Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Bernyanyi Pop


__ADS_3

"Aya di hotel memakai pakaian minim" jawab Zain dengan nada yang masih meninggi.


Zelofia terkejut menutup mulutnya dengan satu tangan. Kaget sangat kaget dengan apa yang sudah Zain katakan.


Selain Zelofia para kakak ipar Zain juga menyaksikan kemurkaan Zain malam ini dan itu membuat mereka merasa terkejut.


Bahkan, Nina yang baru saja masuk menyusul Zain juga ikut merasa terkejut. Rupanya ini alasan Zain yang tiba-tiba marah, pikirnya.


"Kamu ini ngomong apa sih Zain... coba tenang dulu, mungkin kamu salah lihat" Zelofia mencoba menenangkan Zain yang kesetanan.


"Zain nggak salah lihat Bu... Zain lihat dengan mata kepala Zain sendiri kalau tadi itu ada Aya masuk ke hotel" sentak Zain kekeh dengan apa yang sudah ia lihat. Pria ini tipe orang yang keras kepala.


"Masak sih?" Zelofia masih belum percaya karena Zain sering salah menduga dan sangat keras kepala.


Zain ini jika sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri, mau dibantah seperti apapun, ia tidak akan menerima dan kekeh dengan apa yang sudah ia lihat.


"Aya nggak ada kan? Aya itu di hotel Bu... di-----"


"Ada apa kak?" potong Aya tiba-tiba menuruni tangga dengan pakaian piyama dan rambut yang terurai panjang. Wajahnya juga polos tanpa make up, membuat Zain tidak percaya.


Zain mencengkeram kedua bahu Aya dengan kuat, "Katakan kepada kakak jika kau dari hotel kan?"


"Aw aw sakittt" rintih Aya saat Zain mengeratkan cengkeraman pada bahunya dan Zelofia segera menepisnya.


"Zain jangan kasar dengan Adikmu!!" sentak Zelofia tidak tahan melihat perilaku kasar putranya.


"Kak lepasss" Aya menepis kasar saat Zelofia tidak berhasil membantunya, "Hotel apa yang kakak maksud Aya nggak ngerti sama sekali. Dari tadi Aya di rumah tidur"


"Jangan bohong kamu..."


"Untuk apa Aya bohong?? Kakak itu keras kepala... Aya yang kakak lihat belum tentu itu memang Aya! Tanpa mendengarkan penjelasan orang lain kakak percaya dengan apa yang sudah kakak lihat sendiri..." bantah Aya sekuat tenaga untuk menang.


Nafas Zain naik turun. Ia begitu emosi dan kalap dengan apa yang sudah ia lihat bahkan bisa saja itu salah.


Zain mengusap wajahnya kasar dan melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.


"Sayang, kau baik-baik saja kan?" tanya Zelofia dan Aya mengangguk.


Mata Aya masih fokus melihat Zain yang hampir hilang. Ia mencoba tenang setelah hampir ketahuan.


Waktu itu, saat Aya ingin masuk kedalam hotel ia melihat Zain kakaknya melihat dirinya. Ia pun memutuskan untuk bersembunyi di balik dinding dan keluar secara diam-diam.


Ia segera naik ojek untuk lebih cepat sampai di rumah. Sesampainya di rumah Aya masuk melalui tali yang sudah di siapkan oleh seseorang.


"Thank you" ucap Aya tanpa ada suara kepada wanita yang terlihat tenang duduk diatas sofa sambil meminum cangkir kopi nya.


Bella pun hanya tersenyum membalasnya.


_________


Sesampainya di kamar Zain menutup pintunya rapat-rapat, bahkan Nina yang ingin masuk pun beralih ingin mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Tidak-tidak... jika aku masuk dia akan melampiaskan kemarahannya kepadaku, mungkin" monolog Nina mondar-mandir didepan pintu kamar Zain.


Nina pun memilih berdiri saja. Namun tiba-tiba ia mengingat sesuatu.


"Astaga!! Aku kan di suruh buat Vidio sama kakak senior dan harus di kumpulin besok pagi..." Nina memukul kepalanya pelan karena lupa.


Perilaku Nina tersebut di lihat oleh mata lelah pria yang baru saja kembali dari kerja. Ia ternganga melihat wajah cantik Nina berbalutkan hijab pasmina.


Masyallah, pikirnya.


Sungguh pesona yang pas untuk membangkitkan semangat setelah lelah bergelut kerja.


"Assalamu'alaikum, ukhti"


"Eh" pekik Nina membalikan tubuhnya melihat tubuh tinggi kekar milik Alzam. "Eh Mas Alzam udah pulang dari rumah sakit?"


Alzam mengangguk, "Kebetulan aku shift siang"


Nina pun mengangguk paham dan kembali diam memikirkan pekerjaan kampusnya. Wajahnya nampak murung dan Alzam pun bingung.


"Nina kamu tidur, besok kamu kuliah kan?" tanya Alzam penasaran.


"I-iya Mas..."


"Terus kenapa belum tidur?" tanya Alzam semakin penasaran. Ini sudah jam 11 malam dan dia harus segera tidur.


"Hem... Nina lupa di suruh buat Vidio" cicit Nina menundukkan kepalanya malu.


"Tadi Nina berkunjung dulu ke pondoknya ustadz Syahbana jadi Nina belum sempat ngerjain deh..." sesal Nina menggaruk-garuk lehernya.


Alzam paham.


"Kalau begitu mau aku bantu?" tanya Alzam menawari bantuan.


Nina pun berbinar mendengar tawaran itu. Niatnya memang Nina mau minta bantuan Alzam untuk membuat Vidio, mengingat jika ia tidak memiliki kamera.


"Mau dong!!"


"Ya udah ayok" ajak Alzam dan Nina bersemangat mengikutinya dari belakang.


Karena tidak ada tempat yang bagus untuk dijadikan background maka mereka memutuskan untuk merekamnya di tepi kolam renang.


Lagipula kolam renang memiliki lampu-lampu kelap-kelip yang indah jadi tidak masalah.


"Bukankah Aya juga harus buat?" tanya Alzam mengecek kameranya.


"Tadi siang aku melihatnya bermain kamera dengan teman-temannya. Mungkin, Aya sudah membuatnya mendahului aku" jawab Nina hanya menduga saja.


"Heiii!!!" teriak Bian berlari datang saat melihat keduanya bersama di kolam malam-malam. "Sedang apa hayoooo"


Bian mencoba menggoda Alzam dan hasilnya? Ia mendapat bogeman besar diarea pantatt dan Nina pun tertawa senang.

__ADS_1


"Jangan ngaco kamu!!"


"Santai!! Cuma becanda kali kak... iya nggak Nin?" ucap Bian mengedipkan satu matanya kearah Nina yang langsung berganti pandang.


"Terserah!!" acuh Nina tidak peduli.


"Ngomong-ngomong ini mau ngapain nih?" Bian merangkul bahu Alzam seperti layaknya seorang teman.


"Nina punya tugas untuk membuat Vidio. Vidio apa nin?" tanya Alzam.


"Vidio nyanyi..." lirih Nina malu-malu.


Hahahaha


Bian tertawa receh meremehkan suara Nina yang tidak tahu seperti apa. Semoga saja baik.


"Kamu mau nyanyi? Emang bisa hahahah paling juga suara kamu kayak bebek peliharaan yang ada dibelakang rumah" gurau Bian tertawa.


"Sudah-sudah!!! Tidak usah dipikirkan omongan Bian itu. Dia memang hobi membuat orang down... sana kau pergi, nanti Nina malu nggak jadi buat Vidio lagi..." Alzam mendorong Bian menjauh.


"Ogah!! Aku mau lihat Nina nyanyi" Bian menolak dan mengunci tubuhnya di kursi yang ada di samping kolam renang.


"Pergi sana!!" Alzam mendorong tubuhnya lagi dan Bian kekeh ingin lihat.


"Tidak papa... Nina nggak masalah kok" jawab Nina tersenyum. Ia tidak memiliki masalah sama sekali.


Alzam membuang nafasnya kesal. Ia ingin berdua dengan Nina tapi Bian malah mengganggunya. Menjengkelkan.


Beberapa menit kemudian persiapan mereka pun akhirnya selesai. Nina duduk diatas kursi dan menghadap kamera milik Alzam yang menyorot wajah tanpa hijab itu. Tadi Nina sudah melepasnya.


Perasaan gugup tiba-tiba melintas dan membuat Nina ingin membatalkan saja, tapi Alzam sudah bela-belain bantu Nina padahal saat ini pasti pria itu sangat lelah.


Sungguh mulia sekali pria itu.


"Ok ready?" tanya Alzam fokus dengan layar kameranya.


Nina pun segera mengangguk.


"One, two, three" hitung Alzam dan Nina mulai bernyanyi.


Waktu SMA Nina sangat suka mendengarkan lagu pop korea dan malam ini ia ingin menyanyikannya.


"Pyohyeoni seotun geotto jalmoshingayo?"


"Shingayo!!" balas Bian mengikuti suara Nina. Tentu Nina berasa ingin tertawa.


"Na chagaun doshie ttatteuthan yeojande"


"Jande" Bian kembali menyaut dengan melambaikan kedua tangannya, seakan menjadikan Nina penyanyi asli kolam renang ini.


Karena suara Bian yang keras membuat seorang pria yang baru saja mandi itu penasaran ingin tahu. Zain berbalutkan handuk sepinggang menyisakan dada kotaknya itu berjalan keluar balkon.

__ADS_1


__ADS_2