Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Hasil Medis Dokter


__ADS_3

“Masih aku pikirkan” balas Zain melepas pakaian Nina saat wanita ini segera memukul karena keterlaluan bercanda”


“Bagaimana kalau aku memberikanmu bayi sebagai gantinya? Bayi itu akan hidup dan tumbuh sehat menggantikan jantung dan juga paru-paru yang ada didalam tubuhku?”


“Aku hanya ingin jantung dan juga paru-parumu! Aku tidak ingin yang lain” ucap Zain memandang penuh sayang kepada Nina.


Kilas kecupan Zain layangkan di dahi perempuan itu, lalu melepas pakaiannya untuk segera di ganti ke yang lebih bersih.


“Semangat untuk sembuh?” seru Zain memperlihatkan otot tangannya memberi semangat.


Nina tertawa terbahak-bahak, “Ok” balas Nina memberikan satu jempolnya.


______


Pagi hari seperti biasa Zain membantu istrinya membersihkan diri didalam kamar mandi dan sarapan lalu minum obat. Jika sudah waktunya kemoterapi maka suaminya yang pengertian itu akan mengantarnya pergi ke rumah sakit untuk melakukan kemoterapi.


Tidak terasa perempuan pengidap kanker darah itu sudah menjalani kemoterapi selama 6 kali. Di tahap ini perempuan itu tidak lagi melakukan rawat jalan, melainkan rawat inap di rumah sakit. Hal itu membuat sang suami tidak bisa meninggalkan nya barang sedetik saja. Zain menemani Nina selama 24 jam.


Namun, bukan menjadi hal mudah untuk pria ini melakukannya. Karena sibuk mengurus kesembuhan sang istri, pria ini juga terkadang sakit demam dan harus diberi imun lewat selang infus untuk menambah daya tahan tubuhnya. Setelah sembuh pria ini kembali mengurus istrinya. Bukan karena tidak ada yang mengurus Nina, tapi sudah banyak orang yang ingin menggantikan Zain supaya pria ini istirahat sejenak, namun Zain menolak dan ingin dia sendiri yang merawat istrinya.


Perhatian yang Zain berikan berlangsung selama 12 kali kemoterapi sang istri. Lambat laun keadaan Nina mulai memiliki peningkatan. Perempuan ini tidak merasa gejala-gejala kanker darah seperti mual dan mimisan, bahkan tubuhnya terasa agak bugar dan ringan.


“Istriku tidak lagi merasakan gejala seperti sebelumnya. Apa itu berarti istri saya sudah sembuh?” tanya Zain saat di ruangan dokter Aldo.


“Saya belum bisa memberikan anda jawaban tuan. Karena jawaban dokter sendiri belum 100% pasti. Kami akan melakukan tes darah untuk mengecek kesembuhan pasien. Hasilnya akan keluar besok pagi” jawab Dokter Aldo.


____


Dengan wajah yang datar Zain masuk kedalam ruangan istrinya saat kedua mertuanya juga disana. Mata mereka tertuju kearah pria itu dengan pandangan harap.


“Nak Zain, apa yang dikatakan dokter? Nina sudah sembuh dan boleh pulang kan?” tanya Marta penuh harap.

__ADS_1


“Dokter bilang jika kita harus menunggu hasil tes darah nya. kita bisa lihat hasil medis Aynina besok pagi” kata Zain membuat Marta menghela nafas sedih.


Lalu pria ini menemui Nina dan mengusap wajah perempuan itu, “Aku yakin hasil tes besok pagi akan membuktikan kesembuhanmu. Kau akan sembuh”


“Aku yakin akan sembuh” mata Nina berkaca-kaca serta kepalanya yang mengangguk percaya dengan kata-kata suaminya.


“Nina nak… kenapa kau tidak pernah bilang kepada kami tentang penyakitmu? Kenapa menunggu masuk rumah sakit dulu baru kami tahu hah?” Marta ingin memukul namun tidak jadi, “Cepat sembuh supaya ibu bisa memukulmu karena tidak memberitahu ibu”


“Ibu tenang aja... besok kan hasilnya keluar dan membuktikan kalo Nina udah sembuh. Jadi, ibu bisa memukul Nina sepuas ibu”


“Ibu tidak tega denganmu. Maafkan ibu ya” Marta memeluk sayang putrinya serta mengusap bahu Nina yang penuh dengan beban itu.


“Tidak apa-apa ibu… Nina akan sembuh” balas Nina walau ia sendiri tidak begitu yakin dengan ucapannya.


Namun, Marta bukannya tenang malah semakin khawatir dan menangis.


“Ayah ingin bicara dengan Nina sebentar”


“Ayah ingin bicara. Jadi ibu dan mas Zain tolong keluar dulu ya” pinta Nina tersenyum dan kedua orang itu segera keluar.


Setelah merasa hanya ada dirinya dan sang putri, Fulan segera memberikan kartu kredit yang ia bawa untuk putrinya.


“Nina kan udah ngasih kartu kredit ini untuk ayah. Udah habis ya uangnya?” tanya Nina tidak seperti harapan Fulan.


Fulan meletakan kartu itu diatas paha putrinya, “Ayah kembalikan apa yang menjadi milikmu. Selama ini ayah sudah menggunakan semua uang yang ada di kartu gepeng itu dan ayah merasa sudah terlalu banyak menggunakan uang milikmu”


“Ini bukan lagi milik Nina. Nina kan ngasih ini buat ayah” kata Nina mengulurkan kembali.


“Ayah tidak menggunakan kartu itu lagi. Ayah kan sudah buka usaha kecil-kecilan… ibu kamu kan bangun warung sendiri dan hasilnya lumayan. Jadi ayah kembalikan kartunya” kata Fulan sendu.


“Tapi aya----”

__ADS_1


“Ayah juga sudah berhenti melakukan KDRT. Ayah membantu ibumu di warung. Jadi--” Fulan mendekat dan mengusap kepala Nina dengan kikuk, “Sembuhlah”


Air mata Nina seketika meluncur bagai air terjun. Rasanya mimpi melihat ayahnya yang kasar memperlihatkan perilaku halus terhadap dirinya.


“Ayah!!”


“Sudah-sudah!! Jangan bilang apa-apa dan sembuhlah… ayah minta maaf atas semua kesalahan ayah” Fulan memeluk serta mengusap punggung Nina.


Pelukan ayah dan sang putri itu disaksikan oleh dua pasang mata pria dan wanita. Mereka melihat dari jendela ruangan tersebut. Tidak terasa mereka merasa terharu, terlebih Marta yang tidak pernah melihat suaminya seperti itu.


______


Pagi harinya sesuai dengan perkataan dokter tempo lalu jika hasil medis Nina akan keluar. hasil itu keluar jam 9 pagi dan seluruh anggota sudah menunggu dari subuh. Mereka sangat-sangat menantikan kesembuhan anggota keluarga mereka, mengingat usahanya yang sungguh-sungguh.


Beberapa anggota semakin gelisah dan jantung mereka berdebar dengan sangat kencang. Terutama Nina dan juga Zain sendiri.


“Jangan takut. Kau akan sembuh” kata Zain memberi semangat kepada istrinya yang segera memeluk pria itu.


“Bunda dimana?” tanya Bian yang tidak melihat ibunya di koridor bersama mereka.


“Bunda sholat dhuha untuk meminta hajat. Nanti kalau hasilnya udah keluar, bunda minta diberitahu” balas Helena dan adik iparnya hanya mengangguk.


“Nyonya Aynina”


Panggil dokter yang berarti, perwakilan pasien harus segera masuk keruangan untuk mengambil hasil medis dari dokter. Seketika itu mereka semakin gugup takut jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan mereka.


Zain yang sebagai suami segera masuk kedalam ruangan. Beberapa menit setelahnya pria itu keluar lagi. Tidak ada yang paham dengan ekspresi Zain yang datar setelah membaca hasil medis di tangan.


Namun Nina sepertinya sudah paham dengan maksud suaminya. Tentu saja, karena perasaaan mereka sudah terikat lama.


“Mas Zain! Mereka ingin tahu hasilnya” kata Nina dengan nada lirih.

__ADS_1


Zain bersimpuh lutut didepan perempuan yang memiliki harapan besar itu, “Aynina… hasil diagnosa dokter menyatakan kau sembuh”


__ADS_2