Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Basah-basahan


__ADS_3

Keduanya malah saling pandang dan berakhir gugup. Nina yang mendengar Zain ingin berbicara memilih diam, dan begitu juga dengan Zain. Keduanya pun sama-sama diam.


Setelah beberapa menit di perjalanan, Nina menyadari telah melewati jalanan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Sedari tadi mobil mereka melewati hutan dan jauh dari perkotaan.


“Kita akan kemana?” tanya Nina penasaran. Tiba-tiba sesuatu terlintas di otak begitu saja, “Astaga!! Kau akan me-me-mengambil jantungku?”


Tolong!!


Tolong aku!!


Nina malah berteriak dengan keras serta berusaha membuka pintu mobil yang susah dibuka. Sementara Zain masih nampak santai menyetir mobilnya. Ia sama sekali tidak terusik dengan gadis ini.


Lama-lama Nina menurunkan nada suaranya kala melihat sesuatu didepan. Tidak ada jalan dan hanya hutan.


“Kau akan membunuh dan mengambil jantungku?”


“Tidak ada niat” Zain menghentikan mobilnya, “Turun”


Beberapa kali Nina mencoba mengeluarkan kakinya namun ia memasukannya lagi. Perasaannya tidak enak.


“Turunlah atau kau mau aku menggendong mu?” Zain sudah bersiap membopong gadis itu. Namun Nina sudah lebih dulu melompat keluar.


Dengan pelan Nina mengikuti Zain dari belakang. Beberapa kali mata Nina memperhatikan kawasan hutan yang minim pencahayaan yang terlihat begitu sunyi dan sepi.


“Tuan, kita---”


Ucap Nina terpotong kala melihat guyuran air jatuh dari ketinggian beberapa meter menuju genangan air yang begitu jernih serta batu-batuan yang tersusun epic.


“Air terjun?” pekik Nina membolakan kedua matanya. Seketika kedua ujung bibir gadis ini tertarik keatas.


Nina berlari kecil mendekati air terjun dan Zain segera melepas jasnya sebagai alas duduk diatas batu-batuan yang kecil.


“Aynina” panggil Zain dan gadis itu menoleh, “Duduklah, aku ingin bicara”


“Tapi aku ingin masuk kedalam air”


“Nanti”


Bibir Nina seketika manyun dan helaan nafas sesal ia perlihatkan. Beberapa kali gadis ini membuang nafas lalu duduk disamping Zain, beralaskan kain yang sama.


Zain duduk dengan kedua kaki tertekuk keatas agak melebar dan kedua tangan bertaut diatas lutut, posisi keduanya sama, hanya saja kedua kaki Nina merapat.


“Aku membawamu kesini karena aku ngin berbicara! Dengan suasana berbeda akan membawa pikiran jauh lebih fresh dan lebih tenang. Benar kan?”


Nina mengangguk. Yah, ia akui memang merasa tenang saat ini.


“Kau tahu Aya hamil kan?”

__ADS_1


“Iya” lirih Nina berubah ekspresi wajah.


“Aya hamil anak dari pria yang sudah memiliki istri, dan pria itu adalah ayah dari Devan Aditama, pria yang berniat menyakitimu” kata Zain membuat Nina tercengang. “Lalu, pria tua itu enggan untuk menikahi Aya karena tuntutan yang ku berikan kepada Devan”


“Setelah itu?”


“Dia bersedia menikahi Aya jika aku juga bersedia mencabut tuntutan itu, dan dia memintaku untuk mengumumkan bahwa kejadian itu adalah kesalahpahaman. Selain itu aku juga diminta untuk mengeluarkan nama Devan dari daftar blokir setiap kampus di Indonesia”


Nina mengalihkan pandangannya. Ia menduga jika pria ini akan menerima tawaran Aditama. Yah, memangnya siapa dia? Keselamatannya tidak begitu berharga dibanding dengan Aya yang jelas-jelas adiknya.


“Kau sudah menerima semuanya kan? Jika kau sudah memutuskan untuk menerima syarat itu, kenapa kau masih membicarakannya denganku? Itu keputusanmu, dan Aya adalah adikmu. Namun, seharusnya kau bertanya dulu denganku sebelum menerimanya. Ini bukan tentang masa depan Aya saja, namun juga dengan masa depanku” kata Nina terdengar gemetar. Ia berulang kali mengusap air matanya.


“Aku belum menerimanya!” jujur Zain membuat gadis itu menoleh melihatnya. “Dari itu aku mengajakmu kesini untuk bertanya pendapatmu. Sebelum orang selesai berbicara, jangan semudah itu menyimpulkan"


Rupanya Nina salah menduga. Ia pikir Zain akan langsung menerimanya.


“Aku juga tidak akan memaksa dirimu untuk setuju. Pasti sulit hidup dengan bayang-bayang pria itu, terlebih dia belum ditemukan. kau akan semakin tersiksa jika Devan bisa leluasa kemana saja”


“Jika kau menolaknya. Apa anak Aya tidak akan memiliki Ayah?” tanya Nina.


“Siapa yang mau menikah dengan gadis yang sudah hamil! Anak itu akan menanggung beban orang tuanya. Mungkin, aku akan menitipkannya ke panti asuhan atau aku berikan kepada pasangan yang belum dikaruniai anak”


Nina teringat sesuatu, “Kak Adnan dan kak Bella belum dikaruniai anak”


“Kak Adnan pria yang keras. Dia tidak akan mau menerima bayi Aya” lirih Zain.


“Aku akan mempertimbangkannya!” kata Nina tersenyum kepada Zain yang segera melihat, “Aku akan mempertimbangkan syarat Tuan Aditama itu”


“Ayn, kau---”


“Tidak apa” Nina mengangguk. “Jika Devan melukaiku lagi, maka kau akan datang dan menolongku lagi”


Mata Nina berbinar seakan memohon untuk selalu menjaganya dan kepala pria itu mengangguk menerima. Nina begitu percaya dan merasa amat bahagia.


“Kalau begitu” Nina menjeda membuat Zain mengernyit tak paham, “Ayo kita lompat ke air!!”


Nina yang sudah melepas sepatu dan tasnya itu segera berlari riang menceburkan dirinya didalam air. Rupanya airnya agak dangkal, hanya sebatas lutut saja.


“Tuan Zain!!!” seru Nina melambai kearah pria yang masih setia dengan posisinya, “Ayo kemarilah!! Kau bilang akan menceburkan diri tadi. Apa kau tidak ingin merasakan rasa air ini? Sangat sejuk…”


Zain hanya focus melihat tawa gadis itu saja, “Bagaimana dia bisa tertawa setelah membicarakan hal yang serius!”


“Tuan!!!”


Gadis itu terus memanggil, membuat Zain yang mendengar merasa kesal. Tidak lama pria itu berjalan mendekat setelah melepas sepatunya.


“Jangan lama-lama atau---”

__ADS_1


Byurr


Zain langsung didorong Nina yang bosan dengan sikap dingin pria itu. Kedua tangan dimasing-masing saku memang nampak cool. Tapi, apa itu gaya orang yang sedang bersenang-senang didalam air?.


“Kau sudah basah sekarang” kata Nina sombong melihat Zain yang tercebur dengan posisi telentang.


Zain nampak menyedihkan terjungkal kedalam air yang dangkal, namun gadis ini tidak peduli dan kembali bersenang-senang.


“Sangat menyejukkan Tuan! Airnya tidak terlalu dingin dan juga bersih” seru Nina tertawa berlarian kebawah air terjun.


“Kau…” Zain bangkit menggendong Nina dan membawanya di tempat yang lumayan dalam.


Byurr


Keduanya tenggelam bersama-sama. Namun sepertinya hanya Nina karena kedalam air ini hanya sebatas leher Zain saja.


“Tu- an… tu” Nina meraih-raih lengan Zain yang iseng menjauh, kedua kakinya mengayun mencoba berenang saat ia sendiri tidak ahli dalam bidang itu, membuat gadis ini menelan banyak sekali air dari mulutnya.


“Kau tidak bisa berenang ya?” Zain segera mengangkat tubuh gadis itu keatas.


Nina terbatuk serta menarik nafasnya dalam-dalam, kedua tangan meraup wajah pucatnya, dadanya naik turun menempel di dada berbalut kemeja pria itu.


“Aku… hampir… tenggelam” kata Nina dengan kedua tangan diantara bahu Zain. “Aku ingin keluar dari air”


Zain pun menuruti kemauan gadis ini dengan membawanya ke air yang dangkal. Setelah sampai…


Nina mencipratkan air setinggi lutut nya kewajah Zain yang langsung terguyur. Zain yang merasa terancam refleks menutup wajahnya dengan tangan, namun tidak dipungkiri pria itu segera membalasnya.


“Oh kau berani bermain-main denganku ya!”


Byur


Sekali sentakan saja mampu mengguyur tubuh Aynina dengan rata. Tidak mau tinggal diam Nina segera membalasnya dan begitu juga dengan Zain.


Merasa kalah Nina segera melarikan diri saat Zain memutuskan untuk mengejar.


Grep


Tubuh kecil Nina membentur dada bidang milik pria itu, saat Zain menariknya dengan kuat. Kedua mata mereka saling lekat disertai tubuh yang merapat. Namun entah guna-guna darimana bukan itu yang Zain lihat.


Melainkan bibir pink tipis nan berisi milik gadis itu menarik tangan Zain untuk menyentuh kedua pipinya. Wajah Zain semakin menunduk mendekatkan wajahnya hingga mendaratkan bibirnya ke bibir Nina.


To be continued


Cium-cium😘 mau dong!!!


Ayo terus dukung karya ini bebss, minimal like, komen untuk memperlihatkan rasa suka dan dukungan kalian kepada novel ini😘

__ADS_1


__ADS_2