![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Kedua bola mata Cristina membulat dengan pandangan menghunus nyaris masuk ke lerung hati putranya.
“Aku malu memiliki putra sepertimu” Cristina menangis tersedu-sedu.
“Mah! Mafkan Devan… Devan melakukan itu karena membenci papah yang berani selingkuh dari mamah” bujuk Devan mencoba menghibur ibunya.
Namun Cristina malah memukul kepala Devan, “Jangan bicara lagi. Aku sedang marah dengan dirimu”
Wanita setengah baya itu sudah lelah hingga memutuskan untuk bangkit dan membawa tasnya. Bersiap untuk pergi.
“Mah!! Jangan tinggalkan Devan… tebus Devan dulu” teriak Devan membuat Cristina mengernyitkan dahinya serta terkekeh lirih.
“Aku tebas pala mu!”
______
Seluruh anggota Darius masih setia menunggu dokter yang sudah berjam-jam didalam ruang UGD. Mereka semua diam tanpa ada yang mau bicara untuk menghangatkan suasana. Dimalam hari valentine yang penuh kebahagiaan, mereka malah menyaksikan anggota keluarganya tertidur diatas brankar.
Mata Nina tidak bisa lepas dari lampu ruang UGD yang masih merah. Serasa sangat lama dan dirinya tidak sabar.
Ting
“Dokter” pekik Zelofia menemui dokter yang baru saja keluar dari ruangan Zain, begitupula dengan seluruh anggota keluarga Darius dan Aditama.
“Mas Alzam, bagaimana keadaan Mas Zain?” tentu Nina tidak bisa diam saja. Perempuan ini begitu antusias ingin tahu kabar suaminya.
“Kau tenanglah Nina! Dokter Andre akan menjelaskan semuanya” kata Alzam kepada Nina.
“Begini, luka di kepala Tuan Zain cukup serius. Namun kami sudah melakukan berbagai tindakan untuk mengatasi segala kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi. Terkadang tuan Zain akan merasa pusing di kepala sebagai efek samping luka tersebut dan saya akan meresepkan obat pereda nyeri untuknya” kata Dokter itu.
“Apa pusing itu dapat mengganggu keseharian suami saya?” tanya Nina memandang harap kepada Dokter.
“Terkadang karena kelelahan hingga memicu luka itu untuk terbuka kembali dan efeknya menjadi pusing”
Nina mengangguk. Ada rasa kelegaan dalam batinnya mendengar penjelasan dari dokter. Beberapa detik berlalu keluarlah dokter yang memeriksa Aya.
“Bagaimana dengan kondisi putri saya?”
“Luka di kepala nona Aya tidak begitu serius. Akibat benturan keras dibagian belakang hingga membuat tubuh korban terjepit kedepan membuat punggungnya menjadi korban. Ada robekan dibagian punggung dan kami sudah mengatasinya. Kalian tidak perlu khawatir” kata dokter itu memberi kabar.
__ADS_1
“Lalu, bagaimana dengan bayinya? Bayinya baik-baik saja kan?” tanya Aditama takut terjadi sesuatu dengan anaknya. Bagaimanapun dia adalah ayahnya.
Kedua mata Dokter itu mengedar melihat wajah orang-orang yang ada disana, “Mohon maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Bayi nona Aya tidak bisa kami selamatkan”
Perkataan dokter itu sukses menyayat hati setiap orang yang mendengarnya. Mereka sudah mencoba untuk menerima kehadiran janin itu, namun tuhan berkehendak lain.
“Saya permisi dulu” dokter itu segera pergi setelah dirasa cukup memberitahu kabar pasiennya.
“Terimakasih dokter” kata Asad mewakili seluruh anggota. Kedua tangan Asad kembali mengepal kuat menatap Aditama.
Detik berikutnya dua brankar berisi Zain dan Aya keluar untuk dibawa ke ruangan perawatan. Terutama Nina mengikuti brankar milik suaminya.
Berjam-jam Nina menunggu suaminya siuman, bahkan sampai ia tertidur dengan posisi duduk disamping brankar dan kepala bersandar di punggung ranjang. Karena kurang nyaman membuat kepala Nina bergeser kesamping dan…
Grep
Kedua mata Nina seketika terbuka saat kepalanya ditangkap. Rupanya, pria yang ia tunggu-tunggu telah siuman dan menangkap kepala Nina yang hampir terjatuh.
“Mas Zain! Mas kau…”
Zain tersenyum sayu, “Kau jangan tidur di kursi karena kurang nyaman dan punggung mu akan sakit. kemarilah tidur disebelahku”
Zain terkekeh lemas, “Kau mengkhawatirkan diriku?”
“Tentu saja! Aku takut menjadi janda muda” ucap Nina dengan polos dan membuat suaminya tertawa. Namun Zain masih belum bisa tertawa lebar karena masih agak lemas.
“Mengenai kecelakaan itu---”
“Shutt” Nina menempelkan jari telunjuknya didepan bibir Zain, “Kata dokter lukamu masih belum begitu sembuh dan akan terasa pusing jika mengingat kecelakaan itu. Jangan dibahas lagi… semua itu akal busuk Devan dan pria itu sudah mendapat ganjaran”
“Devan lagi?”
Nina mengangguk, “Sudah jangan dipikirkan lagi. Jangan membuatmu pusing hanya karena memikirkan pemuda tidak tahu diri seperti itu”
“Begitu-begitu ya mantanmu!!” sindir Zain membuang muka.
Nina terkejut. Dalam situasi seperti ini pria itu masih bisa menyindir. Jika dia sembuh nanti akan ia piting kepalanya.
“Oh iya… bagaimana dengan Aya?” wajah Zain kini berubah khawatir.
__ADS_1
“Aya terluka di bagian kepala dan ada robekan di bagian punggung” jawab Nina kepada Zain yang masih kurang informasi.
“Bagaimana dengan bayinya?”
“Bayinya tiada”
Jujur saja saat ini Zain terlihat sedih. Wajahnya yang bugar tadi sudah berganti lesu tidak bertenaga.
“Bagaimana jika Aya tahu tentang kematian bayinya? Apa gadis itu akan menerima begitu saja? Walau Aya sempat ingin menggugurkan kandungannya, pasti ada sedikit rasa sayang sebagai seorang ibu” ujar Zain terdengar sendu.
“Aku juga sudah berharap anak Aya itu akan memanggilku bibi. Tapi ternyata bayinya harus tiada secepat itu”
______
Berhari-hari dirawat di rumah sakit. Kedua anggota keluarga Darius memutuskan untuk pulang setelah diperbolehkan oleh dokter, walau terkadang mereka masih harus cheak up untuk pemulihan.
Bunda Zelofia mengantar Aya ke kamar bersama dengan Helena. Keadaan Aya setelah keguguran menjadi sering murung. Sangat terlihat jelas di wajahnya jika perempuan itu terpukul dengan kematian bayinya.
“Aya! Istirahat dulu ya sayang… dokter bilang kua harus banyak istirahat” kata Zelofia menuntun putrinya duduk di ranjang.
“Bun”
“Iya sayang?” jawab Zelofia merasa dipanggil.
“Apa anakku itu marah denganku ya?” Aya memandang sesal Zelofia, “Apa dia marah karena aku pernah berniat menggugurkannya. Setelah itu dia kecewa dan pergi”
“Jangan berkata seperti itu sayang! Itu semua sudah takdir Allah dan kita harus ikhlas menerimanya” balas Zelofia mengusap air mata putrinya.
Aya meremat perutnya sendiri, “Tidak bunda… pasti dia marah karena aku bilang begitu. Nyatanya dia langsung pergi dan menghilang… jika aku dikatai seperti itu pasti aku juga sangat marah, begitu juga dengan bayiku bun…”
“Sudah sayang” Zelofia memeluk tubuh ringkih putrinya.
“Padahal aku waktu itu mendengar dengar detak jantungnya. Aku membeli Fetal dopler hanya untuk mendengar detak jantungnya… sekarang sudah tidak ada, bahkan aku juga membeli kaus kaki bayi untuknya. Tapi, kuberikan kepada siapa jika bayiku sudah tiada”
“Sayang jangan mengatakan itu lagi. Hati bunda sakit jika putri bunda terus bersedih seperti ini sayang” Zelofia mengusap lembut kepala Aya.
Tangis perempuan itu pecah didalam kamarnya. Hatinya bagai tersayat oleh ribuan pedang lalu dimakan burung gagak. Namun, Zelofia sebagai ibunya terus mendampingi dan menenangkan hati Aya.
...Bye2 baby Aya. Makasih ya sudah membuat ibumu dan bibimu akur walau kedatangan mu cuma jadi mampir singgah doang😘...
__ADS_1