![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Dengan pelan Nina masuk ke dalam ruangan Zain, membawakan secangkir kopi hangat hitam untuk pria yang sedang sibuk dengan komputernya.
Sejenak, Nina merasa bersyukur ia dapat membuatkan secangkir kopi untuk suaminya. Setidaknya kewajibannya sebagai seorang istri dalam membantu suami telah terwujud.
"Ini kopinya Tuan" Nina menaruhnya diatas meja kerja Zain.
"Singkirkan"
Titah Zain membuat mata Nina membulat. Pasalnya tadi ia memaksa untuk dibuatkan kopi, tapi sekarang kenapa disuruh menyingkirkan? Benar-benar aneh.
"Bukannya tadi anda meminta saya untuk membuatkan secangkir kopi, lalu kenapa sekarang anda ingin menyingkirkan nya?"
"Sudah telat!!"
Entahlah, Nina sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran Zain saat ini.
"Kau bilang ingin belajar di perusahaan ini, kan"
"Iya" Nina mengangguk.
Zain tersenyum dalam hatinya, "Kalau begitu bersihkan semua ruangan ini dulu. Mulai dari sofa, meja kantor, kaca jendela, rak buku dan lantai. Semua harus bersih dalam waktu 10 menit"
"Tu-tuan... bersih-bersih itu tugas clining service dan tujuan saya datang tidak seperti itu" tolak Nina merasa jika ini salah.
"Kau mengatakan ingin belajar di perusahaan ini kan, jadi kau harus mengikuti aturan yang ada di perusahaan ini. Saya memintamu untuk bersih-bersih sebelum belajar jadi ya lakukan" ucap Zain dengan sorot mata dingin supaya Nina yakin.
Aneh! Nina merasa jika ini merupakan sesuatu yang aneh. Apa iya ada aturan seperti itu di perusahaan ini?
"Baiklah!"
Nina pun akhirnya pasrah dan menerima perintah Zain dalam membersihkan ruangan ini.
Apalah itu yang penting pulang-pulang Nina mendapat pelajaran, entah itu pelajaran cara bersikap sabar!.
Dan anggap saja ini perintah dari suami kepada istrinya. Perintah suami harus dilaksanakan bukan!!.
Nina mulai membersihkan almari kaca berisi tumpukan buku disana. Namun Kecepatan Nina dalam membersihkan benda itu sangat lamban, seperti pemalas saja.
Memang iya! Nina merasa sangat malas karena Zain tidak memberikan pelajaran yang semestinya.
"Apa jika kau diam, lap itu akan bergerak sendiri?" sindir Zain kepada Nina yang baru sadar.
"Ini aku bersihkan" Nina menyeringai gugup dan mempercepat usapannya. Ia harus segera menyelesaikan jika ingin dapat pelajaran.
10 menit
Akhirnya Nina selesai membersihkan ruangan kantor Zain yang sebesar rumahnya dulu. Sungguh melelahkan. Nina pikir ruangan ini sudah agak bersih hingga ia tidak terlalu berat dalam membersihkannya. Rupanya, semua benda-benda di ruangan ini sangat kotor.
"Tuan... apa... sebelumnya tidak ada... karyawan yang membersihkan tempat ini?..." desis Nina tidak diketahui keberadaannya.
__ADS_1
Zain menoleh ke belakang, namun matanya tidak melihat keberadaan gadis itu. Kanan, kiri, tetap tidak ada.
"Dimana kau?"
"Disini Tuan" ucap Nina bangkit dari depan meja dan mengejutkan Zain.
Tadi ia lelah dan merebahkan tubuhnya diatas ubin depan meja kerja Zain, karena kefokusan Zain membuat ia tidak melihat Nina disana.
Kening Zain menyerngit melihat tingkah konyol gadis ini, "Ngapain kamu disitu?"
"Istirahat, Tuan" polos Nina merebahkan kembali tubuhnya. Ahh, rasanya dingin dan menyejukkan. Selesa!.
"Oh iya... apa tidak ada pekerja yang membersihkan tempat ini sebelumnya, Tuan. Saya rasa debunya sangat banyak"
"Hm" jawab Zain kurang nyaman dengan posisi Nina saat ini.
Astaga bentuk tubuh gadis itu kelihatan semua.
"Pantas saja banyak sekali debu di ruangan ini" Nina merentangkan kedua tangannya, merasakan rasa dingin menyentuh kulitnya.
"Kenapa tidur disini?" Zain mendekat dengan kedua tangan di masing-masing saku nya.
"Enak, Tuan" polos Nina mengusap-usap lantai dengan tawa.
"Kan ada sofa disana... kenapa malah milih lantai?" Zain tidak habis pikir dengan kelakuan istrinya ini. Aneh, pikirnya.
Ia jadi merindukan suasana kelas saat jam kosong. Pasti sangat menyenangkan. Sayangnya, suasana seperti itu tidak akan terulang lagi.
"Saya tidak peduli dengan ceritamu... cepat bangun, memalukan! Bagaimana kalau ada yang melihat? Pahamu..." Zain menutupi paha bawah Nina yang hampir terbuka menggunakan sepatunya.
"Kenapa anda peduli dengan saya?"
Blush
Zain diam. Ia juga tidak tahu kenapa jadi seperti ini. Rasanya saat melihat bagian tubuh Nina yang terekspos, ada dorongan untuk menutupinya.
"Bukan peduli... jika ada sekertaris yang datang kemari dan melihatmu tidur di lantai, apa yang akan dia pikirkan nanti? Jangan membuatku malu"
"Ini memalukan ya?" gumam Nina menimang-nimangnya kembali. Ia pun segera bangkit namun masih duduk di lantai dengan bersila.
Zain merogoh sakunya mengambil ponsel dan menghubungi Ebil.
"Ebil... cepat kau datang kemari"
Tidak perlu panjang lebar karena Ebil akan segera datang jika Zain yang memberi perintah.
Beberapa menit berlalu akhirnya Ebil datang juga. Ia pun juga terkejut melihat Nina yang duduk di atas lantai. Namun ia mencoba tidak peduli.
Lagian bukan itu tujuannya datang kemari.
__ADS_1
"Saya Tuan" Ebil memberi hormat dengan menundukkan kepalanya.
"Ajari gadis itu cara menggunakan aplikasi SPSS 25" titah Zain.
Nina yang mendengar itu langsung berbinar, walau ia tidak paham aplikasi apa itu. Ia pun segera bangkit dan mendekati mereka.
Sementara Ebil nampak kurang suka. Namun tidak ada alasan ia untuk menolak.
"Baik Tuan"
Ebil mengambil komputer baru yang ada di almari lalu berjalan menuju sofa. Dari almari sampai sofa Nina tidak ada henti mengekori Ebil karena bahagia, bahkan ia lupakan rasa lelahnya.
Tidak membutuhkan waktu lama Ebil memberikan komputer itu untuk Nina ambil alih. Matanya membuka tidak paham dengan angka-angka itu.
"Anda salin nominal di kertas ini ke data yang sudah ada di komputer..." Ebil menjelaskan seraya tangan menunjuk-nunjuk untuk memperjelas.
"Ini banyak sekali" Nina baru sadar setelah mengecek puluhan lembar kertas yang Ebil berikan.
"Iya... bisa anda mulai"
"Baiklah" Nina menerima dengan senang hati. Lagian tujuan dia datang kemari kan emang mau belajar.
Nina mulai bersemangat mengerjakan perintah yang sudah Ebil berikan. Matanya memincing fokus dan tangannya siap bergerak mengganti halaman berkas.
Setelah ia lakukan itu sekitar 2 jam-an tubuhnya agak merasa pegal dan matanya mulai buram karena lelah. Tidak sesekali Nina meregangkan otot-otot punggung karena kebanyakan membungkuk.
Rasanya sakit, Nina mencari posisi-posisi yang nyaman seperti duduk di lantai dengan kaki selonjoran dan komputer ada di atas pahanya. Terlihat serius saat lembar demi lembar berhamburan disana.
Ia tidak peduli dengan respon Ebil dan Zain asal dirinya merasa nyaman dan menyelesaikan pekerjaan dengan cepat.
Sepertinya sudah agak lama Nina mengerjakan pekerjaan mudah seperti itu dan Ebil menduga jika Nina sudah hampir selesai.
"Anda sudah selesai kan?" tanya Ebil di dengar Zain.
Nina menoleh dengan percaya diri, "Belum" Akhirnya Nina menggeleng juga.
Ebil mencoba memastikan takutnya gadis itu menipu mereka. Namun rupanya belum ada yang Nina isi dan data itu masih kosong.
"Kenapa belum juga di isi?"
"Aku tidak tahu cara memasukan angka-angka ini ke dalam komputer! Tapi aku sudah mencobanya namun tetap saja aku tidak bisa" polos Nina dengan wajah memelas.
"Kau kan bisa bertanya dulu tadi? Kenapa hanya diam, kalau kau bicara mungkin Ebil tidak akan membiarkan" sentak Zain dengan mata tajam yang marah.
"Ya sudah... Tuan Ebil tolong ajari saya"
"Tidak usah!!! Besok saat kau kuliah akan mendapat pelajaran seperti ini. Buang-buang waktu saja" acuh Zain keluar dari ruangan.
'Baiklah... sepertinya hanya pendidikan kampus yang bisa aku andalkan. Semangat Nina' monolog Nina menguatkan dirinya sendiri.
__ADS_1