![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Mata Nina masih melekat dengan pawakan tubuh kekar besar berurat itu. Rasanya bulu kuduk gadis ini merinding dengan kedua tangannya yang meremat gemas ujung dress-nya.
“Aku ingin menyentuhnya”
Srett
Wajah Nina tertutup kemeja bau milik Zain yang dilempar kearahnya. Zain tahu gadis ini sedang mencuri-curi pandang.
“Jangan banyak bicara dan lakukan tugasmu. Aku sudah merasa tidak nyaman karena perbannya belum diganti”
“Iyaaa”
Nina menepis kemeja itu dan kembali ke belakang Zain. Ia pun mulai melepas perban lama tersebut.
Tiba-tiba Nina teringat sesuatu, “Hem bagaimana kau bisa tahu jika aku diculik oleh Devan, Tuan?”
“Mudah saja bagiku menemukan seseorang. Jadi jangan berniat kabur membawa jantung dan juga paru-paruku”
Deg
Kurang ajar!, pria ini masih saja mengingat jantung dan paru-parunya. Sudah begitu keras Nina membuatnya lupa, tapi ternyata sia-sia.
“Aku tidak berniat ingin membawa kabur jantungmu. Jika kau ingin jantungmu tetap ada, maka kau juga harus membiarkanku hidup kan! Dengan begitu aku bisa menjaganya dengan baik” kata Nina menelan liurnya berkali-kali.
“Iya. untuk sementara waktu aku akan membiarkan jantung itu tetap disana. Jika aku sudah kekurangan uang, maka aku akan mengambil jantungnya dan ku jual” kata Zain menelan puas kata-katanya.
Bibir Nina bergetar, “Apa bisnismu akan bangkrut? Aku rasa bisnis mu itu terlalu besar dan pengaruhnya ada dimana-mana. Sangat susah untuk menurunkannya”
“Semakin berjaya bisnisku, semakin banyak pula pengganggu”
“Jika kita bersikap baik kepada orang pasti orang itu juga akan baik kepada kita” sindir Nina kepada Zain yang sering bersikap jahat.
“Kau sedang menyindirku sekarang?” mata Zain menajam dan Nina dapat melihatnya dari pantulan cermin didepannya. Sangat mengerikan.
“Ehem. Apa anda merasa tersinggung?” lembut Nina.
“Tidak!” Zain tidak memperlihatkan mata mengerikan itu lagi, membiarkan Nina bernafas untuk kali ini. “Dalam urusan bisnis hanya ada kalimat pepatah yang diteladani, ‘Air susu dibalas dengan air tuba’. Untuk membuat bisnismu tetap diatas angin, kau harus menyingkirkan mereka yang menghalangi mu, walau mereka orang yang baik”
“Apa semua pengusaha melakukan itu?”
“Tidak. Aku tidak melakukannya” kata Zain penuh percaya diri dan sangat sombong.
Nina hanya diam membiarkan suaminya bersikap sombong. Biarlah, sudah menjadi kebiasaan untuk pria itu.
“Selesai” Nina sudah selesai mengganti perban Zain dan harus menata kembali kotak p3k.
__ADS_1
“Ambilkan kemeja yang ada di almari” titah Zain dan Nina langsung mengambilkan.
Nina membuka lebar almari pakaian Zain. Disana ia melihat banyak sekali kemeja berkelas.
“Yang i---” tangan Nina tertahan batal mengambil kemeja Zain saat sesuatu terlintas begitu saja. “Aku boleh menyentuhnya?”
“Jika tidak kau sentuh lalu bagaimana kemeja itu akan datang padaku? Terbang??” omel Zain membuat Nina tersenyum.
Dengan antisuas Nina memilihkan pakaian untuk Zain kenakan. Kali ini semangatnya diatas 90%.
“Kemeja mana yang akan kau pakai?”
“Yang it---” Zain tidak jadi memilih. Ia melihat ada kemeja yang sempat di cuci oleh Nina. “Kemeja berwarna navy dan hitam digaris kerahnya”
“Ok” saking semangatnya Nina memberikan satu jempol untuk Zain lalu ia ambil dan diberikan kepada sang pemilik.
______
Pagi ini Zain melihat gadis itu kembali membuatkan secangkir kopi untuknya dan senyuman terlukis manis namun aneh di mata Zain, padahal kakinya kan masih terluka namun gadis itu seakan tidak merasakan apa-apa. Setelah itu ia tidak melihatnyaa lagi.
Sementara Zelofia sudah membawa banyak pakaian milik suaminya dan berniat ingin mencuci. Wanita ini selalu mencuci pagi-pagi sekali karena para pekerja akan sungkan jika mencuci bersama.
Namun saat Zelofia ingin masuk kedalam ruangan itu, ia melihat seorang gadis muda dengan kaki yang masih berbalut perban sedang mencuci pakaian milik suaminya.
Rupanya gadis itu telah mendahului dirinya. Dia adalah Aynina. Dengan penuh semangat menggali surga dari sang suami.
“Eh bun...” Nina segera berdiri mendatangi mertuanya. “Nina pikir bunda akan mencuci agak siang”
“Bunda selalu mencuci pagi-pagi sekali” Zelofia mengusap sayang kepala Nina, “Kakimu kan masih terluka”
“Tidak bunda! Nina sudah bisa berjalan jadi tandanya sudah sembuh” Nina tersenyum penuh keyakinan.
“Kau tidak kuliah?” tanya Zelofia berjalan memasuki kamar mandi.
“Tidak bun… kuliah Nina sampai kamis saja”
Keduanya mulai mencuci pakaian milik suaminya.
Setelah mencuci pakaian dan menjemurnya Nina berjongkok didepan tanaman tomat yang belum berbuah dan kosong tinggal daun-daunnya saja.
“Non Nina”
“Jangan berkata seperti itu kak! Aku merasa malu jika kau memanggilku seperti itu” Nina segera menampakan dirinya saat Maya datang membawa keranjang sayuran kosong.
“Kau kan sudah menjadi Nona keluarga ini” gurau Maya menggeser Nina.
__ADS_1
“Tapi aku tetaplah orng biasa, kak” bantah Nina mengekori Maya kemanapun gadis ini pergi. Ia pun teringat sesuatu, “Kak waktu aku datang kesini, tomat-tomat disini sanggat banyak dan merah-merah. Kenapa sekarang menjadi gundul?”
Maya segera menoleh kearah Nina, “Kenapa? kau mau makan tomat?”
Nina mengangguk, “Tuan Zain bilang jika aku harus banyak makan tomat, alpukat, kiwi. Aku kekurangan vitamin K”
“Oh pantas saja kau memiliki ruam di kulit” sela pria yang pernah ia lihat. Namun bedanya waktu itu dia tampak dingin tapi sekarang agak hangat.
“Tuan Ebil bagaimana kau bisa tahu aku pernah memiliki ruam di kulit?” tanya Nina begitu penasaran.
“Jangan panggil aku Tuan Ebil. Aku harus memanggilmu Nona! Terlebih jika ada yang mendengar akan menimbulkan kesalahpahaman” Ebil membantu Maya memetic kacang panjang ke dalam keranjang sayuran.
“Baiklah, kak Ebil saja! Seperti aku memanggil kak Maya”
Ebil tertawa, “Baiklah terserah anda saja”
Pria berjanggut ini kembali membantu Maya memetic kacang panjang. Nina yang melihat segera menyusul ingin membantu.
“Kak Ebil… ngomong-ngomong tentang ruam tadi. Kok kak Ebil tahu Nina pernah punya ruam?”
“Tuan Zain pernah menyinggungnya” jujur Ebil membuat Nina membulatkan mata.
“Menyinggung bagaimana?”
“Tuan Zain bilang jika kau memiliki ruam dan beliau takut kau menularinya. Beliau bercerita seperti itu kepadaku” kata Ebil apa adanya.
Nina tidak habis pikir suaminya itu benar-benar jahat. Ia sudah sempat berpikir jika Zain membeli obat karena ingin dirinya cepat sembuh. Namun ternyata takut menular.
“EBIL!!”
Teriak Zain dari ambang pintu halaman belakang. Pria ini sudah siap dengan tuxedo hitamnya dan akan berangkat kerja walau luka di punggung belum sempuh sepenuhnya.
Ebil terkejut, “Saya pikir karena anda tertembak. Kantor libur”
“Tidak ada libur! CEPAT PANASKAN MOBILNYA”
Ebil langsung berlari terbirit-birit sebelum membuat Zain semakin murka.
Setelah itu Zain melihat wajah Nina. Ia sudah bersiap untuk tersenyum karena pagi ini Nina terus memberikan senyuman untuknya, tidak dipungkiri saat ini juga kan.
Namun Zain salah besar. Gadis itu langsung membuang muka membalikan badan.
"Apa aku diabaikan?"
...To be continued...
__ADS_1
...Dimohon untuk meninggalkan jejak dengan bentuk komen ya bebs🙏 🤗 minimanl 1 aja komen setiap bab atau kalau nggak ya setiap aku up minimal ada yang komen😁 Kalau ada yang komen kan ini aku buat Story nya nambah semangat!! dukungan kalian adalah hadiah+semangat untuk ku😘 jika berkenan mengabulkan permintaan author 🥹🙏 aku ucapin terimakasih 🙏...