Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Kesombongan Zain


__ADS_3

'Aku menyesal... jika waktu itu aku mengobatinya, kemungkinan kak Anita masih hidup dan hidup bahagia bersama kak Zain. Tidak akan ada Nina yang datang ke kehidupan kak Zain, tidak akan ada tangisan di dalam diri Nina yang menarik ku untuk mengusap air matanya, Aku menyesal...' monolog Alzam dalam hati.


"Baiklah!! Aku akan pergi untuk menggali riwayat itu lagi, Dokter. Anda tenang saja karena saya akan melakukan yang terbaik untuk anda" Nensi tersenyum dan pergi setelah memberikan kedipan mata untuk Alzam.


Pria itu hanya tertawa geli seraya membuka lembaran-lembaran berkas yang ada di atas meja.


_________


Kembali ke Lift


Setelah selesai menyantap makan siang mereka, Zain dan Nina kembali menunggu bala bantuan datang. Keduanya tidak melakukan apa-apa dan memilih untuk menunggu saja.


Beberapa detik kemudian ada suara sesuatu. Suaranya terdengar aneh diiringi dengan lift itu yang bergerak-gerak sendiri.


"Tuan..." pekik Nina membawa tangannya untuk mengulur menyentuh bahu kekar Zain suaminya. Ia terkejut saat ada suara keras dari arah luar.


Dan terpaksa mata mereka bersitatap dengan rasa yang susah untuk dijabarkan. Sejenak sesuatu yang berbeda telah Zain rasakan, namun hanya beberapa detik. Sisanya...


Bugh


Zain mendorong Nina menjauh dari tubuhnya, hampir saja gadis itu terjatuh kalau ia tidak berpegangan pada dinding-dinding lift tersebut.


"Kau bilang tadi tidak ingin menyentuhku? Dasar tidak bisa di percaya" maki Zain dengan lirikan yang begitu tajam dan Nina langsung sadar.


"Maaf Tuan... saya tidak sengaja. Saya pikir liftnya akan jatuh" kata Nina menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Ia sedang melepas rasa gugup yang baru saja melanda.


Dretttt


Ponsel Zain berdering. Ia pun langsung mengangkatnya. Tidak baik mengabaikan panggilan yang begitu berharga dari anak buahnya, apalagi ia sedang menunggu kabar baik dari mereka.


"Hallo"


"Tuan bersiaplah!! Petugas sudah mengatasi lift tersebut dan akan segera mengeluarkan anda dan juga Nona. Saya hanya ingin memberi tahu kepada anda saja, supaya anda tidak terlalu khawatir" kata Ebil di telpon.


"Baiklah"


Setelah itu Zain dapat bernafas dengan lega dan menutup telponnya. Akhirnya ia dapat keluar dari lift ini dan menghirup udara yang lebih segar.


Beruntung saja kerusakan lift itu tidak terlalu parah hingga Zain dan Nina dapat keluar dari pintu Lift dengan selamat.

__ADS_1


"Anda baik-baik saja, Tuan?" Ebil segera menelusuri tubuh Zain dari atas sampai bawah, takutnya ada yang luka atau cacat lainnya.


"Aku baik-baik saja" jawabnya santai, "Perbaiki lift itu dan tutup akses perjalanan menggunakan lift. Tidak boleh ada yang menggunakan lift untuk saat ini, sampai lift benar-benar beroperasi dengan baik"


"Baik, Tuan" jawab karyawan yang ada disana.


"Tuan Zain... Tuan Aditama datang hendak bertemu dengan anda. Sekarang ini ia sudah menunggu anda di ruangan" ucap Ebil memberi laporan.


"Baiklah"


Tidak mau berlama-lama Zain segera menuju ruang kerjanya yang terdapat seorang konglomerat berpengaruh untuk perusahaan-nya, namun sangat ia benci tata caranya dalam berwirausaha.


Membutuhkan waktu sekitar 2 menit saja. Zain akhirnya memasuki ruang kerja dengan nafasnya yang agak berat.


"Assalamu'alaikum, selamat datang Tuan Aditama" sapa Zain mencoba bersikap ramah kepada pria yang berdiri membelakanginya.


"Walaikumsalam, Zain" pria baya yang dimaksud Aditama itu membalikkan tubuhnya melihat Zain datang bersama dengan seorang gadis polos namun begitu imut dan cantik.


Aditama tahu gadis itu adalah istri Zain, namun ia tidak menyangka jika pria ini akan membawanya ke kantor.


"Apa kau ingin bermesraan dengan istrimu, kurang ya di rumah?" Aditama sedikit menertawakan Zain.


Zain yang santai hanya duduk di kursi kekuasaan-nya. Ia merasa tidak terusik asal ini perusahaan miliknya. Pria itu hanya seorang tamu yang bisa ia usir kapan saja, jadi untuk apa merasa takut!.


"Tuan... apa yang harus saya pelajari?" lirih Nina menagih pekerjaan kepada Zain.


Tidak ada jawaban dari Zain. Mungkin pria ini ingin berpikir dulu sebelum menjawab, sembari berbicara dengan Aditama.


"Aku ingin berbicara tentang perusahaanmu yang ada di Bekasi. Bagaimana kalau aku menitipkan investasi ke perusahan itu, sepertinya kau sangat membutuhkan investor... terlebih, kita harus menjalin silaturahmi Zain!!" kata Aditama.


"Aku memiliki 3 anggota keluarga yang dapat menutupi itu kekurangan perusahaanku, itupun jika perlu... lalu untuk apa aku membutuhkanmu?" Zain tersenyum miring. Wajah mengerikannya kembali lagi.


"Tuan... apa yang harus saya pelajari, kenapa saya belum belajar apa-apa?" lirih Nina masih tidak mengeraskan suaranya.


Nina tidak mau tahu dengan apa yang Zain lakukan saat ini. Pokoknya ia harus mendapat pelajaran di kantor Zain.


"Tuan..."


"Buatkan kopi" titah Zain santai.

__ADS_1


Sudah jelas jawaban Nina adalah menolak. Ia tidak mungkin membuatkan kopi sementara bukan itu tujuannya datang kemari.


Astaga suaminya ini!!.


"Bunda bilang saya harus belajar di kantor ini" kekeh Nina seperti merengek.


"Buatkan kopi, segera!!" tekan Zain dengan sorot mata elang menakutkan. Ia sedang marah merespon Aditama, begitu pula kepada Nina.


Nina membuang nafasnya dengan halus, "Baiklah... saya akan membuatkan anda kopi tapi sebelum pulang nanti saya harus belajar sesuatu disini"


Zain hanya diam tak menjawab dan Nina pun memilih pergi untuk membuatkan kopi.


Tinggallah Zain dan Aditama. Dengan kepergian Nina membuat Zain bisa leluasa membicarakan urusan pekerjaannya.


Aditama menyeringai tipis, "Apa hubunganmu dengan Nyonya baru Darius itu baik-baik saja?"


"Perusahaanku di Bekasi memang mengalami penurunan Tuan Aditama, namun kami sama sekali tidak membutuhkan perusahaanmu untuk menyokong nya" Zain tidak menjawab pertanyaan Aditama karena pria tua itu sudah mulai penasaran dengan keluarganya.


Zain tidak suka.


Mengetahui itu Aditama tertawa dingin, "Namun Zain... aku bahkan menjadi investor perusahaan milik kakak pertama dan keduamu. Apa kau tidak merasa berminat untuk menjadikan aku investor perusahaan milikmu juga?"


Zain berjalan pelan mendekati pria baya bermata keranjang itu, "Jika aku bisa... aku akan mencoret namamu dari daftar investor milik kedua kakakku. Aku menerimamu atau tidak itu urusanku... lagian, kau sudah seperti pengemis yang meminta uang dari satu tempat ke tempat lain, Tuan Aditama"


Mendengar hinaan itu tentu membuat telinga Aditama terbakar panas. Padahal niatnya datang membawa maksud baik, namun Zain selalu menghinanya.


Dari seluruh anggota keluarga Darius, hanya Zain yang memiliki sifat angkuh dan sombong. Namun tidak dipungkiri ia memiliki wajah paling tampan dari ke empat saudaranya.


"Anda bisa kembali ke perusahaan anda... sepertinya kau terlalu menganggur sampai berlama-lama mengobrol dengan ku" sindir Zain yang memiliki maksud mengusir.


"Tawaranku selalu sama dan jawaban mu selalu sama... menarik sekali Zain " Aditama tersenyum licik lalu melewati Zain yang berdiri dengan angkuhnya.


"Selamat siang, Tuan Aditama... jangan lupa tutup pintunya" ucap Zain tanpa ada sopan santun sama sekali.


Pria baya itu pun segera pergi dari ruangan panas milik Zain. Tidak sengaja di perjalanan ia berpapasan dengan Nina yang membawakan satu cangkir kopi.


Mereka hanya berpapasan saja, tidak lebih!. Namun pertemuan itu melukis senyum di wajah keriput pria itu.


"Zain... Zain... kau begitu sombong, kesombongan mu telah melukai hatiku... kita lihat siapa yang akan bermain, nyonya Darius atau Nona Darius?" Aditama menyeringai misteri.

__ADS_1


...To be continued...


...Jangan lupa rutinitasnya!! Vote, like, bunga, komen supaya author senang dan semangat nerusin Bab nya😘...


__ADS_2