu... sudah kewajibanmu untuk menemaninya kemanapun dia pergi"


"Kak Zam... malu di lihat orang kak" Aya mencoba untuk melepas cengkeraman tangan Alzam karena sudah banyak orang yang melihat.


"Sampai kapanpun aku tidak menganggapnya sebagai istriku... kau bisa menggantikan diriku jika kau memang ingin menemaninya... well, aku tidak peduli sama sekali"


Deg


Nina mendengar perkataan Zain. Hatinya kembali sakit dan dadanya sesak sampai air matanya tumpah membasahi pipi. Zain begitu tega dengan Nina.


Nina mengusap air matanya dan berlutut menyamakan tingginya dengan Neha, "Neha... apa, Neha mau jalan-jalan?"


"Mau" antusias Neha mengangguk.


"Baik... kita akan jalan-jalan" kata Nina menahan tangisnya dan menggandeng Neha pergi dari sana.


Hanya saja, Nina tidak akan kuat jika mendengar hinaan ini dari mulut suaminya lagi.


Alzam semakin kuat mencengkeram kerah Zain saat melihat Nina pergi dari sana. "Sadarlah kak... secara tidak langsung kau telah berdosa karena melepas tanggung jawabmu"


"Memang!! Karena aku tidak menganggapnya sebagai istriku... terlebih, kenapa kau peduli dengannya? Kau suka dengannya kan?" Zain tersenyum miring.


Alzam menarik Zain semakin dekat dengan wajahnya, membuat pasang mata mereka saling tatap dingin.


"Iya... aku menyukainya sejak aku pertama bertemu dengannya. Jika aku boleh jujur, kau telah menghancurkan harapanku menjalin keluarga yang harmonis dengannya. Aku buat Nina meneruskan pendidikannya namun bunda meminta kalian untuk menikah, hanya karena omong kosong tak berguna. Aku mengikhlaskan Nina menikah denganmu karena Nina setuju akan hal itu... rupanya, gadis itu telah salah memilih keputusan hingga terjerat dalam hubungan yang ambigu denganmu"


"Lalu kenapa kau tidak menggagalkan pernikahan itu? Meracau di altar pernikahan dan mengatakan jika kau memiliki hubungan dengan gadis itu. Mungkin, kalian akan menikah saat itu juga"


"Kau----"


"Kak Zam jangan. Malu kak dilihat banyak orang" Aya langsung menggenggam kepalan tangan Alzam yang ingin menonjok wajah Zain. Banyak orang yang melihatnya.


Alzam membuang nafasnya dalam-dalam, "Aku peringatkan kepadamu... aku bersumpah akan mengambil Nina jika kau membuatnya menangis lagi... aku tidak memandang siapa dirimu, Ankazain Darius"


Alzam menekankan nama kakaknya lalu melenggang pergi. Sementara Aya membuang nafasnya lega.


"Kak"


"Kau ingin belanja lagi? Ayo... kakak akan temani. Tidak usah memikirkan semua itu. Anggap saja angin lalu" Zain merangkul bahu Aya untuk kembali memilih tas yang di inginkan.


Zain terlihat tenang merangkul bahu Aya.


Sementara Nina duduk di kursi yang ada di mall itu. Tatapannya nampak kosong kearah Neha yang sedang bermain mandi bola. Mungkin jika Neha di culik, ia tidak akan menyadari itu.


"Nina"


"Eh... Tuan Alzam" Nina menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk Alzam duduk didekatnya.


Setelah itu, Nina kembali diam. Namun Alzam tahu jika mood gadis ini sedang tidak baik.

__ADS_1


"Aku pernah mengatakan kepadamu untuk menghubungiku jika kak Zain membuatmu menangis kan? Apa selama di villa dia membuatmu menangis?" tanya Alzam dengan hati-hati.


Alzam tahu Zain tidak menyukai Nina secara blak-blakan, membuat Alzam penasaran dengan kegiatan mereka selama di villa. Takutnya Nina benar-benar disakiti.


"Aku sudah sering mendengar pertanyaan itu. Aku lelah jika harus menjawabnya"


"Tapi kan aku belum dengar" Alzam mecoba memancing kembali.


Nina menggeleng. Ia tidak akan membiarkan orang lain tahu mengenai perilaku buruk Zain waktu itu. Cukup dia saja yang tahu.


"Nina, kau bisa cerita jika ingin----"


"Paman" panggil Neha langsung berlari meloncat ke dada lebar Alzam tanpa takut terjatuh sama sekali.


"Oh sayang hati-hati... kau bisa jatuh tadi" Alzam mengusap lembut rambut Neha.


"Paman... aku sangat lelah bermain bola..." antusias Neha mengadu kepada pamannya.


"Oh iya? Apa se-seru itu sampai Neha tidak mengajak paman bermain?" Alzam menoel dagu imut keponakannya.


Neha menyengir dan Alzam semakin gemas hingga mencium kedua pipinya.


"Kapan-kapan aku akan mengajak kak Nina dan paman Alzam untuk bermain mandi bola. Seruuuuu sekali"


"Ok... kak Nina mau" Nina mengangguk semangat menerima ajakannya.


"Paman... Neha haus"


"Yes baby, Kita beli minum sekarang..." Alzam menggendong kuat Neha di dadanya dan berjalan pergi dan Nina mengikuti dari belakang.


Nina dan Alzam berdiri didepan barista yang sedang meracik minuman lezat yang sudah Neha inginkan.


Tiba-tiba dari arah samping ada ibu-ibu yang membawa bayi kecil di gendongannya. Jadi posisi Neha yang di gendong Alzam sama dengan posisi bayi itu.


Tangan Neha mengulur menyentuh wajah bayi itu dan si ibu tersadar. "Kau suka dengannya?"


Neha mengangguk, "Neha juga ingin adik kecil"


Ibu itu, Nina dan Alzam terhibur dengan permintaan dari gadis kecil sepertinya. Sungguh menggemaskan hingga Alzam mencubit pipinya pelan.


"Kau akan punya adik sayang. Tenang saja!!!" ibu-ibu itu menjawab dengan lembut, menambah semangat Neha.


"Mommy bilang orang yang sudah menikah akan punya dedek. Aku akan punya dedek kan... kau akan memberikanku dedek, kan?" pinta Neha dengan mata berharap kepada Nina.


Deg


To be continued


Maaf ya bebsss maaf banget!!! untuk hari ini aku cuma bisa up 1 bab🙏 aku udah usahain up tapi ada pekerjaan yang gak bisa aku tunda 🙏

__ADS_1


__ADS_2