![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Nina mengernyitkan dahi, “Suami? Tidak dia pacarku”
“Pacar? Dia istriku” bantah Zain dengan nada dingin memperlihatkan cincin di tangan Nina, “Kami suami istri… pacaran yang dia maksud adalah,pacar dunia akhirat. Pacar halal tepatnya”
“Oh be-begitu ya” kikuk pemuda itu mendengar nada Zain yang menekan. Memang itu yang Zain mau. “Ya udah Nin, aku masuk dulu ya… mari om”
“Iya” balas Nina beralih melihat wajah Zain yang jutek kearah pria itu, “Tadi malam kan sudah kita sepakati! Jika kit aini pacaran”
“Aku tidak bisa! Jika kita berpacaran, akan memberikan mereka peluang untuk mendekatimu, seperti pepatah ‘Jika janur kuning belum melengkung masih halal untuk menikung’ dia akan berpikiran seperti itu” ucap Zain ngegas.
“Aishh kau tenang saja. setelah aku melihat kesabaranmu dalam merawatku saat sakit! Tidak ada laki-laki yang paling baaaaaik selain dirimu” ucap Nina memegang kedua pipi suaminya yang hampir melembung menahan tawa.
Hoek
Pekik Aya ingin muntah menjadi orang ketiga diantara pasangan yang dimabuk cinta ini.
“Astaga!! Aku harus buru-buru pergi sebelum muntah disini” Aya menyalami Zain, “Bye kakak dan kakak iparku”
“Bye” Nina melambaikan salah satu tangannya lalu kembali fokus dengan suaminya, “Aku harus pergi karena kelasku akan segera masuk sebentar lagi”
“Ok sayang! Aku juga harus ke kantor” balas Zain mengecek ponselnya, “Pulang nanti aku akan menjemput dirimu ya”
Nina mengangguk, “Iya… nanti aku telpon kalau udah pulang”
Zain menarik kepala baagian belakang Nina dan mengecupnya.
“Belajar yang rajin ya pacarku”
“Kau juga harus kerja yang semangat karena pacar halalmu ini harus diberi makan” kata Nina mengusap perutnya yang datar.
Zain yang gemas ingin meremat wajah bulat manis perempuan itu.
“Sudahlah! Bye hubby… love you” Nina menyalami, “Assalamualaikum”
“Walaikumsalam”
Nina melangkah masuk meninggalkan Zain yang berdiam memperhatikan dirinya dengan kedua tangan dimasing-masing saku. Setelah istrinya tidak terlihat lagi barulah Zain masuk kedalam mobil dan berangkat ke kantor.
_____
__ADS_1
Zain melangkah masuk kedalam perusahaan ayahnya setelah turun dari mobilnya, lalu disambut baik oleh beberapa pekerja dengan mengangguk hormat.
“Tuan Zain” panggil salah satu pekerja yang bertugas sebagai sekertaris kantornya.
Zain hanya berdeham enggan menjawab, “Hm”
“Tuan Abrizal sudah menunggu anda di ruangannya. Beliau berkata untuk memberitahu anda jika sudah sampai” kata pekerja itu dan Zain hanya mengangguk.
Lantas Zain kembali melangkah pergi meninggalkan pekerja itu yang sangat terpukau dengan kewibawaan putra keluarga Darius itu. Terlebih, rumor sudah menyebar jika pria itu begitu perhatian dengan sang istri.
“Oh ya ampun!! Beruntungnya istri tuan Zain mendapatkan suami seperti dia ya. Sudah kaya, tampan, cinta lagi sama istrinya”
“Kapan ya giliran kita yang diperhatiin”
“Dih najong! Jangan mimpi deh diperhatiin sama cowok modelan tuan Zain” balas sekertaris yang tadi berbicara dengan Zain.
Mereka melakukan gosip di tempat kerja. Bersyukur saja mereka bukan pekerja Zain, jika mereka pekerja Zain, sudah dipastikan mereka dipecat detik itu juga.
Kembali ke Zain yang sudah memberi salam masuk kedalam ruangan Abrizal dan duduk di sofa ruangan tersebut.
“Maaf Zain, ayah tidak bisa lama-lama karena harus menghadiri acara amal di panti asuhan Himna setelah itu ayah akan mengantar Alzam untuk melamar putri keluarga Venus” kata Abrizal sibuk dengan ponselnya.
Abrizal mengangguk, “Iya, ibumu yang masih kurang percaya dengan kemandirian anak-anaknya. Baiklah, nanti akan coba ayah nasehati ibu untuk mengijinkan kalian memiliki tempat tinggal sendiri”
“Terimakasih ayah”
“Ngomong-ngomong, kenapa tiba-tiba kau ingin memiliki tempat tinggal sendiri?” Abrizal merasa penasaran juga dengan maksud putranya mengatakan demikian.
“Zain mengawali pernikahan Zain dikeluarga Darius. Tidak jarang Zain merasa masih terbayang-bayang dengan sosok Anita, tapi Zain ingin melupakan itu dan membina keluarga yang baru dengan Aynina. Lagipula, di rumah itulah Aynina tersakiti oleh Zain. Jadi, Zain ingin mengawali kehidupan baru di rumah yang baru pula” kata Zain dengan tegas.
“Ayah setuju dengan keputusanmu. Kalian akan membina rumah tangga dan menghadapi masalah rumah tangga dengan mandiri. Itu bagus! Apa kau sudah memberitahu Aynina terkait hal ini?”
“Sudah ayah… kami juga suda menginap satu malam disana” jawab Zain membuat Abrizal mengangguk paham.
“Baiklah! Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi… ayah harus pergi ke panti asuhan dan kau kembalilah bekerja” Abrizal sudah bangkit, namun ia melupakan sesuatu, “Kapan kau akan pindah?”
“Mungkin setelah Alzam menikah”
“Masih agak lama” ucap Abrizal merasa lega dan putrnya penasaran.
__ADS_1
“Ada apa ayah?”
“Ayah sudah memesan kapal pesiar sebagai hadiah pernikahan kalian. Waktu itu ayah belum memberikan kalian hadiah… kapal pesiar cocok untuk kalian jika ingin berjalan-jalan di laut” ucap Abrizal membuat Zain terpukau.
“Ayah itu…”
“Sudah… ayah pergi dulu, assalamualaikum” ucap Abrizal melangkah pergi setelah bersalaman dengan putranya.
“Terimakasih ayah”
________
1 bulan berlalu
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh satu pasangan ini. Mereka adalah Alzam dan Nensi. Kedua manusia ini akan melepas masa lajangnya di sebuah aula gedung berlantai 10 yang mewah dan sangat berkelas. Pernikahan mereka dihadiri banyak sekali teman keluarga Darius serta keluarga Venus.
Selain rekan pengusaha. Ada juga rekan satu kerja di rumah sakit Alzam, seperti dokter Aldo, Andre dan seluruh pekerja disana juga ikut bergabung memeriahkan acara pernikahan menggemparkan itu.
Ijab Kabul segera dimulai.
“Alzam bin Abrizal Darius, mohon jabat tangan saya” pinta penghulu dan Alzam segera memberikan telapak tangan saya.
Jantung Alzam berdetak kencang saat ingin menghalalkan wanita yang ada disebelahnya. Berkali-kali pria itu membuang nafas untuk melepas rasa gugup.
“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara dickran Alzam Bin Abrizal Darius dengan saudari Nensilia Emin Durkan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin berlian senilai 400 juta dibayar tunai”
“Saya terima nikah dan kawinnya Nensilia Emin Durkan binti Venus Emin Durkan dengan maskawin tersebut, tunai” ucap Alzam dengan lantang dan satu kali tarikan nafas.
“Bagaimana para saksi, sah?”
“Sah” balas para tamu.
Pak penghulu pun segera mengucapkan doa untuk memberikan berkah untuk pasangan yang baru menjabat menjadi suami dan istri ini. Selepas itu Alzam memberikan punggung tangannya untuk Nensi cium.
“Bisakah kita berciuman?” tanya Nensi blak-blakan. Untuk saja hanya Alzam yang mendengar.
Alzam berdeham canggung, “Nanti saja kalau sudah selesai”
Nensi memanyun kesal. Ia sudah cukup bersabar menunggu untuk mencium bibir Alzam karena pria ini selalu mengatakan, ‘Bukan muhrim’ tapi sekarang kan sudah sah.
__ADS_1
‘Pria ini memang banyak alasan’ gumam Nensi dalam hati.