Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Dikerjai Bocil


__ADS_3

"Berapa banyak polisi yang mengejar ku sampai pria itu dan kau nampak tenang? Jika ada kesempatan, aku akan mengambil mu lagi. Aku tidak bisa jauh darimu barang sedetik pun"


Setelah mengatakan itu pria memakai caping itu melenggang pergi entah kemana. Yang jelas bukan untuk bertemu mereka dalam waktu dekat.


_________


19:00


Malam ini setelah Nina mengantar ibunya untuk melaksanakan sholat isya, ia menemui Zain yang terlihat sibuk dengan layar komputer mengerjakan laporan kerjanya. Sesekali Zain juga menelpon seseorang untuk menghandle tugasnya di kantor.


Pria ini nampak sibuk hingga tidak ada kesempatan Nina untuk bicara. Sedari tadi gadis ini mondar-mandir terus memperhatikan Zain dan jam secara bergantian.


"Apa yang kau lakukan dengan mengintai diriku?" tanya Zain tanpa melihat kearah Nina yang sudah menyembulkan kepalanya keluar pintu.


Karena sudah ketahuan, Nina pun segera keluar dan menemui pria itu.


"Ini sudah jam 7 malam, kau tidak ada niatan untuk pulang ke rumah?" lirih Nina mencoba bertanya saat Zain menutup komputernya.


Zain menghela nafasnya dalam-dalam, "Aku akan tinggal disini"


Nina membulatkan mata terkejut.


"Kenapa tiba-tiba ingin menginap? Waktu itu kau bilang tidak ada niatan ingin menginap di rumah ini. Kenapa sekarang malah berubah pikiran?" bantah Nina kurang terima.


"Bunda yang menyuruhnya. Bunda memintaku untuk menemanimu dan aku menerima, walau sebenarnya aku kurang setuju" kata Zain mencoba berbohong. Ia hanya alasan saja.


"Terus... kau mau tidur dimana?"


"Apa itu penting? Kau memiliki kamar yang menyatu dengan alam persawahan dan udara siang terasa menyejukkan. Aku akan tidur disana" kata Zain memutuskannya sepihak.


'Kenapa tiba-tiba dia seperti ini? Kenapa pria sekaya tuan Zain ini mau menginap dan tidur di kasur tanpa busa seperti kamarku? Astaga!! Apa perusahaan Tuan Zain sudah memperlihatkan tanda-tanda bangkrut? Lalu, Tuan Zain akan menjual organ ku?' gelisah Nina dalam hati serta menggigit jari telunjuknya.


Entah pikiran dari mana sampai Nina memikirkan hal tersebut, padahal tidak ada niatan Zain untuk menjual organ-organ milik gadis ini.


Nina mendekat hingga duduk disebelahnya, "Tuan, jika aku boleh bertanya apa perusahaan mu benar-benar mengalami kebangkrutan?"


Zain menaikan satu alisnya, "Itu sebuah doa untukku ya?"


"Bukan, hanya saja aku takut jika perusahaan mu benar-benar bangkrut dan kau jadi menjual organ-organ di tubuhku" lirih Nina dengan ribuan ketakutan.


Zain semakin menaikan satu alisnya. Ia seperti memikirkan sebuah niat untuk mengerjai gadis polos didepannya.

__ADS_1


Zain menghela nafas panjang serta memijat pelipis matanya seperti orang yang banyak pikiran, "Kau benar... perusahaan ku mengalami kebangkrutan sementara ayah dan kakakku tidak ada yang mau membantu. Dari itu aku tidak pulang dan memilih tinggal disini, terlebih aku ingin menjual jantungmu untuk menutup kekurangan di perusahaan ku. Lumayan kan?"


Glek


Nina benar-benar menelan ludahnya dengan kasar. Tangannya mulai gemetar memegang dadanya, takutnya pria ini langsung menusuk dan menarik jantungnya.


"Tidak boleh!!!" pekik Nina saat Zain tidak melakukan apa-apa.


Padahal saat ini Zain hanya diam tapi Nina serasa melihat pria ini melompat ke tubuhnya dan merobek dadanya. Sangat mengerikan!.


"Ibuuuuu"


Teriak Nina berlari menemui wanita setengah baya yang ada di dalam kamar, membuat Zain yang melihat menjadi tertawa terbahak-bahak.


"Polos sekali gadis itu. Kenapa aku harus mengambil organ untuk ku jual? Jika aku jual pun harganya tidak akan tinggi dan tidak bisa menaikan sahamku" kata Zain tertawa ria.


"CK CK CK" decak seorang bocah laki-laki yang baru melihat kakaknya dikerjai sampai berteriak histeris.


Artur tadi langsung berlari keluar kamarnya saat mendengar teriakan Nina lalu melihat pria itu adalah penyebabnya. Namun, dia masih bisa tertawa?


"Tuan kaya bermuka datar" panggil Artur dengan pose menantang kearah Zain yang langsung menatap wajah polos anak itu.


Zain tidak menjawab. Ia tidak merasa memiliki nama seperti itu, jadi memilih kembali bekerja.


Zain melihat kekanan dan kekiri lalu mendaratkan jari telunjuknya di dadanya sendiri, "Kau berbicara denganku?"


"Heiii apa kau pikir aku sedang berbicara dengan roh halus?" maki Artur begitu berani bahkan kedua tangannya berkacak pinggang dan dagunya keatas memperlihatkan ketangguhan.


"Kau menghinaku?"


"Heiii aku tidak menghinamu!! Tapi jika kau tersinggung berarti kau menyadari jika roh halus"


"Wah" Zain terkikik ngeri mendapati ada anak laki-laki ingusan yang berani melawannya. Sejauh ini hanya Neha yang berani. "Kenapa kau mengganggu ku?"


"Kau yang telah mengganggu kakak tercintaku Tuan kaya bermuka datar"


"Tuan kaya bermuka datar?" tanya Zain mengulang kalimat tersebut dengan wajah datar, membenarkan julukan anak itu.


"Iya, wajahmu datar tapi kau memiliki banyak uang. Jangan banyak bertanya-tanya karena aku sedang marah saat ini" Artur masih berkacak pinggang dan menunjuk-nunjuk wajah Zain dengan jari telunjuknya.


"Oh"

__ADS_1


"Heiiii" sentak Artur karena Zain meremehkannya saat ini. "Jangan kau kerjai kakakku lagi atau kau akan mendapat hukumannya nanti. Lihat saja"


Setelah itu Artur melenggang pergi dengan wajah angkuh seangkuh Zain saat ini. Namun pria ini tidak membalas apa-apa dan memilih diam membiarkan.


Beberapa menit berlalu Zain merasa kerongkongan nya kering karena tadi kebanyakan berbicara dengan koleganya di telpon.


Ia pun memutuskan untuk ke dapur mengambil air. Disana ada teko dan gelas. Ia pun segera menuangkan airnya kedalam gelas.


Tanpa berpikir panjang Zain meminum air tersebut, namun tak lama ada yang aneh dengan air yang ada di mulutnya. Seperti ada yang gerak-gerak.


"Hmmp" Zain serasa ingin membuang air itu. Kepalanya clingak-clinguk mencari wadah, namun hanya ada gelas di tangannya.


Byur


Zain mengembalikan air dari mulutnya kedalam gelas. Dan rupanya seekor cicak yang berusaha mengerayap keluar dari sana.


"Aarrkk"


Pyar


Gelas yang ada di tangan Zain terjatuh dan pecah berserakan diatas lantai. Sementara pria itu segera berlari kedalam kamar mandi dan muntah-muntah.


"Hahahha emang enak!!" pekik Artur tertawa setelah puas mengerjai kakak iparnya.


"Artur!!!" pekik Nina yang baru saja datang setelah mendengar pecahan beling. "Tuan Zain..."


Nina berlari menemui Zain yang mengalami muntah hebat. Pria itu masih terbayang bagaimana cicak itu bergerak didalam rongga mulutnya.


"Tuan anda kenapa?"


"Cic---- oekkk"


Nina yang khawatir segera memijat leher bagian belakangnya. Gadis ini tidak ada rasa jijik melihat isi lambung Zain yang keluar.


Hingga lambung Zain sudah kosong saat ini, hanya lemas yang ia alami. Tubuhnya terduduk dengan mata tertutup dan nafas yang terengah-engah.


"Tuan, istirahat dulu di----"


"Oekkk"


"Ayo aku akan mengantarmu istirahat" Nina mencoba memapah Zain dan melewati Artur yang ketakutan, "Jangan lari, kakak akan menghukum dirimu"

__ADS_1


Artur hanya manyun dengan rasa penyesalan. Nina pun pergi membawa pria lemas ini.


__ADS_2